<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	>

<channel>
	<title>nasib adalah kesunyian masing-masing</title>
	<atom:link href="http://pejalanjauh.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://pejalanjauh.com</link>
	<description></description>
	<pubDate>Mon, 06 Sep 2010 20:54:07 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.7</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Jacatra</title>
		<link>http://pejalanjauh.com/2010/09/jacatra/</link>
		<comments>http://pejalanjauh.com/2010/09/jacatra/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 06 Sep 2010 18:52:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[flaneur]]></category>

		<category><![CDATA[meracau]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pejalanjauh.com/?p=1229</guid>
		<description><![CDATA[&#8211; tentang kota dan penduduknya yang saling bicara dengan acak
Pada dini hari itu, saat para bhikku sedang berkemas menyiapkan Waisyak, saya nyangkruk di salah satu sudut Bundaran Hotel Indonesia (BHI). Angin tak begitu kencang, jalanan –seperti biasanya jika sudah dini hari—terlihat lebih sunyi. Sementara bulan tampil dalam sosoknya yang “penuh-seluruh-sungguh”.
Situasi macam ini yang mungkin membuat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>&#8211; tentang kota dan penduduknya yang saling bicara dengan acak</em></p>
<p>Pada dini hari itu, saat para bhikku sedang berkemas menyiapkan Waisyak, saya nyangkruk di salah satu sudut Bundaran Hotel Indonesia (BHI). Angin tak begitu kencang, jalanan –seperti biasanya jika sudah dini hari—terlihat lebih sunyi. Sementara bulan tampil dalam sosoknya yang “penuh-seluruh-sungguh”.</p>
<p>Situasi macam ini yang mungkin membuat Rendra bisa menulis sajak “Bulan Kota Jakarta”:</p>
<blockquote><p>“Bulan telah pingsan<br />
di atas kota Jakarta<br />
tapi tak seorang menatapnya<br />
….<br />
Bulannya! Bulannya!<br />
Jamur bundar kedinginan<br />
Bocah pucat tanpa mainan<br />
….<br />
Bulanku! Bulanku!<br />
Tidurlah, sayang di hatiku!”</p></blockquote>
<p><span id="more-1229"></span>Dalam sajak yang ditulis pada 1955 itu, Jakarta hadir seperti sebuah slide yang lambat dan berat. Saya menduga, suasana itu agaknya lahir dari rasa sunyi yang minta dikisahkah, ketercekaman yang ingin dirayakan, serta melankoli kerinduan –entah pada apa atau siapa&#8211; yang mendesak untuk diproklamirkan.</p>
<p>Dua tahun sebelumnya, pada 1953, Sobron Aidit sudah lebih dulu mengeluhkan bulan di Jakarta yang mengenaskan. Dalam sajak “Jauh Malam di Pasar Matraman”, Sobron mengakhirinya dengan baris pendek yang terasa pedih: “…dan bulan kehabisan sinar”.</p>
<p>Berbeda dengan sajak Rendra yang sepenuhnya mengisahkan pendalaman batin yang personal sifatnya, sajak Sobron tadi justru melukiskan keadaan sosial: tukang bandrek di Matraman, becak, Minah yang kelaparan. Di situ, Jakarta hadir seperti sketsa-sektsa yang dihasilkan Henk Ngantunk pada periode-periode 1940an-1950an.</p>
<p>Pada 1953 dan 1955 Jakarta tentu belum sepadat sekarang. Belum ada kemacetan yang menjengkelkan dan polusi udara yang menyesakkan.</p>
<p>Tapi pada dua sajak itu, juga pada hampir semua sajak-sajak tentang Jakarta yang dikumpulkan dan disunting Ajip Rosidi pada 1972, Jakarta sudah banyak “dikeluhkan” dengan nada yang hampir sama dengan keluhan banyak orang hari ini: sebagai tempat di mana kampung dan kota saling menyelinap, kemegahan dan kemiskinan saling berpapasan, perencanaan dan perubahan saling menikam, keruwetan dan kerumitan mengelucak, ketidakpastian dan ketidakselesaian melela, rutinitas siang hari dan pelbagai kejutan di malam hari datang silih berganti, terus… dan terus begitu.</p>
<p>Saya berpikir: lantas apa yang berubah di Jakarta jika gambaran para penyair tentang Jakarta pada 1950-an hampir sama dengan keluhan banyak orang di hari-hari belakangan ini? Inikah pertanda Jakarta sudah selesai atau justru inikah isyarat ketidakselesaian Jakarta?</p>
<p>Pada dini hari itu, setelah beberapa teman undur diri dari BHI, saya menyimak pertanyaan-pertanyaan di atas seraya mencoba memahami isyarat-isyarat yang diberikan Tugu Selamat Datang, lima buah air mancur dan kepungan gedung-gedung tinggi, terutama bangunan Hotel Indonesia.</p>
<p>Lalu saya menemukan sepotong paradoks:</p>
<p>BHI, dengan poros tugu selamat datang yang dikelilingi kolam dan air mancur serta “diawasi” oleh Hotel Indonesia, direncanakan sebagai simbol kehebatan sebuah negara. Lima formasi air mancur melambangkan Pancasila sebagai ideologi negara. Sementara Hotel Indonesia, yang dibangun untuk memuaskan ambisi Soekarno menunjukkan kepada dunia bahwa Indonesia sudah jauh lebih maju dan modern, awalnya bahkan mempunyai slogan: “A Dramatic Symbol of Free Nations Working Together”.</p>
<p>Deretan indeks tentang BHI dan sekelilingnya sebagai simbol sebuah negara seperti yang direncanakan pada awalnya justru “dirongrong” dengan cara yang tak pernah dibayangkan Soekarno: kawasan ini justru menjadi target utama para demonstran mengugat negara, entah tentang harga susu, kenaikan BBM, hingga kampanye penegakan syariat Islam. Di sekelilingnya, berdiri dengan megah sejumlah hotel, plaza dan mall yang tak ada urusannya dengan nasionalisme. Perlukah lagi dijelaskan makna telanjang yang tersimpan dari nangkringnya nama &#8220;Kempinski&#8221; pada nama Hotel Indonesia?</p>
<p>Paradoks ini menghadirkan Jakarta sebagai sebuah teks yang disusun oleh belasan manumen sebagai aksaranya. Hanya saja, sebagai teks, Jakarta lebih mirip seperti kalimat yang bukan hanya belum selesai, tapi juga tak jelas sintaksisnya. Di sini perencanaan negara mesti berhadapan dengan libido kapital yang menjompak minta dipuaskan dan desakan tafsir publik yang subversif. BHI dan belasan monumen lainnya tampil seperti aksara yang acak dan satu sama lain tak harus saling menopang dan bahu membahu menyusun sebuah kalimat.</p>
<p>Cara baca seperti itu mungkin dekat dengan konsepsi gestaltic-nya Roland Barhez,</p>
<p>Dalam pemahaman gestaltic, kita dapat melihat berbagai kontradiksi antara fungsi bagian-bagian kota dan isi semantisnya. Bundaran HI di Jakarta berfungsi sebagai oase optis untuk menetralisasi potensi ancaman dari arah jalan yang saling bertumbuk. Dalam ruang terbuka itu, lingkaran kolam dan unsur air dapat mengimbuhkan kelegaan emosional bagi pemakai jalan. Tapi, sejak karnaval demo ”ditradisikan” oleh berbagai kelompok, Bundaran HI secara semantik menjadi wilayah penggawatan. Tidak ada lagi oase optis di sana; air mancurnya tidak lagi menjadi puisi; hanya sebuah panggung darurat untuk mengusung berbagai manifesto mikrofon.</p>
<p>Jika kota ditulis dengan monumen-monumen, monumen itu dapat memiliki modus dialogis atau modus yang intervensif. Yogya adalah kota yang wajib berdialog antara legenda masa lalu dan prospek kemutakhirannya. Jakarta adalah kota yang merebut kemutakhirannya dengan mengintervensi bekas-bekas keusangannya.</p>
<p>Dari posisi inilah, kita bisa melihat kota sebagai wacana. Kota berbicara kepada penduduknya, penduduk berbicara kepada kotanya. Kadang, percakapan itu tak pernah bertemu, hanya saling papas, lantas masing-masing berlalu dengan isi pikirannya sendiri.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pejalanjauh.com/2010/09/jacatra/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Ta(wa)rawih</title>
		<link>http://pejalanjauh.com/2010/08/tawarawih/</link>
		<comments>http://pejalanjauh.com/2010/08/tawarawih/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 28 Aug 2010 21:55:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[meracau]]></category>

		<category><![CDATA[do'er]]></category>

		<category><![CDATA[iman tanpa senyum]]></category>

		<category><![CDATA[tarawih]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pejalanjauh.com/?p=1227</guid>
		<description><![CDATA[&#8211; perihal iman tanpa senyum
Kami semua menyukai Do’er. Semua orang tahu ia punya perangai yang cerah. Bandel dan jahil, memang. Tapi, semua juga tahu, ia pintar dan cerdik, juga pandai mencuri perhatian orang. Mukanya bulat, pipinya penuh seperti donat yang masih hangat, matanya sedikit sipit, dengan rambut yang ikal. Oya, ia juga lihai menggocek bola. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>&#8211; perihal iman tanpa senyum</em></p>
<p>Kami semua menyukai Do’er. Semua orang tahu ia punya perangai yang cerah. Bandel dan jahil, memang. Tapi, semua juga tahu, ia pintar dan cerdik, juga pandai mencuri perhatian orang. Mukanya bulat, pipinya penuh seperti donat yang masih hangat, matanya sedikit sipit, dengan rambut yang ikal. Oya, ia juga lihai menggocek bola. Ya ya, sejak kedatangan Do’er, kami yang biasanya meninggalkan begitu saja sepakbola selama Ramadhan tiba-tiba disadarkan olehnya bahwa sepakbola menjelang buka puasa tidak akan membuat kami kehabisan tenaga dan mati kehausan.</p>
<p>Ia cucu Haji Sawendo, juragan tebu dan pemilik musholla di dekat rumahku. Sepanjang ramadhan ini, Do’er berencana akan tinggal di kampung kami. Ayahnya Do’er, artinya anak Haji Sawendo, bernama Amin Suganda, baru akan datang sehari menjelang lebaran. Aku pernah mendengar hubungan yang ganjil antara Haji Sawendo dan Wa Amin, begitu kami biasa memanggil ayah Do’er. Kabarnyna, begitulah yang lamat-lamat pernah kudengar, anak dan ayah itu sudah tak akur sejak tahun 60-an.</p>
<p>Do’er mendatangkan gema kegembiraan yang baru di antara kami. Ia selalu punya cerita-cerita lucu yang tak ada habisnya. Ia juga tak pelit bercerita tentang seperti apa kehidupan di Jakarta, bagaimana teman-teman sekolahnya, bagaimana sekolah di sana. Dan, ini yang penting, Do’er mengaku sudah punya pacar!</p>
<p>Itu sungguh luar biasa bagiku dan teman-temanku. Kabar bahwa Do’er sudah punya pacar terasa seperti sebuah cerita dongeng yang fantastis bagi anak-anak kampung macam kami. Bayangkan, bocah 8 tahun sudah punya pacar dan sudah pula mencium pacarnya itu. Ya, ya&#8230; cerita Do’er yang mengaku pernah menciumnya membuat cerita itu menjadi kian fantastis dan sureal bagi kami.</p>
<p><span id="more-1227"></span>Do’er menceritakan itu semua di menit-menit terakhir menjelang berbuka puasa usai kami bermain bola selama 20 menit lamanya di pekarangan mushola. Karena bedug maghrib keburu datang, cerita Do’er pun terputus. Kami berpisah dan kembali ke rumah masing-masing untuk mandi, berbuka dan bersiap mengikuti shalat tarawih. Tapi aku, begitu juga kawan-kawanku, tak sabar untuk segera bertemu Do’er, untuk mendengar cerita yang lebih detail mengenai bagaimana rasanya pacaran dan macam apa pula rasanya berciuman di usia delapan.</p>
<p>Maka, begitulah, saat Tarawih berlangsung, kami bergerombol di balik pintu sambil bergunjing dan berceloteh. Orang-orang tua kami tidak terlalu mempedulikan tingkah kami itu. Ada yang khusus memang selama Ramadhan. Orang-orang tua membiarkan anak-anak bermain lebih lama hingga malam, orang-orang tua juga punya toleransi lebih besar pada kelakuan bengal anak-anaknya saat tarawih. Ya, tentu saja asal tidak terlalu ribut dan keterlaluan. Anak-anak yang cekikikan atau senggol-senggolan selama tarawih bukan persoalan besar bagi orang-orang tua.</p>
<p>Aku masih ingat, saat itu aku bertanya kapan ayahnya, Wa Amin, akan datang. Do’er menggeleng. Ia tak tahu. Tapi ia mengaku ingin segera bertemu ayahnya. Sudah 23 hari ia berpisah dengan ayahnya. Ada semburat rasa sebal di muka Do’er saat diingatkan tentang kapan kedatangan ayahnya. Aku diam-diam merasa tak enak.</p>
<p>Lalu datanglah peristiwa yang tak akan pernah terlupakan olehku. Saat itu, shalat tarawih memasuki rakaat yang terakhir. Imam membaca surat al-Fatihah sampai selesai. Seperti biasanya, saat imam sampai pada kalimat “Ghairil maghdu bi alaihim waladholin&#8230;”, jemaah akan menyambutnyna dengan ucapan “Amin”. Tapi, sebelum jemaat menjawab, Do’er langsung mencegat lebih dulu sambil berteriak sekeras-kerasnya: “Bapakkkkkkkkkkkk&#8230;..!”</p>
<p>Kami semua tak bisa menahan tawa. Susah payah aku menutup mulutku. Aku lihat, orang-orang tua juga tak bisa menahan senyumnya, kendati mereka tetap berusaha sekuat mungkin menjaga konsentrasi. Tentu saja rakaat terakhir tarawih itu bisa berakhir juga, tapi semua orang tak yakin kalau rakaat terakhir itu sudah berlangsung dengan sah.</p>
<p>Setelah semuanya selesai, Haji Sawendo, kakek Do’er sekaligus pemilik musholla tempat Tarawih berlangsung, beranjak dari tempatnya ke arah kami, menarik tangan Do’er dan menyeretnya ke luar musholla. Kalimat-kalimat kasar dan pukulan tangan harus diterima Do’er. Dengan rasa takut, kami mengintip ke luar dan merasa telah melihat bagaimana Haji Sawendo sudah berubah menjadi seekor monster yang jahat.</p>
<p>Tarawih akhirnya berakhir dengan tragedi. Aku dengar Do’er nyaris pingsan karena pukulan telak Haji Sawendo di mukanya. Kabarnya, hidungnya berdarah. Kami semua pulang dengan perasaan tak enak dan merasa kami semua akan ikut menanggung akibatnya dengan dimarahi oleh orang tua kami masing-masing. Ibu tidak memarahiku, tapi bapak menjewer telingaku, itu pun tidak lama. Di rumah, aku tidak dimarahi. Ibu dan bapak membicarakan peristiwa tadi di meja makan. Aku tertidur saat menguping pembicaraan itu.</p>
<p>Paginya, selepas sahur, aku sudah kembali ke musholla untuk ikut berjamaah shalat Subuh yang akan dilanjutkan dengan kuliah subuh. Menurut jadwal, ini giliran Ibu yang akan berceramah. Tapi beberapa saat sebelum Ibu berceramah, Haji Sawendo minta ijin untuk berbicara lebih dulu. Apa yang dibicarakan Haji Sawendo tak pernah bisa aku lupakan. </p>
<p>Haji Sawendo, yang semalam menggebuki cucunya sendiri, mengaku secara terbuka kalau dia dulu tersangkut PKI dan karenanya selalu mencoba memperbaiki dirinya. Ia juga meminta maaf karena tak pernah bisa mendidik anak cucunya dengan baik. Beberapa orang tua yang seumuran dengan Haji Sawendo menunduk. Ada sesuatu yang sudah lama disimpan diam-diam justru diangkat sendiri oleh yang bersangkutan ke permukaan. Tak ada yang baru dari pengakuan itu, karena semua warga kampung sudah tahu, hanya saja mereka diam dan membiarkannya, karena sebuah rahasia umum tentang aib seseorang akan lebih baik tetap menjadi rahasia umum, karena dengan itulah suatu aib akan tetap membuntutinya, terus menerus membayanginya. </p>
<p>Lalu tiba giliran Ibu berceramah. Aku  tidak begitu ingat lagi apa yang dibicarakan Ibu dalam ceramahanya. Satu-satunya yang aku ingat dari ceramah Ibu adalah kisah tentang seorang Nabi yang harus sujud saat shalat dalam waktu sangat lama karena dua cucunya terus menerus duduk di punggungnya seakan-akan sedang menunggangi seekor keledai.</p>
<p>Sepulang ceramah, Ibu bilang padaku: &#8220;Kamu boleh tertawa di musholla, tapi jangan keras-keras, ya.&#8221; </p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-<br />
<em>Post-script</em>: Salah satu kekayaan Haji Sawendo adalah sebuah kebun cengkih yang luas di pinggir desa. Itu kebun cengkih yang punya aura mengerikan bagi kami saat itu. Kebun itu punya julukan: Bulak Bangke alias Ladang Bangkai. Lamat-lamat, pernah saya dengar, itulah tempat di mana beberapa eksponen Pemuda Rakyat dibantai tentara pada Oktober 1965. Salah seorang yang selamat namanya Wa Ekot, kini menjadi tukang tambal ban sepeda, hanya ban sepeda. Tapi tentang Wa Ekot, ia butuh tempat dan waktu yang berbeda untuk mengisahkannya. </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pejalanjauh.com/2010/08/tawarawih/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Ber(s)isik?</title>
		<link>http://pejalanjauh.com/2010/08/berssisik/</link>
		<comments>http://pejalanjauh.com/2010/08/berssisik/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 27 Aug 2010 20:40:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[meracau]]></category>

		<category><![CDATA[desainer]]></category>

		<category><![CDATA[guyon]]></category>

		<category><![CDATA[malam seribu bulan]]></category>

		<category><![CDATA[umberto eco]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pejalanjauh.com/?p=1224</guid>
		<description><![CDATA[&#8211; A monk should not laugh. Laughter makes him looks like a monkey*
Seorang desainer (kita sebut saja: “desainer kita”) yang berumah dekat mesjid selalu gagal menyelesaikan pekerjaannya tiap kali Ramadhan memasuki sepuluh hari terakhir.
Desainer kita ini sejenis mahluk yang hanya bisa bekerja pada malam hari. Siang hari, biasanya, desainer kita ini hanya bermain-main dengan anak-anaknya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>&#8211; A monk should not laugh. Laughter makes him looks like a monkey*</em></p>
<p>Seorang desainer (kita sebut saja: “desainer kita”) yang berumah dekat mesjid selalu gagal menyelesaikan pekerjaannya tiap kali Ramadhan memasuki sepuluh hari terakhir.</p>
<p>Desainer kita ini sejenis mahluk yang hanya bisa bekerja pada malam hari. Siang hari, biasanya, desainer kita ini hanya bermain-main dengan anak-anaknya atau jika tidak pergi memancing ke sungai yang agak jauh tapi sebenarnya tidak jauh-jauh amat.</p>
<p>Maka, tiap kali Ramadhan memasuki sepuluh hari terakhir, desainer kita yang mukanya mirip singa tanpa misai itu tak pernah bisa berkonsentrasi dengan pekerjaannya. Bukan apa-apa, tiap kali ia mulai bekerja, orang-orang memenuhi telinganya dengan suara do’a yang kian mendekati pagi akan terdengar kian keras dan tak beraturan.</p>
<p>Dia senang jika langit tiba-tiba memuntahkan hujan yang deras. Suara deras hujan yang ditingkahi guntur yang menggelegar seringkali menyelamatkan telinganya dari suara-suara yang kian hari kian terasa acak di telinganya. Sayangnya, itu pun tak selalu berhasil. Selain karena hujan kadangkala berlangsung terlalu singkat, pengeras suara selalu datang tiap 10 menit dengan berisiknya yang tak tertahankan: “Ibu ibu yang sedang menyiapkan sahur, waktu sudah menunjukkan pukul&#8230;..”</p>
<p><span id="more-1224"></span>Pengumuman macam itu, yang datang beruntun tiap 10 menit, selalu bisa mengalahkan suara hujan yang deras sekali pun karena ia datang dari pengeras suara. Ia tak pernah bisa mengerti kenapa pengumuman macam itu harus terus diulang-ulang. Bagi desainer kita ini, mengumumkan waktu sudah pukul berapa dengan pengeras suara adalah sebentuk realisme paling komikal yang pernah didengarnya, seakan-akan jam tangan atau jam dinding itu selangka badak bercula satu di hutan-hutan Ujung Kulon.</p>
<p>Tapi itu belum seberapa. Saat jam mendekati habisnya waktu sahur, pengeras suara malah akan memenuhi gelombang di udara setiap detik dan setiap menit (bukan lagi tiap 10 menit sekali). Pengeras suara itu, desainer kita bisa menebaknya, diletakkan sedemikian rupa ke dekat sebuah radio transistor tua yang sedang menyiarkan siaran langsung shalat tarawih dari Afrika.</p>
<p>Bayangkanlah macam apa gelisah dan sebalnya desainer kita itu. Hingga hari mendekati lebaran, tak satu pun order yang diterimanya bisa ia selesaikan. Satu per satu pelanggannya datang ke rumahnya, menagihnya, lalu memakinya. Padahal lebaran makin dekat. Dan tiap kali hari mendekati lebaran, orang-orang makin banyak datang ke mesjid, sehingga suara acak dari do’a-do’a itu pun kian menghebat.</p>
<p>Bisa dibayangkan bagaimana frustasi dan sebalnya desainer kita ini. Ia punya banyak ide, tapi ide-ide itu tak pernah bisa dieksekusi. Seniman mana yang tak tahan dengan banjir ide yang tak terejawantahkan satu pun? Ini seperti meminum bergalon-galon air sementara saluran kencingnya mampat.</p>
<p>Ia tak tahan lagi. Ia tak bisa memberi toleransi lagi. Ini bisa bikin ide bunuh diri jadi masuk akal di mata desainer kita ini. Ia, desainer kita itu, merasa tetap harus membuat satu karya, tak peduli apa pun itu. Ia melihat kalender dan sadar lebaran tinggal tiga hari lagi. Saat melihat kalender itulah ia mendapatkan kilatan cahaya yang begitu kuat dan jelas, sebentuk kilatan yang membuatnya bisa tersenyum. “Aku harus bisa membuatnya. Aku harus bisa membuatnya,” katanya berulang kali, pada dirinya sendiri, hanya pada dirinya sendiri.</p>
<p>Ide yang datang seperti kilatan cahaya itu membuatnya terangsang hebat. Saking hebatnya, tubuhnya pun merespons ide itu dengan menyediakan tenaga yang berlimpah dan seakan tak ada habis-habisnya. Sejak itu, desainer kita itu tak tidur, terus berada di depan monitor, tanpa sekali pun merasa lelah, dan tanpa bisa diusik oleh apa pun juga, termasuk oleh suara do’a dan pengeras suara yang menyiarkan siaran langsung shalat tarawih dari Afrika. Sehari kemudian, dia pergi ke percetakan dan tak pulang semalaman.</p>
<p>Menjelang buka puasa hari ke-29, desainer kita kembali ke rumahnya dengan mengendarai sebuah pick-up yang penuh dengan tumpukan kertas. Dengan dibantu oleh dua karyawannya, kertas-kertas itu disusunnya sedemikian rupa mengelilingi semua tembok rumahnya. Lalu, jalan setapak di depan rumahnya hingga ke jalan pun ditutupi oleh kertas-kertas itu serupa karpet merah untuk menyambut kedatangan para pejabat pemerintah.</p>
<p>Orang-orang segera tahu apa yang sudah dibuat oleh desainer kita itu. “Dia mencetak kalender dari Januari 2010 sampai April 2093,” kata salah seorang tetangganya kepada pejabat desa yang datang untuk mencari tahu apa yang terjadi.</p>
<p>Pejabat desa itu melihat salah satu kalender yang ditempel oleh desainer kita ini di pagar halamannya. Ia melihat kalender bulan April 2093 dengan tulisan kecil di pojoknya: “Saat orang-orang berisik, Tuhan malah nyengir.” (Pejabat desa itu pun tahu tulisan kecil itu ada di tiap halaman kalender yang dibuat dan dicetak oleh desainer kita).</p>
<p>Saat pejabat desa itu memasuki rumahnya, desainer kita sudah tidur lelap dalam kelelahan yang tak tertahankan. Mulutnya tersenyum, tapi pejabat desa merasa desainer kita sedang meledeknya.</p>
<p>Desainer kita itu akhirnya shalat I’ed di halaman belakang Koramil.</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;<br />
*) Pemadatan dari omongan panjang biarawan buta, Jorge de Burgos, dalam novel <em>The Name of the Rose</em>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pejalanjauh.com/2010/08/berssisik/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Kursi</title>
		<link>http://pejalanjauh.com/2010/08/kursi/</link>
		<comments>http://pejalanjauh.com/2010/08/kursi/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 26 Aug 2010 21:21:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[meracau]]></category>

		<category><![CDATA[cerita]]></category>

		<category><![CDATA[ireng]]></category>

		<category><![CDATA[kelabu]]></category>

		<category><![CDATA[kursi]]></category>

		<category><![CDATA[prosa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pejalanjauh.com/?p=1221</guid>
		<description><![CDATA[&#8211; sebuah hubungan yang tidak penting-penting amat
Entah sudah berapa perempuan yang telah dikencaninya, tapi tak satu pun dari mereka diijinkan oleh Ireng untuk duduk di depannya tiap kali sedang berkencan di sebuah kafe atau makan di sebuah restoran. Jika mejanya cukup besar, Ireng akan meminta perempuan yang dikencaninya untuk duduk di sebelahnya. Jika mejanya terlalu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>&#8211; sebuah hubungan yang tidak penting-penting amat</em></p>
<p>Entah sudah berapa perempuan yang telah dikencaninya, tapi tak satu pun dari mereka diijinkan oleh Ireng untuk duduk di depannya tiap kali sedang berkencan di sebuah kafe atau makan di sebuah restoran. Jika mejanya cukup besar, Ireng akan meminta perempuan yang dikencaninya untuk duduk di sebelahnya. Jika mejanya terlalu kecil untuk duduk bersebelahan, Ireng akan meminta perempuan yang dikencaninya untuk duduk di sisi kanan atau di kiri, pokoknya tidak di depannya. Jika Ireng duduk di sebelah barat, teman kencannya akan diposisikan untuk duduk di sisi utara atau selatan, bukan di sisi timur.</p>
<p>Selera yang aneh itu sedikit merepotkan. Setidaknya, Ireng harus selalu berusaha datang lebih dulu untuk meminta pelayan cafe atau restoran untuk menata kursi sedemikian rupa agar pada saatnya nanti ia tidak duduk berhadapan muka dengan muka. Kendati aneh dan tak biasa, kebiasaan Ireng itu tak pernah betul-betul menyulitkannya, hanya sedikit merepotkan saja. </p>
<p>Bagi Ireng, antara &#8220;merepotkan&#8221; dan &#8220;menyulitkan&#8221; itu berbeda, itu seperti &#8220;membuang abu rokok pada asbak yang tersedia di meja&#8221; dengan &#8220;buang air di sebuah mesjid yang tak menyediakan kloset&#8221;.</p>
<p><span id="more-1221"></span>Kadang, hanya terkadang, pasangan kencannya sesekali bertanya soal itu, tapi Ireng selalu punya jawaban. Lagi pula, Ireng tak pernah kencan berlama-lama dengan seorang perempuan yang sama. Rekor kencan terbanyaknya hanya dengan Biru, perempuan bermata tajam yang dengannya Ireng pernah kencan sebanyak tiga kali. Tak ada kencan yang keempat kalinya dengan perempuan yang sama dalam 34 tahun kehidupan Ireng. Itu menghindarkan Ireng dari keharusan memberi jawaban atas pertanyaan sama yang terus diulang: &#8220;Kenapa, sih, kamu gak mau duduk berhadapan?&#8221;</p>
<p>Sebenarnya Ireng bukannya tak pernah duduk berhadapan saat berkencan. Sekali dua, jika ada kesalahan perencanaan, terpaksalah Ireng duduk berhadapan dengan teman kencannya. Tapi itu pun tak lama. Ireng selalu punya siasat licik untuk ke luar dari situasi itu: kadang pamit mendadak dengan berpura-pura ada panggilan dari bos di kantor, kadang langsung mengajak teman kencannya untuk segera beranjak ke tempat lain, entah ke bioskop, gedung pertunjukan teater, taman kota atau langsung pergi ke sebuah kamar hotel bintang dua.</p>
<p>Kamar hotel? Ya, selalu kamar hotel. Kenapa tidak diajak ke rumah saja? Lha, kenapa memang kalau di hotel dan kenapa memang jika selalu di kamar hotel? Tak pernah, sekali pun tak pernah, Ireng mengajak teman kencannya ke rumah, begitu juga sebaliknya, Ireng tak pernah mau jika diajak ke rumah teman kencannya.</p>
<p>Sungguh, sebenarnya tak ada yang terlalu memalukan dari rumah Ireng. Biasa saja, seperti halnya rumah-rumah yang lain. Letaknya agak di pinggiran kota, tak jauh dari sebuah pintu tol yang tak terlalu ramai. Ia merasa rumah adalah tempat yang terlalu pribadi, semacam sanctuary, yang ia enggan berbagi kecuali dengan dirinya sendiri. Itu alasan yang tidak terlalu aneh, bukan? Ya, biasa saja. Setiap orang memang butuh privasi. Di momen-momen tertentu privasi bisa berarti kesendirian yang tak terganggu siapa pun dan apa pun. Bahkan orang dengan kecanduan akut pada keramaian pun punya saat-saat khusus di mana ia harus sendiri; kadang hanya untuk tidur lelap, mungkin hanya untuk buang air besar dengan nyaman karena peristiwa buang air besar masih dianggap memalukan. Ekskresi tak pernah dianggap sepenting ereksi, kendati semua orang tahu mereka tetap bisa hidup tanpa ereksi tapi mustahil tanpa ekskresi.</p>
<p>Memang begitu, bukan? Ya, macam itulah, dengan kalimat tanya menggantung seperti itulah, cara Ireng mengakhiri sebuah penjelasan ihwal sesuatu yang dianggapnya biasa tapi oleh teman kencannya dianggap tidak biasa. Biasanya, setelah kalimat tanya yang menggantung itu, Ireng dan teman kencannya terdiam beberapa saat. Kadang teman kencannya bisa diyakinkan, kadang tidak. Berhasil diyakinkan atau tidak, toh mereka tak pernah lagi bertanya hal yang serupa. Mungkin karena satu sama lain akhirnya paham bahwa ini bukan sejenis hubungan intim nan intens, melainkan hanya sebuah fragmen pendek yang &#8211;kadang berakhir di ranjang kadang tidak&#8211; biasa saja, tak terlalu berarti, atau tak penting-penting amat. Kadang agak penting sih, tapi tetap saja tak penting-penting amat.</p>
<p>Mungkin kalian berpikir ada yang buruk dari wajah Ireng sehingga ia tak tahan untuk duduk berhadapan. Itu sama sekali tidak benar. Tak ada cula atau belalai di muka Ireng, juga tidak ada codet bekas luka di jidat atau pipinya. Normal-normal saja. Tidak terlalu tampan, tapi jelas tidak jelek-jelek amat. Memang ada sedikit bekas jerawat, tapi itu sudah nyaris hilang dan terlalu samar untuk bisa terlihat dalam sekali lirik. Toh sedikit sisa jerawat itu ada di pipi dan pipi adalah bagian paling jelas jika sedang duduk bersebelahan, bukan berhadapan. Jadi, cukup jelas, bekas sisa jerawat itu sama sekali bukan soal, apalagi aib yang mesti ditutup-tutupi selayaknya borok yang masih basah dan berlendir.</p>
<p>Baginya, sebuah fragmen ringkas dari sebuah hubungan singkat yang tak penting-penting amat itu sebaiknya dibiarkan tetap ringkas dan tanpa kedalaman tertentu. Duduk bersebelahan atau duduk di sisi sebuah meja yang tidak berhadapan, misalnya Ireng duduk duduk di sisi barat maka teman kencannya duduk di sisi selatan/utara, adalah cara sempurna untuk menjaga kedangkalan. Ireng tak bisa membayangkan sebuah hubungan yang tak penting-penting amat dihayati dengan cara duduk berhadap-hadapan, saling memandang, saling menatap, lalu bercerita, lalu bicara, lalu bertanya jawab, dll. Tak bisa, Ireng sama sekali tak bisa membayangkannya. Yang terbayang di kepala Ireng bukan lagi kedangkalan, melainkan kepura-puraan. Ya, kepura-puraan. Itu jauh lebih buruk daripada kedangkalan.</p>
<p>Baginya, sebuah hubungan yang tak penting-penting amat memang dangkal, tapi dangkal tidak sama dengan pura-pura. Kedangkalan, baginya, adalah inti dari sebuah hubungan yang tak penting-penting amat. Easy come, easy go. Tidak ada yang terlalu personal-personal amat. Tidak ada riak emosi yang besar-besar amat. Biar semuanya berlangsung di permukaan. Kendati penisnya kadang (karena memang tidak selalu) masuk ke dalam vagina teman kencannya, tapi itu bukan kedalaman. Lagi pula, berapa dalam vagina dalam sebuah hubungan yang tak penting-penting amat, sih? Tidak lebih dalam daripada sebuah tatapan mata yang intens seorang ibu pada bayinya yang baru mengaokkan tangisnya yang pertama. Itu perbandingan yang aneh? Tidak juga. Bukan karena itu tidak aneh, melainkan semua perbandingan sebenarnya memang aneh.</p>
<p>Duduk berhadapan dengan teman kencan dalam sebuah hubungan yang tak penting-penting amat mudah membawa kedangkalan itu jadi turun kualitasnya menjadi kepura-puraan. Ireng tak pernah bisa mengelak dari kepura-puraan saat harus berhadapan muka dengan muka dengan teman kencannya. Selalu ada saja kepura-puraan yang lahir, dari sekadar basa-basi (misal: “Hey, bagaimana pekerjaan di kantor?”) atau pujian sampah serupa kitsch abal-abal (misal: “Hey, bagus sekali bentuk kupingmu”). Ia selalu tak tahan dengan kepura-puraan. Ia lebih memilih kedangkalan daripada kepura-puraan. Setidaknya karena dua alasan.</p>
<p>Pertama, karena Ireng tidak bisa berenang, maka ia lebih duka kedangkalan daripada kedalaman, kendati ia tidak anti-anti amat dengan kedalaman, karena toh ia sering menyeberangi laut; tentu saja dengan kapal laut, bukan berenang. Kedua, ia bukannya tidak pernah berpura-pura, tapi kepura-puraan yang dilakukanya memang lahir dari sebuah situasi kepura-puraan (misal: berpura-pura rajin sekolah saat seisi dunia berpura-pura pentingnya sekolah padahal yang penting sebenarnya bukan sekolah tapi ijazah). Kepura-puraan dalam sebuah hubungan yang tak penting-penting amat, bagi Ireng, adalah sebuah kesalahan tempat yang fatal. Itu membuat sebuah hubungan yang tak penting-penting amat berubah menjadi hubungan yang sangat amat tidak penting.</p>
<p>Ya, sebuah hubungan yang tidak penting-penting amat juga membutuhkan kejujuran tertentu, setidaknya kejujuran untuk saling mengerti bahwa ini memang sebuah hubungan yang tidak penting-penting amat yang tidak perlu dan tidak boleh dikotori oleh kepura-puraan seakan-akan ini hubungan yang penting. Dengan kejujuran macam itulah sebuah hubungan yang tidak penting-penting amat memperoleh tempatnya tersendiri. Tidak berarti kejujuran macam itu akan membuat hubungan yang tidak penting-penting amat itu akan terus dikenang dan terkenang, sama sekali tidak. Kenangan seringkali tidak menyediakan tempat khusus pada sebuah hubungan yang tidak penting-penting amat karena sekali kenangan memberi kapling khusus hubungan itu sudah beranjak menjadi penting, bukan lagi sebuah hubungan yang tidak penting-penting amat.</p>
<p>Apakah Ireng tidak pernah mengalami sebuah hubungan yang penting? Tidak juga. Sekarang justru saatnya Ireng sedang mengalami sebuah hubungan yang penting; karena itulah cerita ini menjadi dimungkinkan. Ireng sama sekali tidak sadar kapan hubungannya dengan Kelabu bisa menjadi penting. Tidak jelas batas demarkasinya, tiba-tiba saja ia merasa hubungannya dengan Kelabu menjadi penting. Sebenarnya tidak tiba-tiba juga, ada satu momen di mana Ireng merasa ini akan jadi hubungan yang penting.</p>
<p>Saat itu, dalam sebuah kencan yang berlanjut di sebuah kamar hotel bintang dua, Ireng dan Kelabu bersenggama dengan cara yang tak pernah dilakukan Ireng: posisi penginjil. Sudah belasan kali ia bersenggama dengan perempuan dalam sebuah hubungan yang tak penting-penting amat. Akan halnya ia tak mau duduk berhadapan dengan teman kencannya, Ireng juga tak pernah mau bersenggama dengan posisi berhadapan, posisi penginjil. Kadang posisi anjing hendak kencing, kadang posisi kapal yang hendak tenggelam, kadang posisi seperti sekop yang sedang menancap di tanah. Banyak ragam posisi yang dengan mudah dipelajari dari jilid Kamasutra versi Arthur Bennet terbitan tahun 1878. Pokoknya tidak posisi penginjil.</p>
<p>Apakah dengan demikian Ireng tak pernah berciuman? Tentu saja pernah, dan sering. Bukankah itu berhadap-hadapan namanya? Tidak sama sekali bagi Ireng. Berciuman itu menyatu sehingga tak ada jarak yang membuat satu sama lain bisa saling menatap untuk kemudian terpaksa berpura-pura satu hal atau lain hal. Lagi pula, kejujuran itu satu paket dengan sebuah ciuman, setidaknya hingga level tertentu. Orang tak bisa berpura-pura menikmati ciuman. Pilihannya hanya dua: menikmatinya atau muntah? Mungkin kadar menikmatinya berbeda-beda, tapi setiap orang yang berciuman punya level kenikmatan yang bisa dicecap tersendiri. Jika sama sekali tak bisa menikmati, ia tak bisa berpura-pura, yang ada hanya rasa mual untuk kemudian muntah. Ya, muntah. Sebuah ciuman yang tak enak akan membuat air liur masing-masing terasa terpisah, menggumpal tersendiri, seperti bulatan-bulatan yang terpaksa kita telan.</p>
<p>Bersama Kelabu, Ireng bukan hanya bisa berciuman, tapi juga bersenggama dalam posisi penginjil, berhadapan muka dengan muka, sejak foreplay hingga orgasme, tanpa putus, tanpa jeda. Kelabu memang sosok yang istimewa bagi Ireng. Fisiknya sempurna. Tidak, ia bukan jenis kesempurnaan bidadari, tapi kesempurnaan yang tersusun karena elemen-elemen yang ada di tubuhnya memilih kekhasan tersendiri. Misalnya: payudara. Payudara kanan dan kiri Kelabu bentuknya sama, tapi di mata Ireng punya kekhasan tersendiri. Yang kanan liat seperti hidungnya yang mancung, yang kiri lembut (bukan lunak) seperti bibirnya. </p>
<p>Mulanya Ireng tak begitu percaya dengan penemuannya ini. Tapi saat bersengama yang kedua kali usai kencan yang kedua, hal sama kembali terulang. Ireng dan Kelabu bersengama dalam posisi penginjil, sejak foreplay hingga orgasme. Sekali pun mereka tak pernah ingin berganti posisi. Itulah saat di mana untuk pertama kalinya Ireng merasa siap untuk duduk berhadap-hadapan muka dengan muka.</p>
<p>Demikianlah, tak perlu berpikir panjang, Ireng merasa ia sudah harus bersiap dengan sebuah hubungan yang penting, juga dengan sebuah kencan dalam posisi duduk berhadapan. Ya, kencan pertama dan kedua yang berakhir dengan persengamaan dalam posisi penginjil tetap berlangsung seperti sebelum-sebelumnya: duduk bersebelahan, sama sekali tidak berhadapan.</p>
<p>Ireng tidak tahu apakah Kelabu juga menganggap ada yang khusus dari hubungan ini. Tapi Ireng tak terlalu memikirkannya. Baginya, sebuah hubungan yang penting itu tetap penting bahkan kendati ia ternyata bertepuk sebelah tangan. Hubungan yang penting tidak harus selalu koheren dengan perasaan yang sama dan senada. Pemikiran macam itu membuat Ireng merasa aman. Ia yakin, dengan pemikiran macam itu, dirinya tak akan tersentuh dengan cerita usang yang anehnya selalu saja diulang-ulang dalam sinema, lagu-lagu, juga prosa serta sajak: patah hati yang muram dan durja.</p>
<p>Pada waktu yang sudah ditentukan, Ireng dan Kelabu datang ke sebuah kafe tak jauh dari taman kota. Kelabu tak tahu kalau inilah saat pertama Ireng datang bersamaan dengan teman kencannya. Biasanya, Ireng selalu datang lebih awal, memastikan meja dan kursi yang akan ditempati telah tertata seperti yang diinginkannya. Kali ini tak ada yang perlu dikhawatirkan Ireng. Toh Ireng tak berniat hendak melakukan hal-hal khusus yang butuh perencanaan matang. Ireng tak akan melamar Kelabu, tidak akan menyematkan cincin, atau mengajaknya bicara soal kemungkinan membangun sebuah ikatan yang khusus. Tidak, itu sama sekali tak ada dalam rencana Ireng. Kendati ia merasa ini akan menjadi sebuah hubungan yang penting, Ireng tak merasa perlu membuat sebuah ikatan yang khusus. Sebuah hubungan yang penting sama sekali tidak diukur oleh adanya komitmen yang khusus. Itu dua hal berbeda. Sebuah hubungan yang penting akan tetap penting kendati tak diimbuhi apa-apa. Ia penting dengan sendirinya, penting dengan apa adanya.</p>
<p>Tapi rencana hanya tinggal rencana. Saat masuk ke kafe, semua meja dan bangku sudah terisi, kecuali sebuah meja kecil di sudut. Tak ada yang salah dengan sudut. Bahkan meja itu dekat dengan rak buku, sesuatu yang biasanya disukai Ireng. Masalahnya, meja itu menempel di sudut sehingga ada dua sisi meja (sisi utara dan timur) yang menempel di dinding. Jadi, dua kursi itu pun tak mungkin ditempatkan dalam posisi berhadapan. Kursi hanya mungkin berada di sisi barat dan selatan. Sempat terpikir untuk menggeser kursi itu sedemikian rupa, tapi itu tak mungkin karena tak banyak ruang tersisa, sehingga duduk berhadapan akan membuat kursi dari meja sebelah yang sudah terisi harus dipindah. Ireng berdiri mematung di dekat meja bartender dan mulai berpikir untuk mengajak Kelabu jalan-jalan lebih dulu untuk kemudian kembali satu jam kemudian. Tapi tak ada kesempatan lagi karena saat itu juga Kelabu menarik tangannya.</p>
<p>“Ayo, kenapa diam? Nanti mejanya keburu diisi orang lain,” ujar Kelabu. Tak ada yang bisa dilakukan, tepatnya tak ada pilihan lain, semuanya terjadi begitu saja, Ireng pun menyeret langkahnya menuju sudut dengan sebuah meja dan sepasang kursi yang tidak berhadapan.</p>
<p>Pelayan datang membawakan menu. Kelabu memesan kopi hitam dan sepiring kentang goreng, Ireng memesan kopi susu dan sepiring pisang goreng bertabur keju. Kelabu terlihat riang, Ireng terlihat sedikit bingung. Kelabu menyadarinya dan ia membuat Ireng segera melupakan kebingungannya dengan cerita-cerita lucu yang memang bener-benar lucu. Tapi Ireng tetap tak melupakan soal kursi yang tak berhadapan itu. Sesekali ia melirik ke meja-meja yang lain, berharap ada meja yang sudah ditinggalkan. Tapi tak ada yang kosong. Lima menit, lima belas menit, tiga puluh menit, empat puluh lima menit. Lalu kopi hitam dan kopi susu di cangkir sudah berkurang setengah, sementara ketang goreng tersisa seperempat dan pisang goreng bertabur keju sudah tandas tanpa sisa.</p>
<p>Dalam hati Ireng mengutuki kebodohannya. Kenapa ia tidak berpikir kalau meja akan penuh oleh pengunjung? Bukankah ini akhir pekan? Mestinya ia datang lebih awal seperti biasanya. Aih, begitulah&#8230; Ireng terhisap oleh pikirannya sendiri saat cangkir kedua kopi susu dan kopi hitam itu datang dibawakan pelayan. Kelabu terus berceloteh dan Ireng mendengarkannya dengan seksama, kendati pikirannya terkadang masih memikirkan soal kursi yang tak berhadapan.</p>
<p>Lalu, musik dari kafe itu pun mengalun. “Kamu kenal lagu ini? Aku suka dengan lagu ini,” kata Kelabu. Tentu saja Ireng kenal dengan lagu itu. Kelabu mengangguk-anggukkan kepala. Ireng menyandarkan punggungnya di kursi. Ia menghela nafas. Di depannya, berdiri kokoh sebuah dinding berwarna krem, ya sebuah dinding, bukan wajah Kelabu yang khas dan riang itu.</p>
<p>“Aku hafal lagu ini. Kamu?” tanya Kelabu. Ireng mengangguk sambil tersenyum. Ireng senang bahwa ia tersenyum, sejenis senyuman yang memang senyuman, bukan senyuman pura-pura. Setidaknya, begitu batin Ireng, ia tak berpura-pura, kendati di depannya hanya ada tembok, bukan wajah Kelabu seperti yang ia rencanakan. Ireng juga hapal lirik lagu itu. Memang benar-benar hafal, bukan dusta. Dengan spontan, tanpa ada yang mengomando, keduanya bernyanyi dengan suara yang tidak terlalu keras.</p>
<blockquote><p>How I wish, how I wish you were here.<br />
We&#8217;re just two lost souls<br />
Swimming in a fish bowl, Year after year,<br />
Running over the same old ground.<br />
What have we found<br />
The same old fears.<br />
Wish you were here.</p></blockquote>
<p>Saat lagu itu selesai, diganti dengan lagu yang lain, keduanya terdiam beberapa saat. Ireng menatap tembok di depannya, Kelabu menatap tembok di depannya. Masing-masing melihat tembok. “Apa jadinya jika dunia tak ada tembok, ya?” tanya Ireng. Mendengar pertanyaan itu, Kelabu tertawa, sebuah tawa yang lepas, tawa yang jujur dan tanpa kepura-puraan.</p>
<p>“Selalu ada tembok, bahkan walau pun tak ada satu pun bangunan di muka bumi ini,” jawab Kelabu.</p>
<p>Ireng mengangguk setuju sambil memikirkan sebuah komik yang tidak terlalu penting dengan ia sendiri sebagai salah satu tokoh di dalamnya, sementara Kelabu malah membayangkan dirinya menjadi tembok raksasa seperti yang ada di Cina.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pejalanjauh.com/2010/08/kursi/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Involusi?</title>
		<link>http://pejalanjauh.com/2010/08/involusi/</link>
		<comments>http://pejalanjauh.com/2010/08/involusi/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 11 Aug 2010 16:53:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[cermin]]></category>

		<category><![CDATA[fabel]]></category>

		<category><![CDATA[involusi]]></category>

		<category><![CDATA[metafora]]></category>

		<category><![CDATA[semut]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pejalanjauh.com/?p=1211</guid>
		<description><![CDATA[&#8211; tentang semut yang terjungkal jatuh tanpa suara
Dari ranting pohon jambu yang terjulur menyentuh genting rumah, semut-semut hitam bergerak dan berarakan berpindah tempat: mula-mula dari ranting, lalu pindah ke genting, lantas merayap menyusuri tembok dan akhirnya –dengan meyakinkan—berhasil menembus ke dalam rumah melalui lubang angin di atas pintu.
Semut-semut itu sesungguhnya tidak mengganggu, tidak juga bikin [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>&#8211; tentang semut yang terjungkal jatuh tanpa suara</em></p>
<p>Dari ranting pohon jambu yang terjulur menyentuh genting rumah, semut-semut hitam bergerak dan berarakan berpindah tempat: mula-mula dari ranting, lalu pindah ke genting, lantas merayap menyusuri tembok dan akhirnya –dengan meyakinkan—berhasil menembus ke dalam rumah melalui lubang angin di atas pintu.</p>
<p>Semut-semut itu sesungguhnya tidak mengganggu, tidak juga bikin kotor. Hanya saja, rute perarakan mereka memang sama sekali tak sedap dipandang. Setelah melewati lubang angin di atas pintu, mereka membangun jalur lebih ke bawah, melintasi dinding ruang tamu, lalu tiba di ruang keluarga dengan melintas di dinding tepat di atas televisi. Tiap kali melihat televisi, perarakan semut itu seringkali –mau tak mau—terlihat juga oleh mata. Dan, terus terang saja, itu mengganggu.</p>
<p>Seseorang lantas membeli sejenis kapur khusus yang tiap kali digoreskan di dinding atau lantai akan membikin semut-semut itu mustahil bisa melewatinya. Begitulah: perarakan semut itu berhenti. Tindakan selanjutnya: ranting yang terjulur ke genting pun dipangkas.</p>
<p><span id="more-1211"></span>Ada sisa-sisa semut yang masih berkeliaran di dinding rumah. Salah satu semut itu terpisah sendirian. Seorang yang sama lantas membuat lingkaran kecil dengan kapus khusus itu sehingga semut yang naas itu pun terperangkap tanpa bisa ke luar. Ia berpusing-pusing sedemikian rupa, mencoba ke luar dari satu titik, lalu gagal, lalu pindah dan menjajal titik lain untuk kemudian juga gagal. Terus dan terus begitu. Tak sampai 20 menit, semut itu lalu diam, dan akhirnya… terjungkal jatuh tanpa suara ke lantai. Dia tak bergerak lagi.</p>
<p>Seseorang tadi itu lantas duduk memandangi semut yang sudah tak bergerak. Tidak, tentu saja dia tak berpikir hendak membuat pemakaman semut. Dia, seseorang yang sama itu, hanya berpikir: tidakkah bergerak-gerak dan berputar-putar terus menerus di area yang sama juga bisa bikin seseorang terjerembab pada involusi yang akut, untuk kemudian: terjungkal jatuh tanpa suara?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pejalanjauh.com/2010/08/involusi/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Requiem</title>
		<link>http://pejalanjauh.com/2010/08/requiem/</link>
		<comments>http://pejalanjauh.com/2010/08/requiem/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 02 Aug 2010 18:41:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Film]]></category>

		<category><![CDATA[meracau]]></category>

		<category><![CDATA[grave of the fireflies]]></category>

		<category><![CDATA[kunang-kunang]]></category>

		<category><![CDATA[mozart]]></category>

		<category><![CDATA[requiem]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pejalanjauh.com/?p=1204</guid>
		<description><![CDATA[&#8211; usai menonton film &#8220;grave of the fireflies&#8221; karya taro hyugaji 
Beberapa saat setelah selesai menyunting berkas lagu “Introitus: Requiem”-nya Mozart dan memasangnya sebagai nada panggil di ponsel, sebuah panggilan masuk ke ponsel Sarmad, lalu: ia terkena serangan jantung, dan mati.
Ibunya membanting ponsel itu dan berkata dengan nada sangat geram: “Komposer sialan!”
Ponsel itu pun pecah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>&#8211; usai menonton film &#8220;grave of the fireflies&#8221; karya taro hyugaji</em> </p>
<p><img src="http://pejalanjauh.com/wp-content/uploads/2010/08/grave-of-the-fireflies.jpg" alt="grave-of-the-fireflies" title="grave-of-the-fireflies" width="220" height="313" class="alignleft size-full wp-image-1205" />Beberapa saat setelah selesai menyunting berkas lagu “Introitus: Requiem”-nya Mozart dan memasangnya sebagai nada panggil di ponsel, sebuah panggilan masuk ke ponsel Sarmad, lalu: ia terkena serangan jantung, dan mati.</p>
<p>Ibunya membanting ponsel itu dan berkata dengan nada sangat geram: “Komposer sialan!”</p>
<p>Ponsel itu pun pecah berantakan di lantai. Para pelayat yang hadir di sana hanya bisa terdiam, tapi mata mereka melirik keypad ponsel itu dan tiba-tiba saja mereka melihat abjad-abjad di sana telah berubah menjadi sederet notasi balok yang tak bisa mereka baca.</p>
<p>Sementara ibu mendiang Sarmad masih belum reda kegeramannya dan dengan sekuat tenaga menyepak pecahan-pecahan itu dengan histeris ke berbagai arah. Di mata para pelayat, notasi-notasi balok itu pun ikut berhamburan, lalu beterbangan, lalu memancarkan cahaya seperti kunang-kunang, dan lantas berbalik arah menuju jenazah Sarmad yang terbujur di tengah ruang tamu.</p>
<p>Jenazah itu kini bermandikan cahaya di sekujur tubuhnya, berbinar-binar dan berpendaran.</p>
<p><span id="more-1204"></span>Seorang pemuda tanggung yang hanya menyaksikan semua peristiwa itu dari balik pintu berbisik: “Lagi-lagi kakek benar kalau kunang-kunang memang berasal dari orang mati.”</p>
<p>Anak kecil itu tak ingat kapan kakeknya mengisahkan dongeng itu. Yang ia ingat, mata kakeknya saat itu juga bercahaya, berbinar-binar dan berpendar. Padahal, saat yang sama, si kakek juga sedang dihajar serangan jantung mendadak, dan mula-mula ia merasa matanya berkunang-kunang, dan ia terus mencoba sekuatnya membuka mata lebar-lebar.</p>
<p>Kakek itu mati dengan mata melotot, tapi cucunya &#8211;anak kecil itu&#8211; merasa sedang melihat mata yang memancarkan cahaya seperti kunang-kunang.</p>
<p>Entah mendapatkan ide dari mana, anak kecil itu lalu mencungkil cahaya yang berpendaran dari mata kakeknya dengan sendok yang beberapa saat sebelumnya digunakan ibunya untuk menyuapi dirinya dengan bubur sum-sum yang lembut dan masih hangat. Si kakek masih bisa merasakan hawa dingin yang tajam merembes di matanya, dan pandangannya lalu menjadi merah saga, lalu gulita di mana-mana, dan di detik-detik terakhir hidupnya ia masih sempat berpikir betapa sial hidupnya jika berakhir dengan mata yang melotot. Ia tak tahu, bahwa ia mati dengan lubang mata yang melompong kosong&#8230;.</p>
<p>Orang-orang lantas menyebut peristiwa itu dengan sebutan &#8220;sebuah kisah tentang seorang cucu yang lucu dan kakeknya yang naas&#8221;.</p>
<p>Cucu itu, yang kini sudah menjadi pemuda tanggung yang berada di balik pintu ruang tamu tempat jenazah Sarmad dibujurkan, lantas tumbuh dan besar dengan perangai yang aneh. Seisi kampung kemudian mengenalnya sebagai &#8220;pemburu kunang-kunang yang melankolis&#8221;. </p>
<p>Betapa tidak, tiap malam ia berkeliaran di pematang sawah untuk menangkap kunang-kunang dengan sarung putih polos pemberian kakeknya, lalu sarung itu diikat di kedua ujungnya, dan jadilah sarung itu seperti sebuah bola dengan kerlip-kerlip kecil cahaya kunang-kunang di dalamnya. Ia lalu akan melepas kunang-kunang itu di kamarnya yang kecil di belakang rumah dan selanjutnya, di sepanjang malam hingga pagi, ia ikut menari-nari dengan kunang-kunang itu sambil menyanyikan kidung-kidung tua yang diajarkan kakeknya. Jelang pagi, dia akan tercenung di pojokan kamarnya, menyaksikan satu per satu kunang-kunang itu jatuh diterkam kematian.</p>
<p>Orang-orang sering berbicara bahwa tiap kali melihat kunang-kunang jatuh ke lantai anak itu akan berkata: &#8220;Kunang-kunang tetap bercahaya walau malam telat larut.&#8221; Cerita itu tentu tidak berdasar karena sebenarnya anak itu hanya berkata: Sialan! Esoknya, setelah bangun dari tidur, ia akan mengumpulkan bangkai kunang-kunang itu dan memakamkannya satu per satu dan memasang nisan kecil dari bilah bambu tipis yang ditulisi nama-nama khayalannya: kadang dinamai Islam, kadang dinamai Hindu, kadang dinamai Toyota, kadang dinamai Indomie, kadang dinamai Panci, apa saja sekenanya dan semau-maunya.</p>
<p>Saat melihat jenazah Sarmad, itulah kali pertama anak kecil itu yang kini sudah menjadi pemuda tanggung bisa menemukan dan melihat kembali kunang-kunang. Sudah bertahun-tahun ia tak melihat kunang-kunang. Sawah sudah musnah, kebun-kebun sudah punah, tak ada tempat buat kunang-kunang. Sejak kunang-kunang tak lagi kelihatan, dia tak pernah sudi lagi dipanggil &#8220;pemburu kunang-kunang yang melankolis&#8221; dan hanya mau dipanggil &#8220;pemburu kunang-kunang yang sial&#8221;.</p>
<p>Permintaan untuk dipanggil &#8220;pemburu kunang-kunang yang sial&#8221; itu akhirnya menjadi ramalan atas nasib si pemuda itu. Beberapa saat setelah melihat jenazah Sarmad yang dikerubuti kunang-kunang, ia berlari ke rumahnya dengan keyakinan bahwa kunang-kunang telah kembali. Di sepanjang jalan, ia memang melihat kunang-kunang berpendaran, bahkan di setiap rumah yang dilewatinya juga dipenuhi kunang-kunang.</p>
<p>Sesampainya di rumah, ia lagi-lagi melihat banyak kunang-kunang: di beranda, di ruang tamu, di kamar ibunya, di kamar adiknya, di ruang keluarga, di ruang makan, di dapur sampai di halaman belakang. Ia segera melompat untuk menangkap salah satu kunang-kunang itu. Dengan cara itulah ia mati: tersengat listrik.  </p>
<p>Dia memang seorang &#8220;pemburu kunang-kunang yang sial&#8221;.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pejalanjauh.com/2010/08/requiem/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Patah(in)!</title>
		<link>http://pejalanjauh.com/2010/07/patahin/</link>
		<comments>http://pejalanjauh.com/2010/07/patahin/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 25 Jul 2010 20:48:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Bola]]></category>

		<category><![CDATA[kompetisi yunior]]></category>

		<category><![CDATA[pemain muda]]></category>

		<category><![CDATA[sepak bola]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pejalanjauh.com/?p=1196</guid>
		<description><![CDATA[&#8211; catatan usai nonton Liga Kompas-Gramedia U-14
Tak perlu bertele-tele: sepakbola Indonesia memang lebih suka yang serba instan, tak begitu peduli dengan pembinaan, melulu bicara prestasi – seakan-akan prestasi tak ubahnya hujan yang bisa tercurah begitu saja dari atas langit sana. Lalu, apa jadinya jika kompetisi yunior atau kelompok umur yang sedianya dibangun untuk pembinaan pun [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>&#8211; catatan usai nonton Liga Kompas-Gramedia U-14</em></p>
<p>Tak perlu bertele-tele: sepakbola Indonesia memang lebih suka yang serba instan, tak begitu peduli dengan pembinaan, melulu bicara prestasi – seakan-akan prestasi tak ubahnya hujan yang bisa tercurah begitu saja dari atas langit sana. Lalu, apa jadinya jika kompetisi yunior atau kelompok umur yang sedianya dibangun untuk pembinaan pun ternyata lebih peduli dengan hasil dan prestasi?</p>
<p>Terbetik kabar kalau Rigan Agachi, pemain berdarah Indonesia yang sempat direkrut oleh PSV Eindhoven, terpaksa dibuang oleh PSV karena skandal pencurian umur. Jika benar, itu tentu mengherankan. Anda hanya perlu memanfaatkan mesin pencari untuk menemukan kasus pencurian umur dalam kompetisi atau turnamen sepakbola kelompok yunior di Indonesia –sampai sekarang—masih saja direcoki oleh kasus pencurian umur. Ya, sampai sekarang.</p>
<p>Itu baru dari aspek yang paling kelihatan. Bagaimana dengan mental para pengelola SSB atau para orang tua pemain yunior? Sama saja, setidaknya seperti yang saya lihat dan saksikan sendiri pada hari Minggu kemarin di Lapangan AS-IOP, Senayan, dalam Liga Kompas-Gramedia U-14.</p>
<p><span id="more-1196"></span>Sengaja saya datang bersama Hedi ke sana. Sudah lama saya tidak melihat anak-anak kecil bermain bola. Terlalu sukar sekarang untuk sekadar melihat anak-anak bermain bola. Saya sudah lupa kapan terakhir melihat anak-anak bermain bola di Jakarta, entah di tanah kosong, halaman rumah atau jalanan gang. Jika pulang kampung, saya mudah saja menemukan anak-anak kecil main bola. Ke luar dari rumah dan berdiri di beranda pada sore hari saja, mata saya dengan mudah melihat anak-anak kecil mengejar bola dengan kaki telanjang.</p>
<p>Dihajar oleh tayangan Piala Dunia sebulan lalu disusul tayangan babak 8 besar Piala Indonesia agak membuat mata saya suka njempalik, kadang kedip-kedip gak jelas, walau pun tetap saya saya tonton. Apa boleh bikin, itu satu-satunya tontonan sepak bola yang bisa saya lihat, karena kompetisi di Eropa masih belum dimulai. Menonton pertandingan sepak bola anak-anak, saya kira, bisa terasa lebih menyenangkan. Saya bisa merasakan kegembiraan, juga sebentuk kemurnian suka-cita anak-anak dalam mengejar bola, hanya berlari dan mengejar bola… dengan penuh kesenangan yang tanpa beban, mungkin juga tanpa pretensi selain karena mereka hanya dan hanya mencintai si kulit bundar. </p>
<p>Eduardo Galeano, sastrawan Uruguay yang menulis buku Football in Sun and Shadow, juga mengaku masih sering berhenti di tengah jalan saat melihat anak-anak bermain bola. Kurang lebih dengan alasan yang sama: untuk mereguk “kemurnian” sebuah permainan yang penuh kegembiraan dan suka cita.</p>
<p>Maka, pada siang yang panas, saya bersama <a href="http://sekadarblog.com">Hedi</a> bergerak dari Tanjung Barat menuju Senayan. Singgah sebentar di Senopati, kami berdua menembus jarak sekitar 2,5 km dari Senopati menuju lapangan AS-IOP, lokasi pertandingan, dengan berjalan kaki. Sesampainya di sana, sedang berlangsung pertandingan terakhir antara SSB Ricky Yakobi versus SSB Apac Inti. Kami langsung duduk di tribun yang hanya terdiri dua tingkat di sisi lapangan, tak jauh dari meja inspektur pertandingan.</p>
<p>Pertandingan baru saja dimulai. Kami cukup lega karena anak-anak ini sudah bermain dengan menggunakan pola empat bek sejajar, bukan lagi pola 2 stopper + 1 libero yang sudah kapiran tapi ajaibnya masih dipakai oleh tim nasional Indonesia. Beberapa dari mereka memiliki postur yang cukup ideal untuk anak-anak seumuran itu. </p>
<p>Tapi pemain gelandang bernomor punggung 8 dari SSB Ricky Yacobi mencuri perhatian. Ia pemain dengan postur paling kecil di lapangan, badannya juga kurus, bukan gempal. Tapi dia memiliki passing yang selalu akurat, kontrol bola yang bagus, dan penempatan posisi yang juga tepat. Di ujung babak pertama, dalam sebuah serangan balik yang cepat, dia tiba-tiba muncul di kotak penalti dan mengkonversi umpan dari sayap menjadi sebuah gol.</p>
<p>Kami menikmati pertandingan itu, sampai kemudian kenikmatan itu teranggu saat beberapa orang suporter dari SSB Ricky Yacobi –beberapa dari mereka adalah orang tua pemain&#8211; mulai berteriak-teriak. Mereka meneriaki dan memaki wasit dalam beberapa insiden. Puncaknya, saat penyerang lincah dengan mobilitas yang tinggi bernomor punggung 10 dari SSB Apac Inti menguasai bola di sisi kiri, salah satu dari mereka berteriak: “Patahin aja kakinya, patahin….”</p>
<p>Terus terang saya geleng-geleng kepala. Hedi hanya diam saja. Saya tidak tahu apa motivasi dan maksud dari teriakan-teriakan intimidatif macam itu. Sebentuk teror untuk pemain lawan? Itu jelas. Puji Tuhan, pemain bernomor punggung 10 itu tak keder, dan masih tetap berani mengganggu pertahanan SSB Ricky Yacobi dari sisi kiri, titik datangnya teriakan-teriakan intimidatif dan meneror itu.</p>
<p>Bagusnya, saat jeda pertandingan, inspektur pertandingan memanggil para suporter itu ke meja pertandingan. Entah apa yang dikatakan oleh panitia pertandingan, tapi sejak itu mereka diam dan tak lagi berteriak-teriak sepanjang babak kedua.</p>
<p>Saya ingat, saat orang-orang itu melintas di depan kami, salah seorang penonton di depan saya berkata: “Kalau mau rusuh-rusuhan di Liga Super saja sono!”</p>
<p>Saya kira perkataan itu benar. Pertama, ini sepak bola anak-anak, turnamen yang sengaja dibuat untuk pembinaan pemain muda. Kendati ini sebuah turnamen yang berujung iming-iming hadiah dan prestasi, tujuan utamanya tetap pembinaan. Prestasi, dengan demikian, tidak boleh mengalahkan motivasi pembinaan itu. Itu sebabnya pencurian umur haram betul. Itu sebabnya jatah pergantian pemain pun tidak hanya 3 pemain seperti dalam kompetisi senior, sehingga setiap anak bisa mencicipi iklim kompetisi, tetap mendapatkan ruang untuk menjajal hasil latihannya dalam sebuah pertandingan resmi.</p>
<p>Meneriaki wasit jelas tidak elok. Itu hanya akan membuat anak-anak pemilik masa depan sepak bola Indonesia sudah dibiasakan dengan iklim yang tidak sehat, iklim penuh syak-wasangka dan itu perlahan bisa merusak. Padahal, penonton mana pun yang melihat dengan jernih mengetahui bahwa wasit sudah memimpin pertandingan dengan baik.</p>
<p>Dan menyemangati para pemain dengan berteriak “patahin aja kakinya” adalah kanker busuk yang mestinya tak boleh ada dalam kompetisi sepak bola yunior. Gile aje kalau sedari muda anak-anak ini sudah diajari main kayu dan asal tebas. Kasihan Ismed Sofyan, bisa-bisa dia nanti merasa didukung oleh anak-anak kecil ini. Hihihi….</p>
<p>Menjadi juara dan pemenang sebuah turnamen yunior jelas prestasi membanggakan, tapi janganlah itu membikin kita permisif. Lagi pula, bukankah kebanggan sebuah SSB adalah saat bisa bilang: &#8220;Pemain timnas itu dulu belajar main bola dari SSB gue tuh.&#8221;</p>
<p>Kedua, penonton itu juga benar saat bilang: “Kalau mau rusuh-rusuhan di Liga Super saja sono!” </p>
<p>Itu ucapan spontan yang dengan amat baik menggambarkan alam (bawah) sadar penonton tersebut yang merasa bahwa puncak kompetisi sepak bola di Indonesia adalah juga puncak kebobrokan sepak bola Indonesia. “Lihat, Liga Super tidak dipandang sebagai puncak prestasi, tapi justru ajang untuk rusuh-rusuhan. Dan ini suara akar rumpur, tepatnya suara orang yang peduli dengan pembinaan pemain muda,” kira-kira begitu komentar Hedi.</p>
<p>Bagi saya, ucapan spontan itu berarti: “Hei, dari sinilah benang kusut prestasi sepak bola Indonesia bisa mulai dipecahkan, kalau mau benang kusut itu makin ruwet, ke laut aje lu!”</p>
<p>Fyuh, hari Minggu yang aneh.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pejalanjauh.com/2010/07/patahin/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Manyar</title>
		<link>http://pejalanjauh.com/2010/07/manyar/</link>
		<comments>http://pejalanjauh.com/2010/07/manyar/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 23 Jul 2010 01:36:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[biografi]]></category>

		<category><![CDATA[burung-burung manyar]]></category>

		<category><![CDATA[pramoedya]]></category>

		<category><![CDATA[prosa]]></category>

		<category><![CDATA[romo mangun]]></category>

		<category><![CDATA[tetralogi pulau buru]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pejalanjauh.com/?p=1194</guid>
		<description><![CDATA[&#8211; seusai mimpi ngetapel burung manyar
Remaja 17 tahun itu tak segera mengganti seragam sekolahnya dengan satu set kostum sepakbola yang tersimpan rapi di tas ranselnya. Di salah satu sudut stadion kecil, di sebuah kota kecil, remaja itu hanya memandangi beberapa kawannya yang sudah menggelar pemanasan di sentel-ban. Ia tak juga beranjak kendati pelatihnya, dari arah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>&#8211; seusai mimpi ngetapel burung manyar</em></p>
<p>Remaja 17 tahun itu tak segera mengganti seragam sekolahnya dengan satu set kostum sepakbola yang tersimpan rapi di tas ranselnya. Di salah satu sudut stadion kecil, di sebuah kota kecil, remaja itu hanya memandangi beberapa kawannya yang sudah menggelar pemanasan di sentel-ban. Ia tak juga beranjak kendati pelatihnya, dari arah lapangan, memanggil dengan meniupkan pluit sekencang-kencangnya.</p>
<p>Dia lantas ngeloyor pergi, beranjak ke luar stadion, dan duduk di bawah patung raksasa seorang tokoh Pandawa. Di salah satu kaki patung itulah ia melanjutkan membaca sebuah buku yang dipinjamnya beberapa dari perpustakaan daerah di kotanya. Sudah dua hari ia tak melepaskan diri dari buku pinjamannya itu.</p>
<p>Ini hari ketiga ia membacanya. Dan akhir itu sudah makin dekat. Ia membaca dengan keingintahuan yang tak sabar. Setengah jam sebelum kawan-kawan main bolanya bubar dari lapangan, ia telah lebih dulu menamatkan bacaannya. </p>
<p>Ada rasa sedih, sedikit. Tapi ada rasa bungah, sedikit lebih banyak. </p>
<p><span id="more-1194"></span>Ia merasa telah membaca sebuah buku yang jauh lebih bagus ketimbang Tenggelamnya Kapal van Der Wijk atau Grotta Azzura atau Layar Terkembang atau Raumanen yang telah dibacanya dulu semasa SD dan SMP. Lelaki gagah di buku itu telah menggodanya dengan imajinasi ihwal kejantanan yang tak biasa, tapi seorang perempuan lincah dengan mata indah telah lebih dulu memikatnya dengan sensualitas yang terasa lembut dan aktivisme gerak yang hangat.</p>
<p>Remaja 17 tahun itu telah menemukan pujaan hatinya. Kelak, hingga tahun-tahun selanjutnya, ia terus memelihara ingatannya tentang sang pujaan hati yang sebenarnya hanya ada dalam sebuah buku cerita.</p>
<p>****</p>
<p>Tak sampai tiga tahun kemudian, remaja itu sudah menjadi seorang pemuda dengan bacaan yang sudah lebih berkembang. </p>
<p>Sebuah katrologi prosa membawanya pada tiga sosok perempuan yang satu sama lain berbagi kisah dan kasih dengan seorang lelaki penuh semangat yang cita-citanya sama banyak dengan hambatan dan kekurangan yang menghadangnya. </p>
<p>Dengan perempuan pertama, lelaki tadi &#8220;menyulam&#8221; kisah penuh empatik tentang seseorang yang mencoba menguatkan pasangannnya yang labil dan dengan itu ia mencoba memberi amsal ihwal saktinya sebuah romansa yang menyembuhkan dan saling menguatkan. Dengan perempuan kedua, lelaki tadi &#8220;menenun&#8221; cerita indah tentang sepasang manusia yang tak sepenuhnya saling memahami tapi terus mencoba menaruh kepercayaan yang tak mudah pada pasangannya di tengah aktivisme satu sama lain yang sebenarnya senafas tapi berbeda tujuan. Dengan perempuan ketiga, lelaki ini &#8220;mengikat-jalinkan&#8221; hubungan yang saling menjaga dan melindungi sampai batas-batas yang dimungkinkan, termasuk dengan menembak siapa saja yang hendak melukai kekasihnya. </p>
<p>Remaja yang kini sudah beranjak sedikit dewasa itu membayangkan ketiganya dalam imaji yang berbeda satu sama lain. Perempuan pertama dianggapnya sebagai contoh kecantikan yang tiada banding, perempuan kedua dianggapnya sebagai contoh pribadi yang kokoh dan tak mungkin dirontokkan kecuali oleh penyakit keparat yang tak jelas jenisnya, sementara perempuan ketiga dianggapnya sebagai perempuan yang keperkasaannya dalam melindungi kekasihnya membawanya ada di deretan yang sama dengan Srikandi dalam hidup Arjuna.</p>
<p>Ketiganya, entah kenapa, terasa sungguh jauh dan hanya ada dalam dunia imajinasi. Ketiganya terlampau ideal, fiilnya tak tersentuh, dan rasanya &#8211;begitulah ia menghitung&#8211; menjadi sukar dijangkau. </p>
<p>****</p>
<p>Lalu ia kembali pada pujaan hatinya yang lama, perempuan yang ia kenal pertama kali saat ia masih remaja melalui sebuah buku cerita, kendati ia paham dunia yang dijalaninya tak sesederhana cerita prosa. Ia tak pernah menyebut hubungannya dengan perempuan pujaan hati dalam buku cerita itu sebagai &#8220;utopia&#8221;. Mungkin lebih tepat sebagai sebentuk &#8220;heteropia&#8221;. Atau mungkin juga lain sama sekali.</p>
<p>Ia, remaja yang dulu membaca di kaki patung tokoh Pandawa itu, tak berniat menjelaskan apa maksudnya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pejalanjauh.com/2010/07/manyar/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Printer [2]</title>
		<link>http://pejalanjauh.com/2010/07/printer-2/</link>
		<comments>http://pejalanjauh.com/2010/07/printer-2/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 13 Jul 2010 18:58:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[meracau]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pejalanjauh.com/?p=1180</guid>
		<description><![CDATA[&#8211; sebuah versi lain dari cerita lama
Printer ini sudah lama mengabdi kepadaku dengan “sepenuh komponennya”. Ya, “sepenuh komponennya”, karena akan sukar menyebut “sepenuh hatinya”. Siapa memangnya yang bisa bilang kalau printer itu punya hati?
Kecuali hari ini, tepatnya siang ini, persis saat deadline betul-betul nyaris mengerkah batang leherku. Saat itu, para juragan sudah berdiri di balik [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>&#8211; sebuah versi lain dari <a href="http://pejalanjauh.com/2010/01/pembangkangan/">cerita lama</a></em></p>
<p>Printer ini sudah lama mengabdi kepadaku dengan “sepenuh komponennya”. Ya, “sepenuh komponennya”, karena akan sukar menyebut “sepenuh hatinya”. Siapa memangnya yang bisa bilang kalau printer itu punya hati?</p>
<p>Kecuali hari ini, tepatnya siang ini, persis saat deadline betul-betul nyaris mengerkah batang leherku. Saat itu, para juragan sudah berdiri di balik pintu, ada yang menenteng pistol yang sudah terkokang, ada juga yang mengasah belati tajam dengan gigi depannya yang terbuat dari emas 19 karat, mereka semua menunggu kelarnya pekerjaanku. Keringat dingin mengucuri badanku, membasahi bajuku. Lalu, hal yang tak diinginkan oleh siapa pun di kantor ini pun terjadilah: tiba-tiba saja, ia - printerku itu&#8211; tak mau bekerja. Macet. Ngadat. Tak sehelai kertas pun yang keluar dari tubuhnya yang berwarna biru dan putih serta agak tambun ke samping itu.</p>
<p>Biasanya, beberapa saat usai perintah mencetak ditekan, akan menguar suara dengung, yang jika itu keluar dari mulut manusia mungkin akan kusebut sengau. Lalu, setelah dengung yang tak panjang itu, terngiang suara gesekan-gesekan tipis tapi berirama sedikit lebih panjang. Diakhiri dengan suara sedikit teredam, kertas tercetak yang ditunggu-tunggu tak segera keluar. Apa mungkin kertas-kertas yang sedang kutunggu itu enggan dilumuri tinta yang mungkin beracun?</p>
<p>Aku tak tahu apa sebabnya. Dingin keringat makin kencang mengucur, para juragan di balik pintu mulai berdehem-dehem, suara deheman yang terdengar lebih menakutkan daripada suara batuk pengidap TBC.</p>
<p><span id="more-1180"></span>Sempat tadi kudengar, setelah bunyi dengung yang mirip suara sengau itu, printer mengedarkan bebunyian yang tak jelas notasinya: nadanya pendek-pendek, seperti ketukan yang berulang, sebuah perulangan yang mengingatkanku pada bebunyian dari mesin telegraf, mesin tua yang sudah jadi koleksi jawatan purbakala. Bunyi ketukan-ketukan itu terasa tak biasa, terdengar akrab tapi seperti sudah lama tak terdengar, antara asing dan akrab, tapi cukup jelas juga dalam bunyi ketukan-ketukan pendek itu tersimpan sesuatu yang tak beres, sesuatu yang tak biasanya.</p>
<p>Aku curiga ketukan-ketukan itu, yeah… seperti kode-kode yang diterima mesin telegraf, semacam huruf-huruf yang terangkai jadi kata, lalu kalimat, lalu paragraf, lalu cerita, lalu prosa, lalu tanda, lalu makna… Tapi kata apa? Tapi kalimat apa? Tapi paragraf apa? Tapi cerita apa? Tapi prosa apa, tanda apa? Lalu makna apa?</p>
<p>Kudekatkan telinga ke printer yang di gigirnya berwarna biru dan bagiannya tengah berwarna putih itu. Lamat-lamat aku dengar memang ada bebunyian, lalu ada kata, lalu ada cinta, lalu ada melankolia, lalu ada sebuah serenada, atau aubade, atau apa saja kau ingin dan hendak menyebutnya, tapi jelas sekali nadanya dalam dan muram, seperti malam kelam tanpa dehem kelelawar, tanpa bersin burung hantu. Aku buka lebih lebar lagi telingaku, aku kendorkan gendang telingaku, lalu lamat-lamat dan sayup-sayup yang sampai, terbantunlah suara itu:</p>
<p>“Aku tak tahu kenapa kau tak pernah mau bersamaku, kenapa kalian enggan memelukku lama-lama. Aku cuma kenal kalian, duhai para kertas, juga hanya kenal tinta. Dan tinta…oh, tinta, siapa yang mau bercinta dengannya? Baunya sengak, penuh racun dan kebencian, hitam seperti kedukaan, semua hal yang busuk seperti terwakili tinta. Jadi, hai para kertas, tinggallah barang senada atau dua nada, jika mau sepanjang lagu dan waktu. Kau, kalian kertas-kertas yang lapang ini, selalu menawanku, masuk ke pedalamanku, tapi pada saat yang sama kalian langsung berlalu, tak pernah kembali, tak mungkin kembali, lalu aku patah hati, lagi dan lagi… Lalu aku sendiri, juga lagi dan lagi!”</p>
<p>Printer itu, cukup jelas, membangkang perintah mencetak kertas. Aku menghela nafas agak panjang. Aku bisa sedikit merasakan kesunyian dan sentimen kepedihan yang dirasakan oleh printer itu. Diam-diam aku mencoba memahaminya, memahami kesunyian dan sentimen kepedihan itu, seakan-akan aku dan printer itu sebagai karib yang sudah lama terpisah lalu kembali mencoba saling mengerti.</p>
<p>Mataku lurus menatap ke depan, ke arah kaca, yang tepat berada di belakang printer yang tiba-tiba aku merasa iba padanya dan untuk pertama kalinya -saat menatap kaca itu- aku tahu: Mataku bertinta-tinta, padahal semestinya berkaca-kaca.</p>
<p>Aku memutuskan untuk tak berbuat apa-apa, membiarkan printer itu menikmati percintaan sebelah tangannya dengan kertas-kertas yang putih dan lapang itu. Aku tahu resikonya, aku mengerti bahayanya. Lamat-lamat aku dengar para juragan di balik pintu mulai mendengus gusar, menahan amarah yang tampaknya akan segera jebol dan membludak laksana tanggul yang tak sanggup menahan beban aliran dan arus air yang mengalir dari hulu ke hilir sampai jauh, dari jauh, sejak abad yang sudah lama menjauh.</p>
<p>Lalu aku melepaskan kancing bajuku yang paling atas. Leherku terasa sedikit lega. Dua kancing terbuka. Aku merasa akan ada yang mendarat di dada bagian atasku. Aku tak mau lagi mendengar apa yang hendak dan telah dikatakan para juragan di balik pintu itu. Aku hanya membalikkan badanku, lalu semuanya berlalu, terjadi begitu saja…</p>
<p>Dor dor dor… Crak crak crak! Pistol itu melesat, belati itu menghunjam. Ada yang muncrat dari dadaku. Warnanya hitam. Aku roboh ke belakang tepat di atas printer itu. Pada detik-detik terakhir, aku mendengar lamat-lamat printer itu bersuara:</p>
<p>“Bangsat, tinta dari mana ini? Busuk!”</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pejalanjauh.com/2010/07/printer-2/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Fanon</title>
		<link>http://pejalanjauh.com/2010/06/fanon/</link>
		<comments>http://pejalanjauh.com/2010/06/fanon/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 11 Jun 2010 04:53:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Bola]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pejalanjauh.com/?p=1170</guid>
		<description><![CDATA[&#8211; catatan pengantar untuk piala dunia 2010

Belum terlalu lama berselang, bumi dihuni oleh dua miliar penduduk: 500 juta adalah manusia dan 1,5 miliar sisanya penduduk pribumi yang tidak dimanusiakan. Yang pertama menciptakan kata, yang lain mengikutinya.”
Begitulah filsuf Jean Paul Sartre memulai kata pengantar untuk buku karya Frantz Fanon berjudul Bumi Berantakan (The Wretched of the Earth) [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>&#8211; catatan pengantar untuk piala dunia 2010</em></p>
<p><img src="http://pejalanjauh.com/wp-content/uploads/2010/06/images1.jpg" alt="images1" title="images1" width="192" height="262" class="left size-full wp-image-1173" /></p>
<p>Belum terlalu lama berselang, bumi dihuni oleh dua miliar penduduk: 500 juta adalah manusia dan 1,5 miliar sisanya penduduk pribumi yang tidak dimanusiakan. Yang pertama menciptakan kata, yang lain mengikutinya.”</p>
<p>Begitulah filsuf Jean Paul Sartre memulai kata pengantar untuk buku karya Frantz Fanon berjudul <em>Bumi Berantakan</em> (The Wretched of the Earth) yang terbit pertama kali dalam bahasa Prancis pada 1961. Karya-karya Fanon, termasuk buku tadi, banyak menginspirasi gerakan pembebasan atas kolonialisme di Afrika dalam waktu yang lama.</p>
<p>21 tahun setelah buku Frantz Fanon itu terbit, Aljazair (yang menjadi subyek utama buku Fanon itu) tampil di Piala Dunia 1982 dengan debut yang sangat mengesankan: mengalahkan Jerman Barat dengan skor 2-1. Dunia sepakbola terkejut, begitu juga publik dan para pemain Aljazair sendiri. Eforia melenakan mereka sehingga di laga kedua Aljazair menyerah 2-3 oleh Austria. Di laga terakhir, Aljazair kembali bangkit dengan mengandaskan Cili dengan skor 3-2. Tapi mereka tersingkir karena kalah selisih gol setelah Jerman Barat mengalahkan Austria dengan skor 1-0.</p>
<p>Laga antara Jerman Barat versus Austria yang digelar di Gijón itu menjadi salah satu laga paling kontroversial dalam sejarah Piala Dunia. Hingga 10 menit pertama, Jerman Barat yang butuh kemenangan membombardir Austria hingga akhirnya Horst Hrubesch berhasil membobol gawang Austria di menit 10. Sejak itu, tensi pertandingan tiba-tiba merosot drastis. Kedua tim seakan tak mau bermain bola. Pers di Jerman Barat, termasuk surat kabar penting <em>Bild</em>, menganggap laga itu sebagai hal memalukan. Ada yang menyebut laga itu sebagai “Nichtangriffspakt von Gijón” (“Non-aggression pact of Gijón”) atau “Schande von Gijón” (“The Shame of Gijón”).</p>
<p><span id="more-1170"></span>Kubu Aljazair meradang dan meminta FIFA menggelar laga ulang. Tapi FIFA bergeming. Rabah Madjer, pilar tim nasional Aljazair saat itu, dengan sedih mengeluhkan perlakuan tidak adil yang menimpa negaranya. Protes dan kemarahan juga menjalar hingga Aljazair dan memicu solidaritas dari beberapa negara Afrika lainnya.</p>
<p>Kalimat Jean Paul Sartre saat itu terasa menemukan afirmasinya di dunia sepakbola. Aljazair, meminjam kata-kata Sartre, seperti “tidak dimanusiakan” dan Rabah Madjer (masih dengan menyitir kalimatnya Sartre) tidak bisa tidak harus “mengikutinya”. Puisi karya Aime Cesaire yang dikutip oleh Frantz Fanon di buku <em>Bumi Berantakan</em> seakan menggemakan kembali suasana batin bangsa Aljazair waktu itu: “Namaku: sakit hati. Nama baptisku: penghinaan…”</p>
<p>Delapan tahun kemudian atau 29 tahun setelah buku Fanon terbit, Afrika kembali mengguncang jagat sepakbola saat mengandaskan Argentina di laga pembukaan Piala Dunia 1990 dengan skor 1-0 lewat gol Oman Biyik. Padahal, sejak menit 61 Kamerun harus bermain sepuluh orang dan pada menit 88 mereka harus bermain dengan sembilan orang.</p>
<p>Maradona, yang empat tahun sebelumnya tak tertandingi, toh kali ini dipaksa turun dari singgasana ke-dewa-annya. Berkat Kamerun, semua tim yang keder dengan Maradona seperti mendapat pencerahan: Maradona toh bukan Dewa dengan “D” besar, tapi dewa dengan “d” kecil, yang bisa keok dan mentok.</p>
<p>Tak ada yang menganggap Kamerun hanya sekadar beruntung karena terbukti mereka bisa melaju hingga perempat-final sebelum dikandaskan oleh “ibunda sepakbola modern”, Inggris, melalui tendangan penalti Gary Lineker pada menit 105 di perpanjangan waktu.</p>
<p>Saat itu, Kamerun bukan hanya jadi tim Afrika pertama yang bisa masuk perempat-final Piala Dunia, tapi juga menjadi simbol sepakbola Afrika sebagai kekuatan baru sepakbola dunia. Surat kabar <em>Il Tempo</em> yang bermarkas di Roma menulis: “Afrika tidak lagi Dunia Ketiga”.</p>
<p>Ya, sejak itu, Afrika tak lagi menjadi Dunia Ketiga di jagat sepakbola. Dalam kata-kata Sartre di atas, Kamerun sudah menjadi “manusia” dan juga telah “menciptakan kata” dalam lembaran tebal buku sejarah sepakbola dunia. Sejak itu, lolos dari babak grup Piala Dunia bukan lagi hal yang langka bagi sepakbola Afrika. Perempat-final Piala Dunia bukan lagi <em>terra incognita</em> bagi bangsa Afrika. Senegal bahkan mengulangi prestasi Kamerun dengan lolos hingga babak perempat final pada Piala Dunia 2002.</p>
<p>Dunia akan ingat bagaimana Roger Milla, tiap kali mencetak gol, berlari ke sudut lapangan dan menari riang dengan menggoyang-goyangkan pantatnya ke kiri dan ke kanan. Tiap kali melakukan goyangan khasnya itu, Milla seperti berkata: “Lihatlah, kami (bangsa Afrika) sudah bisa menari di panggung sepakbola yang dulu kalian (bangsa Eropa) ciptakan.”</p>
<p>Jika saat Rabah Madjer “dikerjain” Jerman Barat dan Austria pada 1982 warga Afrika kompak meradang, kala itu warga Afrika seperti kompak ikut bersuka cita. Presiden Ghana saat itu, Jerry Rawlings, sampai mengirim kawat ke markas tim Kamerun di Italia yang isinya berbunyi: “Kemenangan Anda, Kamerun, membuat seluruh Afrika bangga.”</p>
<p>Inilah arus-balik itu: jika dulu Afrika hanya bisa memandang kagum pada sepakbola Eropa atau Amerika Latin, sejak itu Eropa dan Amerika Latin gantian memandang takjub pada sepakbola Afrika. Jika dulu warga benua Afrika hanya bisa melihat kemegahan stadion-stadion di Eropa yang menghelat Piala Dunia dari kejauhan, kali ini gantian orang-orang Eropa yang memandang dari kejauhan bagaimana Afrika menggelar Piala Dunia.</p>
<p>Zakumi, macan tutul yang menjadi maskot Piala Dunia 2010, akan menjadi saksinya.</p>
<p>Di Afrika sendiri, ada pameo kalau macan tutul tak bisa menggeser titik tutul di tubuhnya. Tapi, bangsa Afrika (melalui Kamerun dan Senegal yang bisa menembus perempat final Piala Dunia dan Afrika Selatan yang –semoga&#8211; sukses menggelar Piala Dunia) sudah mulai berhasil menggeser dan memindahkan tutul-tutul nasib dan takdir sepakbola mereka sendiri, seperti halnya Mandela yang gemilang mengubah tutul nasib dan takdir hidup dirinya, yang dari sanalah tutul takdir dan nasib warga kulit hitam di Afrika Selatan sedikit banyak mengalami lompatan dengan tergusurnya apartheid.</p>
<p>Takdir itu hanya perlu dilengkapi dengan satu portofolio pamungkas: ada tim dari Afrika yang menjadi juara dunia. Sekadar menjadi juara dunia U-20 (Ghana sudah dua kali) atau bahkan juara Olimpade (Nigeria pada Olimpiade 1996 dan Kamerun pada Olimpiade 2000) sudah pernah dicicipi oleh Afrika. Tapi menjadi juara dunia di level yunior atau Olimpiade tidak sama kastanya dengan menjuarai Piala Dunia. Kita tidak akan pernah tahu kapan Afrika akan melengkapi portofolionya di jagat sepakbola dengan prestasi puncak menjadi juara dunia.</p>
<p>Saya kira, semua bangsa Afrika akan mendukung seandainya ada satu tim Afrika yang terus melaju sampai ke babak-babak berikutnya di Piala Dunia, seperti saat Afrika mendukung Kamerun di Piala Dunia 1990. Itu juga terjadi saat Nigeria menjadi tim Afrika pertama yang berhasil merebut emas Olimpiade pada 1996. Kapten Nigeria saat itu, Sunday Oliseh, memberi kesaksian, “Kami tidak turun sebagai warga Nigeria namun sebagai warga Afrika karena semua orang Afrika mendukung kami.&#8221;</p>
<p>Piala Dunia 2010 di tanah Afrika adalah momen terbaik di mana portofolio pamungkas itu bisa dijemput langsung di beranda rumah sendiri. Inilah momen yang ditunggu-tunggu oleh semua orang Afrika untuk menjadi sebenarnya-benarnya tuan rumah, bukan sekadar pemangku hajat, tapi juga sanggup menorehkan prestasi yang melampaui lompatan yang dibikin Kamerun pada 1990 dan Senegal pada 2002. Tak ada kesempatan yang lebih baik daripada sekarang.</p>
<p>Jika momen itu datang di Piala Dunia 2010, Afrika tidak lagi sekadar “menciptakan kata” seperti yang dikatakan Sartre, tapi telah berhasil membuat sebuah buku tersendiri. Buku itu, pada 11 Juni 2010 hari ini, akan memasuki halaman dan babnya yang baru. Mungkin halaman dan bab baru itu bisa dimulai dengan kalimat Frantz Fanon di bab pamungkas bukunya itu: “Maka, kawan, sekarang adalah saatnya memutuskan untuk mengubah jalan kita.”</p>
<p><span>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;</span><span>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;</span><span>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;</span>&#8212;-</p>
<p>Esai ini mulanya tayang di detiksport. Untuk melihatnya, klik <a onmousedown="UntrustedLink.bootstrap($(this), &quot;4a542&quot;, event);" rel="nofollow" href="http://bit.ly/9SYrzl" target="_blank">http://bit.ly/9SYrzl</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pejalanjauh.com/2010/06/fanon/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>
