»

Nurdin

Bola — admin @ 11:29 pm

– aku berlindung dari godaan nurdin yang terkutuk

Bagi saya, dosa terbesar Nurdin Halid adalah ia selalu berhasil membuatku ragu untuk datang ke stadion, baik untuk mendukung Persib Bandung dan [terutama] tim nasional Indonesia.

Bagi seorang suporter [Persib Bandung dan tim nasional] dan penggemar sepakbola [Manchester United], seperti saya ini, datang ke stadion untuk menyaksikan Liga Super Indonesia atau/terutama tim nasional Indonesia sebenarnya bisa dibaca sebagai sebentuk legitimasi diam-diam atas kepemimpinan Nurdin Halid dan antek-anteknya di PSSI.

Tentu Anda boleh tidak bersetuju dengan pernyataan di atas. Tapi, untuk saya, pernyataan di atas itu paralel dengan situasi ambigu yang selalu muncul dalam menyikapi prestasi tim nasional Indonesia. Hitung-hitungan personalnya begini: Jika tim nasional gagal atau sukses (misalnya) dalam Piala AFF 2010, selalu akan muncul rasa lega dan enek sekaligus.

(more…)

Njeplak

meracau — Tags: , , , , — admin @ 1:13 am

– perihal discard dan usia yang rasanya makin tua

Di milis Cah Andong, Si Paman mengajukan pertanyaan: “Apakah dari para sadulur pernah mengurungkan niat send reply di milis manapun, forum, Twitter, dan FB? Seberapa sering?”

Saya sendiri akan menjawab: pernah dan bahkan (belakangan ini) agak lumayan sering. Tentu sukar mencari batas waktu kapan kecenderungan itu dimulai. Tapi, ya… begitulah: belakangan cukup sering saya men-discard a.k.a membatalkan kicauan/ocehan/kalimat yang sebelumnya sudah dituliskan.

Ada banyak alasan. Sebagian karena tidak yakin dengan apa yang ditulis, sebagian disebabkan karena merasa apa yang ditulis tidak terlalu penting, sisanya karena tidak cukup percaya apa yang saya tulis itu benar (mis: dari segi akurasi), dan cukup sering juga karena saya berpikir perihal akibat yang mungkin muncul jika tulisan itu akhirnya dilempar ke publik.

(more…)

Althusser

Obituari,biografi — Tags: , , , — admin @ 2:56 am

– 20 tahun kematian (23/10/1990 — 23/10/2010)

Pada 1992, dua tahun setelah kematiannya, otobiografi Althusser yang berjudul The Future Lasts a Long Time (judul aslinya: L’Avenir dure longtemps) diterbitkan. Otobiografi itu, tak bisa disangkal, memecahkan kesunyian dan keheningan yang (sebelumnya) melingkupi nama dan kehidupan Althusser, terutama di tahun-tahun terakhir kehidupannya.

10 tahun sebelum kematiannya, Althusser seperti “menghilang” dari orbit dunia intelektual. Semuanya dimulai saat ia dianggap telah mencekik sampai mati istrinya sendiri, Hélène Legotien. Dia tidak dijebloskan ke penjara, tapi justru dirawat di sebuah klinik jiwa. Ya, Althusser dibebaskan dari dakwaan kriminal karena ia dianggap mengalami kerusakan mental. Oleh panel ahli yang memeriksanya, Althusser dianggap mengidap iatrogenic hallucinations.

Persoalan kesehatan mental bukan sesuatu yang baru bagi Althusser ketika itu. Pada 1947, ia sudah mulai merasakan gangguan kesehatan, baik fisik atau mental. Dia bahkan sudah menerima electroconvulsive therapy, yang belakangan lazim digunakan pada pasien yang mengidap depresi berat.

Dalam penyelidikan atas kematian istrinya, Althusser tidak menyangkal bahwa ia memang telah mencekik. Hanya saja ia mengaku lupa kenapa dan bagaimana bisa ia mencekik istrinya sendiri. Althusser hanya ingat bahwa mulanya ia sedang memijat leher istrinya, lalu kemudian terjadilah pencekikan berujung kematian itu.

(more…)

Threesome

politik — Tags: , , , , — admin @ 5:20 pm

– asyik masyuk dalam politik

Di tengah kicauan-kicauan panjang di twitter perihal makin seringnya demonstrasi terhadap patung-patung di beberapa kota, Sudjiwo Tedjo sempat berkicau tentang sesuatu yang menarik: bagaimana tiga pilar pemerintahan asyik sendiri-sendiri, “threesome” kalau dalam kicauan Tedjo.

Kicauan Tedjo itu mengingatkan kita dengan mudah pada “trias politika”, sebuah formula pembagian kekuasaan yang dibayangkan oleh Montesqieu (juga John Locke) akan menghadirkan pemerintahan yang bisa dikontrol, bisa saling koreksi, dan karenanya akan menghindarkan diri dari laku despotik dan tiranik. Kira-kira, begitulah teorinya. Dalam praktik, pembagian kekuasaan yang terlembagakan sekali pun tidak serta-merta bisa melahirkan pemerintahan yang demokratis. Banyak kasus dalam sejarah, termasuk dalam sejarah Indonesia, di mana “trias politika” hanya ada di atas kertas.

Tedjo menggunakan istilah “threesome”, barangkali seperti jenis hubungan seksual antara tiga orang dalam waktu dan tempat yang sama. Dengan istilah itu, Tedjo mungkin ingin mengatakan bahwa orang-orang yang berada dalam pilar-pilar kekuasaan (eksekutif, legislatif dan yudikatif) hanya asyik-masyuk dengan dirinya sendiri, mengejar kenikmatannya masing-masing.

(more…)

Skemata

meracau — Tags: , , , — admin @ 1:30 am

– negeri yang ke-kini-kini-an

Setiap kemarau Indonesia menjadi negeri asap, setiap musim hujan Indonesia menjadi negeri banjir, dan puluhan setiap-setiap lainnya membuat saya berpikir: jangan-jangan Indonesia adalah negeri yang “ke-kini-kini-an”.

Istilah “ke-kini-kini-an” yang saya gunakan merujuk pada kecenderungan dan orientasi yang selalu berpusar pada masa kini, kekinian, present tense. Lebih jauh lagi, istilah itu juga merangkum kecenderungan dan orientasi yang (1) amnesia, mudah lupa, tuna refleksi dan minim/tuna kesadaran sejarah (past tense) sekaligus (2) minim prakarsa, tak punya saujana (visi), tuna antisipasi dan abai pada masa depan (future tense).

Salah satu cara termudah untuk menggambarkan apa yang saya sebut sebagai “ke-kini-kini-an” itu bisa dilakukan dengan menggambarkan watak bahasa Indonesia. Berbeda dengan –misalnya—bahasa Inggris yang mengenal past-tense (yang silam), present-tense (yang kini) dan future-tense (yang menjelang), bahasa Indonesia tak mengenal pembagian waktu macam itu alias tak berkala. Bahasa Indonesia hanya mengenal masa kini (present-tense). Ketiadaan masa lampau sekaligus ketiadaan masa depan menjadi bagian inheren dari watak bahasa Indonesia. Semuanya hari ini dan untuk saat ini.

(more…)

Tanah

meracau — Tags: , , — admin @ 11:15 pm

– tanahku, tanahmu, tanah kita, tanah siapa?

Ada satu masa di mana pembagian tanah pada rakyat dalam rangka reformasi agraria tak bergaung apa-apa. Presiden dikabarkan terisak-isak, dan orang-orang yang memang sudah lama jengah dengannya mengejek dengan beragam cara.

Ada satu masa di mana pembagian tanah pada rakyat dalam rangka reformasi agraria bergaung dengan amat sangat keras. Paduka Jang Mulia Presiden Seumur Hidup menggemakan genting dan pentingnya pembagian tanah pada rakyat sebagai bagian dari Djalan Rrevolusi Kita (Djarek). Sebagian menyokongnya dengan sekuat-kuatnya, sebagian menolak dengan sebisa-bisanya. Lalu ada tumbal, juga darah yang terpercik.

Pada tanah kita berpijak, pada tanah pula harga diri dan kehormatan seringkali dipancangkan dalam-dalam. Kita bisa baku bunuh satu sama lain karena tanah, kita pernah saling penggal karena tanah, sebab tanah di situ juga berarti “sadumuk bathuk, sanyari bumi”.

Tapi sejarah kita juga menunjukkan pernah ada tekad satu sama lain untuk berpijak dan hidup pada tanah yang sama — dan dengan itu kita menjunjung tanah yang sehari-hari diinjak itu pada altar yang aromanya seperti menuntut pengorbanan: tanah-tumpah-darah.

Ada banyak sekali peristiwa yang melintas dalam sejarah kita. Sebagian diingat dengan kuat, sebagian besar lainnya lewat begitu saja, seperti lintang kemukus pada satu dini hari.

Selebaran

meracau — Tags: , , — admin @ 3:45 am

– selepas unjuk rasa

Kakek itu selalu datang ke lokasi unjuk rasa bersama cucu lelakinya yang pincang. Keduanya selalu datang beberapa saat jelang unjuk rasa berakhir, juga hari ini, seperti unjuk rasa besar-besaran yang baru selesai sore ini.

Lalu, setelah para pengunjukrasa pergi meninggalkan sampah dan sisa-sisa pertunjukkan suara, kakek dan cucu lelakinya yang pincang itu akan melangkah menuju tempat unjuk rasa yang sudah sepi. Keduanya memeriksa sampah-sampah yang berserakan, memilahnya, lalu mengumpulkan selebaran pernyataan sikap yang dibagikan para pengunjukrasa. Selebaran yang sudah lusuh itu, mungkin karena terinjak-injak atau dijadikan alas pantat, akan dirapikan sedemikian rupa, dilipat dengan hati-hati, lalu dimasukkan ke dalam tas kecil dari jerami.

Jika semuanya sudah selesai, kakek tua dan cucu lelakinya yang pincang itu akan pergi menjauh. Biasanya, di sesela perjalanan pulang, si kakek akan menceritakan sejumlah hal. Tapi, ada satu pernyataan yang selalu diulangnya.

“Kertas-kertas yang lusuh itu, Nak,” kata si kakek, “berbicara tentang kita. Tapi kertas-kertas yang lusuh itu juga mengisyaratkan terlalu banyak suara yang tak menggemakan bunyi apa-apa.”

Kadang kala, kata-kata si kakek tak terdengar oleh cucu lelakinya yang pincang. Deru-deram lalu-lalang kendaraan sering mengaburkannya, melenyapkannya….

Harto

meracau — Tags: , , , , , — admin @ 12:56 am

Beberapa hari terakhir ini wacana pengajuan Soeharto sebagai pahlawan nasional kembali menghangat. Saya pun teringat pada kata-kata Bung Hatta saat peristiwa pemakaman Soetan Sjahrir di Taman Makam Pahlawan Kalibata.

Seperti terbaca dalam bab penutup biografi Sjahrir karya Rudolf Mrazek, Bung Hatta berkata pada Sjahrizal Djoehana, saudara perempuan Hatta, bahwa dirinya “…tidak akan pernah membiarkan siapa pun melakukan ini (dimakamkan di TMP Kalibata) terhadap dirinya.”

Kita tahu, Hatta akhirnya dimakamkan di Tanah Kusir (kendati –masih menurut Mrazek– tidak lama setelah pemakaman Sjahrir itu Hatta dikabarkan berkata ingin dimakamkan di tanah Minang). Soekarno, kita juga tahu, akhirnya dimakamkan di Blitar. Dari “Tiga Bung” itu, hanya Sjahrir yang dimakamkan di Kalibata, justru saat ia sendiri mati dalam status sebagai tahanan politik.

Mungkinkah Hatta juga akan berkata yang sama jika akhirnya Soeharto ditahbiskan sebagai pahlawan nasional? Saya tidak tahu, kita tidak akan tahu.

Mungkin Soeharto memang punya jasa. Tapi membayangkan ada orang yg terlibat dalam sekian pembantaian bisa menjadi seorang pahlawan nasional, sejajar dengan orang-orang seperti Bung Hatta, Sjahrir atau Tan Malaka, adalah sesuatu yang mengerikan.

104

– kematian yang datang (tak) tepat waktu

Setelah melewati tahun-tahun terakhir kehidupan dengan sikap cerewet yang tak kenal ampun, nenek akhirnya meninggal dengan senyum penuh kedamaian. Senyum terakhir di bibirnya terlihat serupa kemesraan seseorang yang sedang menyambut kedatangan sesuatu yang sudah ditunggunya begitu lama, sangat lama.

Kematian itu datang pada satu siang yang panas sampai-sampai nenek minta agar kipas angin tua yang ada di gudang dikeluarkan kembali untuk mengipasi tubuhnya yang basah oleh keringat. Aku mengambilnya dengan tergesa dan terpaksa harus melemparkan sejumlah kardus dan barang pecah belah yang menindih kipas angin tua yang teronggok di pojok. Saat kembali ke ruang keluarga tempat nenek dibaringkan di ranjang kematiannya, aku melihat ayah, ibu, beberapa paman dan bibiku makin rapat saja merubungi nenek. Aku merasa sesak melihatnya. Ada bayangan pekat yang membuat pemandangan itu mengingatkanku pada burung-burung gagak yang sedang menunggu ajal mahluk yang dengan tak sabar hendak dimangsanya.

Saat hendak menghidupkan kipas angin tua itu, sehembus angin datang dari arah pintu samping rumah yang terbuka. Suhu ruangan lalu melandai secara perlahan, ruangan terasa lebih lebih sejuk. Lalu nenek meminta anak-anak dan menantunya untuk menjauh sedikit agar ia bisa melihat ke arah pintu samping yang kini sudah terbuka. Angin sepoi-sepoi itu berhembus sehingga beberapa helai rambut nenek yang putih sempurna itu mengambang di sentuh angin siang hari. Keringat yang tadi sempat membasah di tubuhnya mengering, tapi mungkin usianya juga sudah sampai di ujungnya.

Semua orang terdiam saat nenek mengeluarkan cegukan yang terakhir. Ia terlihat tersenyum, lalu diam untuk selamanya. Akhir yang sudah ditunggu-tunggu sepanjang 104 tahun itu pun akhirnya datang.

(more…)

Jeneng [3]

Uncategorized — Tags: , , , , , — admin @ 2:49 pm

– nama yang meneguhkan hirarki

Pada salah satu bagian novel hebat “One Hundred Years of Solitude”, Marquez mengisahkan bagaimana penduduk Macondo terserang insomnia akut yang mengakibatkan mereka — perlahan tapi pasti — mulai lupa semua nama-nama benda di sekelilingnya.

Saya membayangkan, bagaimana jika pada satu momen tertentu, cukuplah selama satu jam saja, semua orang tiba-tiba lupa nama semua orang yang dikenalnya. Mungkin setiap orang hanya akan menyebut atau memanggil orang lain dengan sebutan atau panggilan “hei, mas, bapak, ibu, mbak, dek”. Atau, jika orang masih bisa mengingat hierarki sosial, katakanlah hierarki di kantor, orang juga mungkin masih bisa memanggil atasannya dengan sebutan “bos”.

Itu nama panggilan yang meneguhkan hierarki. Di situ, nama bukan semata merujuk pada pembeda antara si A dengan si B, tapi juga menegaskan tingkatan, jabatan, dan yang sejenisnya. Ini sama dengan logika penggunaan nama Cut atau Teuku di Aceh, Raden di Jawa, Gus atau Nyi di kalangan pesantren, Cokorda atau Anak Agung di Bali hinga Andi atau Karaeng di Sulawesi Selatan.

Nama, barangkali, tak terlalu tepat untuk kasus macam ini. Ia lebih pas disebut “gelar”.

(more…)

« Previous PageNext Page »
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-Noncommercial-Share Alike 3.0 Unported License.
(c) 2012 nasib adalah kesunyian masing-masing | powered by WordPress with Barecity