Majapahit, imperium yang mewariskan Negarakrtagama dan Sutasoma, sudah lama lewat, tapi ia tak pernah benar-benar minggat. Lewat Muhammad Yamin, (tilas) Majapahit hadir kembali dengan jalan sedikit memutar, tapi justru tepat pada fase genting persiapan kelahiran jabang bayi republik ini.
Saat sedang merenung-renung di tengah sidang BPUPKI, Yamin mengucapkan satu parafrase yang diambil dari Kakawin Sutasoma, yang ia ucapkan hanya untuk dirinya sendiri, semacam gumaman lirih: “Bhineka tunggal ika…” Tak disangka, seorang dari Bali dengan penampilan bak pandita yang duduk di sebelahnya menyahut. “Tan hana dharma mangrwa,” katanya.
Saya tidak tahu persis siapa orang yang menyahut gumaman Yamin (ada yang bilang I Gusti Bagus Sugriwa, cendekiawan serba bisa dari Bali). Tapi, cukup jelas, fragmen kecil itu menjadi bagian tak terpisahkan dari digunakannya frase “Bhineka tunggal ika” sebagai sesanti atau semboyan Republik ini.
Frase “Bhineka tunggal ika” sendiri diunduh dari bait kelima metrum ke-139 Kakawin Sutasoma karya Rakawi Prapanca yang bunyinya: …Jinatwa kalawan Siwatatwa tunggal bhinneka tunggal ika tan hana dharma mangrwa. Kurang lebih ia menjelaskan bahwa antara (agama) Buddha dan Syiwa itu berbeda tapi tetap satu karena memang tidak ada darma yang mendua. (more…)
– mengenang komidi putar yang makin langka….
1 Suro dihayati sebagian orang Jawa dengan menggelar tradisi tua yang sudah dipraktikkan di banyak kebudayaan dan peradaban: mengelilingi Kraton (mubeng beteng) dengan mulut terkunci (tapa mbisu).
Di Jogja, para peserta ritus mengelilingi beteng (benteng atau tembok) Kraton Yogyarta dari alun-alun utara, dilanjutkan ke barat lewat Kauman, lantas bergerak ke selatan hingga Pojok Beteng Kulon, lalu berbelok ke timur hingga Pojok Beteng Wetan, diteruskan berbelok ke utara hingga ke pertigaan Jl. Ibu Ruswo dan terakhir berbelok ke barat kembali menuju alun-alun utara.
Gerak melawan arah jarum jam ini, jika merunut cara mengelilingi candi-candi peninggalan Hindu-Buddha di tlatah Jawa, disebut “pradaksiwa”. (more…)
– what’s in a name? that which we call a rose
Pada setiap nama, otoritas eksternal sebenarnya sedang memamerkan ujudnya.
Ada kutipan bagus dari James Joyce, novelis Irlandia yang terkenal karena karya besarnya, “Ullyses”. Dalam sepucuk surat yang ditulis pada 18 September 1905, Joyce berkata pada saudaranya, Stanislaus: “Kupikir, setiap anak berhak untuk menggunakan nama ayah atau ibunya jika ia kelak sudah dewasa.”
Joyce bukan orang yang memuja komunalisme dan nilai-nilai luhur keluarga. Novel semi-autobiografisnya, “A Portrait of the Artist as a Young Man”, menunjukkan betapa Joyce berusaha membebaskan diri bukan hanya dari standar moral keluarga, tapi bahkan dari nilai-nilai Kristen, serta keharusan berbakti pada negara. Kutipan Joyce di atas justru mencoba menegaskan kerinduannya pada kebebasan individual, termasuk kebebasan untuk menggunakan nama yang diinginkan setiap orang, apakah itu nama ayah atau ibunya atau apa pun.
Setiap bayi yang baru lahir, tak pernah bisa bicara, karenanya cukup banyak alasan memilihkan si bayi nama yang sekiranya paling baik tanpa harus dan perlu berembuk lebih dulu dengan si bayi. Di situ, nama menjadi penegasan, betapa setiap bayi sebenarnya tak sendiri. Dalam ketidaksendiriannya itulah, setiap nama justru menjadi peneguhan, betapa banyak sekali otoritas di luar dirinya yang sedang mulai merasuk-mendalam. (more…)
Buku “Dutch Culture Overseas” karya Dr. Frances Gouda menarik untuk dicermati karena ia mencoba menguraikan bagaimana persepsi kolonial dan orang-orang Belanda tentang Hindia Belanda dan penduduknya, berikut segala macam sikap hangat, rasa hormat, sinisme, hingga rasisme.
Dari semua bab di buku ini, bab 4 menjadi bagian paling menarik. Di bagian ini Dr. Gouda memaparkan bagaimana orang-orang Belanda (sekaligus juga orang Eropa) membangun pemahaman ihwal siapa sebenarnya “orang-orang pribumi”. Secara ringkas, bab sepanjang 75 halaman ini menguraikan bagaimana prasangka rasial terhadap orang-orang pribumi dibangun. Dengan menelusuri artikel-artikel, catatan perjalan, guntingan berita, catatan harian, surat-surat dan novel-novel, penulisnya mencoba memaparkan betapa “rendahnya” orang-orang pribumi di mata orang-orang Eropa kala itu.
Bab ini menarik secara intelektual karena penulisnya mengkonfirmasi kutipan-kutipan yang digunakan dengan teori-teori evolusi, dari Darwin, Ernest Haeckal, Herbert Spencer, hingga Lamarck. Tapi bab ini juga lumayan menjengkelkan karena dipenuhi kutipan yang menceminkan “rasialisme” Eropa yang memirip-miripkan penduduk Hindia Belanda dengan kera. (more…)
Islam menganjurkan kekerasan dan terorisme?
Seandainya Anda menemukan tagline macam itu, apa yang Anda lakukan? Kalau saya, kemungkinan akan bersikap: jika kalimat itu tanpa penjelasan dan tak lebih dari yel-yel, akan saya abaikan tak ubahnya kentut. Tapi, jika di bawah kalimat itu ada argumen yang dipaparkan, ada penjelasan yang dihamparkan –selemah atau sekuat apa pun argumen dan penjelasannya– maka saya akan membacanya dengan seksama, mempelajarinya sebaik mungkin.
Di sini, saya ingin mengajukan satu pokok diskusi, mungkin juga semacam kekhawatiran: lama-lama makin sukar mendiskusikan dengan jernih kaitan antara agama dan kekerasan.
Ya, mencoba membicarakan kaitan antara agama dan kekerasan di area publik belakangan terasa makin dibayang-bayangi oleh fobia SARA. Banyak yang mulai alergi berbicara tentang persoalan ini. Bahkan koboi-koboi di Gedung Putih sekali pun belakangan cukup sering berbicara: Stop menghubungkan antara kekerasan (katakanlah terorisme) dengan agama! (more…)
– yahudi yang maskulin dan tuhan yang doyan perang
Sukar dibayangkan, tapi beginilah Karen Armstrong membayangkan tuhan-tuhan pagan: “Paganisme pada dasarnya merupakan keyakinan yang toleran: kultus-kultus lama tidak merasa terancam oleh kedatangan tuhan-tuhan baru, selalu ada ruang bagi tuhan-tuhan lain di kuil untuk berbagi tempat di altar dan duduk berjejer berbagi sesembahan tradisional.”
Saya membayangkan tuhan-tuhan sedang prasmanan sesajen. Sambil omong-omong ngalor ngidul, kongkow-kongkow dan menghisap cerutu. Semacam kopdar tuhan, barangkali. Kopdar blogger dijamin gak ada apa-apanya, kalah seru
Tapi, Y-H-W-H datang “merusak kopdar-kopdar tuhan” itu.
Jika Anda membaca kembali bab 1 dan 2 buku indah Sejarah Tuhan, akan banyak sekali ditemukan paragraf yang menggambarkan bagaimana Y-H-W-H berusaha sekerasnya untuk mengalahkan tuhan-tuhan yang “demen prasmanan sajen itu”. Berkali-kali, orang-orang Yahudi ingkar kesetiaan untuk berpaling kembali kepada dewa-dewa pagan orang Kana’an dan saat itu pula Y-H-W-H muncul kembali melalui serangkaian epifani kepada para nabi yang lantas diutus untuk mengingatkan agar orang Yahudi kembali menyembah Y-H-W-H. (more…)
– the could-not-be-named
Orang ateis, pernah Pram berkata, justru adalah orang yang paling banyak memikirkan Tuhan. Tapi, amat bisa jadi, justru karena terlalu banyak memikirkan Tuhan maka seseorang dimungkinkan jadi ateis.
Pada satu waktu yang sudah lama lewat, di minggu-minggu pertama menjadi mahasiswa, saya mengikuti dua hari dua malam kelas teologi di Kaliurang. Seorang mentor mengajukan pertanyaan yang membuat mahasiswa-mahasiswa yang masih ingusan ini pening bukan kepalang: “Bisakah Tuhan menciptakan sesuatu yang lebih besar dari-Nya sendiri?”
Apa pun jawaban dari pertanyaan itu, semua akan bermuara pada satu kesimpulan: Tuhan tidak Maha Berkuasa. Jika Tuhan mampu membuat sesuatu yang lebih besar dari-Nya, ia bukan lagi Yang Maha Besar. Tapi jika Ia tak mampu melakukannya, Ia –dengan demikian– bukan pula Yang Maha Kuasa Yang Bisa Melakukan Apa Saja.
Pendeknya, itu pertanyaan yang “menjebak”. Tapi, “menjebak” untuk siapa? Mungkinkah Tuhan bisa dijebak? Tidakkah jebakan itu hanya berlaku pada konsep dan pemikiran manusia mengenai “Tuhan”, bukan Tuhan [tanpa tanda petik] itu sendiri?
Seorang teman yang menghabiskan masa mudanya dengan belajar teologi menjelaskan apa yang sudah ia dapatkan selama belajar dalam satu kalimat yang ringkas sekaligus metaforik: belajar teologi adalah mengejar yang tak terkejar, mencari yang tak pernah sepenuhnya diketahui, dan menyingkap apa yang sebenarnya tak tersingkap. (more…)
– bukan panglima dari segala burung rajawali jilid 2
Enam tahun lalu, saat masih duduk di semester tiga, saya pernah menulis esai berjudul “Bukan Panglima dari Segala Burung Rajawali”. Esai tadi menggambarkan upaya Musso merebut pemerintahan dan mengendalikan Indonesia sesuai dengan garis Zhdanov yang keras. Tapi Musso gagal, PKI remuk redam. Ia sendiri tewas dan –merujuk Gie– mayatnya dibakar ramai-ramai.
Naskah itu tak pernah dipublikasikan di media massa, terutama karena terlalu panjang. Rubrik Ide di Koran Tempo, saat ukurannya masih besar, dan memberi space satu halaman penuh sekira 1800 kata, juga tak memungkinkan naskah itu tayang. Saya enggan memangkasnya. Awal 2006, saya putuskan menayangkannya di blog ini. Saya selalu merasa naskah itu sebagai salah satu naskah terbaik yang pernah ditayangkan di blog ini. Tagline blog ini [nasib adalah kesunyian masing-masing] mulai sering terngiang di kepala semenjak saya menulis tragika hari-hari terakhir kehidupan Musso.
Esai Susanto Pudjomartono, eks-Dubes Indonesia untuk Russia, yang ditayangkan majalah Tempo minggu ini, membuat saya kembali membuka naskah lama itu. Tulisan Susanto, yang menggunakan bahan-bahan primer dari arsip Russia, meneguhkan apa yang saya tulis sebelumnya: semua rencana Musso pada 1948 itu memang tak bisa dipisahkan dari visi komintern yang bermarkas di Moskow. (more…)
– karena kita semua punya ibu!
Jika dulu ibu adalah mata air nilai-nilai, kini pasar sedang mencoba mengambil alih semuanya dan memastikan dirinya sebagai ibu dari semua nilai. Sedihnya, anak-anak menimba air susu dari ibunya yang baru ini!
Ibu-ibu kelas menengah di perkotaan menjadi titik sentral dalam mutasi sosial ini. Mereka, perlahan tapi pasti, ditarik ke dalam pusaran baru ini: konsumerisme sebagai ideologinya dan mall serta televisi sebagai biara persembahyangannya.
Dulu, semua makanan dan minuman yang melewati kerongkongan anak-anak pasti mendapat sentuhan ibunya. Anak-anak sarapan dengan makanan buatan ibunya, menyesap air susu langsung dari puting ibunya. Kini, semua hal sepele tapi amatlah mendasar itu perlahan-lahan digantikan oleh pasar. Makanan cepat saji dan susu kaleng meresap pelan-pelan ke dalam setiap pori-pori anak-anak.
Sedihnya, ibu di situ menjadi distributor dari pasar dengan anak-anaknya sendiri yang menjadi konsumennya. Dalam taraf yang paling menyedihkan, ibu kini bisa jadi adalah sales terbaik dari ideologi konsumerisme. Dari tangan dialah dan atas pilihannya sajalah barang-barang dari mall masuk ke ruang keluarga, kamar tidur dan dapur. (more…)
– tulislah sajak cinta di gardu pos kamling
Cinta bisa dinyatakan di toilet terminal, bokong truk, grafiti di tembok kota atau sprei sebuah ranjang penginapan murah. Sebuah bait dari kitab agung Sutasoma menghadirkan kemungkinan yang mengejutkan –biarlah saya mengutip (terjemahan)nya di sini barang sebentar:
“Satu waktu sang permaisuri sedang makan angin dalam sebuah mahanten (pondok kecil di taman sari). Di sana ia menyalin sebuah kakawin yang ditinggal seorang penyair yang sedang dilanda asmara. Ketika Sang Raja mengetahui sang istri menembangkan kakawin itu, meluaplah rasa curiga dan sedihnya; pasti ada seorang kekasih yang mengirimkan sajak-sajaknya lewat bunga pudak (sejenis pandan). Tetapi Dewi Marmawati menegaskan bahwa ia hanya menyalin kakawin itu…”
Selanjutnya, dikisahkan Mpu Tantular, Raja tersebut pergi ke mahanten yang disebutkan permaisuri, sayangnya kakawin yang dibaca istrinya telah terhapus oleh air yang menetes dari teratak. Rupanya, ada seorang pangeran, muda lagi nakal, yang terbakar oleh nafsu asmara kepada permaisuri sehingga ia terus menerus mengirimkan sajak-sajak asmara, biarpun cintanya itu ditolak. Amarah Raja tak tertahankan sehingga ia mengirimkan pangeran muda tadi ke medan pertempuran untuk seterusnya tak pernah kembali. (more…)