»

104

– kematian yang datang (tak) tepat waktu

Setelah melewati tahun-tahun terakhir kehidupan dengan sikap cerewet yang tak kenal ampun, nenek akhirnya meninggal dengan senyum penuh kedamaian. Senyum terakhir di bibirnya terlihat serupa kemesraan seseorang yang sedang menyambut kedatangan sesuatu yang sudah ditunggunya begitu lama, sangat lama.

Kematian itu datang pada satu siang yang panas sampai-sampai nenek minta agar kipas angin tua yang ada di gudang dikeluarkan kembali untuk mengipasi tubuhnya yang basah oleh keringat. Aku mengambilnya dengan tergesa dan terpaksa harus melemparkan sejumlah kardus dan barang pecah belah yang menindih kipas angin tua yang teronggok di pojok. Saat kembali ke ruang keluarga tempat nenek dibaringkan di ranjang kematiannya, aku melihat ayah, ibu, beberapa paman dan bibiku makin rapat saja merubungi nenek. Aku merasa sesak melihatnya. Ada bayangan pekat yang membuat pemandangan itu mengingatkanku pada burung-burung gagak yang sedang menunggu ajal mahluk yang dengan tak sabar hendak dimangsanya.

Saat hendak menghidupkan kipas angin tua itu, sehembus angin datang dari arah pintu samping rumah yang terbuka. Suhu ruangan lalu melandai secara perlahan, ruangan terasa lebih lebih sejuk. Lalu nenek meminta anak-anak dan menantunya untuk menjauh sedikit agar ia bisa melihat ke arah pintu samping yang kini sudah terbuka. Angin sepoi-sepoi itu berhembus sehingga beberapa helai rambut nenek yang putih sempurna itu mengambang di sentuh angin siang hari. Keringat yang tadi sempat membasah di tubuhnya mengering, tapi mungkin usianya juga sudah sampai di ujungnya.

Semua orang terdiam saat nenek mengeluarkan cegukan yang terakhir. Ia terlihat tersenyum, lalu diam untuk selamanya. Akhir yang sudah ditunggu-tunggu sepanjang 104 tahun itu pun akhirnya datang.

(more…)

Kereta

Obituari — Tags: , , , , — admin @ 2:01 pm

– mengenang korban tabrakan argo anggrek dan senja utama

Sajak “Dalam Kereta” jelas amat jarang dikenal orang, kalah jauh terkenal dari sajak “Aku”, “Krawang-Bekasi”, atau “Senja di Pelabuhan Kecil”.

Sajak ini termuat dalam antologi sajak Chairil yang berjudul “Kereta Api Penghabisan”. Anda mungkin baru mendengar antologi itu. Jangan khawatir, bukan hanya Anda saja yang baru mendengar. Entah siapa orang yang masih punya cetakan antologi itu. Kabarnya, antologi itu hilang di rimba yang entah.

Nah, sajak “Dalam Kereta” adalah satu-satunya sajak yang “terselamatkan” dari antologi “Kereta Api Penghabisan” – yang kehilangannya oleh Saut Situmorang disebut sebagai “moksa puitis”.

(more…)

Socrates

Obituari,biografi — pejalanjauh @ 7:02 am

– salah satu cara “termegah” menghadapi kematian

Plato menulis ulang dialog antara Socrates dengan beberapa sahabat dan muridnya di detik-detik terakhir menjelang kematiannya. Naskah yang diperkirakan ditulis 20 tahun usai kematian Socrates itulah yang dikenal dengan naskah Faedo.

Berikut saya ketik ulang bagian-bagian terakhir dari naskah Faedo yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, sebagaimana saya membacanya dari buku Sokrates dalam Tetralogi Plato yang disusun oleh Ioanes Rakhmat.

——————

Nah, Krito, marilah kita mematuhinya, dan hendaklah seseorang membawa racun yang harus kuminum, jika racun itu sudah disiapkan; tetapi jika belum, mintalah orang itu menyiapkannya.”

Dan Krito berkata: “Tetapi Sokrates, aku pikir matahari masih ada di puncak bebukitan itu dan belum tenggelam. Aku juga tahu bahwa orang lain meminumnya sangat telat, lama setelah perintah datang kepada mereka, dan bahkan, untuk beberapa orang, setelah mereka berhubungan seks dengan siapa pun yang mereka inginkan. Jadi, jangan cepat-cepat, masih ada waktu untuk digunakan.”

(more…)

Rendra

Obituari,biografi — pejalanjauh @ 1:36 am

– di antara pen-Tidak-an dan peng-Iya-an

Bagi Rendra, hidup adalah perjuangan dan dalam kasus Indonesia, setiap perjuangan –apa pun perjuangannya– pastilah punya kadar sebagai perjuangan politik.

Yang menonjol dari jelujur riwayat kehidupan Rendra adalah kenyataan betapa ia hidup dalam lingkungan yang nyaris selalu berkata “tidak” kepadanya. Hidup Rendra –sedari kecilnya– diabadikan untuk berjuang mencoba mengubah “pen-Tidak-an” itu agar menjadi “peng-Iya-an”, paling tidak permakluman.

Rendra kecil hidup dan dibesarkan di tengah keluarga yang keras. Ayahnya (Raden Cyprianus Sugeng Brotoatmodjo) adalah sumber pertama perjuangannya. Sang Ayah inilah yang dianggapnya kerap menjegal kegairahan yang terus membesar Rendra pada fantasi dan imajinasi dengan terus menerus mendesakkan kaidah-kaidah kehidupan yang rasional, ilmiah juga taat asas. Ayahnya pula yang bahkan meminta pihak sekolah untuk men-skors Rendra yang urakan dan sukar diatur.

Sajak “Suto Mencari Bapak”, salah satu sajaknya yang terpanjang, adalah bukti otentik perjuangan Rendra dalam menghadapi “pen-Tidak-an” yang diterimanya dari sang bapak. Rendra, kepada Romo Mudji Sutrisno, memang akhirnya membeberkan tafsirnya sendiri atas sajak itu di mana –kata Rendra– “bapak di situ bisa ditafsirkan sebagai Tuhan…”

(more…)

OD

Obituari,biografi — pejalanjauh @ 5:41 pm

Wafatnya Omar Dhani pada 24 Juli kemarin membuat saya ingat banyak hal. Tapi, dari semua ingatan itu, saya memilih untuk menghadir-ulangkan apa-apa yang ditulis dan ditafsirkan oleh Daniel Dhakidae tentang vonis hukuman mati yang pernah diterima Omar Dhani.

Dengan cara yang plastis sekaligus jenial, Daniel Dhakidae menafsirkan vonis hukuman mati Omar Dhani sebagai sebuah simptom di mana agama, kekuasan dan negara bersekutu dengan cara yang khas, unik dan juga halus.

Saya ketik ulang uraian Daniel Dhakidae itu seperti yang dituliskannya pada halaman 544-546 dari buku Cendekiawan dan Kekuasaan dalam Negara Orde Baru:

——————-

Dengan begitu gabungan tiga hal di sini menjadi tak terelakkan; agama, kekuasaan (politik), dan negara, sehingga setiap konsep kekuasaan adalah negara, dan setiap konsep negara dalam bentuknya yang paling absolut adalah agama. Ketika konsep kekuasaan mencapai tingkat paling tinggi, absolut, maka penyatuannya dengan agama tinggal selangkah lagi, untuk mengatakan bahwa agama berubah rupa menjadi politik, politik menjadi agama, dan ilmu politik menjadi teologi, dan teologi menjadi ilmu politik.

Hukuman mati dan pelaksanaan hukuman mati adalah contoh paling ekstrem untuk bidang kekuasaan yang paling absolut itu. Dalam sejarah Indonesia contoh seperti itu bertaburan. Salah satu contoh paling dramatik adalah Omar Dhani, bukan karena dia sudah dihukum mati namun, justru karena tidak, ketika ditunda dan dihapus hukuman mati itu.

(more…)

Musotte

Obituari,ngaji,persona — pejalanjauh @ 1:57 am

– bukan panglima dari segala burung rajawali jilid 2

Enam tahun lalu, saat masih duduk di semester tiga, saya pernah menulis esai berjudul “Bukan Panglima dari Segala Burung Rajawali”. Esai tadi menggambarkan upaya Musso merebut pemerintahan dan mengendalikan Indonesia sesuai dengan garis Zhdanov yang keras. Tapi Musso gagal, PKI remuk redam. Ia sendiri tewas dan –merujuk Gie– mayatnya dibakar ramai-ramai.

Naskah itu tak pernah dipublikasikan di media massa, terutama karena terlalu panjang. Rubrik Ide di Koran Tempo, saat ukurannya masih besar, dan memberi space satu halaman penuh sekira 1800 kata, juga tak memungkinkan naskah itu tayang. Saya enggan memangkasnya. Awal 2006, saya putuskan menayangkannya di blog ini. Saya selalu merasa naskah itu sebagai salah satu naskah terbaik yang pernah ditayangkan di blog ini. Tagline blog ini [nasib adalah kesunyian masing-masing] mulai sering terngiang di kepala semenjak saya menulis tragika hari-hari terakhir kehidupan Musso.

Esai Susanto Pudjomartono, eks-Dubes Indonesia untuk Russia, yang ditayangkan majalah Tempo minggu ini, membuat saya kembali membuka naskah lama itu. Tulisan Susanto, yang menggunakan bahan-bahan primer dari arsip Russia, meneguhkan apa yang saya tulis sebelumnya: semua rencana Musso pada 1948 itu memang tak bisa dipisahkan dari visi komintern yang bermarkas di Moskow. (more…)

Slauerhoff

Obituari — pejalanjauh @ 2:20 am

Jika kuli pelabuhan menyandang beban “dari kapal ke daratan”, penyair menyandang beban “dari sunyi ke bebunyian”.

Jacob Slauerhoff menuliskannya dalam sajak berjudul “Dwangarbeiders”. Uniknya, hidup Slauerhoff sendiri seperti pembalikan total atas apa yang dituliskannya itu. Hidupnya bukan proses pemindahan beban “dari kapal ke daratan” dan “dari sunyi ke bebunyian”, tapi justru membawa beban “dari daratan ke lautan” dan menghayati “bunyi menuju kesunyian”.

Selepas menuntaskan studi kedokterannya di Amsterdam, ia memutuskan menjadi dokter, tepatnya seorang dokter kapal. Sebegitu dalam dan kuat kehidupan di atas kapal ini merengkuhnya, sampai-sampai ia hanya sesekali saja menetap di daratan, itu pun hanya dalam tempo yang tak lama. Segera ia kembali berlayar, terus begitu, sampai waktu penghabisan itu –ajal yang tak bisa ditenggang—akhirnya datang. (more…)

Uken

Obituari,persona — pejalanjauh @ 7:09 pm

– hari guru: karena kita semua punya guru dan pernah berguru

Namanya Uken Sukendar. Bersamanya saya melewati masa kecil. Dengannya saya menyelesaikan jenjang Sekolah Dasar. Olehnya saya diantar ke muka gerbang masa remaja yang berwarna.

Sayangnya, ia tak pernah melihat saya mengenakan seragam putih biru anak SMP.

Di hari terakhir saya mengenakan seragam merah putih anak SD, momen di mana saya akan menerima STTB, ia justru kedapatan tewas di mobil yang ia kendarai dalam sebuah kecelakaan tragis, teramat tragis, yang membuat darah tetap menetes dari kepalanya yang luka. Hingga detik-detik terakhir saya melihat jenazahnya sebelum dikebumikan, darah itu masih menetes, terus menetes, membasahi –tepatnya memerahi– kafannya, sehingga putih kafan di sekitar kepalanya jadi bersemu merah. (more…)

Masa Silam yang Mengeram jadi Dendam

Obituari — pejalanjauh @ 1:07 pm

Sobron Aidit adalah anak Belitung yang selalu ingin pulang ke Belitung.

Kita tahu, Sobron mendiang pada Sabtu pagi (10/2) yang tenang di Paris, kota yang ia tinggali sejak 1980. Dua belas tahun setelah kedatangannya, pada 1992, Sobron menulis sajak berjudul “Parisien”, sajak yang seakan menjadi altar tempat ia merayakan kekagumannya pada Paris, kotanya yang baru, rumahnya yang entah keberapa buatnya.

Pada pasase terakhir sajaknya, Sobron menulis: Paris/ mengalir aku di urat-darahmu/ bersarang aku di jantungmu.

“Parisien”, kata yang Sobron pacak sebagai judul sajaknya, adalah kata ganti untuk orang-orang Paris, mereka yang mendiami Paris. Tapi “Parisien” tak sesederhana itu karena ia juga merujuk pada orang-orang yang tak sekadar berdiam di Paris, tapi juga mengenal betul Paris, hapal bau amisnya, akrab dengan aromanya yang sensual, mengerti setiap denyutnya, sekaligus menyatu betul dengan semua kekhasannya.

Parisien adalah sebutan untuk orang yang dalam sejumlah hal mencerminkan gaya hidup Paris, seperti Dubliner untuk orang-orang Dublin yang senang menghabiskan waktu senggang dengan bercakap di bar sembari menenggak bir sampai oleng, atau New Yorker untuk orang New York yang kosmopolit dan selalu berjalan tergesa bertarung dengan waktu yang mesti ditundukkan atau Bataviase bagi orang-orang (asing di) Batavia yang hidup dengan kesantunan yang menjengkelkan khas orang Eropa zaman Victorian yang penuh basa-basi, yang keukeuh mengenakan pantalon di tengah serbuan hawa panas Batavia yang menyengat.

Mexico City, ibu kota Mexico yang menjadi salah satu kota terpengap di kolong jagat, punya istilahnya sendiri bagi orang-orang yang tinggal di sana sekaligus mengakrabi dan selalu terus ingin mengenal segala renik perubahan yang mungkin sedang mengintai kotanya: “Citambulos”. Di Mexico City, kata itu berarti “Orang-orang yang selalu senang mengelilingi Mexico City dengan berjalan kaki untuk mengenal setiap sudut kota.”

Sobron, seperti yang ia bilang di pasase terakhir sajak Parisien, mendaku betapa dirinya sudah melekat betul dengan Paris, sampai-sampai ia yakin benar kalau dirinya sudah mengalir “di urat-urat” dan “jantung” Paris.

Masalahnya, benarkah Paris juga sudah mengalir “di urat-urat” Sobron? Sudahkah Paris bersarang di jantung Sobron?

Saya tak tahu persis. Tapi siapapun yang sering membaca tulisan-tulisan Sobron, entah itu puisi, esai, artikel atau sekadar catatan-catatan ringan, yang di warsa-warsa belakangan mudah dijumpai di sejumlah milis, mudah tergoda untuk menjawab: Ah, Paris tak pernah mengisi sepenuhnya urat-urat Sobron, Paris tak pernah memenuhi jantung Sobron….

Urat-urat dan jantung Sobron lebih banyak disesaki oleh kenangan pada Belitung dan Indonesia, kampung kelahiran dan negeri asal.Sobron, seperti yang juga tampak dari semua orang Indonesia karena menjadi eksil menyusul kasus G-30-S, amat sering berbicara tentang negeri asalnya. Ia begitu kuat ingatan dalam mengisahkan ulang sejumlah hal sepele yang pernah ia alami di Indonesia, sesemangat ketika ia mengomentari perkara-perkara yang mencuat di Indonesia, selantang ketika ia berbicara tentang dosa-dosa hitam Soeharto dan Orde Baru.

Masa lalu dan kenangan yang mengawetkanya seperti menjadi sumber ilham yang tak pernah habis digosok, tapi tampak juga sekaligus sebagai beban.

“Setelah dua pekan bermalam di emperan Sungai Rein/ kembali pulang ke kampung halaman Sungai Seine/ hati ini melonjak rindu dan kangen/ setelah mendekapkan perasaan sekitar sembilan lilindi Almere, Holland./ Tapi aku tetap saja ada di busur-lengkung/ garis-garis tata-letak kampungku di Belitung.”

Sajak di atas, berjudul “Pulang”, yang ditulis pada Juni 2005, dengan amat baik menggambarkan bagaimana posisi Paris di Prancis atau Alemere di Belanda di hadapan Belitung di Indonesia. Tapi lebih dari sekadar itu, sajak Pulang juga menyiratkan sejumput kejengkelan, mungkin seperti sebonggol frustasi. “Aku itu sudah berpuluh tahun di luar negeri, tapi (kenapa ingatan) aku tetap saja menancap di Belitung?” begitu kira-kira pesan utama sajak itu.

Bayangan masa silam itu bahkan tetap dibawanya ke nirwana. Wasiat ia berikan pada sanak keluarga yang ia tinggalkan adalah agar jenazahnya dikremasi, dan abunya ditabur di Beijing (tempat mendiang istrinya wafat) dan di Belitung (tanah kelahiran). Paris seperti tak berbekas, penaka bukan kota yang ia pernah dengan amat tegas bersaksi kalau dirinya sudah benar-benar larut dalam otot dan jantungnya.

Puisi-puisi yang ditulisnya, catatan-catatan yang berisi kenangan, atau pernyataan-pernyataan politiknya yang tak pernah absen menghardik Soeharto dan Orde Baru dan (nyaris) semua tulisan yang dengan rajin dan rutin yang dikirimnya ke milis-milis, merupakan penegasannya yang paling otentik akan kerinduannya pada Belitung.

Harus diakui, Sobron adalah anggota milis yang aktif, teramat aktif malah untuk ukuran lelaki setua dia, yang tiap hari harus pergi ke warnet untuk mengirim dan membalas imel-imel. Seperti kesaksian yang diberikan anaknya, sebelum meninggal Sobron jatuh di sebuah stasiun bawah tanah ketika hendak pergi ke warnet, untuk apa lagi selain menyambangi milis-milis yang ia ikuti, dan kemudian ia hujani kembali dengan puisi dan tulisan-tulisannya.

Saya membayangkan, desau angin yang sensual kota Paris atau hiruk pikuk kesibukannya di restoran Indonesia, pasti langsung lenyap tiap kali ia duduk mencangkung di depan monitor warnet. Jika sajak Parisien seperti menjadi altar tempat ia merayakan kekagumannya pada Paris, maka warnet penaka altar tempat ia justru menegaskan betapa Paris tak pernah merasuki urat dan jantungnya.

Sobron adalah anak Belitung yang selalu ingin pulang ke Belitung. Sobron bukan seorang Parisien, karena itulah ia tak ingin abu jenazahnya ditaburkan di Paris.

Tapi dari sanalah, dari puisi-puisi yang lahir dari tangan Sobron, kita juga melihat betapa status sebagai eksil ternyata tak pernah melahirkan puisi-puisi eksil, yang tertinggal tak lebih sekadar gambaran situasi eksil.

Puisi-puisi Sobron, seperti juga puisi-puisi orang-orang eksil yang lain, seperti yang bisa kita baca dalam antologi “Di Negeri Orang: Puisi Penyair Indonesia” (2002), terlalu sarat dengan klise-klise politik, gerutuan orang-orang yang dizalimi (betapa pun itu memang faktual). Puisi seperti lahir untuk mementaskan kekecewaan, kemarahan, keluhan dan kejengkelan. Bukan kekecewaan atau kejengkelan itu yang pokok, tetapi kekecewaan dan kejengkelan yang membuat puisi-puisi itu menjadi beku dan klise itu yang jadi soal.

Di tangan Sobron, puisi seperti menjadi hal sekunder, karena yang primer adalah situasi eksil dan segala macam penyebabnya yang degil dan rudin itu. Diksi yang ranum, metafora yang kaya, pengucapan yang segar atau bunyi yang berirama seperti menjadi hal yang langka.

Kita harus mafhum pada kemungkinan betapa mereka mungkin tak terlalu peduli dengan tetek bengek teknik berpuisi yang membikin pusing para penyair pemula di negeri ini. Tapi kita patut heran kenapa kebebasan yang begitu besar di tanah asing. Limpahan pustaka yang menggunung, perjumpaan dengan khasanah kebudayaan dan realitas baru, tak membuat para sastrawan eksil(?) itu bisa melahirkan karya, minimal yang tidak klise-lah?

Amat jarang kita jumpai puisi para penyair eksil itu menyatakan rasa frustasinya seindah Agam Wispi dalam sajak “Pulang”-nya yang legendaris itu: “Puisi, hanya kaulah lagi tempatku pulang/puisi, hanya kaulah lagi pacarku lerbang….”

Sajak “Pulang vers Agam Wispi memaparkan kepedihan, kekecewaan, k

emarahan, dan rasa rindu untuk pulang ke tanah air yang berujung pada frutasi yang menahun, yang membuat Agam Wispi akhirnya “menyerah” dan memilih untuk menjadikan puisi sebagai satu-satunya tempat ia pulang. Kepedihan, kekecewaan dan kemarahan seperti sudah ditransendensi sedemikian rupa dalam samudera kesadaran penyairnya.

Frase macam Agam Wispi di atas, yang punya potensi menjadi frase yang melegenda dan melintasi zaman, amat sukar kita jumpai dalam puisi-puisi Sobron dan yang lain. Bukankah kepedihan dan penghinaan atau rindu yang membubung pada tanah kelahiran tak harus selalu disuarkan melalui “pamflet” yang mengambil bentuk (serupa) sajak?

Di tangan Sobron, puisi menderu-deru seperti berburu dengan waktu, seakan mengejar sehimpun deadline, seperti terikat-erat dengan sejumlah target-target yang sama sekali tak ada urusannya dengan puitika. Pengalaman batin yang nyaris sama dengan Agam Wispi, di tangan Sobron, (hanya) menjadi “Lalu kini apakah bisa kita katakan/ api kebakaran lama dulu itu sudah mau padam?/ …sedang mereka (baca: eks rezim Orde Baru) terus membangun istana-istana baru/ di atas pekuburan kita/ di atas pekuburan para keluarga dan teman-teman kita (“Daftar Ingatan”, 1998).

Sobron barangkali sedang membayangkan bahwa semua yang ditulisnya adalah peringatan bahwa ada yang keliru dari masa silam yang belum sepenuhnya diperiksa. Sobron, tampaknya, seperti khawatir masa silam yang hitam itu akan segera dilupakan. Sobron tak ingin itu kejadian. Seperti yang terpantul dalam puisi-puisinya yang seperti meriam itu, ia bahkan seperti tak sabar menyaksikan bagaimana masa silam yang membuatnya naas itu untuk sesegara mungkin diperiksa. Seperti ada dendam berkarat yang belum sepenuhnya lunas.

Asahan Aidit, adik Sobron sendiri, dalam obituari kakaknya, yang saya baca dari salah sebiji milis yang saya ikuti, juga menegaskan itu. Dendam, tulis Asahan, “adalah jiwa tulisan Sobron”.

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-Noncommercial-Share Alike 3.0 Unported License.
(c) 2010 nasib adalah kesunyian masing-masing | powered by WordPress with Barecity