Ber(s)isik?
– A monk should not laugh. Laughter makes him looks like a monkey*
Seorang desainer (kita sebut saja: “desainer kita”) yang berumah dekat mesjid selalu gagal menyelesaikan pekerjaannya tiap kali Ramadhan memasuki sepuluh hari terakhir.
Desainer kita ini sejenis mahluk yang hanya bisa bekerja pada malam hari. Siang hari, biasanya, desainer kita ini hanya bermain-main dengan anak-anaknya atau jika tidak pergi memancing ke sungai yang agak jauh tapi sebenarnya tidak jauh-jauh amat.
Maka, tiap kali Ramadhan memasuki sepuluh hari terakhir, desainer kita yang mukanya mirip singa tanpa misai itu tak pernah bisa berkonsentrasi dengan pekerjaannya. Bukan apa-apa, tiap kali ia mulai bekerja, orang-orang memenuhi telinganya dengan suara do’a yang kian mendekati pagi akan terdengar kian keras dan tak beraturan.
Dia senang jika langit tiba-tiba memuntahkan hujan yang deras. Suara deras hujan yang ditingkahi guntur yang menggelegar seringkali menyelamatkan telinganya dari suara-suara yang kian hari kian terasa acak di telinganya. Sayangnya, itu pun tak selalu berhasil. Selain karena hujan kadangkala berlangsung terlalu singkat, pengeras suara selalu datang tiap 10 menit dengan berisiknya yang tak tertahankan: “Ibu ibu yang sedang menyiapkan sahur, waktu sudah menunjukkan pukul…..”