»

Anugerah

persona — pejalanjauh @ 11:59 pm

– kepada pram….

Beberapa lembar kertas di meja belajar itu mengejutkan saya. Begini salah satu bunyi paragrafnya lengkap dengan salah ketik dan tata bahasanya:

“Penjajahan Belanda mulai dipertanyakan karena pendidikan Belanda itu sendiri. Contohnya Minke yang duduk disekolah yang dibuat oleh Belanda. Selain bisa membaca, menulis, berhitung dan berbahasa Belanda, Minke banyak membaca buku-buku diluar pelajaran dan juga koran-koran yang memberitakan kemajuan yang dialami bangsa Jepang yang juga merupakan bangsa Asia. Akhirnya Minke mulai menyadari penjajahan yang dialami bangsa Indonesia. Walau pun sadarnya Minke itu muncul pelan-pelan.”

Saya menengok ke salah satu sudut kamar. Poster launching 7 buku Pramoedya pada 2003 di Jogja yang didesain oleh Hary “Ong” Wahyu masih menempel di sana. Poster itu sudah terlihat kumal. Ada robekan kecil di ujung kiri bagian bawahnya. Sambil melihat potret Pram, dalam hati saya bilang: “Bung, di rumah ini, sudah lahir pembacamu lagi. Pembaca dari generasi yang masih dini. Adik saya, Bung. Ya, adik saya yang paling kecil!” (more…)

Kunang-kunang

cermin,persona — pejalanjauh @ 10:19 pm

– kunang-kunang tetap bercahaya walau malam makin larut….

Hiroshi Sugawara, melalui filmnya yang sederhana tapi menyentuh, “Hotaro no Hoshi”, mengisahkan seorang guru SD berusia muda, Hajime, yang mengajak murid-muridnya menangkarkan kunang-kunang yang sudah lama tak terlihat di Sungai Yamaguchi di Tokyo yang kadung gemerlap oleh pijar-pijar lampu.

Tiba-tiba saya sadar sudah teramat lama tak melihat kunang-kunang. Saya lupa kapan terakhir melihatnya, kendati –sungguh– saya tak pernah bisa lupa pendar cahayanya. Kunang-kunang pernah menjadi bagian mesra dari masa kecil yang telah lama lewat, masa silam yang sudah beranjak jauh.

Ini barangkali tak lebih dari sebentuk kerinduan yang nostalgik. Saya tahu, nostalgia adalah laku yang paradoks: ia mencoba menghadirkan kembali waktu lampau yang sebenarnya sudah menjauh dan tak mungkin kembali. Tapi, adakah yang salah dengan nostalgia?

Pada Marno dan Jane, dua tokoh dalam cerita Umar Kayam, “Seribu Kunang-kunang di Manhattan”, nostalgia sama sekali bukan barang haram. Sekujur cerita justru berisi perayaan nostalgia. Di sana, nostalgia hadir dalam pelbagai bentuknya, menyeruak di tengah kepungan pengaruh alkohol yang ditenggak Jane atau menyembul tiba-tiba saat Marno menyaksikan kelip-kelip lampu dari bangunan-bangunan menjulang kota Manhattan dari jauhan. (more…)

Tafsir

ngaji,persona — pejalanjauh @ 1:45 am

Islam menganjurkan kekerasan dan terorisme?

Seandainya Anda menemukan tagline macam itu, apa yang Anda lakukan? Kalau saya, kemungkinan akan bersikap: jika kalimat itu tanpa penjelasan dan tak lebih dari yel-yel, akan saya abaikan tak ubahnya kentut. Tapi, jika di bawah kalimat itu ada argumen yang dipaparkan, ada penjelasan yang dihamparkan –selemah atau sekuat apa pun argumen dan penjelasannya– maka saya akan membacanya dengan seksama, mempelajarinya sebaik mungkin.

Di sini, saya ingin mengajukan satu pokok diskusi, mungkin juga semacam kekhawatiran: lama-lama makin sukar mendiskusikan dengan jernih kaitan antara agama dan kekerasan.

Ya, mencoba membicarakan kaitan antara agama dan kekerasan di area publik belakangan terasa makin dibayang-bayangi oleh fobia SARA. Banyak yang mulai alergi berbicara tentang persoalan ini. Bahkan koboi-koboi di Gedung Putih sekali pun belakangan cukup sering berbicara: Stop menghubungkan antara kekerasan (katakanlah terorisme) dengan agama! (more…)

Musotte

Obituari,ngaji,persona — pejalanjauh @ 1:57 am

– bukan panglima dari segala burung rajawali jilid 2

Enam tahun lalu, saat masih duduk di semester tiga, saya pernah menulis esai berjudul “Bukan Panglima dari Segala Burung Rajawali”. Esai tadi menggambarkan upaya Musso merebut pemerintahan dan mengendalikan Indonesia sesuai dengan garis Zhdanov yang keras. Tapi Musso gagal, PKI remuk redam. Ia sendiri tewas dan –merujuk Gie– mayatnya dibakar ramai-ramai.

Naskah itu tak pernah dipublikasikan di media massa, terutama karena terlalu panjang. Rubrik Ide di Koran Tempo, saat ukurannya masih besar, dan memberi space satu halaman penuh sekira 1800 kata, juga tak memungkinkan naskah itu tayang. Saya enggan memangkasnya. Awal 2006, saya putuskan menayangkannya di blog ini. Saya selalu merasa naskah itu sebagai salah satu naskah terbaik yang pernah ditayangkan di blog ini. Tagline blog ini [nasib adalah kesunyian masing-masing] mulai sering terngiang di kepala semenjak saya menulis tragika hari-hari terakhir kehidupan Musso.

Esai Susanto Pudjomartono, eks-Dubes Indonesia untuk Russia, yang ditayangkan majalah Tempo minggu ini, membuat saya kembali membuka naskah lama itu. Tulisan Susanto, yang menggunakan bahan-bahan primer dari arsip Russia, meneguhkan apa yang saya tulis sebelumnya: semua rencana Musso pada 1948 itu memang tak bisa dipisahkan dari visi komintern yang bermarkas di Moskow. (more…)

Uken

Obituari,persona — pejalanjauh @ 7:09 pm

– hari guru: karena kita semua punya guru dan pernah berguru

Namanya Uken Sukendar. Bersamanya saya melewati masa kecil. Dengannya saya menyelesaikan jenjang Sekolah Dasar. Olehnya saya diantar ke muka gerbang masa remaja yang berwarna.

Sayangnya, ia tak pernah melihat saya mengenakan seragam putih biru anak SMP.

Di hari terakhir saya mengenakan seragam merah putih anak SD, momen di mana saya akan menerima STTB, ia justru kedapatan tewas di mobil yang ia kendarai dalam sebuah kecelakaan tragis, teramat tragis, yang membuat darah tetap menetes dari kepalanya yang luka. Hingga detik-detik terakhir saya melihat jenazahnya sebelum dikebumikan, darah itu masih menetes, terus menetes, membasahi –tepatnya memerahi– kafannya, sehingga putih kafan di sekitar kepalanya jadi bersemu merah. (more…)

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-Noncommercial-Share Alike 3.0 Unported License.
(c) 2010 nasib adalah kesunyian masing-masing | powered by WordPress with Barecity