»

Dua Orang Kakek Haji Rebutan Seorang Nenek Haji

Uncategorized — pejalanjauh @ 4:58 pm

Sewaktu membaca majalah Pandji Poestaka edisi 17 Juli 1930, saya menemukan berita yang bikin saya tertawa terpingkal-pingkal. Coba lihat dan baca kliping di bawah ini:

Kalau berita ini bener, saya geli sendiri. Belum sampe ke tanah air, dua haji yang sudah kakek-kakek ini masih sempet-sempetnya rebutan nenek-nenek. Soal mabrur nggaknya haji mereka emang Tuhan yang atur, tapi kalo gini kejadiannya, sampe tikam-tikaman segala, waduhhh….

Apa nenek haji yang direbutin itu secantik Sophia Loren atau Barbara Streisand yang awet muda itu kali?

Berapa Presiden RI yang Sudah Wafat?

Uncategorized — pejalanjauh @ 9:22 pm

Soeharto sedang sekarat. Mari berhitung, ada berapa mantan presiden RI yang sudah meninggal?

Jika jawabannya satu orang, maka pastilah itu merujuk pada Presiden Soekarno. Ya, dia wafat pada 21 Juni 1970.

Jika jawabannya dua orang, maka pastilah itu merujuk pada Mr. Assa’at. Ya, dia wafat pada 16 Juni 1976. Dia juga Presiden RI loh, persisnya antara Desember 1949 sampai Agustus 1950. Ibukota RI waktu itu ada di Yogyakarta. Lha, terus Soekarno ngapain kalau Assa’at yang jadi Presiden? Soekarno tetap jadi Presiden, kok. Cuma waktu itu dia jadi Presiden Republik Indonesia Serikat (RIS, bukan RI).

Jika jawabannya tiga, maka pastilah itu merujuk pada Mr. Sjafruddin Prawiranegara. Ya, dia wafat pada 15 Februari 1989. Dia juga bisa dianggap presiden loh, persisnya antara Desember 1948 sampai pertengahan 1949. Lha, terus ngapain Soekarno kalau Sjafruddin jadi Presiden? Soekarno tetap jadi presiden, kok. Cuma berhubung dia lagi ditahan Belanda gara-gara Agresi Militer II, maka Soekarno dan Hatta sempat mengirim telegram kepada Sjafruddin yang sedang berada di Sumatera untuk mendirikan Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (DPRI) di Sumatera. Sjafruddin inilah yang menjadi Ketua PDRI dan memimpin pemerintahan Indonesia dengan bergerilya.

Nah, jadi jika Soeharto meninggal, tebaklah, sudah berapa Presiden RI yang wafat? Mau pilih versi yang umum atau versi yang barusan saya paparkan?

Saya gak lagi do’ain Soeharto meninggal. Saya cuma mendadak ingat sama Pram. Mungkin dia sudah tak sabar menunggu untuk mengucapkan kalimat: “Welcome, bro….”

[akhirnya saya bisa menulis pendek, jadi gak perlu read more. hehehe....]

Risalah tentang Kehendak

Uncategorized — pejalanjauh @ 8:29 am

[:: pito, ini secangkir kopi buatmu, bonus untuk pertanyaanmu kemarin]

“Jika kita puas dengan kelemahan tubuh,” kata Hazrat Inayat Khan dalam kumpulan ceramahnya yang berjudul In the Eastearn Rose Garden, “Boleh jadi kita juga puas tanpa memiliki kekuatan kehendak.”

Buku itu betul-betul sedang berada di tangan saya sewaktu tadi malam sedang menyaksikan film Amazing Grace yang mengisahkan perjuangan politisi Inggris yang menjadi pelopor Anti Perdagangan Budak pada akhir abad 18, William Wilberforce.

Wilber tahu tubuhnya berkualitas buruk, tapi ia menolaknya, mungkin lebih tepat mengabaikannya. Ketika akhirnya dia jatuh sakit, dokter pribadinya berkomentar tentang Wilber kepada Perdana Menteri Inggris yang sedang datang menjenguk: “Dia selalu merasa jiwanya terpisah dari tubuh fisiknya.”

Wilberforce adalah politisi muda Inggris yang menjadi inisiator UU Anti Perdagangan Budak. Setiap tahun, dengan dukungan diam-diam William Pitt, Perdana Menteri Inggris yang merupakan kawan lamanya, Wilber mengajukan RUU Anti Perdagangan Budak.

Yang menakjubkan, dia tetap saja mengajukan RUU Anti Perdagangan Budak kendati dia tahu dirinya akan gagal. Selama lima tahun berturut-turut, setelah mengerahkan kemampuan retoris dan sehimpun strategi lainnya, RUU yang diajukannya tetap saja kandas.

Wilber, tentu saja, manusia biasa. Dia juga mengenal rasa letih, kekecewaan, pesimisme, dan amarah yang nyaris tak terkatakan. Tapi, toh, dia tetap bertahan dengan apa yang diyakininya, bahkan kendati fisiknya sudah jauh menurun, dihajar insomnia setiap malam dan mesti menenggak laudanum menjelang tidur.

Wilber yakin ia dilahirkan ke muka bumi ini untuk menghancurkan perdagangan budak. Itulah sebabnya ia mengorbankan masa muda dan kesehatan tubuhnya untuk menyempurnakan kehendak yang teguh dipeluknya semenjak ia membaca buku The Rise and Progress of Religion in the Soul.

Dia sering ditertawakan dan diejek sebagai pengkhayal yang kacau. Seringkali dia melawan tapi kadang dia mendiamkannya. Barangkali Wilber ingat dengan kata-kata Yesus sewaktu ditanyai oleh tentara Yahudi yang menangkapnya bahwa jika ia memang seorang Raja di mana kerajaannya berada. Yesus yang kepalanya sudah berdarah karena dimahkotai duri itu menjawab: “My Kingdom is not of this world!”

[Kata-kata Yesus yang amat terkenal itu kelak digunakan oleh Julien Benda untuk merumuskan posisi dan tanggungjawab kaum intelektual dalam bukunya yang terkenal, Pengkhianatan Kaum Intelektual. Dengan mengutip kalimat Yesus, Benda hendak menegaskan konsep suci kaum intelektual yang mesti bersih dari carut marut dunia, berjarak dari dunia politik yang baunya sengak, dan mestinya duduk merenung di singgasananya di ketinggian. Sindiran kepada kaum intelektual yang diam di menara gading lahir dari sini. Lalu Antonio Gramsci memerkenalkan konsep “intelektual organik” yang menyerukan pentingnya intelektual merasakan lumpur dan sengaknya dunia untuk bersama-sama massa rakyat mengusahakan perubahan, dan bukannya tinggal di apartemen dan perpustakaan.]

Dengan mengabaikan kondisi tubuhnya yang memburuk, Wilber seperti hendak menegaskan bahwa kerja-kerja politiknya bukanlah diperuntukkan bagi sesuatu yang kasat mata, melainkan sesuatu yang melampaui dunia fisik, barangkali itu soal moralitas, jiwa yang agung atau juga soal spiritualitas. Menentang perdagangan budak, baginya, adalah soal menyiapkan panggung sejarah yang lebih baik, lebih wangi, dan bersih dari kekotoran memalukkan memerlakukan manusia tak ubahnya fauna.

“Jika hari ini RUU yang saya ajukan tak berhasil, suatu saat pasti berhasil,” begitu saya membayangkan Wilber menggumamkannya terus menerus tiap kali menemui kegagalan.

Ada kekuatan kehendak di situ. Kehendak itu tentu mengalami pasang surut, tapi cukup jelas kehendak itu tak pernah benar-benar musnah dari kepala dan dada Wilber. Saya bertanya pada diri sendiri: Bagaimana kehendak itu bisa mengeram dengan begitu kuat hingga tak tergoyahkan oleh serentetan kegagalan sekali pun?

Saya belum tahu jawaban pastinya. Tapi, saya pikir, tak ada salahnya saya mengira-ngira.

Saya berpikir, jangan-jangan kehendak yang tak tergoyahkan itu dimungkinkan karena keyakinan yang bulat akan kebenaran dan arti penting kehendak itu untuk disempurnakan. Dalam hal seorang Wilberforce, kehendak untuk menghancurkan perdagangan budak itu pastilah (1) sudah diyakini sebagai sesuatu yang benar dan tak tertawar, (2) sebagai kehendak yang harus disempurnakan karena (3) ia juga meyakini dirinya –memang– dilahirkan untuk memanggul tugas itu.

Poin pertama di atas barangkali menyangkut soal yang sifatnya ontologis, soal apa yang benar dan apa yang salah, soal apa yang diyakini sebagai kebenaran. Poin kedua barangkali menyangkut keyakinan yang sifatnya aksiologis, soal bagaimana menyempurnakan dan merealisasikan apa yang sebelumnya sudah tuntas dianggap sebagai kebenaran.

Poin ketiga, mungkin, menjadi kunci yang menyebabkan tak semua orang bisa bertahan dalam kehendak yang sama secara konsisten ketika bayangan kegagalan terus menerus menghantui.

Kita, barangkali, relatif bisa menilai apa yang benar dan apa yang salah, sama halnya dengan kita mungkin bisa dengan mudah mengambil kesimpulan bahwa kita mesti menyempurnakan dan merealisasikan apa yang kita yakini sebagai kebenaran itu. Tapi tidak semua dari kita mampu terus menerus bertahan dengan kehendak yang sama jika kita sudah mengalami kegagalan yang terus menerus ketika hendak menyempurnakan dan merealisasikan apa yang kita yakini.

Itulah sebabnya Hazrat Inayat Khan, mistikus besar dari India yang dikenal dengan konser-konser musiknya, pernah mengajukan sebuah pertanyaan retoris: “Berapa banyak waktu yang terbuang sia-sia hanya karena kita menginginkan sesuatu tapi kemudian tak menginginkannya lagi?”

Inayat, bagi saya, benar. Menginginkan sesuatu itu hal yang mudah, tapi betapa beratnya menginginkan sesuatu secara terus menerus pada saat kita tak kunjung sampai pada keinginan yang kita impikan.

Apakah ini soal daya tahan? Mungkin. Tapi, dalam kasus Wilberforce, ini bukan soal daya tahan. Ini adalah soal bagaimana ia yakin bahwa dirinya memang dilahirkan untuk menyempurnakan tugas menghancurkan perdagangan budak. Ia yakin bahwa dirinya diturunkan ke muka bumi untuk memanggul tugas yang pada masanya begitu berat itu. Kadang ia merasa memanggul tugas itu sendirian, setapak demi setapak memanggulnya, barangkali seperti Yesus yang memanggul salib suci di sepanjang via dolorosa menuju bukit Golgotta untuk disalib dan kemudian ditombak lambungnya.

Karena ia yakin hidup untuk tugas itu, maka betapa sia-sianya jika dirinya tak menghabiskan semua waktunya untuk memerjuangkan dan menyempurnakan tugas tersebut, sebab –sekali lagi—ia memang hidup dan diturunkan ke bumi untuk itu.

Para pembaca yang budiman, Anda yang sudah menghabiskan novel The Alchemist pasti mengerti apa yang dimaksud Paulo Coelho sebagai “takdir”. Saya berpikir, keyakinan Wilber bahwa ia dilahirkan untuk menghancurkan perdagangan budak sebagai sebentuk takdir dalam pengertian yang dimaksudkan Coelho.

Ketimbang novel perjalanan spiritual Coelho ini, sebenarnya saya lebih tersentuh dengan novel perjalanan Soul of Mountain-nya Gao Xingjian atau Chasing Rumi-nya Roger Housden. Tapi, harus saya akui, The Alchemist berhasil menyusupkan keyakinan kepada banyak pembaca bahwa “takdir” tidaklah sekaku seperti yang dipikirkan Jahm bin Shafwan, teolog yang menjadi salah satu penubuh aliran Jabariyah.

Coelho, jika ingatan saya tak berkhianat, tak secara ekstrim menyebut bahwa takdir itu ditentukan oleh manusia. Coelho hanya bilang bahwa takdir itu hanya mungkin bekerja dan sempurna jika manusia meyakininya dan lantas bekerja sekuat tenaga dengan setengah mati dan separuh hidup unt

uk menyempurnakannya. Di sini kekuatan kehendak, seperti yang sudah ditunjukkan oleh Wilberforce, mengambil peran penting.

Jika kita sudah menginginkan sesuatu dengan begitu kuat dan mengusahakannya dengan sepenuh keyakinana, alam semesta pasti akan mendukungmu. Itu kata-kata Coelho yang pasti akan selalu terngiang di telinga pembacanya. Herlienatiens, kawan lama di kampus sejak semester I, terus menerus menggumamkan kata-kata Coelho itu layaknya mantra ketika ia sedang menuliskan manuskrip novelnya yang kelak menjadi best-seller, Garis Tepi seorang Lesbian.

[Profesor Yohennes Surya pernah menulis buku tipis berjudul “Mestakung”. Itu kependekan dari Semesta Mendukung. Dia mengadaptasinya dari konsep fisika yang mendeskripsikan bagaimana partikel-partikel secara serentak bekerja sekuat tenaga untuk mencapai titik ideal ketika situasi kritis tiba-tiba datang. Saya masih punya pertanyaan penting untuk Yohannes Surya, tolong sampaikan jika Anda bertemu dengannya: Jika global warming membuat suhu bumi terus melonjak, bisakah bumi dan semua partikelnya bisa menyembuhkan dirinya sendiri? Bagaimana caranya?]

Pertanyaannya, bagaimana kita mendeteksi bahwa alam semesta sedang mendukung kita? Coelho mengajarkan bahwa kita mesti membuka indera kita untuk mengenal tanda-tanda alam. Saya mengajukan satu tawaran lain. Apa itu? Kekuatan pikiran.

Kali ini, biarlah saya mengisahkan satu percakapan dengan seseorang yang sudah saya anggap seperti adik sendiri. Dia sedang mengalami titik terendah dalam hidupnya. Dia yang bermimpi menjadi seorang penulis bahkan tak sanggup menulis barang satu paragraf pun. Blognya tak pernah di-update. Jangankan update, menjenguk dunia maya pun ia tak berani.

Apa pasal? Dia baru saja dikirimi sepucuk imel oleh seseorang yang dianggapnya orang hebat. Imel itu menghajar dengan telak argumen-argumennya sendiri. Tak hanya itu, imel itu juga menyerangnya sebagai orang-orang yang sedang berkampanye dengan semangat rasis. Dia malu sekaligus rontok begitu tahu imel untuknya itu diposting di website orang itu, website yang dikunjungi oleh banyak sekali pengunjung. Ia bayangkan dirinya ditertawakan oleh banyak orang. Ia merasa teledor sekaligus tak lagi punya apa-apa.

Pada satu dini hari yang gerimis, di warung kopi yang terletak persis di pertigaan pasar Ngasem, kami berdua bercakap-cakap. Sehari sebelumnya saya memberinya novel Chasing Rumi dan meminta untuk dibacanya hingga usai. Lalu saya katakan padanya:

“Jika kamu ingin menjadi penulis dan yakin itu adalah takdirmu, semestinya kamu tidak rontok begini hanya karena ada beberapa orang yang menyerangmu dengan agresif sekali pun, bahkan kendati serangan itu dibangun oleh argumen yang benar sekali pun. Penting untuk yakin bahwa orang-orang yang membuatmu jatuh itu adalah bagian dari alam semesta yang sedang membantumu menyempurnakan takdirmu.

Jika kamu gagal karena serangan kali ini, berarti orang-orang itu merupakan kepanjangan alam semesta yang hendak mengingatkan bahwa takdirmu bukan menjadi penulis. Tapi jika kamu masih sangat yakin bahwa takdirmu menjadi penulis, orang-orang itu mesti kamu perlakukan sebagai sahabat-sahabat yang dikirimkan alam semesta untuk mendukungmu menyempurnakan takdir sebagai penulis.

Jika kamu bisa bangkit dari krisis ini dan kembali menulis, maka mentalmu pasti akan lebih siap. Besok-besok kamu pasti tak akan serontok ini jika diserang oleh orang-orang yang lain. Jika ini membuatmu menjadi lebih kuat, maka benar, orang-orang itu adalah bagian dari alam semesta yang sedang mendukungmu menyempurnakan takdir.”

Saya mencoba menunjukkan padanya bahwa dalam momen-momen krisis seperti ini pikiran harus diperkuat. Kekuatan pikiran yang akan menentukan bagaimana realitas hadir di hadapan kita dan menelusup ke dalam kesadaran kita. Kekuatan pikiran yang akan menentukan bagaimana respons kita tiap kali menghadapi krisis dan kegagalan.

Coelho mungkin benar ketika menganjurkan pembacanya untuk tanggap terhadap semua petanda yang diberikan semesta. Tapi, tanggap pada sasmita yang diberikan semesta adalah satu soal, sementara mendayagunakan sasmita itu untuk memertebal keyakinan itu adalah soal yang lain, dan itu membutuhkan pikiran yang kuat, pikiran yang positif, yang mencecap dan menafsirkan realitas dengan cara yang positif, bukan dengan persepsi yang penuh dengan syak wasangka.

Karena alam kadang bekerja tidak dengan mengirimkan badai, tapi cukup dengan gerimis yang tipis, seperti waktu aku mengantarmu menunggu taksi di dekat stasiun Juanda. Ya pada suatu pagi di hari Natal yang sepi.

Kapan-kapan, saya akan menceritakan padamu tentang Rupert Scheldrake dengan konsep “morfogenesis” yang ditemukannya. Ini lebih hebat ketimbang omong-omong tentang Mestakung. Kendati saya tak tahu apakah itu bisa menjawab pertanyaanmu yang menjengkelkan dan mengganggu yang kau ajukan kemarin malam. Itu pertanyaan paling brengsek yang pernah kamu ajukan!

Fabregas Tahu Tapi Menunggu

Uncategorized — pejalanjauh @ 4:19 am

[Ini esai bola yang pertama saya tulis. Dibuat beberapa jam setelah leg pertama perempatfinal liga champions 2005/2006 antara Arsenal-Juventus pada 29 Maret 2006. Ini juga menjadi saat pertama di mana Viera, eks kapten Arsenal, kembali ke kandang Arsenal dalam status sebagai lawan. Esai ini menjadi penting artinya buat saya karena menjadi persiapan/latihan yang baik ketika beberapa bulan kemudian saya menjadi kolomnis bola di Jawa Pos selama Piala Dunia 2006 berlangsung]

Arsenal kini mengenang Patrick Viera tak lebih sebagai sebentuk nostalgia yang menghibur. Jika pun kerinduan terhadapnya kemarin-kemarin masih sering hadir tiap kali anak-anak London ini melewati sebuah pertandingan dengan buruk, pekan ini mereka paham bahwa kerinduan itu tak lebih sebuah déjà vu.

Sehari menjelang leg pertama partai perempatfinal Liga Champions yang memertemukan Viera dengan klub yang membesarkan namanya itu, Viera sempat berujar bahwa ia pindah ke klub yang tepat. Kelebihan Juventus dari Arsenal, kata Viera, terletak pada kenyataan bahwa segenap pemain, pengurus dan pendukung Juventus adalah orang-orang yang lapar akan kemenangan dan gelar juara. Arsenal, kata Viera, “adalah klub yang tak punya rasa lapar.”

Fabregas, anak ingusan yang mendadak diserahi tanggungjawab besar di Arsenal sepeninggal Viera, tahu betul kalau Viera keliru. Dan ia menunggu-nunggu hari pembuktian itu.

Omong-omong soal lapar, Sophocles, penulis naskah Antigone yang terkenal, pernah melahirkan sebuah kalimat bersayap yang kurang lebih berbunyi: “Anak-anak muda adalah mahluk dengan rasa lapar yang selalu mengendap di ujung kerongkongannya.”

Malam itu Sophocles terbukti benar. Fabregas, pemuda ingusan berusia 18 tahun, yang selisih usianya nyaris 10 tahun dengan Viera, bertinggi badan hanya 176 cm, badan yang tak terlalu kekar, kulitnya yang bersih menopang raut wajahnya yang lebih mirip anak mama ketimbang seorang jagal. Tetapi karena seperti anak itulah maka ia begitu lapar dan rakus. Seperti anak kecil yang selalu ingin tahu, tiba-tiba ia begitu saja ada di dalam kotak penalti lawan yang tak menduga kehadirannya. Ia beroleh bola. Dan ia tendang dengan dingin. Seperti itulah proses gol pertama Arsenal yang dicetak Fabregas tercipta.

Viera jelas keliru. Ternyata bukan dirinya dan Juventus yang kelaparan. Seperti kata Sophocles, yang lapar biasanya adalah anak-anak muda. Dan malam itu, Juventus adalah kumpulan orang-orang tua yang dipaksa berlari-lari mengikuti kemauan dan minat ingin tahu serombongan anak muda asuhan Arsene Wenger. Kelihatan betul Juventus bukan lagi menjadi seorang Nyonya Besar, La Vecchia Signora, melainkan menjadi seoran Nyonya Tua yang kepayahan dan dibayang-bayangi ilusi kehebatan masa mudanya dulu.

Dan mereka tumbang, 2-0, lewat sebuah gol dan sebuah asist dari seorang anak ingusan yang menggantikan peran Viera, pemain liat yang malam itu berada di pihak Juventus.

Yang menyedihkan, Viera harus menerima kartu kuning akibat menendang paha Reyes, kartu kuning yang membuat Viera kehilangan kesempatan membalas kekalahan memalukkan di leg kedua nanti. Kekalahan makin komplit karena Camoranesi lebih suka menendang kaki van Persie ketimbang menndang bola, hal yang membuatnya diusir oleh wasit dan juga absen di leg kedua. Zebina, palang pintu yang terlihat begitu renta malam itu, juga melakukan aksi yang tak kalah konyol dengan Camoranesi, dan akhirnya sama-sama dikartumerah.

Dan Fabregas keluar dari lapangan di akhir pertandingan dengan seringai kemenangan. Ia berjalan tegak. Para kompatriot seniornya memeluknya. Sementara Viera berjalan gontai. Ia sempat menerbitkan senyum tipis ketika bersalaman dengan Wenger. Selebihnya, Viera pulang dengan rasa getir yang membuatnya tak bisa tidur semalaman: Ya…. dirinya bukan lagi raja di Highbury.

Dan bagi Viera, malam itu seperti sengaja diciptakan Tuhan sebagai malam di mana seorang raja, dirinya, secara resmi dimakzulkan.

****

Jika dua tahun lalu jagat sepakbola disibukkan oleh aksi liat anak muda bernama Wayne Rooney, musim ini dunia membicarakan dua anak muda secara bersamaan: Lionel Messi dan Cesc Fabregas.

Dua pemain muda ini pernah berlatih bareng semasa Fabregas masih berkostum Barcelona yunior. Keduanya menghabiskan waktu latihan bersama dan seringkali menghabiskan waktu luang dengan bermain playstation bersama pula. Siapa yang menyangka jika kini keduanya juga bersama-sama menjadi perhatian pemerhati bola?

Sekali waktu, dua pemuda belia ini sempat bersua. Ketika itu, Messi bercerita bahwa dirinya diperlakukan dengan begitu baik oleh klub dan para seniornya. Jika aku melakukan kesalahan, kata Messi bercerita, “semua orang akan bilang, ‘tidak apa-apa karena kamu masih sangat muda’.”

Fabregas tersenyum mendengarnya. Di Highbury, ia tak pernah mendapatkan perlakukan emas itu. Di bawah telunjuk Arsene Wenger, semua pemain diperlakukan sama. Tak ada istilah pemain senior atau yunior. Yang melakukan kesalahan pasti akan ditegur.

Tak terbayangkan rasanya apa jadinya Fabregas jika diperlakukan selembut Messi di Barcelona dan di saat yang bersamaan ia mendadak diserahi tugas menggantikan peran Viera yang di awal musim hijrah ke Juventus. Fabregas memang pernah sekali waktu bermain bersama Viera atau menggantikan perannya tiap kali Viera absen. Tetapi menggantikan secara penuh peran Viera tak terbayangkan akan datang begitu cepatnya.

Dan Fabregas memang sempat kelimpungan kepayahan menanggung bebas. Hingga pertengahan musim, Arsenal goyah. Jangankan bersaing dengan Chelsea dan Menchester United, berebut peringkat keempat pun mereka harus kepayahan bersaing dengan Tottenham Hostspurs, Bolton dan Blackburn.

Publik Highbury menyesali kepergian Viera dan menganggap keputusan membiarkannya pergi sebagai blunder fatal. Gulberto Silva, punggawa lini tengah Arsenal dari Brasil, bahkan meragukan Fabregas. Ia merasa dibebani tugas yang demikian berat, selain haru mengamankan lini vital itu, ia juga mesti membimbin Fabregas. Terlalu riskan menyerahkan tampuk kepemimpinan lini tengah pada sorangg yang masih minim pengalaman, kata Gilberto.

Dan Fabregas tahu Gilberto keliru. Dan ia menunggu. Tentu saja sambil terus bekerja keras. Berkali-kali di partai-partai Liga Inggris kita lihat Fabregas mencoba tampil seberingas Viera di lini tengah. Ia mencoba keampuhan tackle-nya. Ia sering menangguk kartu karenanya. Berkali-kali ia juga mencoba sesangar Viera tiap kali berseteru dengan pemain lawan. Sering kali Fabregas kedapatan mencoba mengganggu dan memprovokasi lawannya.

Alih-alih berhasil, Fabregas justru kelihatan lucu. Dengan tampangnya yang imut, sungguh pemandangan yang mengharukan melihatnya mencoba tampil galak segalak Viera, mencoba tampil beringas seberingas Viera.

Lambat laun tampaknya Fabregas sadar bahwa untuk menggantikan peran Viera tak perlu harus bermain seperti Viera. Ia harus menemukan permainannya sendiri, atau dalam kata-kata tokoh caddy dalam film The Legend of Bagger Vance, setiap orang diberkahi pukulan otentiknya masing-masing, dan tiap orang mesti menemukan pukulan otentiknya dan menggunakannya untuk memenangkan pertandingan.

Dan pertandingan melawan Juventus pekan kemarin adalah tilas yang menunjukkan betapa Fabregas telah menemukan permainan otentiknya. Ia tak lagi berada di bawah bayang-bayang Viera dengan mencoba bermain laiknya Viera. Ia telah menjadi dirinya sendiri dan bermain dengan permainan otentiknya sendiri.

Ya… Fabregas tidak bermain dengan semangat sok dewasa dan sok sangar demi menjadi seorang the New Viera melainkan bermain dengan semangat anak-anak yang selalu ingin tahu apa yang terjadi di setiap inci lapangan hijau.

Mestikah diherankan jika malam itu Fabregas seperti ada di mana-mana? Dan mestikah mengherankan jika sebuah statistik menunjukkan bahwa ia memberi kontribusi 61% untuk pertandingan itu, berbanding 21% untuku Henry, 2% untuk

Trezeguet dan Gilberto dan 16% sisanya pemain lain?

Malam itu, Arsene Wenger, Gilberto dan segenap pendukungnya sadar bahwa mencari pengganti Viera tidak harus dengan pemain yang bermain seperti Viera; sesuatu yang tampaknya masih belum dimengerti benar oleh Sir Alex Ferguson yang masih kebingungan mencari pemain pengganti Roy Keane, seorang kapten inspiratif dengan terjangan tak kenal ampun.

Fabregas memang bukan Viera dalam arti yang sesungguhnya. Dia tak setinggi dan sekekar Viera. Ia juga bukan tukang jagal dengan kekokohan sekuat Viera. Raut mukanya juga kalah sangar dari Viera. Fabregas lebih mengandalkan gerakannya. Dan setiap gerakan Fabregas ternyata memang penuh kejutan.

Ia memang tak punya dribling sebaik Gilberto, tapi ada hal yang tak dimiliki Gilberto: Fabregas bermain seperti didampingi malaikat yang selalu memberinya informasi ke mana ia mesti bergerak. Malaikat itu bernama, pinjam istilahnya Luis Cesar Menotti, adalah “insting gerakan”. Dan permainan otentik Fabregas dibimbing oleh insting gerakan itu.

Gerakan-gerakan penuh kejutan. Itulah permainan otentik Fabregas. Dan ia sendiri sudah membuang jauh-jauh mimpi menjadi seorang Viera yang beringas.

Membayangkan Neraka

Uncategorized — pejalanjauh @ 6:58 am

Saat membongkar buku-buku lama yang berdebu saya menemukan sebuah paragraf panjang yang menarik. Di tepi sebelah kanan halamannya, terdapat tulisan tangan yang merupakan respons sekaligus komentar spontan saya sewaktu pertama kali membacanya pada 2004 silam, di sesela KKN di sebuah kampung di kaki Merapi.

Di situ saya tuliskan juga sepucuk nama yang terkenal: Heidegger. Saya bilang di sana: Bahasa dalam paragraf macam inikah yang dimaksudkan oleh Heidegger sebagai “House of Being” atau “Rumah Maujud”?

Baiklah saya tulis ulang paragraf tersebut untuk Anda. Saya harap Anda cukup bersabar dan punya daya tahan untuk membaca paragraf panjang ini. Jika boleh menyarankan, Anda jangan hanya membaca, tapi coba kerahkan juga imajinasi hingga batas terjauh yang bisa dijangkau:

“Siksaan terakhir yang paling dahsyat dari segala siksaan di tempat yang mengerikan itu adalah keabadian neraka! Oh, sungguh kata yang mengerikan dan menakutkan. Keabadian! Pikiran manusia yang seperti apa yang yang dapat memahami ini semua? Meski pun rasa sakit di neraka dulu tidaklah begitu mengerikan jika dibandingkan dengan sekarang, tetapi rasa sakit akan benar-benar nyata saat siksaan itu ditakdirkan untuk berlangsung selamanya. Tetapi, di samping rasa sakit itu tiada pernah berhenti, pada saat itu juga,sebagaimana kalian ketahui, rasanya sangat kuat dan tak dapat ditanggulangi, terus bertambah hingga tak tertanggungkan. Menanggung rasa sakit karena sengatan serangga selama-lamanya saja sudah bisa menjadi siksaan yang mengerikan. Lalu bagaimana rasanya jika harus menerima siksaan yang berlipat-lipat sakitnya di neraka selamanya? Selamanya! Tidak setahun atau seabad, tapi selamanya. Coba bayangkan arti ucapan mengerikan ini. Kalian sering kali melihat pantai. Betapa bagusnya butir-butir pasir itu! Dan betapa banyak butir pasir yang dibutuhkan untuk menjadi segenggam pasir yang diambil anak kecil saat bermain. Kini, bayangkan segunung pasir satu juta mil tingginya, menjulang dari bumi hingga ke langit yang terjauh, dan satu juta mil lebarnya, membentang dari ruang yang terpencil, dan satu juta mil terbalnya: bayangkan gundukan besar partikel pasir yang tak terhitung jumlahnya dilipatgandakan dengan jumlah daun yang ada di hutan, tetes air di samudera luas, bulu-bulu pada burung, sisik-sisik pada ikan, bulu-bulu pada binatang, atom di udara bebas: dan bayangkan pada akhir setiap satu juta tahun seekor burung kecil datang ke gunung itu dan membawa pergi sebutr pasir dari sana dengan paruhnya. Berapa juta abad yang dibutuhkan burung itu untuk memindahkan, bahkan cuma satu kaki persegi pasir dari gunung itu, berapa banyak eon abad untuk memindahkan seluruh gunung itu. Namun pada akhir rentang tahun yang sangat panjang itu kita masih belum bisa menyebutnya sepersekian kejap dari keabadian. Saat berbilyun-bilyun dan bertrilyun-trilyun tahun itu telah berakhir, kita tahu bahwa itu masih belum dkatakan sebagai awal keabadian. Dan jika gunung itu muncul dan tenggelam sesering terbit dan tenggelamnya bintang di langit, atom di udara, tetes air di lautan, daun di pepohonan, bulu pada burung, sisik pada ikan, rambut pada binatang, pada akhir setiap kemunculan dan kesirnaan gunung yang luasnya tak terukur itu tak bisa dikatakan sekejap dari keabadian telah berakhir, bahkan pada saat itu, pada akhir setiap masa sepanjang itu, setelah eon waktu yang bisa membuat kita pusing meski hanya memikirkannya saja, kita belum bisa mengatakan bahwa keabadian telah dimulai!”

Pengarang yang sama melanjutkan “teror bahasa” yang sudah ia gelar tadi dengan mengisahkan satu cerita bahwa orang-orang yang pernah singgah di neraka hanya bisa melihat kegelapan di mana-mana, kegelapan yang begitu besar. Hanya ada bunyi yang berasal dari sebuah jam raksasa yang berdetak tanpa henti seperti gemuruh.

Mari kita simak metafora apa yang digunakan pengarang ini untuk menjelaskan detik-detik dari jam raksasa itu: “…suara detik itu seperti pengulangan tanpa henti atas kata-kata: Selamanya, tiada pernah, selamanya, tiada pernah, selamanya, tiada pernah, selamanya, tiada pernah…..”

Bahasa dan kata-kata dalam paragraf panjang itu melampaui realitas. Paragraf itulah yang bisa diajukan sebagai contoh betapa bahasa bukan hanya mimesis atau penggambaran atau representasi atau apalah namanya dari realitas/kenyataan. Bahasa bukanlah medium di mana dunia (di)hadir(kan). Bahasa yang justru menetapkan konstruksi atas dan bagi dunia, bukan sebaliknya.

Bahasa bukan sekadar representasi dari dunia. Di tangan pujangga yang sudah menyelam ke dalam lautan kata-kata dan berhasil mengenal dan mendayagunakan semua potensi yang diperam oleh kekuatan kata-kata, bahasa justru bisa menjelma dunia itu sendiri.

Bahasa dalam pragraf di atas seperti serentetan kejadian yang menciptakan tata tentang dunia imaji yang sama sekali berbeda dengan yang kita lihat di keseharian.

Kita tak pernah tahu seperti apa neraka karena tak satu pun dari kita yang pernah menyaksikannya. Kitab suci yang kita baca sejak kecil sudah memberi garis besar tentang neraka: panas, siksa, derita, selamanya. Paragraf di atas seperti menyempurnakan garis besar kalam Illahi itu ke dalam satu ruang imaji yang nyaris tanpa batas dan bisa jadi –maaf—malampaui semua pemerian tentang neraka yang pernah didedahkan kitab suci.

Neraka dalam paragraf itu masih menguarkan aura kengerian yang tak terperi, tetapi kengerian itu tersublimasi sedemikian rupa menjadi sebentuk kengerian yang menyebar sekaligus memuai, melebar sekaligus memanjang, dan karenanya hadir seperti keringat yang keluar dari semua lubang pori, dan bukan seperti darah yang mengalir deras dari satu luka yang mengangga.

Lukisan tentang neraka di atas lebih bersifat inkarnasi tinimbang deskripsi. Perbandingan konsep waktu “selamanya” dengan menghamparkan detail mengenai pasir, bulu, atom, tetes air dan sebagainya itu –bagi saya—menyentuh nyaris semua indera yang dianugerahkan Tuhan pada manusia.

Saya pernah membaca Cala Ibi dan –terus terang saja—saya nyengir sendiri membaca puja-puji yang diberikan para kritikus pada karya perdana Nukila Amal itu.

Oh ya, tahukah Anda siapa pengarang yang sedang saya bicarakan ini? Ya, Anda benar, dia adalah James Joyce. Paragraf yang saya bicarakan tadi aku unduh dari bab III novelnya yang berjudul A Portrait of the Artist as a Young Man.

Milan Kundera menyebut Joyce sebagai salah satu dari tiga orang yang membentuk seni novel Eropa. Bersama Franz Kafka dan Cervantes, tentu saja!

Lalu Waktu Bukanlah Giliranku

Uncategorized — pejalanjauh @ 8:53 pm
Kasihmu sunyi
Menunggu seorang diri
Lalu waktu – bukan giliranku
Matahari – bukan kawanku
– Amir Hamzah, “Padamu Jua”

Selama tiga hari saya menikmati hidup yang hening dan kadang terasa begitu meditatif sebelum sepucuk imel berisi tuduhan yang nyelonong tanpa melakukan klarifikasi lebih dulu berhasil membuat pertahananku jebol dan dadaku kembali meledak.

Saya menjawab imel itu tanpa basa-basi, juga tanpa metafora. Jika ada yang sedikit perlu disesali, barangkali, karena saya menjawab imel itu pada saat kepala masih terasa beruap dan otak saya masih dalam keadaan murka. Tentu saja tak ada kata-kata kasar apalagi makian. Tapi, jawaban saya yang keras, sudah cukup menjelaskan betapa saya tak cukup tenang merespons keadaan.

Betapa tipisnya selisih antara keheningan dan kemarahan.

Tahun 2007 memang menjadi tahun yang hebat, penuh gejolak personal, naik turun emosi yang begitu cepat, semangat yang menggelegak, kenakalan yang liar, dan kadang sentimentalitas yang mendadak muncul dengan lembutnya.

Di tahun ini saya terlibat dalam sejumlah perdebatan yang panjang dan sengit, polemik yang mulanya antara saya sendiri dengan seseorang, tapi dengan cepat berbelok menjadi sengketa diskursif yang melibatkan institusi. Sesekali muncul hardikan yang sedikit sarkas, tuduhan yang tidak masuk akal, serta prasangka yang berlebihan.

Ada beberapa nama yang sebelumnya saya anggap sebagai “mentor” di tahun ini berubah menjadi sparring partner dalam sebuah sengketa gagasan.

Tak pernah saya diam tanpa melakukan “serangan balasan” tiap kali ada yang “menyerang”. Agresi dihadapi dengan agresi. Sikap santun saya sambut dengan tak kalah santunnya. Sepanjang tahun 2007 ini saya bisa dengan cepat bersalin rupa dari seorang yang santun menjadi seorang yang begitu agresif. Begitu pula sebaliknya.

Saya menutup tahun ini dengan menulis resensi buku di sebuah surat kabar yang isinya menganggap buruk sebuah buku yang ditulis seorang begawan, orang yang diam-diam pernah saya anggap sebagai mentor, yang oleh penulis-penulis resensi lainnya buku dia itu dipuja-puji setinggi bintang.

Tiba-tiba saja saya menyadari betapa saya begitu percaya diri. Tanpa sedikit pun rasa jirih, apalagi takut dan minder, saya membuka perdebatan, menantang muka lawan muka beberapa nama yang mungkin Anda kenal atau pernah Anda dengar, nama-nama yang cukup mentereng dan punya reputasi yang tidak enteng.

Saya sampai pada gagasan bahwa sebuah perdebatan yang saya ikuti dengan penuh semangat selalu berhasil menginjeksi energiku menjadi bertambah lipatannya. Saya selalu merasa makin kuat dan tangguh. Makin tangguh lawan debatnya, saya makin pula merasa bertambah kuat.

Saya ingat, pilihan macam itu saya unduh dari sikap Musashi. Kira-kira di pengujung 2006, saya menyelesaikan novel Musashi. Saat itu juga saya merasa perlu mengikuti jejaknya: mendatangi beberapa pendekar dan menantangnya “berkelahi”.

Ya, di pengujung warsa ini, jumlah “kawan” dan “musuh” saya ternyata jumlahnya nyaris berimbang. Seseorang yang pernah menjadi kawan yang begitu akrab tiba-tiba menjelma menjadi sosok yang begitu berjarak, sejumlah nama yang tadinya begitu asing mak mbedundu bisa menjadi karib yang begitu intim atau seseorang yang tadinya aku panggil dengan begitu mesra mendadak menjadi pribadi yang tak mengenakkan untuk dikenang.

Blog ini membuat jumlah nama yang mesti kuingat kian bertambah. Relasi makin meluas. Pembacaku juga makin berlipat. Beberapa menghubungiku secara personal. Ada yang minta masukan soal tulisan-tulisannya, ada yang sekadar memuji, tak jarang ada yang memaki dan mencercaku sebagai pribadi yang keras kepala dan sombong gak ketulungan, tapi satu dua orang menghubungiku untuk menawari pekerjaan yang sayangnya belum bisa aku penuhi. Di ujung tahun ini pula aku ditawari sebuah situs berita untuk menjadi kolomnis tetap selama Piala Eropa berlangsung di bulan Juli besok; satu-satunya tawaran yang tak mungkin bisa aku tolak.

Jumlah hari di tahun 2007, tentu saja, sama jumlahnya dengan tahun-tahun yang lain. Tapi peristiwa demi peristiwa, keputusan demi keputusan serta tindakan demi tindakan yang kuambil membuat tahun ini rasanya memuai menjadi lebih panjang tapi sekaligus rasanya begitu padat.

Di tahun inilah saya berhasil menyelesaikan dilema soal studi yang beberapa tahun sebelumnya saya biarkan berlarut-larut. Di tahun ini pula aku berani bicara muka lawan muka dengan ibuku dalam status sebagai manusia yang punya hak dan kewajiban yang mandiri, dan bukan dalam status sebagai anak sulung dan anak lelaki satu-satunya.

Di tahun ini pula saya mencapai tingkat produktifitas menulis yang nyaris gila-gilaan. Hampir tiap hari saya menulis dan tak ada hari tanpa menulis: menulis untuk media massa, menulis untuk blog, menulis untuk pekerjaan, menulis bagian-bagian dari buku dan novelku sampai menulis untuk beberapa milis yang saya ikuti.

SJanuari 2007 hingga Desember 2007, saya sudah menulis sebanyak 395 naskah.

Tulisan-tulisan itu berbagai macam bentuknya: esai, resensi buku, puisi, cerpen, beberapa bagian novel dan buku, naskah skenario film dan naskah-naskah personal yang lebih banyak aku pajang di blog. Naskah terpanjang yang saya hasilkan adalah esai sepanjang 27.157 kata yang merupakan seperempat bagian dari buku yang sedang aku garap dengan mencicil.

Saya lebih sering menulis ketimbang berak dan makan, apalagi pacaran. Aktivitas menulis hanya dikalahkan oleh aktivitas merokok. Sehari saya menghisap rokok –minimal– sebanyak 3 bungkus. Jadi, jumlah bungkus rokok yang kuhabiskan selama setahun hampir kira-kira mendekati angka 1000 bungkus. Jika satu bungkus di rata-rata seharga 7000 ribu rupiah (saya merokok A-Mild yang harganya di kisaran 8-9 ribu), berarti saya sudah membakar duit berjuta-juta. Anjrit!

Di tahun ini pula jumlah kota yang saya singgahi berlipat-lipat jumlahnya dibanding tahun-tahun sebelumnya. Ada sekitar 27 kota yang saya singgahi. Saya mesti berganti sandal eiger sebanyak 4 kali dan jumlah ransel yang saya miliki pun bertambah menjadi empat biji.

Maka cukup pantas kiranya jika bagi saya tahun 2007 merupakan tahun tergila sekaligus tahun terhebat sepanjang saya hidup. Dan itu berlangsung persis pada saat saya menginjak usia yang ke-25 tahun. Usia saya sudah seperempat abad. Jika angka harapan hidup manusia Indonesia rata-rata mencapai 65 tahun, itu artinya sudah sepertiga masa hidup saya habiskan.

Jika ada yang perlu saya sesali di tahun 2007 ini adalah betapa minimnya waktu yang dihabiskan untuk membaca. Ya, saya jarang sekali membaca dengan ekstensif. Buku-buku yang dibaca lebih banyak digerakkan oleh kepentingan pragmatis: untuk menyelesaikan tulisan. Saya lebih sering membaca dengan teknik skimming di tahun 2007 ini. Mungkin jumlah buku yang dibaca dengan keakraban seperti bercakap-cakap dengan seorang karib atau seorang kekasih jumlahnya tak mencapai 20 biji.

Beberapa kali saya terantuk batu dan jatuh tersungkur oleh sejumlah sebab dan alasan. Tapi saya tak mau dan tak sudi jatuh tersungkur lama-lama. Cepat-cepatlah bangkit. Ayo kibas-kibaskan celana dan baju yang kotor oleh debu dan keringat, lalu kenakan ransel dan segeralah mulai perjalanan dan pertarungan berikutnya.

Saya tak tahu seperti apa hidup saya di tahun 2008. Di tengah kesehatan yang tak setangguh empat tahun sebelumnya, paru-paru yang makin boyak, berat badan yang hanya tersisa 55 kg, mata yang makin memerah karena jarang tidur, dan maag yang lumayan mengganggu, tahun 2008 pastilah akan menjadi tahun yang tak mudah.

Tapi itu semua mesti dihadapi dengan dada yang membu

sung. Hidup terlalu pendek untuk dirayakan dengan sentimentil apalagi dengan sikap pengecut. Dan, satu lagi, hidup terlalu penting untuk dijalani dengan mengikuti opini orang. Itu akan menjadi hidup yang meletihkan.

Ya, inilah saya di tahun 2007. Kita lihat, apa saya masih bisa berkarya hingga Desember tahun berikutnya. Kau, jika mau, bisa menjadi saksinya.

Selamat Tahun Baru 2008!

Asmaradana

Uncategorized — pejalanjauh @ 6:27 pm

“Anjasmara, adikku, tinggallah seperti dulu.
Bulanpun lamban dalam angin, abai dalam waktu
Lewat remang dan kunang-kunang,
kaulupakan wajahku, Kulupakan wajahmu.”

Seorang Ibu melepas anak lelakinya yang hendak membalaskan kesumat keluarga. Ibu itu tahu anaknya akan gagal. Ia juga tahu tak akan pernah melihat anaknya lagi. Mereka bertemu terakhir kali di beranda. Anak lelaki tadi mencium lutut ibunya. Sang Ibu hanya mengelus-elus rambut anaknya yang bersimpuh sembari menahan sedu yang ditahan.

Perjumpaan sepasang ibu dan anak itu digelar tanpa kata-kata. Semuanya dirayakan dalam diam; melalui gerak yang intens dan begitu lambat –dan karenanya terasa menyiksa.

Saya menyaksikan adegan yang menakjubkan itu pada dini hari menjelang subuh yang sepi melalui sebuah layar TV raksasa. Di luar angin begitu berisik dan hujan masih belum bosan membasahi tanah Jakarta yang belakangan serasa makin gembur.

Saya lalu berpindah ke ruangan depan. Di hadapan saya terbentang kaca yang lebar juga bening. Dari sana saya bisa melihat jalanan di bawah yang becek, pohon-pohon yang basah, rel kereta api dan pucuk Istiqlal yang sedang bersiap mengalunkan adzan. Rumput-rumput di tepi Ciliwung yang berjarak sepelemparan tombak terlihat membasah. Saya tak melihat ada satu pun jejak kaki di sana.

Saya duduk sendiri pagi itu. Tanpa sepeser pun uang di saku, apa boleh buat, saya mesti menikmati momen yang begini intim tanpa kretek dan kopi. Tapi, barangkali, karena itulah justru saya bisa menikmati fantasi yang ditularkan adegan yang baru saya saksikan. Adakah yang lebih “menyenangkan” selain menyadari betapa kita begitu melarat justru di pengujung Desember, sewaktu orang-orang sedang sibuk menyiapkan pesta dan perjalanan?

[Aha, saya jadi ingat sajak Sapardi yang berjudul "Sajak Desember": kutanggalkan mantel serta topiku yang tua/ketika daun penanggalan gugur/lewat tengah malam. kemudian kuhitung/hutang-hutangku pada-Mu/mendadak terasa: betapa miskinnya diriku;/di luar hujan pun masih kudengar/dari celah-celah jendela. ada yang terbaring/di kursi letih sekali/masih patutkah kuhitung segala milikku/selembar celana dan selembar baju/ketika kusebut berulang nama-Mu; taram/temaram bayang, bianglala itu]

Lalu saya bertanya pada diri sendiri: Apa yang akan saya lakukan jika berhadapan untuk terakhir kalinya dengan orang yang saya tahu ia akan menemui kematiannya? Atau, jika diperbolehkan, saya bertanya pada Anda: Apa yang akan Anda lakukan jika mesti menghadapi momen yang menggiriskan macam demikian?

Sejujurnya saya tak bisa menjawab, mungkin lebih tepat tak sanggup. Bagaimana bisa kita menghadapi momen macam itu? Jika pun bisa, lebih karena kita tak punya pilihan lain, momen itu pastilah akan dihadapi dengan cara yang minim kata-kata.

Saya pernah membaca prosa menggetarkan yang becerita tentang pertemuan terakhir sepasang kekasih: Buah Delima karya Yasunari Kawabata!

Pemuda benama Keikichi datang ke rumah kekasihnya, Kimiko, sebelum pergi ke medan perang. Keduanya seperti paham bahwa ada kemungkinan pertemuan itu akan menjadi pertemuan yang terakhir. Pertemuan ini digelar pada pukul 10 pagi.

Apa yang dilakukan Kimiko? Dia menyerahkan sebiji buah delima pada kekasihnya. Apakah Kekichi memakannya? Saya kutipkan langsung dari hasil terjemahan Sapard Djoko Damono:

“Jelas bahwa pemuda itu (Kekichi) menjatuhkannya ketika sesuatu yang terasa hangat menyusup di matanya dan waktu itu ia sudah mulai membelahnya. Ia belum sampai membelahnya menjadi dua. Delima itu tergeletak dengan biji-bijinya di atas.

Ibunya membawanya ke dapur dan mencucinya, dan memberikannya kepada Kimiko. Kimiko merengut tidak mau menerimanya, dan kemudian, sekali lagi wajahnya memerah, menerima buah itu dengan pikiran yang agak kalut.

Keikichi seolah telah mengambil beberapa biji di bagian pinggir buah itu.

Dengan kehadiran ibunya di depannya, terasa aneh bagi Kimiko untuk tidak memakannya. Ia menggigit buah itu dengan acuh tak acuh. Mulutnya terasa pahit. Ia mencecap semacam kebahagiaan yang memilukan, seolah-olah merasuk jauh ke dalam dirinya.

Sendirian dengan kebahagiaan tersembunyi, Kimiko merasa malu di hadapan ibunya. Ia berpikir bahwa peristiwa tadi merupakan salam pisah yang lebih baik dari yang bisa dibayangkan Keikichi, dan bahwa ia bisa menanti pemuda itu sampai kapan pun ia kembali.

Ia memandang ke arah ibunya. Matahari mencapai pintu kertas yang agak jauh dari tempatnya duduk di depan kaca. Gadis itu agak takut-takut menggigit delima yang ada di pangkuannya.”

Saya sudah membaca prosa itu berkali-kali dan selalu saja saya merasa ada yang mengharukan di sana; sebentuk keharuan yang rasanya begitu murni, kendati –tentu saja– saya terlalu sombong untuk bahkan sekadar berkaca-kaca. Hingga saat ini, saya selalu merasa, tak ada prosa yang mampu menandingi karya Kawabata itu dalam hal memerikan situasi pertemuan pamungkas yang tak akan mungkin tergelar lagi.

Saya pernah begitu naifnya membacakan prosa itu ketika bertemu untuk terakhir kalinya dengan seorang perempuan, di ujung Desember 2002. Tentu saja dia menangis. Dia pernah mengirim kartu pos dan bilang bahwa ia tak bisa memaafkan saya karena ia menganggap saya telah mengeksploitasi perpisahan yang tak diharapkan itu.

Saya melakukan itu lebih karena saya tak tahu hendak berkata apa. Saya ingin membelikannya syal. Tapi karena saya begitu melarat ketika itu, saya hanya bisa membacakan prosa tersebut dan lantas menyerahkan buku yang memuat prosa Kawabata tadi.

[Saya tak tahu ada di mana dan seperti apa kabarnya sekarang dan apakah dia masih mengenang adegan menjengkelkan itu atau tidak.]

Ada juga kisah cinta Damarwulan dan Anjasmara. Damarwulan mendapatkan Anjasmara dengan susah payah. Saya pernah menyaksikan film lama tentang kisah ini. Tetapi film itu, tentu saja, berakhir bahagia. Padahal, dalam versi yang lain, seperti dalam salah satu pupuh Asmaradana, kisah keduanya juga berakhir dengan dramatis. Dikisahkan, Damarwulan menggelar pertemuan dengan Anjasmara beberapa saat sebelum Damarwulan pergi ke medan peperangan. Keduanya tahu bahwa pertempuran itu tak akan pernah dimenangkan. Apa yang dilakukan keduanya di pertemuan terakhir?

Sayang sekali saya belum pernah membaca langsung pupuh Asmaradana yang mengisahkan pertemuan terakhir keduanya. Tapi saya pernah membaca sajak Goenawan Mohamad yang mengisahkan kembali pertemuan terakhir dua orang itu. Saya sangat suka sajak ini dan itulah satu-satunya sajak Goenawan Mohamad yang saya hapal di luar kepala dari awal hingga akhir.

Asmaradana

Ia dengar kepak sayap kelelawar dan guyur sisa hujan dari daun,
karena angin pada kemuning. Ia dengar resah kuda serta langkah
pedati ketika langit bersih kembali menampakkan bimasakti
yang jauh. Tapi di antara mereka berdua, tidak ada yang berkata-kata.

Lalu ia ucapkan perpisahan itu, kematian itu. Ia melihat
peta, nasib, perjalanan dan sebuah peperangan yang tak semuanya disebutkan.

Lalu ia tahu perempuan itu tak akan menangis. Sebab bila
esok pagi pada rumput halaman ada tapak yang menjauh ke
utara, ia tak akan lagi mencatat yang telah lewat dan yang akan tiba
karena ia tak berani lagi.

Anjasmara, adikku, tinggallah seperti dulu.
Bulanpun lamban dalam angin, abai dalam waktu
Lewat remang dan kunang-kunang, kaulupakan wajahku,
Kulupakan wajahmu.

Bagi saya, tak ada sajak dalam bahasa Indonesia yang mampu menandingi sajak Goenawan yang satu ini dalam hal memerikan momen pertemuan terakhir yang akan diakhiri oleh kematian; ini momen yang berat dan menggetarkan, saat di mana kehadiran dan kefanaan begitu tipis selisihnya.

Saya kadang bosan dengan beberapa sajak Goenawan yang selalu kebak dengan pemerian suasana. Tapi memang tak ada kesempatan untuk berpikir seandainya menghadapi momen penuh maut seperti yang dihadapi ibu-anak dalam film yang kusaksikan atau Kekichi-Kimiko atau Damarwulan-Anjasmara. Momen-momen seperti itu memang sudah menjadi jatahnya otak kanan, bukan otak kiri.

Saya pernah membacakan sajak Goenawan ini untuk seseorang ketika sedang keluyuran di tepi Sungai Kapuas di belantara Kalimantan. Dari pulau yang berbeda saya membacakannya dengan bantuan nokia butut yang hingga kini masih saya panggul ke mana-mana. Saya tak tahu ia masih mengingatnya atau tidak.

Ya, dari Desember hingga Desember lagi. Kadang saya merasa, sejarah selalu berulang. Histoire se repete.

Selamat Natal. Damai di hati. Damai di bumi!

——–

Pada hari idul adha kemarin, saya tersenyum dengan lepas, –ya, benar-benar senyum dengan lepas—ketika seorang teman dari Jogja mengirimiku sms yang berbunyi: “Zen, ajari saya menikmati hari raya korban saat saya sendiri adalah korban sejarah!”

Saya menjawab smsnya dg ringkas: “Hahahaha….” (Itu jawaban terbaik yang bisa saya berikan!)

Pulang Pisau

Uncategorized — pejalanjauh @ 6:18 am

“Begini saja, aku akan membuatkan
sebuah peta menuju hatiku. Setuju?” katamu

Di sini hanya ada jeda
sungai yang coklat
dan sebungkus tusuk gigi
yang kau kirim lewat truk-truk pengangkut batubara

Apa yang ingin kau cungkil dariku, adikku?

Tak ada lagi sisa
bahkan sebutir slilit di gerahamku yang rompal
oleh gigil yang menahun

Tapi kau tak habisnya mengulitiku
kali ini dengan sepucuk pisau tanpa gagang
yang kau kirim, juga, lewat truk pengangkut batubara

Apa lagi yang ingin kau sayat dariku, adikku?

Bahkan kangen yang tawar ini
ingin kau renggut juga?

[pulangpisau, kal-teng, 9/7/07]

Maaf, Aku Lupa Kematianmu

Uncategorized — pejalanjauh @ 10:42 am

Maaf, saya melupakanmu. Saya bahkan lupa kemarin adalah hari kematianmu.

Pagi ini aku terbangun dengan hati yang tak begitu baik. Masih tersisa sejumput rasa enek di dada sebelah kiri. Bengong selama setengah jam setelah terbangun menjadi makanan biasa dalam situasi macam begini.

Lalu aku melihat kalender. 18 Desember. Dan… astaga, tanggal 17 Desember. Ya, 17 Desember. Masya Allah, aku baru ingat. Maafkan. Maafkan saya. Segera aku duduk. Menyandar di tembok. Aku baca 3 kali berturut-turut surat al-Fatihah. Aku kirimkan bacaan suci itu ke alamatmu di swargaloka.

Aku mengenalmu pertama kali dari buku milik pamanku yang bersekolah di Jogja. Kalau tak salah sewaktu aku duduk di kelas 2 SMA. Lalu aku makin mengenalmu dari tulisan Sayyed Hossein Nasr, Anne Marie Schimmel dan –terutama—William Chittik. Setahun lalu aku selesai membaca karyamu yang paling monumental yang diterbitkan oleh Bentang.

Di sekitar tahun 2000-an, sewaktu aku mencecap seperti apa rasanya menjadi mahasiswa, namamu begitu terkenal. Salah satu forum diskusi yang pernah kuikuti di akhir 1999 pernah membahasmu. Seorang senior saya membacakan salah satu syairmu. Namamu menjadi bagian dari gaya hidup spiritual banyak mahasiswa di Jogja, sama seperti yang terjadi di Barat. Pada 1997, kau pernah ditahbiskan sebagai panyair paling cemerlang oleh sebuah tabloid berhaluan Kristen.

Kamu lah yang membuatku mencari, membeli, mengumpulkan, dan membaca buku-buku sufi. Mungkin ada sekira 60-an buku tentang sufi yang kumiliki berkat perkenalanku denganmu. Dari situlah saya pernah beberapa kali menulis tentang sufisme. Salah satunya diterbitkan dalam sebuah antologi buku.

Tapi, kalau dipikir-pikir, sungguh tepat waktunya perayaan hari kematianmu hampir berhimpitan harinya dengan beberapa situasi tak mengenakkan yang kualami.

Malam Minggu kemarin, di sebuah kafe yang sepi dengan gerimis yang rapat di luar, aku masih mengingatmu. Di sana aku baru saja menemukan kehilangan; sesuatu yang bukan sekali dua aku alami setelah bepergian meninggalkan Jogja dalam waktu yang cukup lama. Ya, perjalanan dan kehilangan itu seperti sepasang kekasih yang selalu bergandengan tangan. Dan itu sudah cukup untuk menautkanku denganmu. Mengingatmu lagi. Dan mengucapkan dalam hati salah satu baitmu yang paling kuingat.

Cinta, katamu, bukan semata kesenangan belaka. Ia pada mulanya sesuatu yang menyiksa dan menyakitkan. Ia adalah api yang membakar semua ilusi, termasuk ilusi ihwal jati diri, identitas dan semacamnya. Aku tak akan lupa ajaranmu ini. Satu waktu aku pernah menemani seorang kawan yang sedang jatuh dengan mewedarkan ajaranmu, seperti malam kemarin aku mendaraskan ajaranmu kembali untuk diriku sendiri.

Maaf, maafkan aku melupakan hari kematianmu yang ke-800, sesuatu yang sungguh aku tak mengerti kenapa bisa begitu. Nanti malam, aku berjanji, akan mengaji al-Matsnawi, kitabmu yang paling termasyhur.

Maafkan aku, ya… Rumi.

Di Bali….

Uncategorized — pejalanjauh @ 7:08 am

Pada temaram senja yang gerimis itu saya duduk di hadapan patung Wisnu yang gigantik. Di hadapan saya, duduk bersila 50-an umat dari 3 “agama” yang sedang bertafakkur dalam diam.

Saya merasakan sensasi dari rasa magis yang menguar dari bau kemenyan yang terbakar, hawa panas dari api yang dinyalakan, bunyi canang yang dipukul, nada indah dari dawai kecapi yang dipetik dan alunan seruling yang ditiup sayup-sayup.

Kota Denpasar yang gemerlap dan laut yang biru serta Airport yang sibuk terlihat dengan jelas. Pesawat-pesawat yang datang dan pergi dalam gelap makin menyempurnakan suasana menjadi lebih menggetarkan.

Dari arah selatan, dari balik punggung patung Wisnu yang gagah itu, tampak bukit-bukit cadas yang dipapras dan ditatah. Di beberapa bagian, tercetak relief-relief gigantik yang –kendati masih baru tapi terasa—demikian tua dan purba.

Satu jam sebelumnya, di ruang pameran yang terletak di bawah Patung Wisnu, saya menyaksikan karya instalasi Nyoman Erawan yang menggetarkan.

Dia mengeksplorasi gong dengan original. Bagian tengah gong itu dia bor. Dari bagian yang dibor itu, ia memasang tiang kecil yang menyangga sebuah ranting pohon yang kering dan meranggas. Ujung lain ranting itu ditopang oleh benda semacam gir yang bergerigi yang mengelilingi garis terluar gong tersebut. Dengan tuas di tengah dan gir di pinggir itulah ranting kayu itu diputar secara konstan mengelilingi gong tersebut. Yang menarik, gir yang berputar mengelilingi gong itu menghasilkan bunyi-bunyian yang berbeda: gemuruh yang menakutkan, suara mengerik yang membikin ngilu, suara tabuhan gong yang kadang terasa mengejutkan dan juga suara yang tanpa bunyi, hening, sunyi.

Menyaksikan karya instalasi itu, berikut bunyi-bunyian yang dihasilkannya, membuat saya merasa berada dalam situasi “hitung mundur”, countdown. Ranting kering yang meranggas itu, serta bunyo-bunyian yang mengantarkan pada sekian imajinasi yang berbeda, membawa saya pada suasana hitung mundur menuju momen yang menghancurkan, semacam kiamat barangkali, saat di mana bumi –“gaia”, sebut James Lovelock– sudah tak mampu lagi menopang kehidupan dan kerakusan umat manusia yang menumpang pada dirinya.

Di situ saya sadar bahwa manusia –bisa jadi—adalah satu-satunya spesies yang bisa menghancurkan proses evolusi dirinya sendiri.

Itulah sebabnya kawasan yang saya datangi ini dinamai Garuda Wisnu Kencana. Wisnu, kita tahu, adalah satu dari tiga sosok trimurti yang berperan sebagai pemelihara semesta.

Di tempat yang sama pula, Nyoman Erawan dan 30-an seniman dari pelbagai daerah memamerkan karya-karya mereka yang bertemakan “Ibumi”: Ibu Bumi atau I (Saya) dan Bumi. Kantor tempat saya bekerja, bekerja sama dengan beberapa pihak lain, menggelar pameran ini sengaja bersamaan dengan Konferensi Internasional tentang Perubahan Iklim.

Dan di hadapan patung Wisnu yang belum sepenuhnya rampung itu, umat dari 3 “agama” menggelar upacara bersama yang bertajuk Climate, Peace and Meditation. Perubahan iklim, perdamaian dan meditasi secara jenial dipadu-padankan sedemikian rupa.

Yang paling mengharukan dari upacara ini adalah bagaimana tiga umat yang –kendati punya sejumlah kesamaan—memiliki sekian perbedaan itu bisa sama-sama khidmat dan takzim sepanjang upacara.

Saya tiba di lokasi upacara sewaktu umat Hindu masih menggelar upacaranya sendiri. Setengah jam kemudian, satu per satu muncul orang-orang berpakaian serba hitam dengan ikat kepala bercorak batik. Ini menjadi kontras yang mengejutkan karena umat Hindu kebanyakan menggunakan pakaian serba putih dan ikat kepala putih. Dari warna dan corak pakaian serta bahasa yang mereka pergunakan, saya langsung menebak mereka adalah para penghayat kepercayaan Sunda Wiwitan, agama “asli” orang-orang Sunda yang dalam kategori pemerintah dan perundang-undangan “hanya” diberi status sebagai Kepercayaan terhadap Tuhan yang Maha Esa.

Sementara di bagian selatan, sudah duduk bersila sekitar lima orang lelaki yang mengenakan celana komprang hitam dan bertelanjang dada. Di pinggang mereka terselip sebilah senjata pendek bersarung. Rambut mereka panjang dan gimbal. Mereka inilah yang dikenal sebagai Dayak Indramayu (komunitas “Bumi Segandu” dari Losarang): komunitas kecil yang sebulan lalu baru saja dikenai fatwa sesat oleh MUI.

Dalam doktrin agama yang saya peluk, mereka semua adalah para pemeluk agama “ardhi”, agama bumi, bukan agama “samawi”, atau agama “langit”. Mereka inilah, orang-orang yang begitu tenang dan khidmat itu, yang disebut sebagai “orang kafir”, para penghayat bid’ah dan khurafat. MUI menyebut salah satu dari mereka sebagai “sesat”. Dalam sejarah Eropa, para penganut agama bumi ini pernah menjadi musuh berat gereja. Orang-orang Sunda Wiwitan dan Dayak Indramayu ini dalam sejarah Eropa mungkin yang disebut sebagai “penganut Pagan”.

Mereka langsung duduk di bagian tengah ruangan, persis di hadapan Patung Wisnu. Mereka langsung melibatkan dan terlibat dalam upacara yang dipimpin oleh Pedanda dari umat Hindu. Di tengah-tengah mereka dinyalakan api.

Upacara berlangsung dengan khidmat. Pedande yang tinggi, putih dan berjanggut panjang memimpin doa-doa yang sepenuhnya tak saya mengerti. Orang-orang Sunda Wiwitan dan Dayak Indramayu bisa langsung masuk begitu saja ke dalam upacara tanpa banyak kata-kata. Mereka begitu mengkhidmati upacara yang dipimpin pedanda Hindu, seakan di antara mereka tak ada perbedaan tata ritual sedikit pun.

Pedanda Hindu kadang memukulkan canang yang diikuti oleh tiupan yang melahirkan suara sengkakala yang melengking, mirip tanda dimulainya perang seperti yang sering saya saksikan sewaktu kecil dari film Mahabharata. Di sela-sela bunyi-bunyian Hindu itu, muncul suara seruling dan kecapi yang mengingatkan saya pada masa kecil di kaki gunung Ciremai, alunan khas Priangan.

Situasi terasa begitu meditatif. Kedirian dan identitas kolektif masing-masing seperti dilepaskan. Semua peserta upacara –dan saya sendiri—mencoba memasuki satu ruang yang nir-batas, tanpa sekat, satu ruang bersama (imaginative space, istilah Marshal G Hodgson yang sudah saya “plesetkan”) di mana perbedaan dirayakan justru dengan cara mencari titik-titik pertemuan.

Saya begitu menikmai situasi lintas batas ini dengan perasaan yang penuh. Dalam beberapa waktu saya mencoba melampui segala macam kategorisasi, samawi-ardhi, sesat-tidak sesat, dan ketegori-kategori ciptaan lain yang menyekat-nyekat. Mungkin inilah yang oleh antropolog Arnold van-Gennep maksudkan sebagai situasi liminal.

Hikmah terpenting dari semua yang saya saksikan selama beberapa jam ini adalah bahwa ikhtiar untuk memperbaiki kualitas lingkungan hanya bisa dilakukan sepanjang semua umat manusia bisa melepaskan identitas masing-masing, egoisme sektoral, kalkulasi untung rugi diri sendiri.

Inilah yang belum, misalnya, dimiliki oleh Amerika Serikat yang masih menolak meratifikasi Protokol Kyoto. Mereka masih berhitung bahwa ratifikasi Protokol Kyoto dan konsensus yang mengikat untuk menekan emisi karbon pastilah akan memukul perekonomian dan pilar-pilar industri mereka. Begitu juga dengan Kanada dan Jepang yang menolak konsensus yang mengikat ihwal pengurangan emisi karbon.

Negara berkembang mendesak negara maju, sementara negara maju menuntut upaya itu juga mesti menjadi tanggungjawab negara berkembang. Kategori dan kalkulasi lagi-lagi muncul dan menjadi jurang yang membuat konsensus yang lebih bertenaga sukar untuk dicapai.

Tanpa menyadari arti penting situasi liminal yang melampaui sekat dan batas pelbagai kategori dan kalkulasi, ikhtiar untuk menyelamatkan dan memerbaiki kualitas bumi sepertinya masih akan menemui aral yang tak sepele.

« Previous PageNext Page »
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-Noncommercial-Share Alike 3.0 Unported License.
(c) 2012 nasib adalah kesunyian masing-masing | powered by WordPress with Barecity