Prononima

– tokoh dan karakter sebagai kata ganti

soul_mountainDini hari tadi, di tengah kebosanan yang sekonyong-konyong datang, juga dipicu oleh perasaan tidak enak yang tak terkatakan, tiba-tiba saja saya ingin membuka-buka lagi Ling Shan (Soul Mountain atau Gunung Jiwa) karya Gao Xingjian. Saya sudah tidak ingat lagi berapa kali sudah membaca Ling Shan. Tiga atau empat kali saya menghabiskannya, dari awal sampai akhir. Tak terhitung pula saya membaca kembali novel itu secara acak, membacanya dengan sambil lalu. Cukup sering saya membawa novel itu tiap kali sedang melakukan perjalanan. Dua bulan lalu saya kembali membawa dan membaca novel ini saat melakukan perjalanan 10 hari mengelilingi Jawa Timur hingga Bali.

Novel ini punya tempat tersendiri di kepala saya. Sebagai novel yang kerangkanya sama-sama berbentuk cerita perjalanan, jangan bandingkan novel ini dengan Sang Alkemis-nya Coelho atawa Celestine Prophecy-nya James Redfield yang “berkhotbah” itu. Pesannya berlapis, imajinya kaya, metaforanya berlimpah: gabungan antara pemeriaan hewan dan tumbuhan juga hutan-hutan, deskripsi yang detail tentang ritus-ritus, pemaparan ulang folklore dan folksong, legenda dan mitos, tinjauan tentang situasi sosial dan politik hingga sentuhan yang halus dan lembut tentang pengalaman fisikal dan indrawi.

Tapi ada satu alasan yang mendasari kenapa saya hingga hari ini saya masih saja membacanya lagi dan lagi: penggunaan prononima sebagai protagonis novel. Di novel ini, kita tak pernah tahu siapa nama tokoh-tokoh utama yang muncul. Gao Xingjian hanya menggunakan pelbagai prononima: “aku”, “engkau”,” ia” (perempuan), lalu muncul lagi “dia” yang lain (lelaki yang hadir silih bergantian dengan “aku”).

Selengkapnya »

Umberto

– konspirasi antara kesunyian, kemuraman dan diam yang keras kepala

umberto0Gilles Deleuze menelaah neorealisme –salah satunya—dengan mengamati tindakan dalam sinema. Baginya, neorealisme mengisyaratkan tindakan sebagai sesuatu yang belum tentu berhubungan dengan pikiran, seakan-akan suatu tindakan “terjadi begitu saja”, di mana tindakan sang-aktor seperti “terperangkap” dalam situasi atau keadaan yang banal dan sehari-hari. Contoh yang diajukan Deleuze adalah scene di mana pembantu muda dalam Umberto D karya Vittorio de Sica melakukan aktivitas di dapur: membuka kran, membersihkan alat memasak, melihat dinding yang penuh semut, menyemprot semut dengan air kran, juga mengibas-ngibaskan kedua tangannya ke arah sweater yang ia kenakan (dalam DVD yang dirilis Criterion, scene itu bisa dilihat pada menit ke 13 detik 15 sampai detik 55).

Saya tidak akan masuk terlalu jauh pada apa yang disebut Deleuze sebagai “pure-optical-situation” atau “sensory-motor-schema” dalam neorealisme, juga tidak akan mereview film produksi 1952 yang disebut-sebut sebagai “akhir dari neorealisme Italia” ini. Saya hanya mencoba memaparkan kesan-kesan yang saya tangkap dari salah satu scene film ini: ketika tokoh Umberto berada di depan kuil Pantheon Roma dan “terjebak” dalam ketegangan internal antara mengemis atau tidak, antara mendapatkan uang atau mempertahankan harga-diri, antara melakukan tindakan ataukah hanya meratapi nasib menjadi pensiunan tua yang melarat (dalam DVD versi Criterion, adegan bisa dilihat pada menit 60 detik 32 sampai menit 61 detik 40).

Saya memilih membicarakan scene ini bukan semata karena daya dan metafor yang memantul dari scene itu, juga karena scene itu dengan amat bagus menggambarkan seperti apa ketegangan-internal karakter Umberto Domenica Ferrari yang diperankan dengan bagus sekali oleh Carlo Battisti, seorang non-aktor yang memainkan film pertamanya sekaligus yang terakhir.

Selengkapnya »

Sepeda

– neorealisme italia dari atas sepeda

phpzxiobeam2

Andre Bazin –pembela paling gigih dari neorealisme Italia- menganggap film Ladri de Biciclette sebagai film terbaik yang mewakili neorealisme sinema Italia. Dengan nada yang plastis, seperti terbaca dalam baris terakhir tulisannya berjudul Neorealism and Pure Cinema, Bazin bahkan menyebut film produksi tahun 1948 ini sebagai “…one of the first examples of pure cinema, no more actors, no more story, no more sets, which is to say that in the perfect aesthetic illusion of reality there is no more cinema.”

Berlatar di kota Roma pasca Perang Dunia II, film ini berkisah tentang seorang ayah (namanya Antonio Ricci) dengan satu istri dan dua anak dan baru saja mendapat pekerjaan sebagai penempel poster-poster film. Syaratnya: ia harus punya sepeda -sekali lagi harus- karena dengan itulah ia akan berkeliling menyusuri dinding-dinding di Roma. No bicycle, no job. Tapi ia tak punya sepeda. Ia seorang pengangguran. Dan miskin. Istrinya terpaksa menjual semua sprei agar bisa membeli sepeda. Pada hari pertama kerja, sepedanya hilang dicuri. Ia sudah mencoba mengejarnya, tapi gagal. Ia melapor ke polisi. Ia minta pertolongan serikat buruh. Bahkan minta petunjuk pada cenayang. Keesokan harinya, pada hari Minggu, ia bersama anaknya (Bruno Ricci) mencoba mencari sepeda itu lagi. Mereka pergi ke pasar sepeda, pergi ke pasar lainnya, mengejar sampai ke gereja, sampai rumah bordil. Di satu sudut kota, ia merasa telah menemu kan pemuda yang mencuri sepedanya. Tapi para tetangga pemuda itu tak percaya dan bahkan menyalahkan Antonio, terlebih saat perseteruan itu si pemuda malah kumat penyakit ayannya. Polisi pun tak bisa membantu Antonio karena dianggap tak ada barang bukti. Antonio dan Bruno duduk dengan gontai di luar stadion sepakbola. Antonio tergoda untuk mencuri sebuah sepeda di situ. Ia tertangkap dan sempat dikerubuti orang-orang. Hanya karena pemilik sepeda yang dicurinya merasa iba pada mimik muka Bruno, akhirnya Antonio pun dilepaskan tanpa harus berurusan dengan polisi.

Yang dialami Antonio adalah banalitas kemiskinan yang datang tanpa ampun. Tak ada yang bisa diharapkan: negara (polisi) abai, kapitalisme (perusahaan yang mempekerjakannnya) tak memberi toleransi jika tak punya sepeda, komunisme juga ogah-ogahan (serikat buruh hanya membantu seperlunya), solidaritas proletariat hanya omong-omong di atas kertas, begitu juga institusi agama.

Selengkapnya »

Baaria

– wajah sicilia dalam dua sinema

phpuciz2uam

Saya tidak tahu siapa lagi sineas selain Giuseppe Tornatore yang tak pernah kehabisan tenaga untuk lagi dan lagi menghadirkan kampung halamannya ke layar lebar. Setelah Malena, L’Umomo della Stelle dan dengan puncaknya yaitu Cinema Paradiso, Tornatore kembali datang membawa cerita tentang Sicilia, kampung halamannya, melalui film bertajuk Baaria, sebutan dalam dialek Sicilia untuk kota kecil Bagheria, kampung halaman Tornatore (secara etimologi, Bagheria berarti “…land that descends toward the sea”).

Jujur saja, bayangan saya tentang Sicilia sudah penuh dengan gambaran versi Tornatore seperti yang saya lihat melalui Malena, L’Umomo della Stelle dan terutama Cinema Paradiso. Film terakhir itu, bagi saya, bahkan sudah sangat penuh memberikan gambar-gambar tentang Sicilia. Sejujurnya, sekali lagi, saya tidak yakin masih ada ruang yang tersisa –bahkan bagi Tornatore sekali pun—untuk menampung gambaran baru tentang Sicilia.

Tornatore sendiri berdalih bahwa Baaria bukan hanya sekadar bicara tentang Sisilia. Katanya, “The film doesn’t want to be just about Sicily, Sicily, Sicily. The idea was to tell the life of a chorus of characters inside a microcosm, which is a village, where you hear continually the echo of everything is happening around you, the echo of everything that is happening far away.”

Selengkapnya »

Arloji

– sophia loren ditusuk jarum siang-siang

Tepat tengah hari, aku meninggalkan rumah, jam 5 sore nanti aku berjanji menemui Ahmet di sebuah smoking room lantai 5 plaza terbesar di Jakarta. Masih banyak waktu, selalu ada waktu. Aku merogoh saku kanan jaketku. Arloji tua itu masih aman di situ. Ya, sebuah arloji yang tak hanya tua, tapi juga rusak. Aku berniat memperbaikinya. Ada beberapa tukang arloji di pasar, aku bisa mampir di sana sebentar.

Kakekku memberiku arloji itu dua puluh tahun lalu tak lama setelah ia pulang naik haji. Aneh sekali, ia menghadiahiku arloji. Jauh-jauh ke Arab Saudi, ia hanya membawa oleh-oleh arloji yang bisa dibeli di mana saja. Dulu aku berharap kakek akan memberiku fosil gigi geraham unta betina. Tapi itu tak mungkin. Akan janggal jika seorang jemaah haji sibuk mencari fosil geraham unta betina, kakek akan seperti Snouck Hurgronje yang ingin memecah belah umat unta.

Setiba di Pasar Minggu, jalanan terasa sangat panas. Jalanan sangat penuh, asap-asap knalpot mengembang dan saling rasuk dengan uap aspal lalu menjelma fatamorgana lalu menjadi bunga-bunga di udara, bunga-bunga di atas aspal. Metromini yang mangkal di tepi jalan berderetan sedemikian rupa seperti perahu-perahu tua yang ditambatkan di sungai yang dangkal dan keruh. Aku menyisiri jalanan dengan beberapa kali menyisiri sela-sela deretan metromini tua itu. Udara makin terasa pengap, suhu seperti melonjak tiba-tiba. Aku meraba arloji itu sekali lagi. Ia tak berdetak, tapi waktu tak peduli dengan gerak jarum jam. Aku tahu keduanya adalah hal yang berbeda.

Selengkapnya »

Omelet

– tentang pertengkaran yang sepele

Selepas kemacetan 2,45 jam itu, aku baru tiba di kediamanku pada pukul 11 malam. Satu jam sebelumnya aku masih duduk di Duck Bar, merenungkan ajaibnya kemacetan itu, juga menghabiskan 12 batang rokok, tiga shot Jhony Walker, dua shot Jim Beam dan satu shot Absolut Mandrin. Badanku cukup letih, tapi pikiranku masih jernih. Kepalaku sedikit berat, tapi aku sudah terbiasa menghadapinya. Mandi sudah cukup membuat kepalaku bisa sedikit ringan.

Aku langsung duduk di sofa. Menyandar. Aku membuka pakaianku dan melemparkannya ke keranjang pakaian kotor di pojok. Telanjang. Kunyalakan televisi. Kuperiksa menu program di semua channel malam itu dengan menekan beberapa tombol. Aku memilih channel 18, channel MGM. Sebuah film lama yang dibintangi Jack Nicholson muncul. Five Easy Pieces, judulnya. Aku sudah menontonnya dua kali, tapi aku suka scene pertengkaran Robert Dupea yang diperankan Nicholson dengan seorang pelayan restoran. Pertengkaran remeh temeh tentang menu makanan. Aku tatap layar televisi. Scene favoritku itu masih akan muncul 5 menit lagi. Volume televisi kubesarkan.

Aku beranjak ke kamar mandi. Shower kubuka. Air dingin memancur ke tubuhku. Kubiarkan selama satu menit, lalu mulai mengambil sabun cair, lalu menggosok tubuhku selama 1,5 menit. Lalu aku buka lagi kran shower, air memancur dan jatuh, busa-busa jatuh, beberapa daki mungkin juga ikut jatuh, lalu semuanya mengalir ke lobang kecil di sudut, lalu turun ke sebuah pipa, lalu berkumpul di sebuah bak penampung, lalu mengalir lagi menuju saluran pembuangan, lalu sisanya biarlah jadi urusan pemerintah kota. Aku ingat scene favorit dari Five Easy Pieces. Aku tutup kran shower, aku dengarkan suara televisi. Lima detik, sepuluh detik, 37 detik… lalu terdengar pertengkaran itu:

Selengkapnya »

Macet

– sebuah dunia bernama kemacetan

Dunia tak lebih dari serangkaian kemacetan. Jika semua lancar, apa menariknya dunia dan hidup ini, bukan?

Kota-kota di abad pertengahan Eropa selalu dibangun menyerupai benteng dengan gerbang-gerbang yang dijaga. Aku sering melihat gerbang selamat datang di kota-kota yang kusambangi, selalu saja dipenuhi ucapan Selamat Datang di Kota Anu. Tapi kupikir itu bukan gerbang, lebih mirip basa basi yang tidak jelas. Mungkin para perencana kota itu terlalu banyak menerima undangan pernikahan yang penuh basa basi dan omong kosong. Tapi bukankah undangan pernikahan tak pernah dibaca, paling banter hanya dibaca tanggal dan tempatnya saja? Tapi seperti itu, bukan, gerbang-gerbang selamat datang yang dibuat pemerintah kota? Siapa yang peduli?

Tapi kota ini tak berbasa-basi dengan dirinya. Dia sodorkan kemacetan sebagai pintu gerbangnya. Siapa yang bisa melewati kemacetan demi kemacetan setiap harinya, dia punya kesempatan hidup di kota ini dengan sedikit lebih waras. Lebih waras? Ya, kenapa memangnya?

Selengkapnya »

Halte

– saat situasi mengunci

Hujan deras, jalanan mulai tergenang. Sudah dua bus lewat, tapi aku masih duduk di bangku sebuah halte. Lalu seorang perempuan muda, kutaksir usianya tak lebih dari 25 tahun, muncul dengan blues yang sedikit basah. Ia duduk di sebelahku, satu-satunya tempat yang tersisa.

Hujan deras, jalanan mulai tergenang. Dia menoleh dan tanpa basa-basi langsung bertanya: “Pernah nonton film Bus Stop?” Aku menatap wajahnya sebentar, lalu mengeleng. “Ah, sayang sekali. Mau kuputarkan? Ada di laptopku. Batrei laptopku cukup untuk memutarnya sampai habis. Cuma 96 menit, kok,” katanya lagi. Aku menatap wajahnya lagi, lalu menggeleng. “Kamu tidak tahu, ya, kalau Monroe binal sekali di film itu?” tanyanya lagi. Aku menatap wajahnya sekali lagi, lalu menggeleng.

Ia tampaknya kesal dengan sikapku, tapi aku juga tak kalah sebal. Ia datang tiba-tiba, bertanya sesuatu, bertanya lagi dan lagi, juga menawarkan sesuatu yang aneh: menonton film di laptop di sebuah halte saat hujan deras dan jalanan mulai tergenang.

Selengkapnya »

Peta

–jalanan yang tak sepenuhnya bisa ditaklukkan

Ahmet tak pernah terlambat, tapi juga tak pernah datang lebih cepat. Ia selalu tepat waktu dalam pengertiannya yang paling harafiah. Sekali waktu ia pernah datang lima menit lebih cepat. Ia beralasan: tukang arloji yang memperbaiki arloji miliknya salah menyetem waktu. Aku bilang padanya, kalau dia sudah tak butuh lagi arloji, karena waktu sudah bekerja secara mekanis di tubuhnya. Kalau begitu, katanya padaku, belikan aku peta. Kenapa, tanyaku. Jawabnya, dia lebih sering kehabisan waktu karena tak tahu jalan pintas, jalan-jalan tikus, gang-gang kecil yang membuatnya bisa meloloskan diri dari kemacetan.

Lalu kami membicarakan soal jalan-jalan tikus, dan kenapa hewan tikus yang digunakan sebagai metafora. Ia bilang, karena tikus bisa bikin jalan sendiri. Kataku, tikus memang bisa bikin jalan sendiri, tapi ia butuh waktu untuk mengerat sebilah kayu, dan kau pasti terlambat kalau harus jadi tikus lebih dulu. Dia lalu bilang, kalau dia menjadi tikus maka dia akan menjadi tikus yang tak akan pernah terlambat. Aku bilang, kalau dia memang menjadi tikus, maka aku akan menembaknya sehingga dia akan terlambat selamanya. Dia membantah, mati tidak akan membuatnya terlambat, mati hanya akan membuatnya tak perlu menghadiri rapat. Aku bilang lagi, tikus tak pernah rapat. Dia membantah dan bilang kalau tikus memang tak kenal rapat tapi mereka tahu caranya bermufakat. Aku lalu bertanya apakah permufakatan tikus adalah selalu permufakatan jahat. Dia menjawab, biasanya begitu. Lalu kami sepakat bahwa kami sudah menemukan jawaban kenapa ada istilah tikus-tikus berdasi.

Kami saling memandang, lalu tertawa terbahak-bahak saat sadar aku dan Ahmet sama-sama sedang berdasi.

Selengkapnya »

Trotoar

– “sidewalk is life,” kata jack kerouac

Masih ada waktu, selalu ada waktu buatku. Satu jam lagi aku baru akan menemui Ahmet. Aku pun memilih tidak tergesa-gesa, berjalan pelahan, di atas trotoar yang disusun oleh pavingblock berbentuk segilima yang disusun sedemikian rupa, memanjang sampai jauh, sampai kelokan di depan sana, dan setelah kelokan itu pun trotoar mungkin masih akan memanjang, sampai jauh lagi, sampai kelokan berikutnya lagi, dan lagi, dan lagi….

Di mana sebenarnya awal dan akhir sebuah trotoar?

Beberapa tahun lalu, saat masih tinggal di kota kecil di timur sana, aku sering duduk-duduk di salah satu lajur trotoar. Letaknya di ujung sebuah jalan paling terkenal di kota itu. Di sepanjang lajur itu, ada banyak bangunan tua, toko-toko tua, bioskop tua, istana tua dan sebuah benteng tua yang temboknya sudah disulap menjadi parade diorama. Orang-orang lewat di depanku, anak-anak sekolah yang sedang berdarmawisata, turis-turis asing berperut gendut dengan brosur perjalanan di tangan kiri dan kamera di tangan kanan.

Aku masih ingat, seorang turis tua, juga berperut gendut dan pipi yang penuh, menghampiriku yang sedang selonjoran kaki sedemikian rupa sehingga melintang di trotoar selebar 3 meter. Aku sudah lupa kenapa saat itu aku selonjor melintangkan kaki, mungkin saat itu kakiku merasa pegal karena berjalan cukup jauh, tapi aku tak yakin dengan ingatanku. Turis itu berdiri sebentar beberapa langkah dari posisiku duduk selonjor. Ia menatap kakiku, lalu melihat wajahku. Aku tengadah melihatnya. Mataku sedikit kugerakkan sedemikian rupa, semacam isyarat bertanya tentang apa yang sedang dilakukan dan dia pikirkan.

“History goes on the asphalt, get off the sidewalk, Son.” Ia mengucapkan kalimat itu sambil berlalu begitu saja.

Selengkapnya »