<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	>

<channel>
	<title>nasib adalah kesunyian masing-masing</title>
	<atom:link href="http://pejalanjauh.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://pejalanjauh.com</link>
	<description></description>
	<pubDate>Tue, 02 Mar 2010 20:32:56 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.7</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Langendriyan</title>
		<link>http://pejalanjauh.com/2010/03/langendriyan/</link>
		<comments>http://pejalanjauh.com/2010/03/langendriyan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 02 Mar 2010 20:27:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[biografi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pejalanjauh.com/?p=1056</guid>
		<description><![CDATA[&#8211; damar wulan, juga mei lanfang
Saat menonton film Forever Enthralled karya Chen Kaige tentang pergulatan hidup legenda opera Peking (jingju), Mei Lanfang, saya teringat Cerita Panji atau “novel” Virginia Woolf berjudul Orlando: semuanya perihal laki-laki yang “menjadi” perempuan.
Tapi Mei Lanfang bukan Dewi Sekartaji dalam Cerita Panji atau Vita Sackville-West dalam “novel” Orlando. Mei adalah seorang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>&#8211; damar wulan, juga mei lanfang</em></p>
<p><img src="http://pejalanjauh.com/wp-content/uploads/2010/03/blangkon-terakhir.jpg" alt="blangkon-terakhir" title="blangkon-terakhir" width="300" height="458" class="alignleft size-full wp-image-1057" />Saat menonton film <em>Forever Enthralled </em>karya Chen Kaige tentang pergulatan hidup legenda opera Peking (<em>jingju</em>), Mei Lanfang, saya teringat <em>Cerita Panji </em>atau “novel” Virginia Woolf berjudul <em>Orlando</em>: semuanya perihal laki-laki yang “menjadi” perempuan.</p>
<p>Tapi Mei Lanfang bukan Dewi Sekartaji dalam <em>Cerita Panji </em>atau Vita Sackville-West dalam “novel” <em>Orlando</em>. Mei adalah seorang “aktor” yang sepanjang hidupnya selalu memerankan tokoh perempuan.</p>
<p>Seorang Bertolt Brecht, yang pernah melihat pertunjukan Mei dan sempat pula bersahabat dengannya, menulis sebuah esai “Allienation Effect in Chinesse Acting” yang menguraikan tentang <em>Verfremdungseffekt</em> atau <em>allienation effect</em>. </p>
<p>Esai yang ditulis setelah mengamati akting dan kehidupan sehari-hari Mei itu kurang lebih memaparkan betapa opera Cina secara tradisi punya kesadaran kuat bahwa antara panggung dan penonton itu mesti dipisahkan. Efek-efek alienasi, dengan demikian, ialah sebentuk teknik untuk menjaga agar penonton terhindar dari penyerapan diri secara penuh ke dalam karakter-karakter yang diciptakan aktor dari atas panggung –dan dari situ penonton bisa tetap menjadi pengamat yang kritis.</p>
<p><span id="more-1056"></span>Brecht menyelami <em>jingju</em> langsung dengan mengamati eksemplar yang terbaik, sang maestro: Mei Lanfang. Ia pujaan rakyat Beijing yang memang sangat menggilai <em>jingju</em>. Karena percaya bahwa “Cina tidak akan mati selama <em>jingju</em> masih terus hidup” –dan <em>Jingju</em> saat itu adalah Mei Lanfang—maka militer-fasis Jepang yang sedang menduduki Cina merasa penting untuk memaksa Mei Lanfang kembali naik panggung untuk merayakan keberhasilan Jepang menduduki Cina. Pendeknya: Jepang berharap bisa menaklukkan penduduk Beijing dengan <em>menaklukkan</em> Mei Lanfang, “Sang Mata-hati Beijing”.</p>
<p>Saya sendiri masih belum begitu bisa menikmati jingju. Saya masih belum mengerti kenapa para aktor <em>jingju</em> seringkali menyanyi dengan suara tipis mendekati –dalam istilah sehari-hari di sini—“cempreng”.</p>
<p>Jawa “punya” Mei Lanfang-nya sendiri. Dari sekian banyak genre seni pertunjukkan yang lahir dari rahim Jawa, tersebutlah apa yang dinamakan “langendriyan”. Seperti halnya <em>jingju</em>, <em>langendriyan</em> adalah seni pertunjukkan yang menggabungkan tari dan lagu. Tidak seperti wayang orang yang menghadirkan dialog, percakapan dalam <em>langendriyan</em> dihadirkan melalui tembang. Itu sebabnya, <em>langendriyan</em> sering disebut sebagai opera Jawa.</p>
<p>Jika Mei Lanfang adalah laki-laki yang memerankan karakter perempuan, para aktor-penembang dalam langendriyan adalah perempuan yang (harus) memerankan laki-laki. Aktor-penembang <em>langendriyan</em> semuanya adalah perempuan, sehingga karakter laki-laki pun mesti dimainkan oleh perempuan.</p>
<p><img src="http://pejalanjauh.com/wp-content/uploads/2010/03/diajeng-blangkon11.jpg" alt="diajeng-blangkon11" title="diajeng-blangkon11" width="300" height="449" class="alignright size-full wp-image-1060" /><em>Langendriyan</em> lahir dari Surakarta, persisnya dari lingkungan Mangkunegara, tapi bukan dari dalam benteng Pura Mangkunegara. Ia lahir dari luar tembok, mula-mula diciptakan oleh Raden Mas Arya Tandhakusuma, atas inisiatif seorang bule juragan batik bernama Von Gottlieb yang ingin mempersembahkan sesuatu kepada Mangkunegara IV. Para pemerannya: perempuan-perempuan yang bekerja sebagai pembatik. Terkesan dengan pertunjukkan <em>Langendriyan</em>, Mangkunegara IV mengambil-alih inisiatif Von Gottlieb dengan menjadikan <em>Langendriyan</em> sebagai kesenian istana.</p>
<p>Karya agung Raden Mas Arya Tandhakusuma itu kelak terkenal dengan nama <em>Langendriyan Mandraswara</em> atau <em>Langendriyan Mangkunegara</em> yang menuturkan kisah Damar Wulan yang mesti menghadapi Adipati Menak Jinggo untuk menyelamatkan Majapahit. Sepanjang abad 20, <em>Langendriyan Mandraswara</em> hanya dipentaskan dua kali: pada 1941 dan 1982. </p>
<p>Lalu, kapan kamu akan memerankan Damar Wulan? Bukankah sudah ada kumis tipis di atas bibirmu? Tapi jangan minta saya jadi Kencono Wungu kendati kaki saya memang tidak berbulu <img src='http://pejalanjauh.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pejalanjauh.com/2010/03/langendriyan/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Sexy</title>
		<link>http://pejalanjauh.com/2010/02/sexy/</link>
		<comments>http://pejalanjauh.com/2010/02/sexy/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 22 Feb 2010 15:20:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[flaneur]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pejalanjauh.com/?p=1051</guid>
		<description><![CDATA[&#8211; tarian tanpa koreografi
Setelah pertunjukan selesai dan berganti pakaian di kamar ganti, ia menemui saya yang duduk di dekat meja bartender. Dengan senyum terkembang, ia meminta komentar untuk tariannya. Aku acungkan jempol. &#8220;Bagus. Gerakanmu mantap, gak ada kesan ragu.&#8221; 
&#8220;Thank you. Menurutmu gerakanku tadi sudah cukup menggoda?&#8221; Saya bilang padanya, &#8220;Tahu gak, pas kamu menari [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>&#8211; tarian tanpa koreografi</em></p>
<p>Setelah pertunjukan selesai dan berganti pakaian di kamar ganti, ia menemui saya yang duduk di dekat meja bartender. Dengan senyum terkembang, ia meminta komentar untuk tariannya. Aku acungkan jempol. &#8220;Bagus. Gerakanmu mantap, <em>gak</em> ada kesan ragu.&#8221; </p>
<p>&#8220;<em>Thank you</em>. Menurutmu gerakanku tadi sudah cukup menggoda?&#8221; Saya bilang padanya, &#8220;Tahu <em>gak</em>, pas kamu menari di sesi kedua, ada cowok yang sempat berpantun gini: &#8216;Minum cendol pake susu, yang <em>bondol</em> bikin nafsu&#8217;.&#8221; </p>
<p>Sembari tertawa dan merapikan rambutnya yang memang pendek [bondol], ia lagi-lagi bilang &#8216;<em>thank you</em>&#8216;. &#8220;Kebanyakan &#8216;<em>thank you</em>&#8216;, ah! Kamu bukan Alice dan aku bukan Larry,&#8221; kataku sedikit mengomel. </p>
<p>Alice dan Larry adalah dua dari empat karakter utama &#8220;Closer&#8221;, film besutan Mike Nichols yang mengisahkan kisah cinta segi empat yang rumit. Pada salah satu fragmen, Alice [diperankan oleh Natalie Portman] menari <em>striptease</em> untuk Larry [diperankan Clive Owen] di <em>private room</em> sebuah klub malam. Saat itulah berkali-kali Larry menanyakan banyak hal intim pada Alice. Berkali-kali pula Alice menjawabnya dengan didahului kalimat &#8216;<em>thank you</em>&#8216;. </p>
<p><span id="more-1051"></span>“Closer” memang bukan film tentang <em>sexy dancing</em> atau para stripper. Goyangan Portman juga tak seheboh Salma Hayek di film &#8220;From Dusk Till Down&#8221; atau Jamie Lee Curtis dalam film &#8220;True Lies&#8221;. Periode di mana Alice bekerja sebagai stripper dan adegan percakapan saat Alice menari stripper untuk Larry menegaskan betapa “Closer” ingin menghadirkan cinta, seks, dan sensualitas bukan hanya sebagai laku yang dipraktikkan, tapi juga untuk dibicarakan secara terbuka, dengan emosi yang naik turun, juga hasrat yang menggebu. Percakapan panjang tentang semua itu membuat segala naluri, hasrat dan ketakutan yang terpendam terungkai ke permukaan. </p>
<p>Kami berdua sama-sama sudah menonton “Closer”. Saat ia melontarkan ide untuk mencoba <em>sexy dancing</em>, kami langsung terlibat percakapan yang intim, detail, panas, dan &#8211;harus juga diakui&#8211; eksploratif. Saya bilang ini pengalaman baru. Saya memang terbuka pada pengalaman baru, tapi saya tak tahu apakah ekperimentasi macam ini bisa disikapi dengan rileks. Belum terbayangkan melihatnya menari dengan pakaian minim di depan puluhan orang yang mengoceh macam-macam. </p>
<p>&#8220;Itu justru pengalaman yang dicari. Menari untuk sesuatu yang bisa dibilang &#8216;mesum dan kotor&#8217;, dikomentari ocehan-ocehan nakal. Sepertinya seksi dibayar untuk tarian yang tak dinilai koreografinya, tapi dilihat erotis atau tidak, membangkitkan gairah atau tidak,&#8221; katanya. Percakapan berlangsung kian seru, diselingi menonton video-video <em>sexy dancing</em> yang diunggah di youtube. </p>
<p>Setelah menggeluti ragam tarian tradisi, dari tari kecak sampai serimpi, dilanjutkan dengan dansa, tango, salsa, waltz sampai balet, sexy dancing mungkin akan mendatangkan pengertian baru tentang gerak dan tubuh. Tahun depan ia berencana bergabung dengan sebuah komunitas terkenal yang sering mementaskan tarian kontemporer. “Sebelum &#8216;naik kelas&#8217; membawakan koreografi yang serius, saya ingin merasakan pengalaman di mana tubuh menjadi banal, mungkin juga murahan,” jelasnya lagi. </p>
<p>Kami lantas membuat kesepakatan kecil, seperti tarian tak dilakukan di <em>private room</em>. Dengan bantuan koleganya, akhirnya ia bisa mendapatkan apa yang diinginkan. Tempat, waktu, jam sampai besaran <em>fee</em> sudah bisa dipastikan. Ia akan menari dua kali, pada jam 1 malam dan jam 2 malam. Tiap sesi berlangsung 15-20 menit. </p>
<p>Beberapa hari sebelum hari-H, kami tak pernah membicarakan hal itu lagi. Pendeknya, lihat saja nanti, deh. Saya juga akan pergi seorang diri. Di sana, kami akan pura-pura tak saling mengenal. Saya akan memposisikan diri sebagai pengunjung biasa, yang akan memelototi liukan tubuhnya sebagaimana para pengunjung lain melihatnya. </p>
<p>Pada hari-H, saya tiba di sana pukul setengah satu malam. Sengaja saya menempati kursi yang merapat dengan meja bartender. Suasana pub sudah sangat ramai. Tepat pukul 1, dia keluar dari kamar ganti bersama dua rekannya. Sesi pertama pun dimulai. Tak banyak yang menarik dari sesi ini. Dia harus menari di tempat yang cukup jauh dari tempat saya duduk. Pandangan saya tak mampu menjangkaunya dengan jelas. Saya berharap sesi pertama bisa lekas selesai. </p>
<p>Pada sesi kedua yang dimulai pukul 02.10, semua berjalan sesuai skenario. Dia menari tak jauh dari tempat saya duduk. Jaraknya tak sampai 1,5 meter. Berbeda dengan sesi pertama, <em>lingerie</em> hitam yang dikenakannya tampak transparan di bagian perut ke bawah. Tato kupu-kupu di bawah pusarnya sesekali terlihat jelas. Ia tampak kontras karena rambutnya yang pendek, sementara dua penari lain berambut panjang. </p>
<p>Sesi kedua dimulai tepat saat saya menandaskan satu <em>shot</em> Jhony Walker. Diiringi dentuman musik Desert Rose-nya Sting yang di-<em>remix</em>, lima menit pertama ia menari dengan gerakan yang lembut dan halus. Lima menit kedua gerakannya semakin cepat dan liar, seiring musik yang beat-nya juga semakin ngebut. Ia sama sekali tak menolah ke arah saya. Kurang ajar betul. Bibirnya sesekali tersenyum menanggapi ocehan para pengunjung yang mengoceh-oceh tak jelas. </p>
<p>Lima menit terakhir berlangsung lebih seru. Gerakannya lebih variatif, paduan antara kecepatan yang liar, gerak menggoyangkan dada yang cepat, liukan pinggung yang halus, ditingkahi gerak setengah <em>split</em> yang membuat bagian pusar ke bawahnya menyorong ke depan. </p>
<p>Seorang pengunjung perempuan setengah berteriak berucap: &#8220;<em>I&#8217;m so horny</em>.&#8221; </p>
<p>Teman-temannya tertawa terbahak. Seorang lelaki tampak mendekatkan wajahnya ke arah kaki-kakinya. Ia menggerak-gerakkan tangannya seolah-olah sedang mengelus-elus betisnya. Saat itulah, sembari mendongakkan wajahnya, ia berpantun: &#8220;Minum cendol pake susu, yang bondol bikin nafsu.&#8221; </p>
<p>Begini rasanya menyaksikan pasangan sendiri menari dengan pakaian minim di hadapan banyak orang, macam ini ternyata suasananya mendengar orang-orang mengocehi penampilan seksi pasangan sendiri. Ada emosi yang terasa khas, seperti paduan rasa jengkel dan gairah yang tiba-tiba mencuat. </p>
<p>Entah sejak kapan tapak kaki kanan saya mengetuk-ngetuk lantai. Saya mulai menikmatinya. Saya berdiri dari kursi dan mulai menggoyangkan badan. Dia menyadari pergerakan saya. Badannya sedikit diputar sehingga mengarah tepat ke muka saya. Saya berteriak padanya: &#8220;Aw aw aw&#8230;.&#8221; Itu membuatnya lebih bersemangat. </p>
<p>Menit-menit terakhir diisinya dengan gerakan tak teratur dengan ritme yang sangat cepat. Kian cepat. Makin cepat. Tampak jelas keringat di tubuhnya. <em>Lingerie</em>-nya sudah sangat basah. Tapi ia tak tampak lelah. Saat <em>lighting</em> menyorot tepat ke tubuhnya selama setengah menit, gerakanya makin dahsyat. Tato kupu-kupu hitam di bawah pusarnya tampak sangat jelas. Lengannya yang ditumbuhi bulu-bulu halus dan lebat membuat beberapa pengunjung yang tak terlalu jauh dari posisinya kian seru mengoceh. </p>
<p>Sekali lagi ia sempat melirik ke arah saya. Lirikan itu terasa asing, tanpa keakraban. Tapi itu membuat tatapan saya bisa menghunjam dengan tak kalah asingnya. Tiap kali menatap tubuhnya saya merasakannya sebagai penjelajahan yang eksploitatitf seorang asing kepada orang asing yang lain tanpa harus diimbuhi perasaan-perasaan sentimentil yang akrab. Saya merasa, saat ia melirik tadi, ia sedang mengucapkan kalimat pendek yang juga diucapkan Alice di adegan pembuka film “Closer”: <em>Hello stranger&#8230;. </em></p>
<p>Sekali lagi, ada sedikit rasa asing juga imaji keberjarakan. Ia memukau, tapi selama sedang menari ia tak terjangkau, berjarak. Tapi bahwa setelah ini kami bisa menghabiskan sisa malam berdua membuat rasa asing dan imaji keberjarakan ini seperti sebuah foreplay yang tak biasa. </p>
<p>Pukul 02.40, ia sudah keluar dari kamar ganti dan menemui saya yang masih duduk di kursi yang merapat dengan meja bartender. Berkali-kali ia mengucapkan &#8220;<em>thank you</em>&#8221; untuk komentar yang saya berikan atas penampilannya barusan. Formil betul, batin saya. Keakraban rupanya belum lagi tumbuh. Masih ada sisa jarak yang belum sepenuhnya terpangkas. </p>
<p>Setelah membayar minuman terakhir, saya mengajaknya pergi. Di lift, tampak jelas keringatnya masih tersisa. Aku membisikkan sesuatu ke telinganya. Ia tertawa. Sembari mengedipkan mata, ia berkata: &#8220;<em>Bakal</em> lebih seru kalau berikutnya menari telanjang. Gimana menurutmu?&#8221; </p>
<p>Hmmm&#8230; itu pertanyaan berbeda, dengan jawaban dan cerita yang juga berbeda.</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;<br />
* Naskah ini tayang pertama kali di U-Mag, edisi Januari 2010.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pejalanjauh.com/2010/02/sexy/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Un-born</title>
		<link>http://pejalanjauh.com/2010/02/un-born/</link>
		<comments>http://pejalanjauh.com/2010/02/un-born/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 07 Feb 2010 13:53:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[biografi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pejalanjauh.com/?p=1044</guid>
		<description><![CDATA[&#8211; anak bajang tak pernah pergi

Aney, Aney, you, my unborn child
Sorry, sorry, I can’t sing a brighter lullaby.

Itu petikan lirik lagu berjudul &#8220;Aney, Unborn Child&#8220;. 
Adik perempuan saya tak tahu lagu itu dan sepertinya juga tak pernah mendengarnya. Tapi, saya percaya &#8211;sangat percaya, bahkan&#8211; adik saya sangat bisa memahami lirik lagu di atas dengan segenap [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>&#8211; anak bajang tak pernah pergi</em></p>
<p><img src="http://pejalanjauh.com/wp-content/uploads/2010/02/anak-bajang-blog.jpg" alt="anak-bajang-blog" title="anak-bajang-blog" width="300" height="452" class="aligncentre size-full wp-image-1043" /></p>
<blockquote><p>Aney, Aney, you, my unborn child<br />
Sorry, sorry, I can’t sing a brighter lullaby.
</p></blockquote>
<p>Itu petikan lirik lagu berjudul &#8220;<a href="http://www.youtube.com/watch?v=RSUcQQL1tow">Aney, Unborn Child</a>&#8220;. </p>
<p>Adik perempuan saya tak tahu lagu itu dan sepertinya juga tak pernah mendengarnya. Tapi, saya percaya &#8211;sangat percaya, bahkan&#8211; adik saya sangat bisa memahami lirik lagu di atas dengan segenap sedu sedannya.</p>
<p>Dik, tidak pernah saya bersedih selarut ini untukmu, juga untuk anak bajang-mu. </p>
<p>Atau, mungkin, justru saya harus bahagia untuk anak bajang-mu itu? Bukankah ada yang bilang nasib terbaik adalah tidak dilahirkan? Seperti kata-kata seseorang dalam hidup saya: &#8220;The unborn children. Absolute freedom. Perfect good men ever. Instead the dead.&#8221;</p>
<p>Anak bajang, anak bajang. Ooo&#8230; anak bajang!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pejalanjauh.com/2010/02/un-born/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Toilet</title>
		<link>http://pejalanjauh.com/2010/02/toilet/</link>
		<comments>http://pejalanjauh.com/2010/02/toilet/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 05 Feb 2010 08:39:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[flaneur]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pejalanjauh.com/?p=1036</guid>
		<description><![CDATA[&#8211; peturasan dan peradaban

Bashori melangkah dengan santai menuju salah satu kamar mandi yang tersedia di toilet umum milik warga Kampung Ngemplak Rejo, Situbondo. Ia tak menaikkan sarungnya, tak khawatir jika sarung itu bisa terperciki najis yang membuatnya tak suci lagi untuk digunakan shalat.
&#8220;Ndok kene mesti resik, Mas,&#8221; ungkapnya penuh keyakinan.
Sebuah toilet adalah sebuah dunia. Dari [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>&#8211; peturasan dan peradaban</em></p>
<p><img src="http://pejalanjauh.com/wp-content/uploads/2010/02/20643_272928289612_631714612_3329479_3917871_n.jpg" alt="20643_272928289612_631714612_3329479_3917871_n" title="20643_272928289612_631714612_3329479_3917871_n" width="450" height="318" class="aligncenter size-full wp-image-1037" /></p>
<p>Bashori melangkah dengan santai menuju salah satu kamar mandi yang tersedia di toilet umum milik warga Kampung Ngemplak Rejo, Situbondo. Ia tak menaikkan sarungnya, tak khawatir jika sarung itu bisa terperciki najis yang membuatnya tak suci lagi untuk digunakan shalat.</p>
<p>&#8220;Ndok kene mesti resik, Mas,&#8221; ungkapnya penuh keyakinan.</p>
<p>Sebuah toilet adalah sebuah dunia. Dari sana &#8212; barangkali&#8211; bisa terpantul sejumlah pokok soal yang lebih besar: ihwal perilaku, akses, juga perihal kesehatan yang mensyaratkan sistem sanitasi yang baik.</p>
<p>Sebuah jamban adalah sebuah dunia. Simaklah bagaimana sebuah artikel dari tahun 1927 yang muncul di koran &#8220;Soeloeh Indonesia&#8221; mengomentari soal toilet dan manusia Indonesia:</p>
<p><span id="more-1036"></span>Di antara orang Indonesia, ujar sang penulis artikel, &#8220;Masih banyak yang lebih menyukai gubug daripada rumah, dan ada sejumlah pelayan Indonesia, bahkan, yang dapat mengotori WC ketika nyonya rumah tidak melihatnya.&#8221;</p>
<p>Benarkah itu tanda perilaku jorok warga bumiputera? Nanti dulu. Jorok atau tidak, untuk soal kutipan di atas, bisa jadi mengandung bias: siapa yang berhak menilai dan dengan standar apa jorok atau tidaknya diukur? </p>
<p>Frantz Fanon dan Mas Marco pasti bisa dengan sigap memberikan bantahan yang sama tajamnya. </p>
<p>Lagi pula, Londo-londo memang tak becus &#8212; juga tak niat &#8212; untuk memberikan fasilitas sanitasi bagi warga bumiputera yang sesuai dengan standar [dengan mengutip istilah Ivan Illich] &#8220;higienisme&#8221; Barat.</p>
<p>Bahkan hingga menjelang mampusnya rezim kolonial kulit putih itu, rasisme masih juga merembes pada soal buang hajat. Dalam sebuah laporan tertulis buatan tahun 1941 terbaca fakta seperti ini: &#8220;&#8230;Di bank-bank setempat, di pintu menuju jamban-jamban, ada empat papn yang digantung dengan pesan: 1. Pimpinan; 2. Staf [Kulit Putih]; 3. Orang Asia; [4] Juru tulis dan orang-orang lain.&#8221;</p>
<p>Kalimat Mas Marco ketika mengomentari persoalan jatah tempat duduk di kereta yang diskriminatif dan rasialis masih bisa digunakan untuk me-misuh-i situasi di atas: &#8220;Astaga, saudara-saudara! Bahkan di situasi semacam itu&#8230;.!&#8221;</p>
<p>Artikel Soeloeh Indonesia terbitkan 1927 di atas sendiri sudah mengeluhkan tendensi diskriminasi macam itu. Sebagian dari kami yang mengenakan selendang asli [baca: sarung] atau kopiah Muslim, demikian tertulis, &#8220;&#8230;harus membuang hajat di jamban biasa.&#8221;</p>
<p>Bashori, 83 tahun kemudian, juga bersarung dan berkopiah, tapi tidak lagi di jamban. Katanya, &#8220;Iki jenenge toilet, mas!&#8221;</p>
<p>Dan untuk soal yang terakhir itu, perkara toilet dan muatannya yang serius, mari bertanya pada <a href="http://www.youtube.com/watch?v=AwTJXHNP0bg">Slavoj Žižek</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pejalanjauh.com/2010/02/toilet/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Safa</title>
		<link>http://pejalanjauh.com/2010/02/safa/</link>
		<comments>http://pejalanjauh.com/2010/02/safa/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 03 Feb 2010 09:07:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[biografi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pejalanjauh.com/?p=1026</guid>
		<description><![CDATA[&#8211; akhir pekan dengan toga #2

Martha Graham mengantarkan perempuan ini menjadi seorang sejarawan dengan spesialisasi sejarah seni, khususnya seni pertunjukan.
Martha Graham, penari sekaligus koreografer Amerika, singgah di Jawa pertama kali pada 1925. Ketika itu ia datang bersama rombongan yang dipimpin oleh Ruth St. Dennis. Pada 1955, Martha sempat mementaskan pertunjukannya di Jakarta. Ia melakukannya lagi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>&#8211; akhir pekan dengan toga #2</em></p>
<p><img src="http://pejalanjauh.com/wp-content/uploads/2010/02/safa-blog21.jpg" alt="safa-blog21" title="safa-blog21" width="370" height="245" class="aligncenter size-full wp-image-1030" /></p>
<p>Martha Graham mengantarkan perempuan ini menjadi seorang sejarawan dengan spesialisasi sejarah seni, khususnya seni pertunjukan.</p>
<p>Martha Graham, penari sekaligus koreografer Amerika, singgah di Jawa pertama kali pada 1925. Ketika itu ia datang bersama rombongan yang dipimpin oleh Ruth St. Dennis. Pada 1955, Martha sempat mementaskan pertunjukannya di Jakarta. Ia melakukannya lagi pada 1975, kali ini ia mementaskan karyanya di Taman Ismail Marzuki.</p>
<p>Ia punya pengaruh kuat dalam studi tari di Amerika. Ciri khas koregrafinya adalah drama tari. Ia sangat sering menampilkan karakter perempuan yang heroik, seringkali dengan memungut kisah-kisah mitologis, seperti kisah &#8220;Clytemnestra&#8221;.</p>
<p><span id="more-1026"></span>Dengan jalan yang sedikit memutar, pengaruh Martha juga merembes dalam dunia seni pertunjukan tari di Indonesia. Pada 1957, tiga seniman tari dari Indonesia [Bagong Kussudiardja, Wisnu Wardhana, dan Setiarti Kailola] berangkat ke AS untuk mengikuti festival tari musim panas di sekaligus belajar tari modern dari Martha Graham di New York. Sardono sendiri pernah belajar pada salah satu murid Martha.</p>
<p>Safrini Malahayati &#8211;biasa dipanggil Safa&#8211; berhasil menuntaskan risetnya tentang Martha Graham. Ada masa di mana ia mengalami kebuntuan saat menyusun hasil risetnya. Cukup lama ia tak tahu mesti menulis apa. Sampai suatu saat, demikian pengakuannya, ia didatangi oleh Martha Graham dalam mimpinya. </p>
<p>&#8220;Tapi yang datang dalam mimpi itu Martha Graham yang sudah tua,&#8221; ujarnya.</p>
<p>Sejak itulah ia merasa mendapat injeksi tenaga yang baru. Pelan-pelan ia bisa mulai lagi menulis, seakan-akan baru saja mendapat ilham yang turun dari langit.</p>
<p>Namanya Malahayati, yang tentu saja mengingatkan kita pada seorang laksamana perempuan hebat dari Aceh, tapi ia sendiri bukan orang Aceh: ayahnya berdarah Ternate, ibunya seorang Sunda.</p>
<p>Padu padan genetik itu, barangkali, bisa terlihat dari potret di atas. Saya mengambil potret itu dengan diam-diam, di halaman rektorat, di salah satu sudut di Depok, usai hiruk pikuk penyematan toga. </p>
<p>Selamat jadi sejarawan ya, Safa. Tugas berat loh itu. Hehehehehe&#8230;..</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pejalanjauh.com/2010/02/safa/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Toga</title>
		<link>http://pejalanjauh.com/2010/02/toga/</link>
		<comments>http://pejalanjauh.com/2010/02/toga/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 01 Feb 2010 11:25:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[biografi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pejalanjauh.com/?p=1021</guid>
		<description><![CDATA[&#8211; akhir pekan dengan toga #1

Pekan lalu, saat berkeliaran di daerah pemukiman padat di Bali, saya bertemu dengan Pak Huda: lelaki berusia 45 tahun, hanya sekolah sampai kelas 5 SD, tapi brilian dalam pengetahuan tentang teknik sipil, arsitektur, paham bangunan yang ramah lingkungan dan tidak, juga mengerti sejarah God Bless dan Deep Purple.
Saya ceritakan soal [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>&#8211; akhir pekan dengan toga #1</em></p>
<p><img src="http://pejalanjauh.com/wp-content/uploads/2010/02/diajeng-for-blog.jpg" alt="diajeng-for-blog" title="diajeng-for-blog" width="400" height="265" class="aligncenter size-full wp-image-1022" /></p>
<p>Pekan lalu, saat berkeliaran di daerah pemukiman padat di Bali, saya bertemu dengan Pak Huda: lelaki berusia 45 tahun, hanya sekolah sampai kelas 5 SD, tapi brilian dalam pengetahuan tentang teknik sipil, arsitektur, paham bangunan yang ramah lingkungan dan tidak, juga mengerti sejarah God Bless dan Deep Purple.</p>
<p>Saya ceritakan soal itu melalui beberapa sms pada <a href="http://www.charliesianipar.com/index.php/component/user/index.php?option=com_g2bridge&#038;view=gallery&#038;Itemid=57&#038;g2_itemId=732">dia</a> soal Pak Huda ini. </p>
<p>Sebelum melakukan perjalanan, saya tahu ia sedang mencoba menamatkan &#8220;<a href="http://en.wikipedia.org/wiki/The_Unbearable_Lightness_of_Being">The Unbearable Lightness of Being</a>&#8220;, versi Inggris novel brilian karya <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Milan_Kundera">Milan Kundera</a> yang diambil dari koleksi abangnya yang sedang studi di Cyprus. </p>
<p>Sependugaan saya, saat beberapa sms ihwal Pak Huda itu dikirimkan padanya, ia masih berjuang untuk menamatkan novel itu. Dugaan saya ternyata benar. Ia membalas sms saya dengan satu kutipan utuh yang diambil dari halaman 55 novel itu, halaman yang memang sedang dibaca persis saat sms-sms itu terkirim. Bunyinya begini: </p>
<p><span id="more-1021"></span><br />
<blockquote>&#8220;The difference between the university graduate and autodidact lies not so much in the extent of knowledge as in the extent of vitality and self confidence.&#8221;</p></blockquote>
<p>Sabtu lalu ia mencicipi toga seraya pada saat yang sama ditahbiskan sebagai <a href="http://www.charliesianipar.com/index.php?option=com_g2bridge&#038;view=gallery&#038;Itemid=57&#038;g2_view=dynamicalbum.PopularAlbum&#038;g2_albumId=7&#038;g2_itemId=732">Diajeng Galuh Pangestri Larashati S.Hum</a>. Saya tidak tahu, akan berapa lama ia mengingat pasase milik Kundera itu&#8230;.</p>
<p>Yang jelas, dalam salah satu foto di halaman facebook, ia menulis begini: University excrete graduates. </p>
<p>Membaca tiga kata itu, saya jadi ingat sarkasme ala Cicero saat mengomentari para politisi. Politicians, kata Cicero, &#8220;are not born they are excreted.&#8221;</p>
<p>Silakan jika kutipan Cicero itu ingin Anda plesetkan <img src='http://pejalanjauh.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pejalanjauh.com/2010/02/toga/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Keinginan</title>
		<link>http://pejalanjauh.com/2010/01/keinginan/</link>
		<comments>http://pejalanjauh.com/2010/01/keinginan/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 31 Jan 2010 09:33:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[meracau]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pejalanjauh.com/?p=1016</guid>
		<description><![CDATA[&#8211; pembangkangan benda-benda #10
Tiap kali berpikir, apa yang saya pikir saya memang menginginkannya malah menyelinap pergi. 
Seperti barusan terjadi. Saya, dalam lapar yang nyaris akut, tiba-tiba saja teringat dengan nasi rawon. Sepertinya lezat jika pada dini hari yang dingin dan lapar bisa menyantap nasi rawon dan kuahnya yang khas itu.
Sayangnya, belum lama saya memikirkan dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>&#8211; pembangkangan benda-benda #10</em></p>
<p>Tiap kali berpikir, apa yang saya pikir saya memang menginginkannya malah menyelinap pergi. </p>
<p>Seperti barusan terjadi. Saya, dalam lapar yang nyaris akut, tiba-tiba saja teringat dengan nasi rawon. Sepertinya lezat jika pada dini hari yang dingin dan lapar bisa menyantap nasi rawon dan kuahnya yang khas itu.</p>
<p>Sayangnya, belum lama saya memikirkan dan menginginkan nasi rawon, apa yang saya pikir saya menginginkannya itu malah kabur. Saya cuma bisa menangkap ruap bau kuahnya yang sedap dan membikin lambung makin terasa perih saja.</p>
<p>Biasanya saya akan mengejar dia sebisanya. Seperti barusan juga terjadi: saya mengejarnya dengan tergopoh-gopoh. Beberapa saat sebelum mencapai tikungan, saya berhasil menyalipnya. Tanpa basa-basi, saya langsung berdiri menghadangnya. Saya tak sadar, ada tetesan kecil air liur meleleh dari mulut saya.</p>
<p><span id="more-1016"></span>Nasi rawon yang saya pikir saya menginginkannya itu tampak sedikit jijik melihat air liur itu, terlebih &#8211;juga tanpa sadar&#8211; saya terdengar sedikit mendesis. Ia lantas menghardik keras sembari memasang tampang bengis: &#8220;Ngapain kamu kejar saya? Mending kamu mikir lagi hal yang baru.&#8221; </p>
<p>Saya menggeleng. Tentu tak sukar sebenarnya memenuhi permintaan itu. Gampang saja, bukan, untuk memikirkan hal lain, katakanlah jenis makanan selain nasi rawon? Saya bisa memikirkan nasi ketoprak, pecel Madiun, atau lassagna atau salad ikan tuna, atau apa saja&#8230;.</p>
<p>Tapi saya memang tak punya pilihan selain menggeleng dan menampik permintaan itu. Bukan apa-apa, saya sudah terlampau paham situasinya: tiap kali saya berpikir saya menginginkan sesuatu, apa yang saya pikir saya menginginkannya itu malah menyelinap pergi. </p>
<p>Nasi rawon tak mau kalah. Dengan kelicinan yang hanya bisa ditandingi oleh kancil dalam cerita sebelum tidur, ia berhasil kabur lagi. Sebelum kabur ia masih sempat menjitak kepala saya sembari berkata dengan nada yang telengas:</p>
<p>&#8220;Berapa banyak tenaga yang kalian habiskan untuk menginginkan sesuatu tapi kemudian tak menginginkannya lagi?&#8221;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pejalanjauh.com/2010/01/keinginan/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Djunaedi</title>
		<link>http://pejalanjauh.com/2010/01/djunaedi/</link>
		<comments>http://pejalanjauh.com/2010/01/djunaedi/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 29 Jan 2010 21:11:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[biografi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pejalanjauh.com/?p=1011</guid>
		<description><![CDATA[&#8211; lelaki tua dan toilet

Perkenalkan: Pak Junaedi!
Saya tak tahu banyak sejarah hidupnya. Tapi beginilah saya menemukannya: Di sebuah toilet umum milik warga, yang dibangun dengan mengadopsi konsep Sanimas [sanitasi berbasis masyarakat], seorang lelaki ditunjuk sebagai operator sekaligus penjaga toilet umum ini.
Ketua RT/RW 01/01, Kel. Janti, Sidoarjo [tak jauh dari Pabrik Paku yang berada di seberang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>&#8211; lelaki tua dan toilet</em></p>
<p><img src="http://pejalanjauh.com/wp-content/uploads/2010/01/junaedi-bw2.jpg" alt="junaedi-bw2" title="junaedi-bw2" width="550" height="384" class="aligncenter size-full wp-image-1019" /></p>
<p>Perkenalkan: Pak Junaedi!</p>
<p>Saya tak tahu banyak sejarah hidupnya. Tapi beginilah saya menemukannya: Di sebuah toilet umum milik warga, yang dibangun dengan mengadopsi konsep Sanimas [sanitasi berbasis masyarakat], seorang lelaki ditunjuk sebagai operator sekaligus penjaga toilet umum ini.</p>
<p>Ketua RT/RW 01/01, Kel. Janti, Sidoarjo [tak jauh dari Pabrik Paku yang berada di seberang terminal Bungurasih] menunjuknya sebagai operator. Pak Sumardi, Pak Ketua RT itu, percaya pada integritasnya. </p>
<p>&#8220;Daripada orang lain yang <em>ga</em> jelas, lebih baik dia saja yang jaga di sini,&#8221; kata Pak Sumardi.</p>
<p><span id="more-1011"></span>Pak Sumardi, juga mayoritas warga, cukup punya alasan untuk percaya pada Pak Djunaedi. Lelaki kelahiran Bojonegoro ini sudah sejak 1970-an tinggal di situ, pindah dari satu kontrakan ke kontrakan lain, tapi masih di kampung yang sama. Macam-macam pekerjaan sudah ia lakukan: semuanya rata-rata pekerjaan kaki dan tangan &#8211;sebut saja: kuli. </p>
<p>Sudah lama ia tinggal sendirian. Ia seorang duda dengan anak-anak yang jauh darinya. Ia enggan menyebutkan di mana masing-masing anak-anaknya sekarang. &#8220;Mereka sudah berkeluarga semua,&#8221; ujarnya memberi sedikit keterangan.</p>
<p>Ia tinggal di sebuah ruangan kecil berukuran 2 X 3 meter yang berdempet dengan toilet umum itu. Di ruangan itu, saya melihat ada selembar tikar, sebiji bantal, sebuah meja, seperangkat gelas dan teko, beberapa ons kopi dan gula pasir serta radio transistor yang di salah satu bagiannya sudah terbuka karena murnya hilang.</p>
<p>Toilet yang dijaga Pak Djunaedi itu sangat bersih. Seorang reporter televisi lokal yang pernah meliput toilet ini, ungkap Pak Sumardi, segan untuk melangkahkan kaki ke bagian dalam karena khawatir akan membikin kotor.  </p>
<p>Dia, Pak Djunaedi itu, sempat bilang betapa ia tak tahan melihat ada kotoran di toilet. </p>
<p>&#8220;Membersihkan toilet ini setiap waktu dan setiap sempat membuat saya tak merasa sunyi!&#8221;</p>
<p>Kalimat itu diucapkannya saat hujan masih deras, dan ia telanjang dada, berdiri di salah satu pintu kamar mandi, beberapa saat usai mengepel ruangan mencuci. Tangannya bersidekap di dada. Ia tampak sedikit kedinginan&#8230;.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pejalanjauh.com/2010/01/djunaedi/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Gembos</title>
		<link>http://pejalanjauh.com/2010/01/gembos/</link>
		<comments>http://pejalanjauh.com/2010/01/gembos/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 27 Jan 2010 12:56:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Blogroll]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pejalanjauh.com/?p=995</guid>
		<description><![CDATA[&#8211; perihal seorang teman&#8230;

Dwi Rahariyoso, biasa dipanggil Gembos: seorang teman baik, lelaki berperasaan halus dengan segudang cerita melankolik dalam hidupnya, seorang penyair yang tak percaya kalau dirinya bisa dan mampu menjadi penyair!
Ia ambil keputusan penting: merantau ke Sorong, Papua, sendirian, untuk waktu yang entah&#8230; setidaknya dua tahun.
Saya bertemu terakhir kalinya sehari sebelum ia berangkat ke [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>&#8211; perihal seorang teman&#8230;</em></p>
<p><img src="http://pejalanjauh.com/wp-content/uploads/2010/01/gembos_blog2.jpg" alt="gembos_blog2" title="gembos_blog2" width="200" height="314" class="alignright size-full wp-image-1007" /></p>
<p>Dwi Rahariyoso, biasa dipanggil Gembos: seorang teman baik, lelaki berperasaan halus dengan segudang cerita melankolik dalam hidupnya, seorang penyair yang tak percaya kalau dirinya bisa dan mampu menjadi penyair!</p>
<p>Ia ambil keputusan penting: merantau ke Sorong, Papua, sendirian, untuk waktu yang entah&#8230; setidaknya dua tahun.</p>
<p>Saya bertemu terakhir kalinya sehari sebelum ia berangkat ke Sorong. Saya sedang melakukan perjalanan dua pekan ke Timur, dan kami berjumpa di Mojokerto. Aku mengajaknya berkeliling ke beberapa tempat di Mojokerto, salah satunya: Trowulan, pusat situs arkeologi peninggalan kerajaan Majapahit. Itu kali pertama ia mengunjungi Trowuan.</p>
<p>Gembos sempat bilang: &#8220;Sebelum saya meninggalkan Jawa, untuk pertama kalinya saya datang ke Trowulan, tilas dari sisa-sisa kejayaan &#8216;Jawa&#8217;. Anggap saja ini sebagai pamit yang baik pada Jawa. Ini mungkin cara pamitan terbaik yang bisa saya lakukan.&#8221;</p>
<p><span id="more-995"></span>Jelang senja, kami menghabiskan waktu dengan menyeruput kopi di sebuah warung makan di pinggir jalan, tak jauh dari terminal Mojokerto. Kami berbincang banyak hal. Sempat saya tunjukkan hasil pencarian via google mengenai Sorong: betapa jarak antara Sorong dan Jayapura kira-kira hampir seperti jarak antara Jakarta-Surabaya.</p>
<p>&#8220;Asulah, Jakarta-Surabaya jalannya mulus, macam apa kondisi jalan Jayapura-Sorong? Bisa-bisa dua sampai tiga hari,&#8221; desisnya setengah memaki.</p>
<p>Sekitar pukul 19.00, kami bergerak ke dalam terminal. Saya akan meneruskan perjalanan ke timur, Gembos akan kembali ke rumahnya di Ponorogo, untuk berkemas, menyiapkan keberangkatannya ke Sorong keesokan harinya.</p>
<p>Saya sengaja menunggu Gembos pergi lebih dulu. Pukul 19.20, bus &#8220;Restu&#8221; datang, dan dia naik ke atas bus itu. Saat bus itu beranjak, lamat-lamat saya masih melihatnya mengacungkan jempol ke arah saya.</p>
<p>Foto ini diambil beberapa saat sebelum ia menaiki bus &#8220;Restu&#8221;. Saya mengambil potretnya diam-diam. </p>
<p>Dan, sungguh, saya tak tahu apa yang ada di kepalanya saat itu&#8230;.</p>
<p><img src="http://pejalanjauh.com/wp-content/uploads/2010/01/gembos-again.jpg" alt="gembos-again" title="gembos-again" width="500" height="323" class="aligncenter size-full wp-image-1008" /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pejalanjauh.com/2010/01/gembos/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Sinyal</title>
		<link>http://pejalanjauh.com/2010/01/sinyal/</link>
		<comments>http://pejalanjauh.com/2010/01/sinyal/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 27 Jan 2010 09:29:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[meracau]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pejalanjauh.com/?p=990</guid>
		<description><![CDATA[&#8211; pembangkangan benda-benda #9
Seorang dari kota bermasalah dengan sinyal. Segala yang ia kirimkan tak pernah sampai, terputus di tengah jalan, barangkali dicegat oleh perampok yang tak tahu malu, atau begal yang sedang patah hati. 
Kemungkinan yang terakhir itu tampaknya cukup masuk akal, sebab orang dari kota itu mengaku ia juga mengirimkan sejumlah pesan mesra kepada [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>&#8211; pembangkangan benda-benda #9</em></p>
<p>Seorang dari kota bermasalah dengan sinyal. Segala yang ia kirimkan tak pernah sampai, terputus di tengah jalan, barangkali dicegat oleh perampok yang tak tahu malu, atau begal yang sedang patah hati. </p>
<p>Kemungkinan yang terakhir itu tampaknya cukup masuk akal, sebab orang dari kota itu mengaku ia juga mengirimkan sejumlah pesan mesra kepada kekasihnya di sebuah kota yang terletak di pinggir laut dengan dua gerbang tinggi di dermaga pelabuhannya. </p>
<p>Barangkali perampok itu adalah bromocorah yang patah hati ditinggal pergi kekasihnya, sehingga ia saban hari hanya bekerja mencegat pesan-pesan yang berseliweran di udara. Barangkali ia bermimpi salah satu pesan yang berhasil dicegatnya adalah pesan yang dikirim perempuan yang dicintainya.</p>
<p>Seorang dari kota yang bermasalah dengan sinyal itu sudah sedari pagi tadi mengirimkan sejumlah pesan, sebagian penting dan sebagiannya tidak terlalu. Tapi sinyal sepertinya mangkir dari tugasnya atau –seperti yang tadi sempat diduga—pesan yang dibawa sinyal itu dicegat oleh entah siapa pun orangnya atau apa pun itu namanya. </p>
<p><span id="more-990"></span> Ia sungguh gelisah, teramat gelisah bahkan. Saat hari merembang petang, ia sudah nyaris putus asa. Tapi seseorang memberitahunya satu tempat yang bisa menangkap sinyal dengan lebih baik. Orang itu menunjuk satu tempat di lereng bukit yang berada di punggung desa tempatnya bermalam sejak dua hari lalu. Dengan segera, seorang dari kota yang bermasalah dengan sinyal itu langsung berlari ke arah sana. Larinya sangat cepat, bisa jadi lebih cepat dari pesan-pesan yang sudah dikirimkannya seharian ini tapi kemudian pesan-pesan itu tak sampai.</p>
<p>Ia tiba di sana beberapa saat sebelum matahari surup. Dengan cekatan, ia mengirimkan belasan pesan-pesan yang dianggapnya paling penting. Sebagian pesan berisi urusan pekerjaan, sebagian berisi kata-kata mesra pada kekasihnya, sebagian lagi pesan-pesan omong kosong yang diperuntukkan bagi tiga ekor anjing di rumahnya dan dua buah kendaraan yang diparkir di garasi kantor. </p>
<p>Butuh waktu sepeminuman teh baginya untuk bisa mengirimkan pesan-pesan itu. Ia menunggu beberapa lama untuk memastikan sinyal-sinyal telah bekerja dengan lebih baik dan mengantarkan pesan-pesan yang dikirimnya. Beberapa kali ia memejamkan mata dan menengadahkan kepalanya, mencoba meraba-raba kemungkinan kalau pesan-pesan yang dikirimnya telah diantar dengan sempurna oleh sinyal-sinyal yang seharian ini tak becus bekerja.</p>
<p>Lalu, entah karena melihat pertanda apa, ia menampakkan raut muka yang puas. Tampaknya ia percaya pesan-pesan yang dikirimnya telah sampai di tujuan. Dengan langkah yang ringan, ia turun dari lereng bukit untuk kembali ke rumah yang ditumpanginya sejak dua hari yang lalu. Ia merasa perlu berterimakasih pada orang yang tadi memberitahu perihal lereng bukit yang lebih baik dalam menangkap sinyal.</p>
<p>Ia tiba di desa itu saat matahari sudah hilang dan malam telah benar-benar lengkap. Tapi orang-orang yang ditemuinya justru melihatnya dengan wajah keheranan. Mulanya ia menganggap itu hal biasa yang lazim terjadi para orang-orang asing yang datang ke desa itu, tapi saat semua orang yang dijumpainya menampakkan raut muka heran, ia mulai penasaran. Ia buru-buru lekas masuk ke kamar tempatnya menginap dan langsung menuju ke pojok ruangan tempat sebuah cermin besar ditempelkan pemilik rumah itu.</p>
<p>Saat bercermin itulah ia menyadari dirinya sudah berubah total: hidungnya, matanya, rambutnya, wajahnya, pundaknya, tangannya, dadanya, perutnya, kakinya…. Semuanya! Ia tak menemukan sosok yang dikenalnya di cermin itu. </p>
<p>“Itu bukan aku,” desisnya dengan nada campuran antara tak percaya dan terpukul.</p>
<p>Ya, di cermin itu, tak tampak sosok manusia satu pun, melainkan hanya deretan huruf-huruf yang membentuk kata, menyusun kalimat, dan menghadirkan pesan. </p>
<p>Ya, sinyal-sinyal itu tampaknya bener benar membangkang: alih-alih mengirimkan pesan, sinyal itu malah mengembalikannya pada pengirimnya, tampaknya dengan nada marah yang tak tertahankan, sehingga pesan-pesan itu bukan hanya kembali kepada pengirimnya, tapi bahkan merusak setiap inci sel-sel dan daging pengirimnya.</p>
<p>Seorang asing dari kota yang bermasalah dengan sinyal itu akhirnya menyadari ia memang bermasalah dengan sinyal. Terlebih saat ia menyadari deretan huruf yang berada di lokasi yang tadinya tempat menempelnya hidung adalah pesan terakhir yang dikirimnya kepada seseorang yang biasa dipanggil Yang Maha Sinyal. Bunyi pesannya ringkas, tapi terbukti pesan terakhir itu membawa kutukan: </p>
<p>“Bisakah kau membelikan aku sinyal dan mengirimkan sebanyaknya kepadaku?”</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pejalanjauh.com/2010/01/sinyal/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>
