<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>nasib adalah kesunyian masing-masing</title>
	<atom:link href="http://pejalanjauh.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://pejalanjauh.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Wed, 21 Dec 2011 18:36:14 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.1</generator>
		<item>
		<title>Sapientia</title>
		<link>http://pejalanjauh.com/2011/12/sapientia/</link>
		<comments>http://pejalanjauh.com/2011/12/sapientia/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 02 Dec 2011 04:26:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[cermin]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pejalanjauh.com/?p=1492</guid>
		<description><![CDATA[&#8211; perihal pentingnya melupakan dalam pembacaan &#8220;Saya berusaha membiarkan diri saya dilahirkan oleh kekuatan dari setiap kehidupan yang hidup: melupakan.&#8221; Pasase itu dikatakan oleh Roland Barthes di depan civitas College de France saat membacakan pidato pengukuhannya sebagai guru besar atau Lecon Inaugurale (Inaugural Lecture) pada 1978. Di situ, Barthes tidak hendak mengajarkan pengetahuan-pengetahuan yang sudah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>&#8211; perihal pentingnya melupakan dalam pembacaan</em></p>
<p>&#8220;Saya berusaha membiarkan diri saya dilahirkan oleh kekuatan dari setiap kehidupan yang hidup: melupakan.&#8221;</p>
<p>Pasase itu dikatakan oleh Roland Barthes di depan civitas College de France saat membacakan pidato pengukuhannya sebagai guru besar atau <em>Lecon Inaugurale</em> (Inaugural Lecture) pada 1978. Di situ, Barthes tidak hendak mengajarkan pengetahuan-pengetahuan yang sudah ia paparkan dalam karya-karyanya dan tidak juga menguraikan pokok-pokok pikirannya mengenai ilmu semiologi sastra, melainkan justru berbicara perihal &#8220;melupakan&#8221;. </p>
<p>Menurut Jonathan Culler, Barthes memang bermaksud memperkenalkan pentingnya &#8220;melupakan&#8221;, perlunya &#8220;tak-mempelajari&#8221; (un-learning), yang pasrah dan bercumbu pada improvisasi dan modifikasi sehingga melupakan (dan/atau &#8220;mengabaikan&#8221;) ketentuan-ketentuan atau prosedur-prosedur baku atas pengetahuan, kebudayaan, atau kepercayaan yang sudah mengendap dan dialami oleh semua orang.</p>
<p><span id="more-1492"></span>Untuk memahami apa yang dimaksud dengan &#8220;melupakan&#8221; dan &#8220;un-learning&#8221; itu, kita bisa menyimak bagaimana pembelaan Barthes atas novel-novel yang dilahirkan dari generasi <em>noeveau roman</em>, misal novelnya Alain Robbe-Grillet, yang dikritik atau dikeluhkan sebagai karya-karya yang sulit dibaca dan sukar dimengerti. Barthes justru memuji karya-karya &#8220;yang tak-terbaca&#8221; dan sekaligus juga menentang karya-karya &#8220;yang-terbaca&#8221;. Baginya, sebuah karya &#8220;yang-terbaca&#8221; adalah karya-karya yang (men)sesuai(kan) diri dengan kode-kode atau konvensi budaya yang sedang berlaku, yang sejalan dengan pemahaman-pemahaman tradisional. </p>
<p>Sebaliknya, karya-karya &#8220;yang tak-terbaca&#8221; adalah karya-karya eksperimental yang belum kita ketahui bagaimana cara membacanya, bagaimana memahaminya, karena karya-karya itu ke luar dari kode dan konvensi budaya yang dipahami pembacanya. Karya-karya itu menantang pembaca untuk &#8220;melupakan&#8221; dan &#8220;tidak mempelajari&#8221; (un-learning) teori-teori yang hanya sesuai dengan kode dan konvensi budaya yang berlaku. </p>
<p>Bayangkan saja bagaimana pembaca yang hanya tahu sajak-sajak Amir Hamzah atau Muhammad Yamin tiba-tiba membaca sajaknya Sutardji atau sajak-sajak <em>mbeling</em> Remy Sylado. Jika ia tidak berhasil &#8220;melupakan&#8221; konvensi sajak-sajak yang melahirkan Amir Hamzah, bagaimana bisa ia menikmati sajak-sajaknya Sutardji?</p>
<p>Untuk segenap pengalaman &#8220;melupakan&#8221; dan &#8220;un-learning&#8221; itu, Barthes memperkenalkan istilah Latin &#8220;sapientia&#8221;. Istilah itu kira-kira berarti &#8220;kearifan&#8221;, tetapi Barthes memberikan  pengertian baru atas istilah &#8220;sapientia&#8221; itu. </p>
<p>&#8220;Sapientia,&#8221; kata Barthes masih dalam momen Inaugural Lecture, &#8220;berarti tak ada kuasa, sedikit pengetahuan, sedikit kearifan, dan sebanyak mungkin cita-rasa (flavour).&#8221;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pejalanjauh.com/2011/12/sapientia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>12</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jambul</title>
		<link>http://pejalanjauh.com/2011/11/jambul/</link>
		<comments>http://pejalanjauh.com/2011/11/jambul/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 30 Nov 2011 05:42:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[meracau]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pejalanjauh.com/?p=1485</guid>
		<description><![CDATA[&#8211; jambul dan hal-hal yang belum selesai 1. Fashion berhutang banyak pada dunia satwa. Pasokan kulit buaya, kulit harimau, dll., hanyalah sumbangan kecil satwa pada fashion. Organ tubuh satwa juga terbukti bisa jadi inspirasi bagi fashion. &#8220;Jambul khatulistiwa&#8221; adalah artefak budaya yang menjelaskan bagaimana dunia fashion juga menggali inspirasi dari dunia unggas. #SaveAyamKalkul 2. Tren [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>&#8211; jambul dan hal-hal yang belum selesai</em></p>
<p>1. Fashion berhutang banyak pada dunia satwa. Pasokan kulit buaya, kulit harimau, dll., hanyalah sumbangan kecil satwa pada fashion. Organ tubuh satwa juga terbukti bisa jadi inspirasi bagi fashion. &#8220;Jambul khatulistiwa&#8221; adalah artefak budaya yang menjelaskan bagaimana dunia fashion juga menggali inspirasi dari dunia unggas. #SaveAyamKalkul</p>
<p>2. Tren masa depan dunia fashion sudah jelas membutuhkan jasa seorang copy-writer yang handal, berwawasan budaya dan berintelijensia tinggi. &#8220;Jambul Khatulistiwa&#8221; adalah bukti forensik bagaimana sebuah style perlu dinamai dengan jitu, memuat kode-kode budaya, bernuansa edukasi yang tinggi, dan menjunjung tinggi rasa cinta tanah air. Model rambut ke-barat-baratan, seperti &#8220;Mohawk&#8221;, harus dihindari. Perbanyak nama-nama seperti &#8220;Cepak Nusantara&#8221;, &#8220;Gondrong Jawadwipa&#8221;, &#8220;Kriwil Singosari&#8221;, atau &#8220;Kribo Sriwijaya&#8221;. </p>
<p>3. Orang kadang dikenang dengan sesuatu yang paling menonjol dari dirinya, kadang yang menonjol itu sepenuhnya fisik. Malinda Dee dikenal karena &#8220;jambul di dadanya&#8221;. Ronaldo dan Luis Suarez dikenal karena &#8220;jambul di giginya&#8221;. Nah, biduan-yang-tak-boleh-disebut-namanya itu sadar bahwa satu jambul saja sudah bisa bikin orang terkenal, apalagi kalau dua jambul? Maka, beliau pun menambah unsur jambul di tubuhnya. Hasilnya? Ruarrrrr biasa! Seperti lagu lama yang dinyanyikan oleh biduan-yang-tak-boleh-disebut-namanya itu, &#8220;Aku tak biaaaasssaaaaa&#8230;.&#8221; </p>
<p>Ya, beliau memang tak biasa, sungguh-sungguh tak biasa.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pejalanjauh.com/2011/11/jambul/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Guru</title>
		<link>http://pejalanjauh.com/2011/11/guru/</link>
		<comments>http://pejalanjauh.com/2011/11/guru/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 25 Nov 2011 05:27:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[cermin]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pejalanjauh.com/?p=1482</guid>
		<description><![CDATA[&#8211; guru yang melahirkan pemimpin Tiap berpikir ihwal kualifikasi seorang guru, kita sebenarnya sedang berharap seperti itulah kualifikasi minimal yang semestinya dimiliki seorang pemimpin: punya standar kognisi (intelektual) dan afeksi (perilaku dan sikap) di atas rata-rata. Guru secara etimologis berasal dari bahasa Sanskerta, gur-u’, yang berarti mulia, bermutu, memiliki kehebatan, dan orang yang sangat dihormati [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>&#8211; guru yang melahirkan pemimpin</em></p>
<p>Tiap berpikir ihwal kualifikasi seorang guru, kita sebenarnya sedang berharap seperti itulah kualifikasi minimal yang semestinya dimiliki seorang pemimpin: punya standar kognisi (intelektual) dan afeksi (perilaku dan sikap) di atas rata-rata.</p>
<p>Guru secara etimologis berasal dari bahasa Sanskerta, gur-u’, yang berarti mulia, bermutu, memiliki kehebatan, dan orang yang sangat dihormati karena kewaskitaannya. Dalam khazanah Jawa Kuno, dikenal sejumlah istilah yang menempel pada kata ’guru’: guru desa (kamitua desa yang mumpuni dalam dunia spiritual), guru hyan (guru rohani), guru loka (pejabat agama di istana), dan guru pitara (mendiang nenek moyang yang patut dimuliakan karena kewaskitaannya).</p>
<p>Kata ’gur-u’ kemudian bertemu dengan kata ’as’, sebuah kata yang dalam bahasa Sanskerta berarti mengajar. Saat itulah kata guru juga bermakna ’mengajar’. Itu juga dengan prasyarat: guru tetap harus memiliki sikap mulia seperti yang dibebankan oleh kata ’gur-u’.</p>
<p>Seorang pengajar bisa disebut baik jika murid-muridnya berhasil mendapat nilai bagus di kelas. Namun, seorang guru yang baik selalu dituntut mampu melahirkan manusia-manusia yang baik, bukan sekadar murid yang pintar. Guru dituntut tak hanya mampu &#8220;menggarap&#8221; kognisi (rasio-logika), tetapi juga afeksi (rasa, cipta, karsa, dan sikap).</p>
<p><span id="more-1482"></span>Oleh karena itu, dalam sejarah kesadaran kita atau dalam ekspektasi kita, guru mesti memiliki kualifikasi yang melampaui sekadar penguasaan pelajaran (kognisi), tetapi juga memenuhi prasyarat jika seseorang ingin jadi pemimpin yang baik. Ia harus mampu mengajarkan bagaimana jadi manusia yang baik, mampu memberi teladan bahwa, misalnya, korupsi itu sama saja dengan mencuri lewat contoh langsung dalam laku keseharian hidupnya yang sudah sempit dan serba terbatas. Kualitas itulah yang kita rindukan dari mereka yang diberkahi sebutan pemimpin.</p>
<p>Tak ada yang lebih pas untuk merumuskan peran macam itu selain istilah ’guru’, bukan ’teacher’ atau ’lecture’. Itu sebabnya, ’guru’ kerap dipanjangkan sebagai &#8220;digugu dan ditiru&#8221;. Jadi, tidak mengherankan jika peribahasa &#8220;guru kencing berdiri, murid kencing berlari&#8221; hanya ada di negeri atau di tempat di mana ’guru’ tak hanya dimengerti semata sebagai ’teacher’.</p>
<p>Itu pula kiranya yang menyebabkan di sini guru (pernah) diposisikan sebagai &#8220;manusia suci&#8221;, semacam resi, yang selain pintar, tetapi punya laku tulus nan asketis. Saya kira inilah yang jadi sebab kenapa kita seperti kurang serius memikirkan kesejahteraan para guru, karena memang (pernah) tertanam kesadaran bahwa seorang guru itu hidup sederhana dan tulus (bandingkan risiko jadi guru dengan risiko jadi pemimpin seperti pernah dinyatakan Agoes Salim: &#8220;Memimpin adalah juga menderita&#8221;).</p>
<p>Di sini muncul dilema. Kita sepakat, sudah sepantasnya guru punya penghidupan dan penghasilan gaji yang baik. Namun, jika guru sudah punya kehidupan yang layak, taruhlah laiknya pegawai bank, kita khawatir banyak orang ingin jadi guru karena semata tergiur penghasilannya yang memadai, bukan karena panggilan hati menjadi pendidik. </p>
<p>Kita hanya perlu menggali sejarah Indonesia untuk mengetahui bagaimana peran sosial dan historis para guru dalam proyek besar mencapai kemerdekaan. Para guru di masa pergerakan, terutama mereka yang mengajar di sekolah partikelir, punya peran signifikan.</p>
<p>Banyak cerita yang bisa kita dengar ihwal peran guru-guru sekolah partikelir itu. Dari beberapa tulisan Pramoedya, misalnya, seperti dalam novelet Bukan Pasar Malam dan kumpulan cerpen Cerita dari Blora, kita tahu bagaimana aktivitas ayahnya di Sekolah Dasar Boedi Oetomo tidak hanya dalam mengajar murid-muridnya, tetapi juga dalam organisasi pergerakan.</p>
<p>Pemerintah kolonial akhirnya menyadari watak subversif sekolah partikelir. Pada September 1932, dilansir Wilden Scholen Ordonantie (Ordonansi Sekolah Liar) yang melarang beroperasinya sekolah-sekolah yang didirikan tanpa izin.</p>
<p>Apa yang dilakukan ayah Pram bukan kasus unik. Jika membaca riwayat hidup para pemimpin di masa awal lahirnya Indonesia, kita akan menyadari betapa banyak di antara mereka yang ternyata guru, setidaknya pernah menjadi guru.</p>
<p>Soekarno, semasa ditahan di Bengkulu, mengajari anak-anak di sana sejumlah mata pelajaran; mulai dari berhitung, bahasa Belanda, hingga sejarah. Di Bandaneira, Hatta dan Sjahrir secara intensif dan teratur jadi guru anak-anak di lingkungan rumah tahanan mereka. Keduanya tak hanya memberi pelajaran formal, tetapi juga nonformal, seperti pendidikan politik diam-diam, di antaranya dengan mengecat perahu dengan warna merah-putih dan diajari lagu-lagu perjuangan.</p>
<p>Dari kelompok &#8220;kiri&#8221;, Semaoen, Alimin, hingga Tan Malaka juga punya pengalaman sebagai guru. Tan Malaka bahkan pernah menjadi kepala sekolah di sebuah kawasan perkebunan di Sumatera Timur dan menjadi guru hampir di semua tempat pelariannya di luar negeri.</p>
<p>Momen sebagai guru itu bahkan menjadi metanoia, semacam pencerahan yang tuntas, bagi Tan Malaka. Selama mengajar di perkebunan kolonial, Tan Malaka menyaksikan bagaimana orang-orang pribumi yang bekerja di perkebunan itu sungguh-sungguh diperlakukan tak selayaknya manusia. Pemahaman sosial itu menyebabkan Tan Malaka menceburkan diri ke dunia pergerakan dan bergabung dengan Partai Komunis Indonesia dan lantas ditugaskan mengelola sekolah partai yang lantas masyhur sebagai &#8220;Sekolah Tan Malaka&#8221;.</p>
<p>Dari militer, Soedirman dan Nasution juga punya pengalaman sama. Jenderal Soedirman selama lebih kurang 5 tahun menjadi kepala sekolah di sebuah SD Muhammadiyah di Cilacap, sebelum bergabung dengan Peta. Nasution pun menjadi guru di Bengkulu (1938) dan di Palembang (1939-1950), sebelum jadi tentara KNIL.</p>
<p>Daftar pemimpin Indonesia yang menjadi guru bisa sangat panjang jika satu per satu disebutkan di sini. Sebutlah seperti Ki Hadjar Dewantara, Djuanda, atau Ratulangie (Daniel Dhakidae pernah menulis dengan memikat kualitas guru dalam diri Ratulangie). Dengan intelegensi (kognisi) di atas rata-rata dan sikap hidup (afeksi) yang tulus mengabdi pada cita-cita kemerdekaan (yang sering dipantik oleh pengalaman sosial seperti Tan Malaka), tak mengherankan jika tokoh-tokoh seperti Soekarno, Hatta, dan Tan Malaka dengan mudah bertukar tempat dari seorang guru kemudian jadi pemimpin massa.</p>
<p>Jika dalam ruangan mereka mengajar mata pelajaran berhitung, membaca, dan menulis, di lapangan, pergerakan mereka mendidik kesadaran rakyat akan pentingnya kemerdekaan. Dan, murid para guru yang telah bersalin menjadi pemimpin itu ada di seantero penduduk Hindia Belanda, dengan ruang kelas sepanjang Sabang-Merauke.</p>
<p>Dengan struktur kesadaran macam itu, tak heran jika di Indonesia istilah the founding fathers dengan mudah dipertukarkan begitu saja dengan istilah &#8220;guru bangsa&#8221;. Jangan heran juga jika George Washington atau Thomas Jefferson di Amerika hanya disebut sebagai the founding fathers dan tak pernah disebut &#8220;guru bangsa&#8221;. Karena istilah guru bangsa, sepengetahuan saya, tak tercetak dalam struktur kesadaran bangsa Amerika.</p>
<p>Dengan kualifikasi guru seperti yang sudah saya paparkan, setiap guru yang baik sebenarnya adalah bidan yang bisa melahirkan pemimpin yang baik. Dengan alur pikir macam ini, kita bisa mengajukan pertanyaan lanjutan: jika sekarang kita mengalami krisis kepemimpinan, mungkinkah ini menandakan kita sedang mengalami krisis guru yang baik? Ataukah sedang terjadi transformasi dalam kesadaran kita ihwal arti dan posisi guru menjadi tak lebih sebagai pengajar?</p>
<p>Aih, berat betul ternyata jadi guru, ya? <img src='http://pejalanjauh.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;<br />
*tanbihat: artikel ini pernah tayang di harian Kompas 3 tahun silam.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pejalanjauh.com/2011/11/guru/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sisifus</title>
		<link>http://pejalanjauh.com/2011/11/sisifus/</link>
		<comments>http://pejalanjauh.com/2011/11/sisifus/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 23 Nov 2011 19:53:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[cermin]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pejalanjauh.com/?p=1474</guid>
		<description><![CDATA[&#8211; setelah kekalahan&#8230;. 23.25. Di sebuah kafe, empat kawan duduk melingkar. Saya datang paling akhir. Sambil menahan capek, saya bilang pada Pangeran Siahaan: &#8220;Anjing, udah kaya sisifus aja nih!&#8221; Pertandingan baru berakhir satu jam lalu. Tapi kekalahan malam itu seperti sudah berlangsung lama, sudah berkali-kali, dan sialnya: terus berulang. Tiga kali saya menyaksikannya. 29 Desember [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>&#8211; setelah kekalahan&#8230;.</em></p>
<p>23.25. Di sebuah kafe, empat kawan duduk melingkar. Saya datang paling akhir. Sambil menahan capek, saya bilang pada Pangeran Siahaan: &#8220;Anjing, udah kaya sisifus aja nih!&#8221;</p>
<p>Pertandingan baru berakhir satu jam lalu. Tapi kekalahan malam itu seperti sudah berlangsung lama, sudah berkali-kali, dan sialnya: terus berulang. Tiga kali saya menyaksikannya. 29 Desember 2002, di tempat yang sama, Firmansyah dan Sugiyantoro gagal. 29 Desember 2010, di tempat yang sama, Firman Utina gagal. 21 November 2011, di tempat yang sama, Gunawan dan Ferdinand Sinaga juga gagal.</p>
<p>Saya tahu, sangat tahu, prestasi sepak bola tak mungkin datang tanpa pembinaan yang berjenjang dan kompetisi yang bersih. Tapi, saat kesebelasan kesayangan sudah sampai di final, siapa yang tak tergoda untuk berharap? 20 tahun, tuan-tuan&#8230; 20 tahun bukan waktu yang sebentar, waktu yang sangat lama. Sepanjang umur saya menginjakkan kaki di stadion, tak pernah saya melihat Indonesia juara. </p>
<p>Tapi, mau bagaimana lagi? Ternyata kalah lagi, tumbang lagi, kandas lagi. Dongeng sepak bola Indonesia masih mengulang plot yang sama, kisah yang lama, cerita yang lama: kekalahan, kekalahan dan kekalahan.</p>
<p><span id="more-1474"></span>Suporter Indonesia barangkali sudah macam sisifus saja. Sisifus, seperti dikisahkan ulang dengan pedih tapi gagah oleh Albert Camus, dikutuk para dewa untuk mendorong batu ke puncak Olympus, sesampainya di puncak batu itu dijatuhkan lagi, dan Sisifus kembali lagi harus mendorongnya dari bawah, lagi dan lagi, terus begitu&#8230;. sampai entah!</p>
<p>Siapa yang mencintai sepak bola (di) Indonesia sedikit banyak tahu benar pengalaman Sisifus-esque. Mulanya mencoba realistis, lalu seiring perjalanan sebuah kejuaraan, harapan pelan-pelan naik, terus naik, kian naik, makin naik, lalu dijatuhkan lagi saat menjelang di puncak. Lalu tiba kejuaraan lagi, lalu mencoba realistis, lalu harapan naik lagi, pelan-pelan naik, terus naik, lantas jatuh lagi berdebam menjelang di puncak.</p>
<p>Saya seorang yang realis. Tapi, sekali lagi, siapa yang tak tergoda berharap saat kesebelasan kesayangan sudah tiba di laga final? 20 tahun, tuan-tuan&#8230;. Barangkali, memang, pecinta sepak bola (di) Indonesia dikutuk untuk mencintai permainan ini dengan rasa pedih, dengan segenap sedu-sedannya.</p>
<p>Jika Albert Camus, penulis <em>Mite Sisifus</em> yang termasyhur itu, pernah berkata bahwa ia berhutang pada sepak bola perihal apa arti tanggung jawab, maka seorang pecinta sepak bola (di) Indonesia mungkin akan berkata dengan nada muram: &#8220;Untuk segala pengalaman sedih menghayati kegagalan, saya berhutang pada sepak bola.&#8221;</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-<br />
*tanbihat: 2 suporter yang tewas di GBK kian meneguhkan kepedihan itu: sepak bola Indonesia tewas secara denotatif dan konototatif pada malam yang sama. RIP.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pejalanjauh.com/2011/11/sisifus/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>15</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kepahlawanan</title>
		<link>http://pejalanjauh.com/2011/11/kepahlawanan/</link>
		<comments>http://pejalanjauh.com/2011/11/kepahlawanan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 Nov 2011 09:14:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[meracau]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pejalanjauh.com/?p=1468</guid>
		<description><![CDATA[&#8211; catatan tambahan untuk provocactive Saya berkesempatan membicarakan beberapa nama pahlawan nasional dalam acara Provocative yang (akan) tayang pada 10 November ini di Metro TV. Beberapa nama saya singgung untuk menunjukkan betapa diskursus kepahlawanan nasional lebih pas dibaca sebagai pilihan politik ketimbang sebagai suatu kajian sejarah. Selain itu, saya juga meletakkan beberapa nama sebagai ilustrasi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>&#8211; catatan tambahan untuk provocactive</em></p>
<p>Saya berkesempatan membicarakan beberapa nama pahlawan nasional dalam acara Provocative yang (akan) tayang pada 10 November ini di Metro TV. </p>
<p>Beberapa nama saya singgung untuk menunjukkan betapa diskursus kepahlawanan nasional lebih pas dibaca sebagai pilihan politik ketimbang sebagai suatu kajian sejarah. Selain itu, saya juga meletakkan beberapa nama sebagai ilustrasi bagaimana publik membaca, mempersoalkan dan menempatkan ulang sosok-sosok pahlawan nasional.</p>
<p>Terciptanya ruang diskursif terkait narasi kepahlawanan nasional ini makin mengemuka dan terus terbuka setelah 1998. Reformasi, sedikit banyak, memungkinkan narasi-narasi resmi negara untuk didiskusikan dan dipersoalkan sampai batas-batas terjauh yang dimungkinkan.</p>
<p>Tuanku Imam Bonjol, misalnya. Nama itu saya singgung untuk menunjukkan bagaimana publik makin terbuka membicarakan dan mempersoalkan kepahlawanan seseorang. Imam Bonjol, saya kira, bisa dijadikan model bagaimana gugatan terhadap narasi resmi kepahlawanan nasional itu bisa berbentuk catatan-catatan yang bukan hanya kritis, tapi juga keras dan tajam.</p>
<p><span id="more-1468"></span>Buku Tuanku Rao karya Maharaja Parlindungan atau karya Basyral Hamidi Harahap (juga beberapa artikel di majalah Tempo dan buku Azyumardi Azra tentang peranan Surau dalam kebudayaan Minang), misalnya, dengan telengas membicarakan &#8220;cacat-cacat&#8221; dalam narasi resmi kepahlawanan Imam Bonjol. Di situ, peran historis Imam Bonjol digugat sebagai orang yang harus ikut bertanggungjawab pada sekian pembantaian dan perkosaan orang-orang tak bersalah. </p>
<p>Kritik atas gugatan historis ini bukannya tak ada. HAMKA (yang masuk dalam tujuh pahlawan nasional terbaru per 8 November 2011) sudah menulis catatan penuh kritik pada karya Maharaja Parlindungan itu yang menurutnya sukar dipertanggungjawabkan data-datanya secara ilmiah. HAMKA sendiri tak menyangkal kekerasan yang dilakukan oleh pasukan di bawah pimpinan Imam Bonjol.</p>
<p>Bagi saya, gugatan akan kepahlawanan Imam Bonjol menjadi contoh bagaimana profil-profil para pahlawan itu memang rentan menghadapi gugatan. Narasi kepahlawanan seorang Anak Agung Gde Agung, pahlawan nasional dari Bali, juga bisa ditempatkan dalam klasifikasi seperti Imam Bonjol ini.  </p>
<p>Sultan Hamengkubuwono I juga saya singgung untuk menunjukkan bagaimana gugatan terhadap narasi kepahlawanan nasional itu bisa dimulai dengan mempersoalkan bagaimana tindakan-tindakan seorang pelaku sejarah itu seringkali tak ada hubungannya dengan &#8220;kepentingan rakyat&#8221;, apalagi kepentingan &#8220;nasionalisme&#8221;.</p>
<p>Anda hanya perlu membaca buku Ricklefs untuk mulai menelusuri pendiri dinasti Kraton Yogyakarta ini. </p>
<p>Mangkubumi, gelar sebelum dia ditahbiskan sebagai Hamengkubuwana I, memulai peranannya dalam sejarah Jawa dengan menyanggupi (semacam) sayembara yang dibikin oleh Kasunanan Surakarta: siapa yang bisa menyelesaikan perlawanan R.M. Said akan diberi hadiah tanah perdikan. Mengkubumi pun turun untuk memerangi R.M. Said dan ketika bisa memenuhi persyaratan sayembara itu hadiah yang dijanjikan pun tak kunjung diberikan. Jengkel dan marah, Mangkubumi lantas bergabung dengan R.M. Said untuk melakukan perlawanan. Karena perlawanan itu tak bisa diselesaikan oleh Pakubuwana II &#038; Belanda, lahirlah perjanjian Giyanti yang mengesahkan kekuasaan Mangkubumi di wilayah Yogyakarta.</p>
<p>Menjadikan Hamengkubuwana I sebagai pahlawan nasional bisa dipersoalkan karena beberapa hal. Pertama, Hamengkubuwana tak pernah secara serius menganggap Belanda sebagai pihak yang harus benar-benar diperangi. Belanda dipahami dan dimengerti sebagai titik kesetimbangan dalam konflik segitiga antara dirinya dengan Paku Buwana II dan R.M. Said. Apa yang dipikirkannya bukan bagaimana mengusir Belanda sebagaimana yang dipikirkan Diponegoro atau Sultan Agung, melainkan bagaimana caranya agar ia bisa menyatukan kembali Jawa di bawah kekuasaannya. Ini soal ambisi seorang politikus.</p>
<p>Kedua, karena berambisi menguasai Jawa dalam genggamannya (minimal oleh keturunannya kelak) itulah maka bagi Mangkubumi, R.M Said jauh lebih jadi masalah karena didukung oleh banyak elit Jawa. Lagi pula, ini yang ironis, Mangkubumi bisa menjadi Sultan justru karena mula-mula ia memerangi R.M. Said (alias Pangeran Sambernyowo alias Mangkunegara I) yang juga ditetapkan sebagai pahlawan nasioanal. Bagaimana tidak ironis jika dua pahlawan nasional saling bertempur? Yang mana yang pahlawan sebenarnya?</p>
<p>Hamengkubuwana I, sekali lagi, bisa dijadikan model bagaimana narasi kepahlawanan nasional rentan terhadap gugatan karena simplifikasi laten kalau (pernah) memerangi Belanda berarti seseorang adalah pahlawan bagi rakyatnya. </p>
<p>Sedangkan R.A. Kartini saya sebut juga untuk menjadi ilustrasi bagaimana narasi resmi kepahlawanan nasional seringkali menyempitkan dan menyederhanakan kehidupan dan tragedi yang bersangkutan. Kartini, dalam narasi resmi, ditempatkan sebagai pelopor emansipasi perempuan. Dalam narasi resmi itu, hayat dan nasib Kartini tak cukup dipampangkan dengan terbuka dan apa adanya. Kegagalan dan tragedi hidupnya, yang dimulai karena ia membatalkan cita-citanya sendiri untuk sekolah ke Belanda dan berakhir dengan pernikahan yang menjadikannya korban poligami, nyaris tak masuk dalam narasi resmi kepahlawanan Kartini.</p>
<p>Kartini, dalam konteks ini, bisa dijadikan ilustrasi tentang narasi kepahlawanan nasional yang tak ubahnya sebuah biografi yang minimal, tak lengkap karena sengaja tak dilengkapi, penuh penyuntingan yang sering kali berlebihan. Harus diakui, kepahlawanan adalah sebuah kisah yang dipadatkan, diringkaskan, disederhanakan dan (kadang kala) &#8220;mengada-ada&#8221; &#8212; jika kata &#8220;pemalsuan&#8221; dirasa kelewat telengas.</p>
<p>Faktor &#8220;mengada-ada&#8221; itulah yang saya tujukan ketika saya menyebut nama Muhammad Yamin. Pahlawan nasional satu ini bukan hanya salah seorang aktivis pergerakan yang menjadi aktor penting Sumpah Pemuda atau seorang sastrawan yang gigih memperjuangkan bahasa Melayu atau orang (yang bersama Hatta) amat berjasa atas masuknya pasal mengenai hak warga negara dalam konstitusi, melainkan juga seorang sejarawan yang dengan amat sadar dan gigih (bahkan cenderung keras kepala) menjadikan sejarah sebagai argumen untuk &#8220;membenarkan&#8221; nasionalisme Indonesia yang agung, gilang gemilang, dan bersatu dari Aceh sampai Papua.</p>
<p>Yamin bukan hanya membela gagasan persatuan Indonesia dari Aceh sampai Papua sebagai sebuah keniscayaan sejarah dalam sidang BPUPKI dengan menyitir baris-baris Negarakrtagama, tapi juga menulis banyak risalah pseudo-historiografi yang mencoba menegakkan argumen kalau nasionalisme Indonesia itu sudah ada jauh sebelum kemerdekaan (Yamin menulis buku &#8220;6000 Tahun Sang Saka Merah Putih&#8221;). Dia juga menjadikan Majapahit sebagai model historis yang bisa diacu untuk mempersatukan Indonesia (Yamin menulis biografi Gajah Mada, lakon &#8220;Sandyakala ning Majapahit&#8221; sampai buku ajaib &#8220;Tata Negara Majapahit&#8221;). </p>
<p>Karenanya, kritik atas nasionalisme Indonesia yang kelewat Jawa-sentris harus juga diajukan pada Yamin. Ia terus mereproduksi elemen Majapahit dalam diskursus nasionalisme Indonesia. Pandangan sejarahnya dikritik karena dianggap &#8220;mengada-ada&#8221;, &#8220;kelewat imajinatif&#8221;, dan kelewat Indonesia (Jawa) sentris, padahal ia sendiri bukan orang Jawa. Debatnya dengan Soedjatmoko dalam seminar sejarah nasional I  perihal filsafat sejarah nasional (Yamin membawakan paper berjudul &#8220;Tjatur Sila Chalduniah&#8221;) amat ilustratif untuk menggambarkan energinya yang meluap-luap untuk membangun argumentasi sejarah bagi ideologi nasionalisme.</p>
<p>Jenius yang memperkenalkan bentuk sonata dalam sejarah puisi di Indonesia ini, seorang orator yang bersemangat, seorang ahli hukum yang bisa dengan cepat menguasai bahasa Jawa Kuna, bisa dijadikan contoh bagaimana seorang pahlawan nasional (Yamin ditetapkan sebagai pahlawan nasional pada 1973) yang dengan amat sadar ikut aktif menyusun dan membangun narasi resmi kepahlawanan nasional itu sendiri. </p>
<p>Adapun orang yang dipuja dengan bersemangat oleh Yamin, yaitu Tan Malaka, saya singgung sedikit untuk dijadikan model bagaimana negara bisa dengan sadar dan sengaja mengabaikan pahlawan nasional. Tan Malaka, yang ditetapkan oleh Soekarno sebagai pahlawan nasional pada 1963, selama rezim Orde Baru benar-benar diabaikan dan diasingkan dalam narasi kepahlawanan nasional. </p>
<p>Di belakang Tan Malaka, kita bisa mengingat pengorbanan orang-orang PKI di era pergerakan yang harus terbunuh atau menderita diasingkan di Boven Digoel akibat perlawanan mereka atas Belanda pada 1926-1927. Tan Malaka dan orang-orang itu diabaikan dan disingkirkan dari narasi kepahlawanan resmi hanya karena pikiran dan ideologi mereka tak sejalan dengan ideologi rezim yang berkuasa.</p>
<p>Sementara Soetan Sjahrir saya singgung untuk memberi gambaran bagaimana narasi kepahlawanan nasional itu kadang hanya melengkapi sebuah &#8220;permainan dan pertarungan politik&#8221; belaka. Sjahrir ditangkap dan dipenjarakan oleh Soekarno tanpa mendapatkan kesempatan membela diri secara fair dan terbuka di muka pengadilan. Ia ditangkap pada 1962 dan ditahan dalam satu bangunan yang sama dengan beberapa orang yang juga &#8211;ironisnya&#8211; kelak menjadi para pahlawan nasional (Anak Agung Gde Agung, Mohammad Natsir). Hanya karena serangan stroke sajalah Sjahrir diijinkan berobat di Zurich dengan status masih sebagai tahanan. Dan dalam status itu pula ia wafat pada 9 April 1966.</p>
<p>Ironisnya, di hari kematian itu pula, Sjahrir ditahbiskan sebagai pahlawan nasional justru oleh Soekarno yang dengan sewenang-wenang menangkap dan memenjarakannya tanpa proses peradilan. Begitu mudah seseorang dianggap menjadi musuh negara, semudah ia dijadikan pahlawan nasional oleh rezim yang sama. </p>
<p>Sjahrir, untuk saya, adalah ilustrasi dari betapa arbitrer dan tragisnya narasi kepahlawanan nasional itu jika berhadapan dengan kekuasaan. Ia jadi contoh bagaimana kekuasaan bisa dengan mana-suka menukar-nukarkan stempel &#8220;musuh negara&#8221; dengan status &#8220;pahlawan negara&#8221;.</p>
<p>Hatta, yang hadir di pemakaman Sjahrir sekaligus menjadi inspektur upacara pemakaman Sjahrir di Taman Makam Pahlawan Kalibata, saya singgung juga untuk memungkasi diskusi perihal kepahlawanan nasional ini.</p>
<p>Sebagaimana terbaca dalam epilog biografi Sjahrir terlengkap yang ditulis Rudolf Mrazek, beberapa saat usai Sjahrir dikebumikan Hatta dikabarkan berkata pada salah seorang saudari Sjahrir bahwa ia &#8220;tak akan membiarkan orang lain memperlakukan dirinya seperti ini&#8221;. </p>
<p>Hatta, saat itu, sudah mengemukakan keengganannya dimakamkan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata dan Hatta memenuhi ucapannya itu dengan dimakamkan di tanah kelahirannya di Padang*, sebagaimana Soekarno dimakamkan di Blitar (dari tiga bung paling masyhur dalam sejarah kita, hanya Sjahrir yang dimakamkan di TMP Kalibata). Beberapa tulisan menyebutkan bahwa Hatta makin tak mau dimakamkan di TMP Kalibata setelah seorang petinggi Pertamina yang diduga korupsi (namanya Haji Taher, yang punya rekening berlimpah di Singapura, dicopot oleh rezim Soeharto dari jabatannya tapi tanpa pernah diusut dan diadili) ternyata dimakamkan di TMP Kalibata. Hatta tahu benar kasus itu karena ia pernah ditunjuk oleh Soeharto menjadi anggota komisi yang memeriksa kasus-kasus korupsi di awal berkuasanya rezim Orde Baru.</p>
<p>Kini, publik makin sering mendengar berita bagaimana pejabat-pejabat era Orde Baru yang berlimpah kekayaan satu per satu dimakamkan di TMP Kalibata. Sementara, sebagaimana kasus Heru Atmodjo, TMP Kalibata juga terbukti &#8220;pilih kasih&#8221; dan &#8220;mempermainkan dirinya sendiri&#8221; dengan mengizinkan Heru Atmodjo dimakamkan di TMP Kalibata untuk kemudian membongkarnya lagi karena ada desakan dari sekelompok orang yang tidak senang dengan latar belakang Heru Atmodjo.</p>
<p>Hatta, Sjahrir dan TMP Kalibata saya singgung sebagai penutup diskusi singkat dan terbatas di program ProvocAtive untuk &#8212; sekali lagi&#8211; menjelaskan bagaimana situs-situs kepahlawanan mesti dibaca dengan lebih cermat dan kritis. </p>
<p>“Tak ada lencana yang lebih menawan dalam kebudayaan nasional modern daripada monumen- makam para tentara tak dikenal. …Makam-makam tersebut telah dipenuhi dengan khayalan nasional yang menghantui,” tulis Ben Anderson dalam salah satu halaman Imagined Communities. </p>
<p>Sebagaimana pernah saya tulis dalam sebuah artikel di Tempo 2 tahun silam, &#8220;khayalan nasional yang menghantui&#8221; itu bisa bermacam-macam, efeknya juga bisa mengingatkan tapi bisa pula membikin lupa. Pahlawan berikut tugu dan monumennya mula-mula mengingatkan kita pada peran dan jasa orang-orang yang dikuburkan di sana bagi tanah air, juga bagi kita di hari ini. Tapi pada saat yang sama bisa juga membuat kita terpukau dengan kemegahan, keindahan dan kerapihannya — pendeknya: melalui estetika masa silam. </p>
<p>Keterpukauan atas estetika masa silam itu bisa membuat kita kehilangan daya untuk meng­ingat dan mengartikulasikan pelbagai hal yang tertanam di bawah fondasinya: kekerasan yang tergelar di baliknya, darah para korban tak bersalah yang tertumpah, dusta-dusta sejarahnya, juga semiotika kekuasaan yang terjalin dengan rapi dan halus.</p>
<p>Karena, seperti yang sudah saya tunjukkan, kepahlawanan adalah tentang mengingat sekaligus melupakan, mencatat sekaligus menghapus&#8230;.</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;<br />
*errata: Hatta tak dimakamkan Kalibata, tapi saya keliru ketika menulis/menyebut Hatta dimakamkan di Padang. Yang benar: Hatta dimakamkan di Tanah Kusir, tentu saja itu pemakaman umum.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pejalanjauh.com/2011/11/kepahlawanan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>18</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>158</title>
		<link>http://pejalanjauh.com/2011/11/158/</link>
		<comments>http://pejalanjauh.com/2011/11/158/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 09 Nov 2011 00:42:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[meracau]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pejalanjauh.com/?p=1465</guid>
		<description><![CDATA[&#8211; pembiakan para pahlawan nasional Bangsa yang besar, sering kita dengar, adalah bangsa yang sanggup menghargai jasa-jasa para pahlawannya. Soalnya adalah: butuh berapa pahlawan nasional lagi agar Indonesia bisa sungguh-sungguh menjadi bangsa yang besar? Per 8 November kemarin, jumlah pahlawan nasional Indonesia bertambah 7 nama lagi. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono kemarin menahbiskan IJ Kasimo, Sjafruddin [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>&#8211; pembiakan para pahlawan nasional</em></p>
<p>Bangsa yang besar, sering kita dengar, adalah bangsa yang sanggup menghargai jasa-jasa para pahlawannya. Soalnya adalah: butuh berapa pahlawan nasional lagi agar Indonesia bisa sungguh-sungguh menjadi bangsa yang besar?</p>
<p>Per 8 November kemarin, jumlah pahlawan nasional Indonesia bertambah 7 nama lagi. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono kemarin menahbiskan IJ Kasimo, Sjafruddin Prawiranegara, Susuhanan Paku Buwana X, Buya Hamka, Idham Chalid, I Gusti Ketut Pudja, dan Ki Mangunsarkoro sebagai pahlawan nasional yang terbaru.  </p>
<p>Ditetapkannya tujuh pahlawan nasional yang baru bukan hanya menggenapkan jumlah daftar pahlawan nasional menjadi 158 orang, tapi juga menegaskan posisi Indonesia sebagai salah satu (jika bukan satu-satunya) negara dengan jumlah pahlawan nasional terbanyak. Jumlah itu hampir bisa dipastikan akan terus bertambah dan bertambah lagi di tahun-tahun mendatang karena tampaknya sudah menjadi kelaziman menganugerahkan gelar pahlawan nasional yang baru setiap bulan November. </p>
<p>Tidakkah itu kelewat banyak? Atau, tidakkah jumlah yang banyak dan akan terus berbiak itu malah bisa menyulitkan kita memahami dan menghayati hidup dan karya para pahlawan itu? </p>
<p><span id="more-1465"></span>Pada akhirnya, amat mungkin terjadi, daftar para pahlawan nasional itu akan menjadi tak lebih dari sekadar album foto yang dari dekade ke dekade akan makin sukar untuk diingat dan dimengerti kenapa dan dengan alasan apa mereka harus ditempatkan/berada di dalam daftar itu. </p>
<p>Semuanya dimungkinkan karena para pahlawan nasional itu &#8220;distempel&#8221; oleh negara, disahkan oleh negara, dan selanjutnya direproduksi kisah-kisahnya oleh negara dengan muatan naratif yang hampir dipastikan tak akan bertentangan dengan negara. Rakyat memamah narasi itu sebagai sesuatu yang eksternal, bukan hal-ihwal yang tumbuh dari diri mereka sendiri &#8212; selayaknya seorang <em>local hero </em>yang tumbuh dari memori dan persetujuan kolektif suatu tempat.</p>
<p>Dalam kasus narasi kepahlawanan nasional di Indonesia, kepahlawanan adalah bukti betapa kokoh dan merasuknya negara dalam peri-kehidupan rakyatnya. Sampai-sampai, sosok teladan pun harus dipilihkan dan dijlentrehkan oleh negara. Persoalannya adalah: negara tak pernah (mau) tahu kalau kebutuhan akan keteladanan di suatu tempat/daerah/kebudayaan itu berbeda satu sama lain.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pejalanjauh.com/2011/11/158/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sekehaji</title>
		<link>http://pejalanjauh.com/2011/11/sekehaji/</link>
		<comments>http://pejalanjauh.com/2011/11/sekehaji/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 06 Nov 2011 15:03:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[cermin]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pejalanjauh.com/?p=1462</guid>
		<description><![CDATA[Rumah ini masih kosong dari perabotan. Kamar paling besar di lantai atas dan ruang utama (ruangan terbesar di rumah ini) masih kosong melompong dari perabot apa pun. Saya tak berpikir untuk memasukkan banyak perabot tambahan, apalagi perabotan berukuran besar. Apa yang tersedia sekarang rasanya sudah cukup. Mungkin saya akan membeli karpet tambahan untuk ruang utama, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Rumah ini masih kosong dari perabotan. Kamar paling besar di lantai atas dan ruang utama (ruangan terbesar di rumah ini) masih kosong melompong dari perabot apa pun.</p>
<p>Saya tak berpikir untuk memasukkan banyak perabot tambahan, apalagi perabotan berukuran besar. Apa yang tersedia sekarang rasanya sudah cukup. Mungkin saya akan membeli karpet tambahan untuk ruang utama, sekadar berjaga jika suatu saat ada tamu yang tak mungkin saya bawa ke ruang belakang.</p>
<p>Ya, ruang belakang, tempat di mana kami lebih sering menghela aktivitas ketimbang di ruangan-ruangan lain (kecuali dapur barangkali). Saya perlu menceritakan sedikit lebih rinci mengenai ruangan belakang ini. </p>
<p>Ruangan belakang ini berukuran sekitar 3&#215;6 meter dan terbujur tanpa sekat. Saya membaginya sedemikian rupa menjadi 3 bagian &#8212; sebuah pembagian yang arbitrer dan bisa dibongkar-pasang. </p>
<p><span id="more-1462"></span>Bagian pertama (sekitar 2&#215;3 meter) letaknya lebih tinggi sejengkal dari bagian lainnya. Di situlah saya menaruh sebuah sofa tidur berwarna coklat, selembar karpet dan sebuah rak kecil berisi televisi 21 inch, sebuah pemutar DVD dan tumpukan puluhan DVD. Saya biasa menonton sepakbola di situ dengan merendahkan sandaran sofa, sambil menyeruput kopi dan menghisap rokok, kadang sambil membaca buku cerita.</p>
<p>Bagian kedua ruangan belakang (2&#215;3 meter) ini saya isi dengan sebuah meja kerja lipat seukuran 1,5 m x 70 cm berikut dua kursi. Jika diperlukan, meja ini bisa menampung aktivitas sampai empat orang sekaligus. Saya tak banyak menaruh benda-benda di meja kerja itu, hanya sebuah kotak kecil dari kawat tipis untuk menaruh benda-benda kecil (pensil, pena, flash-disk). </p>
<p>Di salah satu sisi meja kerja itu terpasang sebuah cermin cukup besar berukuran 1,5 x 3 m yang dengan sendirinya memberi kesan lapang pada ruangan belakang ini. Di meja itulah saya kadang bekerja atau tidak bekerja, membuka laptop, berselancar di dunia maya, atau membaca buku dan bercakap-cakap. </p>
<p>Bagian ketiga dari ruangan belakang ini kosong tanpa perabot, hanya ada kran kecil yang jarang digunakan dan sebuah petak di lantai seukuran 60 cm x 30 cm yang ditanami batuan kerikil. Pada bagian inilah, karena lapang dan kosong dari perabot, saya kadang memainkan bola kaki yang sedikit kempes, sekadar menimang-nimangnya, atau menendang-nendangnya ke tembok.</p>
<p>Berbeda dengan dua bagian lainnya, bagian ini beratapkan langit. Ini membuat sirkulasi udara di ruangan belakang jadi bagus, selalu terasa segar, jauh dari lembab karena berlimpah dengan cahaya matahari. Jika malam sedang terang, saya hanya perlu menggeser sofa sedikit saja untuk bisa menikmati langit yang bercahaya sambil rebahan atau sekadar membaca sambil bersandar di sofa. </p>
<p>Resikonya: jika hujan turun, tempiasnya bisa menyentuh meja kerja, sehingga saya harus menggeser meja sedikit. Jika malam hari angin malam jadi leluasa bersirobok masuk. Menilik posisi rumah ini yang berada di ketinggian Bandung dan menghitung cuaca Bandung beberapa hari terakhir yang tidak bersahabat, tidur sepanjang malam di ruangan ini tanpa selimut akan menjadi pilihan yang agak sedikit bodoh. </p>
<p>Ruangan belakang ini, selain dapur yang letaknya ada di samping ruang utama, menjadi area paling sering dipakai. Beberapa kawan, jika singgah dan bermalam di rumah, selalu menghabiskan dan membuang waktu di ruangan ini. Menonton film atau sepakbola, membaca beberapa buku yang belum banyak koleksinya (baru sekitar 200an buku), atau anteng di meja kerja memandangi layar laptop masing-masing.</p>
<p>Tak ada yang kelewat istimewa dengan ruangan belakang ini, sebagaimana tak ada yang amat khusus dari rumah kontrakan kecil ini. Sederhana saja, secukupnya saja. Sampai sejauh ini, segalanya masih memadai dan karenanya patut disyukuri.</p>
<p>Dan salah satu hal yang amat saya syukuri dari rumah ini adalah pohon jeruk lemon di halaman yang cuma sepetak. Pohon itu berbuah dengan rutin. Buahnya bersih, tanpa hama, juga tanpa biji. Diajeng rutin memetiknya jika sudah ranum, lalu memerasnya dan mencampurkannya pada segelas teh panas dan menghidangkannya di meja kerja.</p>
<p>Tidak jelek-jelek amat, bukan? </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pejalanjauh.com/2011/11/sekehaji/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>7/11</title>
		<link>http://pejalanjauh.com/2011/10/711/</link>
		<comments>http://pejalanjauh.com/2011/10/711/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 08 Oct 2011 15:03:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[meracau]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pejalanjauh.com/?p=1459</guid>
		<description><![CDATA[&#8211; hari paling galau dalam sejarah Setelah serangan kesunyian yang meluluhlantakkan perasaan seluruh penduduk kota mereda pada hari ke-7 di bulan 11, Kolonel Girindra Hinura memutuskan membangun sebuah toserba di pojok alun-alun sebelah utara. Untuk mengenang peristiwa menakjubkan itu, Sang Kolonel menamai toserba miliknya dengan nama &#8220;7/11&#8243;. Sang Kolonel membangun 7/11 sebagai antisipasi kemungkinan datangnya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>&#8211; hari paling galau dalam sejarah</em></p>
<p>Setelah serangan kesunyian yang meluluhlantakkan perasaan seluruh penduduk kota mereda pada hari ke-7 di bulan 11, Kolonel Girindra Hinura memutuskan membangun sebuah toserba di pojok alun-alun sebelah utara. Untuk mengenang peristiwa menakjubkan itu, Sang Kolonel menamai toserba miliknya dengan nama &#8220;7/11&#8243;.</p>
<p>Sang Kolonel membangun 7/11 sebagai antisipasi kemungkinan datangnya kembali serangan kesunyian yang membuat aktivitas kota Harikukun menjadi lumpuh. Ia ingin 7/11 menjadi alternatif bagi penduduk Harikukun untuk berkumpul kapan pun mereka menginginkannya, bertemu dengan siapa pun yang mereka inginkan, agar satu sama lain bisa saling bercakap-cakap dan saling menawarkan kesunyian; dan itulah sebabnya ia merencanakan toserba miliknya buka selama 24 jam dalam sehari dan 7 hari dalam seminggu, tak kenal tutup, tak ada prei.</p>
<p>Sebagai seorang veteran revolusi 1998 yang kenyang makan asam garam pedihnya perjuangan dan peperangan, ia bahagia bukan kepalang menyaksikan penduduk Harikukun berduyun-duyun mengunjungi acara pembukaan toserba 7/11, tepat saat peringatan setahun berakhirnya serangan kesunyian yang meluluhlantakkan perasaan segenap penduduk kota.</p>
<p>Yang tak diketahui oleh Sang Kolonel: sebenarnya tak ada yang merayakan setahun berakhirnya serangan kesunyian itu, karena tak ada yang lagi ingat, kecuali Sang Kolonel sendiri, hanya ia sendiri.</p>
<p><span id="more-1459"></span>Sang Kolonel masih ingat benar suasana kota Harikukun saat serangan kesunyian sedang hebat-hebatnya menyelubungi perasaan segenap penduduk kota. Orang-orang seperti malas melakukan apa pun, sehari-hari hanya duduk-duduk di beranda rumah, muka masam dan sepasang mata yang seperti tak sanggup menahan terjangan kantuk. Orang-orang seperti enggan beranjak dari tempatnya duduk, sibuk dengan pikirannya masing-masing. Percakapan menjadi sesuatu yang susah ditemukan dan satu sama lain hanya bisa berkata-kata pada dirinya sendiri, seringkali di depan cermin, lebih sering di depan ponsel masing-masing, merekam ocehannya sendiri-sendiri, lalu mengunggahnya begitu saja di situs kutube, dan tak peduli lagi apakah ada orang lain yang akan memutar, melihat dan mengomentari video rekaman itu. Ketika wabah kesunyian itu sedang hebat-hebatnya, situs kutube sampai tak bisa diakses selama 7 hari dan 7 jam karena semua penduduk kota sibuk mengunggah ocehan yang mereka rekam sendiri.</p>
<p>Kota Harikukun dikerkah oleh kesibukan yang aneh: orang-orang sibuk dengan dirinya sendiri dan tak peduli dengan kesibukan orang lain. Supir angkutan sibuk mengemudi tapi tak peduli trayeknya, kondektur sibuk meneriakkan rute tujuan tapi tak peduli menarik ongkos kepada penumpang, para penumpang naik ke angkutan tapi tak peduli lagi di mana mereka harus turun. Petugas pos sibuk mengantarkan surat tapi tak peduli apakah alamat yang dituju sudah benar atau tidak dan si penerima surat pun tak peduli apakah surat itu ditujukan untuk dirinya atau untuk orang lain. Para pemain bola tetap berlatih dan bertanding tapi mereka tak peduli apakah tendangan mereka mengarah ke gawang lawan atau ke gawang sendiri.</p>
<p>Orang-orang berlalu-lalang dan bersicepat di jalanan, di kantor, di trotoar, di alun-alun, di mana pun, sambil sibuk mengoceh-oceh sendiri. Kolonel Girindra Hinura kembali dari penugasannya yang terakhir di wilayah perbatasan tepat saat serangan itu sedang hebat-hebatnya. Ia tertegun dan tak sanggup bicara apa pun ketika dengan mata kepala sendiri menyaksikan orang-orang di kampung halamannya ini sibuk mengatakan sebuah kalimat yang sama persis: &#8220;Betapa sunyinya hidup ini.&#8221;</p>
<p>Untuk beberapa minggu Sang Kolonel tak bisa berbuat apa-apa. Ia sudah mengontak Kementerian Agama untuk mengirim para paderinya yang paling hebat untuk mengobati serangan aneh yang menghajar Harikukun, tapi para paderi yang dikirim tak sanggup mengusir serangan aneh ini dan para paderi itu bahkan lama-lama ikut dihinggapi wabah kesunyian. Kementerian Dalam Negeri juga mengutus para pegawainya yang paling tangguh untuk melakukan survey dan sensus guna mengetahui seberapa parah serangan aneh ini, tapi para petugas survey dan sensus itu juga tak sanggup melakukan pekerjaannya karena bagi mereka serangan aneh yang melanda penduduk Harikukun sebagai urusan pribadi yang tak mungkin didalami oleh orang luar seperti mereka.</p>
<p>Kolonel Girindra Hinura tak tahan dengan situasi ini karena jika dibiarkan ia akan ikut-ikutan dilanda serangan aneh yang sudah membuatnya tak punya teman bercakap-cakap.</p>
<p>Ia menganalisa penduduk kota Harikukun sudah sedemikian rapuh kehilangan konsentrasi, lebih karena mereka kelewat berkonsentrasi pada perasaan dan dunia batinnya sendiri. Satu-satunya jalan, demikian analisa Sang Kolonel, adalah mencari cara bagaimana agar penduduk kota Harikukun bisa fokus pada satu hal yang sama di luar perasaan mereka sendiri. Di situlah soalnya. Sang Kolonel tak mendapatkan satu pun pemecahan. Kota Harikukun sudah terkenal dengan keragaman penduduknya, baik dalam hal ras, agama, hobi, partai, dan semua-muanya. Mustahil menemukan satu hal yang bisa mengikat semua penduduk Harikukun ke dalam satu ruang konsentrasi yang sama atau pada objek yang sama.</p>
<p>Dalam kekacauan pikiran yang demikian kusut, setelah berhari-hari mondar-mandir di beranda rumahnya yang tua dan tak terawat, Sang Kolonel sesungguhnya sudah diintip oleh serangan wabah itu sendiri. Dia sadar dan mengerti dengan sangat baik bahwa pelan tapi pasti ia juga sudah mulai digerogoti oleh rasa letih yang lama-lama tak bisa lagi ditanggungnya, rasa letih karena merasa sendirian, tak punya kawan bercakap-cakap. Sampai suatu saat, ketika serangan aneh kesunyian itu sudah hampir seluruhnya menguasai perasaan Sang Kolonel, ia berdiri di depan cermin, melihat wajahnya yang menua, keriput di dahinya yang makin jelas, berikut uban di kepalanya yang makin kentara. Untuk pertama kalinya, setelah bertahun-tahun tak pernah bercermin dengan perasaan yang seintim ini, sebagaimana yang ia alami terakhir kalinya saat hendak berkencan dengan Nyonya Attina, janda Letnan Kolonel Hortasu yang sangat dibencinya. Dalam aktivitas mengamati diri sendiri yang masokistis itu, ia melihat wajahnya sendiri sebagai sepotong daging yang terlontar dari tubuh seorang prajurit yang terkena sebuah mortir tepat di dadanya. Ia melihat kematian dan sejarah maujud menjadi sebuah kolase yang menyedihkan. Dalam getir yang tak tertahankan, bibir Sang Kolonel bergerak mengucapkan: &#8220;Betapa sunyinya hi&#8230;.&#8221;</p>
<p>Ya, hanya sampai di situ saja. Hanya sampai &#8220;hi&#8230;&#8221;, tak sempat menjadi &#8220;&#8230;dup ini&#8221;. Tepat saat bibirnya sampai pada suku kata &#8220;hi&#8230;&#8221;, Sang Kolonel melihat dirinya bercahaya, pendar cahaya yang hanya berlangsung sekilas, tapi sontak membuat matanya menyala kembali untuk kemudian melihat wajahnya di cermin dengan cara pandang yang berbeda, sebuah cara pandang yang sepenuhnya historis: wajah yang dulu pernah membuatnya terkenal sebagai pahlawan revolusi 1998 karena sanggup meredam kemungkinan baku bunuh yang mengerikan di kota Harikukun ketika arus revolusi sampai di Harikukun secara keliru. Ya, dia, Kolonel Girindra Hinura, dimasyhurkan oleh kecakapan dan kewibawaanya meredam potensi baku bunuh di Kota Harikukun pada Mei 1998 yang mengerikan itu. Dan karena jasanya itulah dia diangkat menjadi Kamitua Kota untuk seumur hidupnya.</p>
<p>Dengan gerak yang meyakinkan, Sang Kolonel menaikkan kerahnya dan berkata dengan mantap: &#8220;Akulah hal ihwal yang bisa membuat penduduk kota ke luar dari cengkeraman perasaannya masing-masing.”</p>
<p>Buru-buru ia menelepon bekas ajudannya yang tinggal di kota lain untuk segera datang ke Harikukun. Ajudannya datang dengan tergopoh-gopoh dan langsung ia perintahkan untuk menyiapkan sebuah mobil bak terbuka yang dulu ia naiki untuk berkeliling kota meredakan ancaman baku bunuh yang akan menghanguskan kota. Sang Kolonel sendiri yang memasang sebuah banner besar bergambar wajah Ceu Eva Ara, pahlawan revolusi dari awal abad 17 yang sangat terkenal, yang pada Mei 1998 juga terpasang di bagian depan mobil yang dinaiki Sang Kolonel. Semua atribut, benda-benda, emblem, dan apa pun itu yang dulu dikenakan Sang Kolonel saat berkeliling Kota untuk meredakan ancaman baku bunuh dikeluarkan kembali. Dalam diam yang tak mungkin diungkapkan, mantan ajudan Sang Kolonel melihat semua itu dengan perasaan yang campur aduk. Ia melihat mantan bos-nya, yang dulu dikenal dengan sikap materialisme yang keras kepala, kini tampil seperti seorang bangsawan yang nyaris bangkrut dan karenanya terpaksa mengeluarkan pusaka-pusaka peninggalan nenek moyang untuk dijual hanya untuk membangkitkan kembali pendar aura yang sebenarnya sudah lama hilang dan dilupakan.</p>
<p>Pada pagi hari yang sudah ditentukan, tepat pada tanggal 7 bulan 11, Kolonel Girindra Hinura ke luar dari rumahnya dengan berdiri di atas susunan sound-speaker yang terpasang di bagian belakang mobil bak terbuka yang disupiri si mantan ajudan. Ia berdiri dengan kegagahan yang meyakinkan, setidaknya bagi dirinya, karena mantan ajudannya sendiri tak sepenuhnya paham kenapa dan untuk apa semua ini harus dilakukan. Ketika sampai di perempatan menjelang alun-alun kota Harikukun, Sang Kolonel mulai beraksi. Ia berdehem beberapa kali, lalu mengetes mikrofon tua yang dipegangnya.</p>
<p>&#8220;Tes tes tes&#8230;. satu dua satu dua&#8230; tes tes &#8230;.&#8221;</p>
<p>Sang Kolonel menikmati suara yang ke luar dari sound-speaker yang ada di bawah kakinya. Suara itu bergema sampai jauh, memantul di tembok-tembok bangunan tinggi, lalu berlesatan kembali ke arah si empunya suara, sampai Sang Kolonel tersedak dengan pantulan suaranya sendiri yang bersirobok minta masuk kembali ke kerongkongannya. Alih-alih surut, perasaan bahwa suaranya masih memiliki gema yang sama gagahnya itu membuatnya semakin mantap untuk mengeluarkan suaranya yang mengguntur:</p>
<p>&#8220;Selamat pagi, Harikukun. Selamat pagi rakyat Harikukun yang aku cintai&#8230;.&#8221;</p>
<p>Ketika sampai di alun-alun kota, Sang Kolonel memerintahkan ajudannya untuk mengarahkan mobil ke tengah-tengah alun-alun, tepat di antara dua pohon jengkol keramat yang dulu dikenal sebagai tempat menggantung orang-orang kepercayaan Presiden Sukerna, termasuk menggantung Letnan Kolonel Hortasu yang dibencinya seumur hidup karena dengan cara culas mengambil Attina dari tangannya. Di sanalah, di tengah pohon jengkol yang menjadi saksi kehebatan revolusi 1998, Sang Kolonel mengerahkan semua tenaganya untuk memanggil semua penduduk kota Harikukun.</p>
<p>Untuk pertama kali sejak serangan kesunyian menghajar kota Harikukun, segenap penduduk kota mendengar sebuah suara yang sangat amat kencang. Sejak serangan kesunyian yang meluluh-lantakkan perasaan masing-masing penduduk kota, mereka hanya bisa mendengar suaranya sendiri, gema suara batinnya sendiri, suara batin yang berulang-ulang menggerakkan bibir mereka untuk berkata lirih, &#8220;Betapa sunyinya hidup ini.&#8221; Sesuatu yang berisik dan keras itu menggedor-gedor pendengaran warga Harikukun, sehingga suara batin mereka mulai terganggu, tercampuri oleh suara asing yang tak jelas. Lama-lama, konsentrasi warga Harikukun mulai terpecah. Suara batin masing-masing mulai terdengar lamat-lamat, tak sejelas seperti sebelumnya. Suara asing mulai datang, awalnya sangat pelan, tapi lambat laun makin kuat, terus menguat, sampai akhirnya semua penduduk Harikukun bisa mendengar jelas suara asing itu ternyata sebuah kalimat yang terus-menerus diulang: &#8220;Hidup ini tidak sunyi, hidup ini tidak sunyi, hidup ini tidak sunyi&#8230;.&#8221;</p>
<p>Lalu masing-masing mulai mencari sumber datangnya suara asing itu, yang pelan tapi pasti terasa tidak lagi asing, seperti suara yang pernah mereka kenal sebelumnya. Tapi masih belum jelas di mana dan bagaimana pula mereka mengenalnya. Kedatangan suara asing tapi terasa akrab itu membuat penduduk Harikukun ke luar dari perasaannya masing-masing, lalu &#8212; entah dimulai oleh siapa &#8212; satu per satu mereka mulai mencari asal suara asing tapi terasa akrab itu.</p>
<p>3 jam setelah Kolonel Girindra Hinura memulai aksi heroiknya, ketika volume suaranya mulai mengendur oleh usia tua dan terik matahari, satu per satu penduduk Harikukun mulai muncul di alun-alun. Pertama-tama Sang Kolonel melihat kedatangan Khargo, lelaki yang dikenalnya sebagai salah satu tersangka pengkhianat revolusi 1998 tapi berhasil selamat dari tiang gantungan karena kecerdikan dan pengetahuannya yang mengangumkan akan jalan-jalan tikus di Harikukun. Lalu disusul oleh penduduk lain yang datang dengan raut muka yang memancarkan kombinasi rasa kesal, rasa heran, dan rasa penasaran.</p>
<p>Melihat kedatangan mereka, Sang Kolonel merasa mendapatkan tambahan tenaga baru sehingga suaranya yang nyaris habis mendadak bisa menggema dengan kekuatan yang menakjubkan, seakan-akan ia tak pernah berbicara sedikit pun sepanjang hidup. Sang Kolonel terus berbicara, mengingatkan apa yang terjadi pada Mei 1998, menceritakan bagaimana ia meredakan ancaman baku bunuh yang mengerikan, mengisahkannya dengan akurasi detail yang menakjubkan, seakan-akan peristiwa itu baru saja berlangsung kemarin sore. Ketika sampai pada adegan di mana ia kena serempetan peluru yang dilontarkan oleh Laskar Mawar yang dikerahkan Letnan Kolonel Hortasu, Sang Kolonel menghentakkan baju yang dikenakan dengan sepenuh tenaga, sehingga barisan kancing-kancing lepas berhamburan.</p>
<p>&#8220;Lihat, lihat luka di bahu kananku ini!&#8221; teriak Sang Kolonel dengan suara menggelegar.</p>
<p>Orang-orang menatap Sang Kolonel. Luka itu terlihat jelas, menggumpal sedemikian rupa, serupa tatto yang dihilangkan secara paksa melalui setrikaan. Luka itu mengkilau dibasahi oleh keringat Sang Kolonel. Kilau yang terpercik dari gumpalan luka itu begitu tajam, seperti dipantulkan oleh sebuah kaca pembesar, memercik sedemikian rupa, lalu terpecah di udara melalui sebuah proses pembiasan yang tak kasat mata, lalu biasnya menyebar ke semua arah, merasuk ke semua mata orang yang melihatnya, turun ke tenggorokan mereka dan berhenti dengan cara menghunjam kuat di batin masing-masing orang yang melihatnya.</p>
<p>Lalu, segenap penduduk kota Harikukun yang ada di alun-alun itu tersirap oleh satu perasaan yang sama betapa mereka pernah terluka, pernah dilukai, pernah melukai. Satu sama lain mengusap dada masing-masing, menghela nafas panjang, sehingga helaan yang lembut tapi dilakukan secara serentak oleh semua orang itu bertiwikrama menjadi segelombang udara sejuk yang membuat suasana mendadak menjadi lebih tenang, terus menenang, sampai pada satu titik di mana satu sama lain tersadar bahwa hidup memang tidak terlalu sunyi seperti yang selama berbulan-bulan terakhir ini mereka yakini.</p>
<p>Dari ketinggian tempatnya berdiri, Sang Kolonel bisa melihat dengan jelas perubahan yang terjadi pada penduduk Harikukun yang hadir di alun-alun. Ia bisa melihat bagaimana raut wajah mereka menjadi lebih damai, menjadi lebih bisa menerima kenyataan hidup, dan &#8212; ini yang menyedihkannya&#8211; juga bisa mengenali Sang Kolonel yang bagi mereka terlihat sangat menyedihkan. Sang Kolonel menyadari hal ini. Ia buru-buru mencari bajunya, tapi lupa baju yang dikenakannya sudah robek sedemikian rupa dan sudah ia lemparkan entah ke mana. Menyadari bahwa kini ia menjadi satu-satunya orang yang bertelanjang dada, pada tengah hari yang terik, di atas tumpukan sound-speaker yang berada di bagian belakang sebuah mobil bak terbuka, Sang Kolonel tidak bisa tidak merasa begitu sendirian.</p>
<p>Ketika seseorang dari kerumunan penduduk Harikukun naik ke atas mobil dan mengajaknya turun, ia menurutinya begitu saja, seperti seseorang yang baru saja gagal melakukan aksi bunuh diri dengan meloncat dari sebuah menara setinggi 117 meter. Sang Kolonel dibawa pulang ke rumahnya, diiringi oleh ribuan orang yang merasa telah dengan kurang ajar melupakan seorang pahlawan yang pernah sangat berjasa bagi kota Harikukun.</p>
<p>Hari-hari setelahnya berlangsung dengan wajar bagi penduduk Harikukun, seakan-akan tak pernah terjadi satu hal yang aneh dalam kehidupan mereka. Sementara Sang Kolonel tak pernah berhenti berpikir bagaimana dunia bisa begitu terbalik dalam sekejap: ia yang hendak menyelamatkan Harikukun dari serangan aneh kesunyian yang meluluh-lantakkan perasaan segenap penduduk, justru diperlakukan sebagai lelaki tua menyedihkan yang harus sama-sama diselamatkan oleh semua penduduk kota. Sang Kolonel tak mungkin menyalahkan nasib yang tak adil, karena bagi pahlawan revolusi seperti dirinya, adalah hal yang memalukan jika menyalahkan nasib, karena ia sadar betapa revolusi dan kepahlawanan selalu saja ditentukan oleh nasib baik yang tak jelas dari mana dan bagaimana datangnya.</p>
<p>Satu-satunya hal yang membuat Sang Kolonel sanggup bertahan dari gejolak perasaan asing itu adalah naluri kepahlawannya yang tak pernah hilang. Ia merasa sudah menjadi takdirnya harus hidup sebagai pahlawan dan sudah menjadi kewajibannya pula &#8211;sebagai konsekuensi magis dari status pahlawan itu&#8211; untuk terus memikiran orang lain, siapa pun itu, tak terkecuali dan terutama penduduk Kota Harikukun. Dari situlah lahir ide untuk mendirikan sebuah toserba yang bisa menjadi tempat bagi penduduk Harikukun untuk bertemu, bercakap-cakap dan bercengkerama kapan pun dan dengan siapa pun. Dalam bayangannya, sebuah tempat sederhana tapi selalu menyediakan apa pun dan tersedia kapan pun bisa menjadi antisipasi yang paling masuk akal dari kemungkinan datangnya serangan aneh kesunyian yang bisa kembali meluluhlantakkan perasaan segenap penduduk kota Harikukun.</p>
<p>Dengan menguras semua tabungan pensiunnya, ia pun mendirikan sebuah toserba di pojok alun-alun sebelah utara. Sudah banyak toserba di Harikukun, tapi harus diakui toserba ala Kolonel Girindra Hinura ini benar-benar orisinal dan belum pernah ada di Harikukun. Toserba di Harikukun umumnya hanya tempat jual beli barang-barang kebutuhan sehari-hari, sementara di toserba Sang Kolonel disediakan pula belasan bangku dan meja tempat siapa pun bisa langsung menikmati barang-barang yang dibeli saat itu juga, sambil duduk-duduk, bercakap-cakap, bercengkerama, dengan siapa saja, kapan saja, 24 jam dalam sehari, 7 hari dalam seminggu.</p>
<p>Hanya Sang Kolonel yang tahu bahwa ide itu tidak sepenuhnya orisinal. Ia menconteknya begitu saja dari sebuah buku dongeng yang ia baca saat mengaso di tengah-tengah pertempuran di daerah perbatasan. Ia membaca buku dongeng itu dengan setengah malas, tapi ia tak akan melupakan salah satu cerita dongeng yang dibacanya di buku itu, sebuah cerita mengenai kota imajiner bernama Ja Fuck Tra yang hancur karena serbuan toserba 24 jam yang dalam waktu dua tahun jumlahnya telah mengalahkan jumlah rumah dan apartemen di Ja Fuck Tra sendiri.</p>
<p>Ketika toserba 7/11 secara resmi dibuka, orang-orang berdatangan semata-mata untuk menghormati kepahlawanan Sang Kolonel yang telah belasan tahun pergi dari Harikukun. Di hari-hari selanjutnya, toserba 7/11 itu tetap ramai, tapi bukan oleh orang-orang dewasa yang usianya memungkinkan mereka sadar dan paham kepahlawanan Sang Kolonel, melainkan oleh anak-anak belasan tahun yang tak ada sangkut pautnya dengan kepahlawanan Sang Kolonel. Anak-anak itu betah berlama-lama duduk-duduk di beranda toserba 7/11 tanpa perlu merasa khawatir akan dipanggil pulang oleh orang tua mereka. Ya, tak mungkin mereka disuruh pulang, karena para orang tua sendiri yang menyuruh anak-anaknya untuk menghabiskan waktu di toserba 7/11. Para orang tua itu, dalam pengakuan di antara mereka sendiri, ingin agar anak-anaknya bisa mewarisi kepahlawan Sang Kolonel. Tapi itu sesungguhnya hanya dalih untuk menutupi keengganan dan ketidakmampuan mendidik anak-anak.</p>
<p>Sang Kolonel menyadari arah berbeda dari yang ia rencanakan, tapi ia tak bisa berbuat apa-apa lagi. Yang bisa ia lakukan, tiap kali ia menengok toserba yang didirikan dengan etos kepahlawanan yang masih terus ia percayai, adalah mengamati anak-anak belasan tahun sibuk bersenda gurau mengenai banyak hal yang tak pernah ia mengerti, tak akan pernah ia mengerti. Kadang kala ia merasa sedih karena kehadirannya tak pernah dihiraukan oleh anak-anak muda belasan tahun itu, tapi sering juga ia merasa senang melihat mereka bersenda gurau. Pada senda gurau itu, ia melihat masa depan Harikukun yang sepertinya akan aman dari serangan kesunyian yang pernah meluluhlantakkan perasaan seluruh penduduk Harikukun. </p>
<p>Satu-satunya yang tak ia sadari adalah anak-anak muda belasan tahun yang selalu memenuhi toserba 7/11 itu menyimpan persepsi tersendiri pada Sang Kolonel. Ia baru sadar akan hal itu ketika salah satu dari berkata: “Kek, sudah tua kok masih doyan galau gitu sih?” </p>
<p>“Galau”. Kata itu tiba-tiba saja hadir dalam perbendarahaan kata Sang Kolonel dan ia tak paham apa arti dari kata itu. Seingatnya, ia sudah cukup berpengalaman dan berpengetahuan dalam soal kehidupan, dalam soal politik, dalam soal revolusi, tapi ia tak pernah mendengar dan memahami apa arti yang terkandung dari kata “galau”. Ia mencoba mencari padanannya, tapi kata “galau” seperti tak punya padanan, setidaknya dalam dan bagi hidupnya. Ia bertanya pada seorang bocah yang mengutil satu pack kondom di 7/11 soal kata “galau”, tapi bocah nakal itu cuma mengangkat bahu. Sang Kolonel mengontak sang ajudan dan menanyakan hal sama, tapi sang ajudan juga tak mengerti.</p>
<p>“Kita hidup di zaman yang berbeda, Kolonel!” kata sang ajudan dari seberang telepon.</p>
<p>Kata-kata mantan ajudan itu menjadi sebentuk pencerahan yang tuntas bagi Sang Kolonel. Untuk pertama kali ia sadar akan jurang yang tak terjembatani antara dirinya dengan dunia di sekelilingnya, juga antara dia dengan toserba 7/11. Ia merasakan kesunyian yang mengerikan, tapi pada saat yang sama ia merasakan kedamaian. Ya, kedamaian, lebih karena ia sudah bisa menerima semuanya. Dan dalam kedamaian yang hanya bisa ia mengerti sendiri itulah ia mati pada satu siang hari yang akan dikenang oleh para sejarawan kontemporer sebagai “siang hari yang paling galau dalam sejarah Harikukun”.</p>
<p>Saat orang-orang tua mereka larut dalam arak-arakan panjang mengantarkan jenazah Sang Kolonel ke pamakaman, anak-anak muda belasan tahun itu tetap asyik bersenda gurau di bangku dan meja toserba milik Sang Kolonel. Ketika arak-arakan itu lewat di depan toserba, beberapa saat sebelum matahari tenggelam, anak-anak muda belasan tahun itu tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Mereka hanya melihat arak-arakan beberapa orang tua yang lewat dengan paras yang sepenuhnya murung.</p>
<p>Salah seorang dari mereka mengomentari pemandangan itu dengan kata-kata yang pasti tak akan pernah bisa dimengerti oleh Sang Kolonel: “Masih sore begini kok sudah galau. Meh!”</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pejalanjauh.com/2011/10/711/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tai</title>
		<link>http://pejalanjauh.com/2011/07/tai/</link>
		<comments>http://pejalanjauh.com/2011/07/tai/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 24 Jul 2011 17:52:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[meracau]]></category>
		<category><![CDATA[elias canetti]]></category>
		<category><![CDATA[tai]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pejalanjauh.com/?p=1442</guid>
		<description><![CDATA[&#8211; mengenang (sedikit) elias canetti, 25 juli 1905 &#8211; 25 juli 2011 Elias Canetti, dalam bab &#8220;Die Eingeweide der Macht&#8221; yang terdapat dalam buku terkenalnya yang berjudul Masse und Macht, sempat menjelajahi arti tai untuk lebih memahami lobang-lobang dalam pemahaman kita ihwal sisi kelam manusia dan kemanusiaan. Baginya, tai menjadi alegori dari apa yang telah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>&#8211; mengenang (sedikit) elias canetti, 25 juli 1905 &#8211; 25 juli 2011</em></p>
<p>Elias Canetti, dalam bab &#8220;Die Eingeweide der Macht&#8221; yang terdapat dalam buku terkenalnya yang berjudul Masse und Macht, sempat menjelajahi arti tai untuk lebih memahami lobang-lobang dalam pemahaman kita ihwal sisi kelam manusia dan kemanusiaan.</p>
<p>Baginya, tai menjadi alegori dari apa yang telah kita bunuh. &#8220;Tai adalah jumlah lumatan dari seluruh indikasi-indikasi yang melawan kita,&#8221; tulis Canetti.</p>
<p>Saya kutipkan inti pandangan Canetti tentang tai seturut yang diikhtisarkan oleh Dagmar Lorenz dalam buku A Companion to the Works of Elias Canetti [hal. 307-308]:</p>
<p>&#8220;Bagi Canetti, segala tentang tai itu penting karena mewakili suatu kenyataan yang ingin kita abaikan. Baginya, itu semua mengindikasikan kesalahan kita. Tinja, bagi Canetti, memperlihatkan kekejaman manusia, membuktikan bahwa kita adalah pembunuh… Tai juga menjadi saksi langsung dari kekuatan dalam kehidupan kita.”</p>
<p><span id="more-1442"></span>Kita menyaksikan destruksi pada seonggok tai, tapi ia bukan sekadar destruksi, melainkan juga segala yang telah kita hancur-lumatkan, semua yang pernah mencoba melawan, namun akhirnya kalah dan remuk redam dan lantas kita buang di kakus sebagai hal-hal yang bau dan busuk, sekaligus sebagai bukti dari kekejaman manusia ["feces evince human cruelty"].</p>
<p>Kita sungguh enggan menatapnya lama-lama, juga mual jika membaui hal-hal yang beberapa jam sebelumnya kita kunyah dengan penuh hasrat. Itu sebabnya kita juga enggan membagi pemandangan dengan orang lain tiap kali melihat tai-tai berhamburan dari anus sendiri. Cukuplah kita sendiri yang melihat, itu pun tak mau lama-lama, syukur-syukur mata kita tak sempat menatapnya, karena lekas-lekas kita menekan tombol air di kakus, yang dengan segera akan membenamkan tai-tai itu pada kubangan septic-tank.</p>
<p>Itu sebabnya, Canetti menulis dalam bab dan buku yang sama, &#8220;Manusia sungguh-sungguh sendirian dengan tainya.&#8221; Sebab, siapa yang mau memberi tahu orang lain ihwal &#8220;korban-korban kekejaman&#8221; masing-masing?</p>
<p>Ya, kekejaman. Kadang saya berpikir, tai barangkali juga menjadi alegori dari hal-ihwal yang kalah dan terkalahkan: di dalam proses pencernaan, ada pertarungan sengit antara pelbagai unsur makanan, sehingga ada yang menjadi kalori, ada yang menjadi lemak di perut atau pinggang dan yang paling sial adalah menjadi tai yang lantas dibuang begitu saja di kakus lewat anus yang bokongnya mungkin tak mulus karena gudik.</p>
<p>Tentu saja, tai adalah sesuatu yang natural pada mahluk hidup. Manusia tak mungkin bertahan hidup tanpa asupan makanan dan minuman, seperti halnya manusia juga tak bisa bertahan hidup jika asupan itu tak dikeluarkan &#8212; seperti yang dengan plastis dikatakan pengarang Charles Bukowski, “A man can go seventy years without a piece of ass, but he can die in a week without a bowel movement.”</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pejalanjauh.com/2011/07/tai/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>12</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Topi</title>
		<link>http://pejalanjauh.com/2011/07/topi/</link>
		<comments>http://pejalanjauh.com/2011/07/topi/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 22 Jul 2011 17:17:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[meracau]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pejalanjauh.com/?p=1435</guid>
		<description><![CDATA[&#8211; perihal penjahat yang tidak keren tapi merasa dirinya keren Begitu rekaman wawancara itu selesai ditayangkan televisi, Borges teringat suatu masa ketika ia menyaksikan sebuah film koboi. Melalui televisi hitam putih milik tetangganya yang kaya, Borges tak pernah melewatkan serial film koboi yang selalu tayang setiap Minggu siang. Ia tak tertarik dengan kuda-kuda gagah atau [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>&#8211; perihal penjahat yang tidak keren tapi merasa dirinya keren</em></p>
<p>Begitu rekaman wawancara itu selesai ditayangkan televisi, Borges  teringat suatu masa ketika ia menyaksikan sebuah film koboi.</p>
<p>Melalui televisi hitam putih milik tetangganya yang kaya, Borges tak pernah melewatkan serial film koboi yang selalu tayang setiap Minggu siang. Ia tak tertarik dengan kuda-kuda gagah atau kemahiran menggunakan tali lasso atau akurasi tembakan yang mengerikan. Yang dikagumi Borges dari koboi-koboi yang dilihatnya di televisi, dan karenanya selalu ia tunggu-tunggu, adalah ketika sang koboi menarik ujung topi di kepalanya tiap kali berhasil melakukan sesuatu dengan benar. </p>
<p>Tak ada yang lebih mempesona Borges selain gaya seorang koboi menyentuh ujung kanan topinya, menariknya sedikit ke bawah, yang diikuti oleh kedipan mata yang wajar dan tak berlebihan, disertai senyum tipis yang meyakinkan tapi tidak angkuh. </p>
<p>Borges tak akan pernah lupa adegan dalam sebuah film koboi yang menggambarkan seorang perampok yang menjebol brankas sebuah bank setelah sebelumnya menembak Sheriff. Di hadapan Sheriff yang terkapar meregang  nyawa, perampok itu memungut topinya yang terjatuh, meletakkan topi itu di kepalanya, lalu sedikit menurunkan ujung kanan topinya sembari berkata: Nikmatilah hidupmu, lakukan pekerjaanmu, lalu kenakanlah topimu.*</p>
<p><span id="more-1435"></span>Borges terpana dengan adegan itu, juga tersirap bukan main dengan kata-kata Sang Koboi. Gayanya menyentuh ujung kanan topi itu terasa sangat meyakinkan dan begitu keren. Sementara kata-kata Sang Koboi berdenging di kepalanya serupa mantra yang dijejalkan oleh Kamitua paling sakti di kampungnya. Sejak itu, Borges kecil terobsesi melihat adegan ketika seorang koboi menyentuh ujung kanan topinya dan – tanpa ia sadari— berambisi suatu saat bisa melakukan hal serupa dan mengucapkan kalimat yang sama.</p>
<p>Borges teringat kembali semuanya itu ketika televisi di hadapannya selesai menayangkan sebuah rekaman wawancara jarak jauh yang dilakukan melalui internet. Ia merasa topi yang dikenakan oleh dirinya dalam rekaman itu kelewat kuno, tapi perasaan itu tak membuat kebahagiaannya berkurang sedikit pun. </p>
<p>Kembali Borges ingat adegan dalam film koboi yang dilihatnya pada masa kecil ketika seorang perampok mengenakan topinya yang jatuh seusai baku tembak dengan seorang Sheriff. Ia juga ingat dengan persis kata-kata yang diucapkan sang perampok tepat ketika dia sedang menurunkan ujung kanan topinya. Borges merasa, kata-kata itu tak sepenuhnya benar. Persisnya:  urutannya tak benar. Tapi Borges sudah tahu urutan kata-kata yang lebih tepat.</p>
<p>Borges mengambil topi yang terletak di meja dan mengenakannya. Tangannya mengelus-elus sepucuk revolver yang tak pernah digunakan tapi sepertinya akan segera ia gunakan. Sembari sedikit menurunkan ujung kanan topinya, Borges tersenyum tipis dan berkata lirih: “Lakukan pekerjaanmu, nikmatilah hidupmu, lalu kenakanlah topimu.”</p>
<p>Untuk pertama kalinya Borges mengerti betapa nikmatnya mampu menyempurnakan impian masa kecil.</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-<br />
* Petikan dari sajak &#8220;Conscience&#8221; karya Henry David Thoreau</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pejalanjauh.com/2011/07/topi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

