Tong-Sampah

– pembangkangan benda-benda #8

Di tempat prostitusi yang paling terkenal di sebuah kota yang tidak terlalu panas, ada satu tempat sampah yang ajaibnya terlihat sangat bersih; sebuah kebersihan yang bahkan mengalahkan beranda-beranda rumah singgah, tempat para pinokio belang duduk-duduk sembari menduduk-duduki para pelacur yang tak pernah tahu apa bedanya duduk dan menduduki.

Orang-orang yang sering datang ke tempat prostitusi yang paling terkenal di sebuah kota yang tidak terlalu panas itu kemungkinan semuanya tahu pasal apa yang membikin tempat sampah itu sangat bersih, terlalu bersih bahkan. Orang-orang yang baru datang ke tempat prositusi yang paling terkenal di sebuah kota yang tidak terlalu panas itu kemungkinan akan menyangka betapa bersihnya tong sampah itu sebagai penanda betapa kebersihan teramat diperhatikan oleh orang-orang yang sering berkunjung ke situ.

Tentu saja dia salah. Bagaimana kita hendak bicara kebersihan di tempat yang bersih dan tidaknya sebuah benda tak bisa dideteksi oleh mesin pemburu paling canggih sekali pun? Sebab, di pojok-pojok yang lain, tempat-tempat sampah lainnya tetap tampil seperti biasanya: kotor, atau tidak terlalu bersih, kumuh, juga bau.

Selengkapnya »

Kamera

– pembangkangan benda-benda #7

Pernikahan yang semestinya khusyuk dan syahdu sontak menjadi sedikit ricuh, atau lebih tepat jadi agak berantakan, gara-gara dua kamera yang dibawa dua juru foto mendadak ngambek tak mau bekerja: mereka ingin dinikahkan lebih dulu, setelah itu barulah dua kamera berlainan jenis itu mau bekerja mengabadikan momen sakral pernikahan yang sudah direncanakan sejak lama itu.

Sebenarnya bisa saja akad nikah yang ditunggu dua mempelai itu dimulai tanpa keikutsertaan dua kamera berlainan jenis yang mendadak ngambek untuk sebuah alasan yang terlalu surealis itu. Tapi, di zaman jejaring sosial mengisi 36 jam waktu hidup manusia, apalah artinya momen genting nan sakral serupa akad pernikahan dilewatkan tanpa keabadian yang hanya bisa dilakukan oleh kamera? Tak ada yang mau pernikahannya dianggap hoax, bukan?

Tapi di situlah soalnya. Penghulu sebenarnya mau-mau saja menikahkah dua kamera berlainan jenis itu. Tapi dalam setiap kisah cinta, selalu saja ada aral yang melintang dan jurang yang menganga, bukan?

Dua kamera itu, masing-masing bernama Nokin dan Conan, sukar bisa dinikahkan karena alasan yang sebenarnya tak kalah surealisnya: keduanya, dua kamera yang berlainan jenis itu, ternyata menganut agama yang berbeda. Dan di negeri ini, itu soal yang maha-genting!

Selengkapnya »

Printer

-pembangkangan benda-benda #6

Printer ini sudah lama mengabdi kepadaku dengan “sepenuh komponennya”. Ya, “sepenuh komponennya”, karena akan sukar menyebut “sepenuh hatinya”. Siapa yang akan bilang printer punya hati?

Kecuali hari ini, tepatnya siang ini, persis saat deadline betul-betul nyaris mengerkah batang leherku. Tiba-tiba saja, ia tak mau bekerja. Macet. Ngadat. Tak sehelai kertas pun yang keluar dari tubuhnya yang tambun ke samping itu.

Mulanya, beberapa saat usai perintah mencetak ditekan, akan menguar suara dengung, yang jika itu keluar dari mulut manusia mungkin akan kusebut sengau. Lalu, setelah dengung yang tak panjang itu, terngiang suara gesekan-gesekan tipis tapi berirama lebih panjang. Diakhiri dengan suara sedikit teredam, kertas tercetak yang ditunggu-tunggu tak segera keluar, enggan dilumuri tinta yang mungkin beracun itu?

Selengkapnya »

Pre-Wedding

– pembangkangan benda-benda #5

Kabar yang sama sekali tidak melankolik itu kami terima pada satu senja yang tak begitu bagus saat kami berdua sedang berciuman begitu dalamnya di bawah pohon oak yang ditanam kakek buyut kami dari bibit yang didapatkannya dari seorang marsose Belanda yang berhutang tiga ekor ayam dan tujuh telor kepadanya gara-gara marsose itu kalah bertaruh dengan kawannya saat menonton pacuan lembu di lapangan yang satu abad sebelumnya adalah kuburan para wali yang tak becus memainkan wayang: foto pre-wedding dinyatakan haram oleh para wali yang sebenarnya tak bisa memotret dan karenanya tak tahu keindahan sehelai potret bisa lebih indah dari pemandangan yang terhampar di atas sajadah paling mahal yang didatangkan dari Gujarat sekali pun!

Istri saya sesenggukan, saya termangu sendirian: kami tahu pengharaman itu tak bisa ditampik, karena kami juga paham betapa berbahayanya mengabaikan fatwa para wali yang tak pernah terlihat memakai sarung apalagi surban.

Lalu, dalam sebuah perkabungan yang muram dan menyedihkan, kami beranjak ke ruang keluarga. Di salah satu dindingnya, terpacak potret besar potret pre-wedding kami tujuh tahun silam. Terlalu panjang kisahnya kenapa yang dipasang adalah potret pre-wedding, bukan potret di hari pernikahan, tapi begitulah adanya, seperti begitulah juga adanya fatwa yang tak bisa kami tolak itu.

Selengkapnya »

Jum’at

– pembangkangan benda-benda #4

Beberapa saat sebelum aku meninggalkan kamar menuju masjid untuk menghelat shalat Jumat, sesuatu melesat keluar dari almanak yang menempel di dinding dekat pintu. Dia lantas menarik sarungku sampai nyaris terlepas. Lalu, ia ganti menjangkau kakiku, menahan langkahku, sampai aku nyaris terjengkang.

Dia memperkenalkan dirinya sebagai Jum’at. Ia meminta untuk berbicara denganku. ”Baiklah, tapi jangan lama-lama. Tak pernah kuabaikan shalat Jum’at. Jangan membuatku terlambat,” kataku tegas.

Ia menghela nafas lega. Sembari menata nafasnya yang sempat tersengal-sengal karena sekuat tenaga manahan langkahku, Jum’at mulai berbicara. Nadanya datar, sedikit terbata-bata, tapi rasa masygul bercampur memelas cukup jelas tergambar dari mimik wajahnya.

“Aku selalu diejek teman-temanku. Aku minta, sekali ini saja, kau membantuku agar tak diledek mereka. Sekali ini saja,” ujarnya dengan terbata-bata.

Selengkapnya »

Nasi

– pembangkangan benda-benda #3

Ini sarapan yang sunguh menyiksa. Nasi-nasi ini tak pernah mau ditaklukkan. Tiap kali saya menyuapkan seseondok nasi ke mulut, butir-butiran nasi itu seperti membesar sampai sebesar kelerang. Terpaksa saya memuntahkannya lagi. Saya coba berulang kali, tetap saja begitu.

Kebetulan teman saya tadi sempat membelikan bubur ayam. Karena telanjur lapar dan sudah lelah menghadapi pembangkangan butir-butir nasi itu, saya memilih menyantap bubur ayam saja. Selama saya menyantap bubur, saya memperhatikan butir-butir nasi yang ada di piring tak jauh dari tempat saya makan. Butir-butir nasi yang tadinya membesar seperti kelereng pelan-pelan menciut sehingga kembali ke ukurannya yang normal.

Ingin saya menyantap lagi nasi itu, karena makan bubur tetaplah tak mengenyangkan perut saya yang memang sedang lapar berat. “Benar-benar nasi sudah menjadi bubur kalau begini. Sudahlah, saya makan bubur saja,” ujar saya dalam hati.

Entah bagaimana ceritanya, butir-butir nasi itu tiba-tiba bersorak-sorai dan kompak berteriak: “Kami tidak setuju!”

Selengkapnya »

Kunci

– pembangkangan benda-benda #2

Kunci laci tiba-tiba menolak bekerja. Mulanya tak terlalu mengkhawatirkan, toh aku punya kunci cadangan. Tapi, sungguh, aku tak menduga: kunci cadangan pun tak mau diajak kerjasama.

Aku mengajak mereka bicara dari hati ke hati. Kami bertiga duduk di meja bundar yang terletak di beranda. Angin senja datang dengan semilir yang membikin kantuk, tapi urusan laci yang harus segera dibuka memaksaku tetap duduk dan berembuk. Aku meminta mereka bicara, salah satu dari mereka lantas mewakilkan yang lain. Dan, alamak… semuanya ternyata menyangkut hal ihwal yang sentimentil!

Ijinkan aku mengulang kembali kata-katanya: “Manusia tak pernah tahu suratan para kunci. Kami ditakdirkan hidup monogami, sebenarnya: satu hanya untuk satu lubang. Kunci cadangan adalah kutukan panjang yang diwariskan sejak 100an tahun silam. Kami tak sudi, juga tak sanggup, menanggungkan kutukan itu lagi!”

Kalian dengar, bukan? Hebat kali orasi kunci sialan ini. Jangan-jangan mereka suka mencuri baca buku-buku koleksiku? Seingatku, sang kunci cadangan itu sempat raib dan belakangan saja aku tahu ia terselip di halaman akhir sebuah novel klasik dari Spanyol.

Selengkapnya »

Jeans

– pembangkangan benda-benda #1

Celana jeansku berulah. Tepat saat saya hendak menarik resleting, ia tiba-tiba meronta. Sekuat tenaga aku menarik resleting, jeansku tetap bergeming. Aku menyerah. Daripada terjadi korsleting kecil pada penisku, lebih baik aku bernegosiasi dengan celana jeansku.

“Apa maumu sebenarnya?” tanyaku.

Jeans hitam yang sebenarnya mulai apak itu makin tambah apak saja kelihatannya. Toh ia masih sempat-sempatnya menyunggingkan senyum, tanda ia baru saja menangguk kemenangan kecil.

“Dengar!” katanya tiba-tiba. Suaranya dalam dan penuh nada peringatan. Aku sedikit tercekat. “Aku tak suka tiap kali kau bercinta dengan pasanganmu lalu aku dicampakkan begitu saja. Menyedihkan rasanya saat kau hendak merengkuh kebahagiaan tapi pada saat yang sama kau melemparkanku dengan tanpa perasaan. Kadang kau lempar aku ke pojok kamar, kadang kau campakkan aku di bawah ranjang. Itu sungguh tak bisa diterima!”

Selengkapnya »

Diftong

– hari ibu, lantas hari natal

Hari Ibu, yang rutin diperingati tiap 22 Desember, seperti batu tapal yang bisa mengingatkan kita ihwal pentingnya sebuah himpunan bernama keluarga. Kita hidup dalam dunia yang bergerak terus, di mana kecepatan dan percepatan nyaris menjadi kunci dalam semua-mua aspek. Di waktu-waktu tertentu sering kita menemukan letih yang mengarat, penat yang mengerkah. Kadang, pada saat-saat itu, keluarga menjadi berharga lebih dari biasanya. Ia bukan cuma lokus tempat kita tetirah, tapi sekaligus tempat kita kembali kepada ibu.

Ibu di situ hadir sebagai wakil dari segugus nilai-nilai yang lebih mengedepankan kasih, ketulusan, kerjasama. Gugusan prinsip-prinsip feminin itulah yang diharapkan bisa mengguyur kedirian kita yang sepanjang tahun penuh dengan hiruk-pikuk hidup yang terlampau dilambari semangat maskulin yang mengobarkan persaingan ketimbang kerjasama, pamrih ketimbang ketulusan, sinisme ketimbang kasih sayang.

Bukan kebetulan jika tiga hari setelah Hari Ibu kita berjumpa dengan Natal: sebuah momentum historis sekaligus teologis, saat di mana Yesus dari Nazareth dilahirkan ke muka bumi, tentu saja melalui gua garba Maria yang masih suci nan perawan.

Doktrin kristiani menyebut Yesus sebagai bagian tak terpisahkan dari Trinitas Suci. Ada masa di mana perdebatan tentang trinitas suci itu menjadi polemik teologis yang amatlah sengit di kalangan teolog dan para paderi. Sampai-sampai, seperti dikisahkan Karen Amstrong, pokok teologis yang amat elementer itu menjadi bahan perdebatan yang riuh di kalangan awam, para pelaut, tukang roti –sama seperti sekarang orang membicarakan sepakbola.

Selengkapnya »

Busway

– imagining: transportation!

Apa hal terbaik yang diberikan busway kepada Anda?

Busway memungkinkan Anda yang sedang duduk di kursi seperti sedang melihat lukisan-lukisannya Picasso: seorang perempuan berdiri tak lebih dari tiga jengkal di depan muka Anda, dengan tangan bergelantungan ke atas. Dunia terasa seperti sebuah kotak tepat saat semuanya menjadi lonjong.

Apa hal terburuk yang diberikan busway kepada Anda?

Busway memungkinkan Anda yang sedang duduk di kursi seperti sedang melihat serial “The Banana Album”-nya Andy Warhol: seorang lelaki paruh baya yang merasa dirinya seganteng Michel Foucault berdiri tak lebih dari dua jengkal di depan muka Anda. Rasanya seperti mendengar Basquiat berteriak: Hey, I got a toilet in here.

Pernahkah Anda berpikir untuk bercinta di dalam busway?

Tidak pernah. Saat di busway, saya lebih sering ingat Sutiyoso dan Fauzi Bowo daripada Natalie Portman atau Sandra Dewi.

Perlukah setiap shelter menyediakan perpustakaan kecil?

Tidak perlu, kecuali jika isinya semua kitab suci. Dunia akan segera tahu betapa Indonesia bukanlah negara agamis.

Selengkapnya »