– jambul dan hal-hal yang belum selesai
1. Fashion berhutang banyak pada dunia satwa. Pasokan kulit buaya, kulit harimau, dll., hanyalah sumbangan kecil satwa pada fashion. Organ tubuh satwa juga terbukti bisa jadi inspirasi bagi fashion. “Jambul khatulistiwa” adalah artefak budaya yang menjelaskan bagaimana dunia fashion juga menggali inspirasi dari dunia unggas. #SaveAyamKalkul
2. Tren masa depan dunia fashion sudah jelas membutuhkan jasa seorang copy-writer yang handal, berwawasan budaya dan berintelijensia tinggi. “Jambul Khatulistiwa” adalah bukti forensik bagaimana sebuah style perlu dinamai dengan jitu, memuat kode-kode budaya, bernuansa edukasi yang tinggi, dan menjunjung tinggi rasa cinta tanah air. Model rambut ke-barat-baratan, seperti “Mohawk”, harus dihindari. Perbanyak nama-nama seperti “Cepak Nusantara”, “Gondrong Jawadwipa”, “Kriwil Singosari”, atau “Kribo Sriwijaya”.
3. Orang kadang dikenang dengan sesuatu yang paling menonjol dari dirinya, kadang yang menonjol itu sepenuhnya fisik. Malinda Dee dikenal karena “jambul di dadanya”. Ronaldo dan Luis Suarez dikenal karena “jambul di giginya”. Nah, biduan-yang-tak-boleh-disebut-namanya itu sadar bahwa satu jambul saja sudah bisa bikin orang terkenal, apalagi kalau dua jambul? Maka, beliau pun menambah unsur jambul di tubuhnya. Hasilnya? Ruarrrrr biasa! Seperti lagu lama yang dinyanyikan oleh biduan-yang-tak-boleh-disebut-namanya itu, “Aku tak biaaaasssaaaaa….”
Ya, beliau memang tak biasa, sungguh-sungguh tak biasa.
– catatan tambahan untuk provocactive
Saya berkesempatan membicarakan beberapa nama pahlawan nasional dalam acara Provocative yang (akan) tayang pada 10 November ini di Metro TV.
Beberapa nama saya singgung untuk menunjukkan betapa diskursus kepahlawanan nasional lebih pas dibaca sebagai pilihan politik ketimbang sebagai suatu kajian sejarah. Selain itu, saya juga meletakkan beberapa nama sebagai ilustrasi bagaimana publik membaca, mempersoalkan dan menempatkan ulang sosok-sosok pahlawan nasional.
Terciptanya ruang diskursif terkait narasi kepahlawanan nasional ini makin mengemuka dan terus terbuka setelah 1998. Reformasi, sedikit banyak, memungkinkan narasi-narasi resmi negara untuk didiskusikan dan dipersoalkan sampai batas-batas terjauh yang dimungkinkan.
Tuanku Imam Bonjol, misalnya. Nama itu saya singgung untuk menunjukkan bagaimana publik makin terbuka membicarakan dan mempersoalkan kepahlawanan seseorang. Imam Bonjol, saya kira, bisa dijadikan model bagaimana gugatan terhadap narasi resmi kepahlawanan nasional itu bisa berbentuk catatan-catatan yang bukan hanya kritis, tapi juga keras dan tajam.
(more…)
– pembiakan para pahlawan nasional
Bangsa yang besar, sering kita dengar, adalah bangsa yang sanggup menghargai jasa-jasa para pahlawannya. Soalnya adalah: butuh berapa pahlawan nasional lagi agar Indonesia bisa sungguh-sungguh menjadi bangsa yang besar?
Per 8 November kemarin, jumlah pahlawan nasional Indonesia bertambah 7 nama lagi. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono kemarin menahbiskan IJ Kasimo, Sjafruddin Prawiranegara, Susuhanan Paku Buwana X, Buya Hamka, Idham Chalid, I Gusti Ketut Pudja, dan Ki Mangunsarkoro sebagai pahlawan nasional yang terbaru.
Ditetapkannya tujuh pahlawan nasional yang baru bukan hanya menggenapkan jumlah daftar pahlawan nasional menjadi 158 orang, tapi juga menegaskan posisi Indonesia sebagai salah satu (jika bukan satu-satunya) negara dengan jumlah pahlawan nasional terbanyak. Jumlah itu hampir bisa dipastikan akan terus bertambah dan bertambah lagi di tahun-tahun mendatang karena tampaknya sudah menjadi kelaziman menganugerahkan gelar pahlawan nasional yang baru setiap bulan November.
Tidakkah itu kelewat banyak? Atau, tidakkah jumlah yang banyak dan akan terus berbiak itu malah bisa menyulitkan kita memahami dan menghayati hidup dan karya para pahlawan itu?
(more…)
– hari paling galau dalam sejarah
Setelah serangan kesunyian yang meluluhlantakkan perasaan seluruh penduduk kota mereda pada hari ke-7 di bulan 11, Kolonel Girindra Hinura memutuskan membangun sebuah toserba di pojok alun-alun sebelah utara. Untuk mengenang peristiwa menakjubkan itu, Sang Kolonel menamai toserba miliknya dengan nama “7/11″.
Sang Kolonel membangun 7/11 sebagai antisipasi kemungkinan datangnya kembali serangan kesunyian yang membuat aktivitas kota Harikukun menjadi lumpuh. Ia ingin 7/11 menjadi alternatif bagi penduduk Harikukun untuk berkumpul kapan pun mereka menginginkannya, bertemu dengan siapa pun yang mereka inginkan, agar satu sama lain bisa saling bercakap-cakap dan saling menawarkan kesunyian; dan itulah sebabnya ia merencanakan toserba miliknya buka selama 24 jam dalam sehari dan 7 hari dalam seminggu, tak kenal tutup, tak ada prei.
Sebagai seorang veteran revolusi 1998 yang kenyang makan asam garam pedihnya perjuangan dan peperangan, ia bahagia bukan kepalang menyaksikan penduduk Harikukun berduyun-duyun mengunjungi acara pembukaan toserba 7/11, tepat saat peringatan setahun berakhirnya serangan kesunyian yang meluluhlantakkan perasaan segenap penduduk kota.
Yang tak diketahui oleh Sang Kolonel: sebenarnya tak ada yang merayakan setahun berakhirnya serangan kesunyian itu, karena tak ada yang lagi ingat, kecuali Sang Kolonel sendiri, hanya ia sendiri.
(more…)
– mengenang (sedikit) elias canetti, 25 juli 1905 – 25 juli 2011
Elias Canetti, dalam bab “Die Eingeweide der Macht” yang terdapat dalam buku terkenalnya yang berjudul Masse und Macht, sempat menjelajahi arti tai untuk lebih memahami lobang-lobang dalam pemahaman kita ihwal sisi kelam manusia dan kemanusiaan.
Baginya, tai menjadi alegori dari apa yang telah kita bunuh. “Tai adalah jumlah lumatan dari seluruh indikasi-indikasi yang melawan kita,” tulis Canetti.
Saya kutipkan inti pandangan Canetti tentang tai seturut yang diikhtisarkan oleh Dagmar Lorenz dalam buku A Companion to the Works of Elias Canetti [hal. 307-308]:
“Bagi Canetti, segala tentang tai itu penting karena mewakili suatu kenyataan yang ingin kita abaikan. Baginya, itu semua mengindikasikan kesalahan kita. Tinja, bagi Canetti, memperlihatkan kekejaman manusia, membuktikan bahwa kita adalah pembunuh… Tai juga menjadi saksi langsung dari kekuatan dalam kehidupan kita.”
(more…)
– perihal penjahat yang tidak keren tapi merasa dirinya keren
Begitu rekaman wawancara itu selesai ditayangkan televisi, Borges teringat suatu masa ketika ia menyaksikan sebuah film koboi.
Melalui televisi hitam putih milik tetangganya yang kaya, Borges tak pernah melewatkan serial film koboi yang selalu tayang setiap Minggu siang. Ia tak tertarik dengan kuda-kuda gagah atau kemahiran menggunakan tali lasso atau akurasi tembakan yang mengerikan. Yang dikagumi Borges dari koboi-koboi yang dilihatnya di televisi, dan karenanya selalu ia tunggu-tunggu, adalah ketika sang koboi menarik ujung topi di kepalanya tiap kali berhasil melakukan sesuatu dengan benar.
Tak ada yang lebih mempesona Borges selain gaya seorang koboi menyentuh ujung kanan topinya, menariknya sedikit ke bawah, yang diikuti oleh kedipan mata yang wajar dan tak berlebihan, disertai senyum tipis yang meyakinkan tapi tidak angkuh.
Borges tak akan pernah lupa adegan dalam sebuah film koboi yang menggambarkan seorang perampok yang menjebol brankas sebuah bank setelah sebelumnya menembak Sheriff. Di hadapan Sheriff yang terkapar meregang nyawa, perampok itu memungut topinya yang terjatuh, meletakkan topi itu di kepalanya, lalu sedikit menurunkan ujung kanan topinya sembari berkata: Nikmatilah hidupmu, lakukan pekerjaanmu, lalu kenakanlah topimu.*
(more…)
– sebuah kota yang tak (akan pernah) selesai
Pada dini hari itu, saat para bhikku sedang berkemas menyiapkan Waisyak, saya nyangkruk di salah satu sudut Bundaran Hotel Indonesia (BHI). Angin tak begitu kencang, jalanan –seperti biasanya jika sudah dini hari—terlihat lebih sunyi. Sementara bulan tampil dalam sosoknya yang “penuh-seluruh”.
Situasi macam ini yang mungkin membuat Rendra bisa menulis sajak “Bulan Kota Jakarta”:
“Bulan telah pingsan
di atas kota Jakarta
tapi tak seorang menatapnya
….
Bulannya! Bulannya!
Jamur bundar kedinginan
Bocah pucat tanpa mainan
….
Bulanku! Bulanku!
Tidurlah, sayang di hatiku!”
Dalam sajak yang ditulis pada 1955 itu, Jakarta hadir seperti sebuah slide yang lambat dan berat. Saya menduga, suasana itu agaknya lahir dari rasa sunyi yang minta dikisahkah, ketercekaman yang ingin dirayakan, serta melankoli kerinduan –entah pada apa atau siapa– yang mendesak untuk diproklamirkan.
Dua tahun sebelumnya, pada 1953, Sobron Aidit sudah lebih dulu mengeluhkan bulan di Jakarta yang mengenaskan. Dalam sajak “Jauh Malam di Pasar Matraman”, Sobron mengakhirinya dengan baris pendek yang terasa pedih: “…dan bulan kehabisan sinar”.
(more…)
– dunia pasca-harkat
Dalam Muqaddimah, jilid pembuka dari mahakarya al-I’bar Wa Diwan al-Mubtad Wa al-Khabar, Ibn Khaldun memaparkan faktor-faktor penting yang membentuk sebuah unit masyarakat maupun peradaban. Ia memaparkan sebuah konsep yang disebutnya al-Ashabiyyah sebagai kunci untuk memahami proses terbentuknya sebuah peradaban, di antaranya perihal keningratan serta pengaruh-pengaruh keturunan dalam ketahanan persatuan suku-suku nomad.
Padanan kata yang paling mendekati kata Ashabiyyah adalah “loyalitas kelompok”, “kohesi sosial” atau solidaritas sosial”. Bagi Khaldun, ashabiyyah merupakan inti dari sebuah organisasi sosial. Ashbiyyahmengikat kelompok-kelompok menjadi satu melalui sebuah bahasa, budaya dan peraturan-peraturan yang disepakati secara berangsur-angsur oleh segenap anggota kelompok.
Khaldun menyebut faktor Ashbiyyah ini sebagai kunci bagi lahirnya suatu tamaddun (peradaban) dan juga kekuasaan politik. Kehancuran Ashbiyyah dengan sendirinya menjadi titik balik kehancuran peradaban dan kekuatan politik tersebut. Dan sejak pertengahan abad 20 inilah, Ashbiyyah dari umat Islam telah ambruk sebagai akibat langsung dari perkembangan politik mutakhir.
Kehancuran Ashbiyyah ini mengakibatkan ambruknya ide-ide tradisional mengenai keadilan (‘adl), kebajikan, kebaikan, dan keseimbangan (ihsan). Kehancuran ide-ide tradisional itu selanjutnya mendistorsi pemahaman tradisional atas ide Ashbiyyah dan berujung pada lahirnya pemahaman Ashbiyyah baru yang berlebihan yang oleh Akbar S. Ahmed disebut sebaga hiper-Ashbiyyah.
(more…)
– perihal makam heru atmodjo di tmp kalibata
Letkol (pnb) Heru Atmodjo dimakamkan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata pada 29 Januari 2011. Dua pekan kemudian, Gerakan Umat Islam Bersatu di Jawa Timur menuntut agar makam Heru Atmodjo di TMP Kalibata dibongkar dan dipindahkan. Alasannya: Heru Atmodjo terlibat dan sebagai pelaku G 30 S/PKI.
Tak ada kabar lain setelahnya. Lalu, tiba-tiba saja, kemarin beredar kabar kalau makam Heru Atmodjo sudah dipindahkan. Hari ini beredar foto makam Heru Atmodjo sudah kosong dan tanpa nisan [hingga catatan ini diunggah, saya belum menemukan berita yang bisa mengkonfirmasi kabar ini, tapi rilis yang dikirimkan Keluarga Besar Rakyat Demokratik memastikan bahwa makam Heru Atmodjo memang sudah dibongkar].
Saya ingat film dokumenter karya Lexy Rambadeta, Mass Grave, yang mengisahkan perjuangan keluarga Sri Muhayati di Wonosobo untuk memakamkamkan secara layak tulang belulang ayahnya yang tewas terbantai pasca pageblug 1965. Upaya itu tak berhasil karena ditentang habis-habisan oleh sekelompok orang.
Apa yang terlihat? Kebencian yang tak kunjung susut. Selang waktu puluhan tahun tak bikin kebencian itu lenyap. Mayat yang jadi tulang belulang tak bikin kebencian menjadi hilang. Kebencian, barangkali, memang utuh dalam dirinya sendiri, pejal, bulat, dan tak tertawar.
Lalu, bagaimana dengan makam Heru Atmodjo di Taman Makam Pahlawan Kalibata?
(more…)
– mengenang paraji terakhir di kampung
Seorang bekas mahasiswa antropologi yang mencalonkan diri sebagai lurah menghilang secara misterius di malam menjelang hari pencoblosan. Ia meninggalkan pesan di pintu kamar mandi: “Pemilihan lurah mestinya dilakukan secara adat melalui duel satu lawan satu sampai mati.”
Di masa kecilnya, dia dikenal sebagai anak pintar dengan keberanian luar biasa. Saat pencoblosan berlangsung di halaman balai desa, orang-orang masih mengenang kepintarannya saat mempermalukan rombongan tukang sulap yang tiba di kampung menjelang maghrib untuk mempertunjukkan keahlian mereka bersulap yang ternyata hanyalah tipuan kecil bermodalkan kemampuan menghitung kartu dengan sangat cepat. Orang-orang juga masih ingat keberaniannya menaklukkan seekor macan yang masuk kampung saat lereng sebelah tenggara Gunung Ciremai dilanda kebakaran hebat gara-gara dua orang lelaki pendaki asing lupa mematikan rokoknya saat sibuk membuat penis tiruan dari dahan pohon pinus.
Dia anak satu-satunya seorang paraji (dukun beranak) yang menikah dengan bekas serdadu Belanda yang desersi dari kesatuannya karena tertangkap basah menggunakan bendera Belanda sebagai selimut saat sedang buang air besar di pinggiran sebuah rawa yang terkenal karena sengatan nyamuknya yang mematikan.
(more…)