»

Jeneng [2]

– hanya ada soekarno, bukan koesno

Mengganti nama, dalam cara berpikir diskursif, bisa saja dipahami sebagai upaya untuk memutus rantai otoritas yang paling purba pada setiap biografi. Dengan itu, sebagian masa silam coba diretak-patahkan seraya pada saat yang sama masa depan coba dianyam dengan kontrol yang sepenuhnya dikendalikan yang bersangkutan.

Penggantian nama dengan motif ini mencerminkan kesadaran yang penuh tentang “waktu lampau” yang tak sepenuhnya sesuai dengan cara dia menghayati “waktu kini” serta visi dia atas “waktu menjelang”. Nama Dipa Nusantara Aidit dan Ki Hajar Dewantara bisa dijadikan eksemplar contoh.

Dipa Nusantara Aidit, Ketua Central Commite PKI, yang oleh rekan-rekan separtainya dijuluki “Brother Number One”, terlahir dengan nama Ahmad Aidit. Adik-adik Aidit kerap memanggil abangnya dengan sebutan Bang Amat.

Nama Dipa Nusantara Aidit mulai digunakan saat ia sudah berkecimpung di dunia pergerakan di Batavia, tepatnya di Gedung Menteng 31. Aidit mengirim surat kepada ayahnya, Abdullah Aidit, yang berisi permohonan agar diijinkan mengganti nama. Abdullah mengabulkan. Maka bergantilah nama Ahmad Aidit menjadi Dipa Nusantara Aidit. Perubahan nama itu kemudian disahkan oleh notaris.

(more…)

Jeneng [1]

meracau — Tags: , , , , , — admin @ 1:01 am

– atas nama….

Pada setiap nama, otoritas eksternal sebenarnya sedang memamerkan ujudnya.

Ada kutipan bagus dari James Joyce, novelis Irlandia yang terkenal karena karya besarnya, “Ullyses”. Dalam sepucuk surat yang ditulis pada 18 September 1905, Joyce berkata pada saudaranya, Stanislaus: “Ku pikir, setiap anak berhak untuk menggunakan nama ayah atau ibunya jika ia kelak sudah dewasa.”

Joyce bukan orang yang memuja komunalisme dan nilai-nilai luhur keluarga. Novel semi-autobiografisnya, “A Portrait of the Artist as a Young Man”, menunjukkan betapa Joyce berusaha membebaskan diri bukan hanya dari standar moral keluarga, tapi bahkan dari nilai-nilai Kristen serta keharusan berbakti pada negara. Kutipan Joyce di atas justru mencoba menegaskan kerinduannya pada kebebasan individual, termasuk kebebasan untuk menggunakan nama yang diinginkan setiap orang, apakah itu nama ayah atau ibunya atau apa pun.

Tapi, setiap bayi yang baru lahir, tak pernah bisa bicara dan karenanya cukup banyak alasan memilihkan si bayi nama yang sekiranya paling baik tanpa harus dan perlu berembug lebih dulu dengan si bayi. Di situ, nama menjadi penegasan betapa setiap bayi sebenarnya tak sendiri. Dan dalam ketidaksendiriannya itulah, setiap nama justru menjadi peneguhan betapa banyak sekali otoritas di luar dirinya yang sedang mulai merasuk-mendalam.

(more…)

Ta(wa)rawih

meracau — Tags: , , — admin @ 9:55 pm

– perihal iman tanpa senyum

Kami semua menyukai Do’er. Semua orang tahu ia punya perangai yang cerah. Bandel dan jahil, memang. Tapi, semua juga tahu, ia pintar dan cerdik, juga pandai mencuri perhatian orang. Mukanya bulat, pipinya penuh seperti donat yang masih hangat, matanya sedikit sipit, dengan rambut yang ikal. Oya, ia juga lihai menggocek bola. Ya ya, sejak kedatangan Do’er, kami yang biasanya meninggalkan begitu saja sepakbola selama Ramadhan tiba-tiba disadarkan olehnya bahwa sepakbola menjelang buka puasa tidak akan membuat kami kehabisan tenaga dan mati kehausan.

Ia cucu Haji Sawendo, juragan tebu dan pemilik musholla di dekat rumahku. Sepanjang ramadhan ini, Do’er berencana akan tinggal di kampung kami. Ayahnya Do’er, artinya anak Haji Sawendo, bernama Amin Suganda, baru akan datang sehari menjelang lebaran. Aku pernah mendengar hubungan yang ganjil antara Haji Sawendo dan Wa Amin, begitu kami biasa memanggil ayah Do’er. Kabarnyna, begitulah yang lamat-lamat pernah kudengar, anak dan ayah itu sudah tak akur sejak tahun 60-an.

Do’er mendatangkan gema kegembiraan yang baru di antara kami. Ia selalu punya cerita-cerita lucu yang tak ada habisnya. Ia juga tak pelit bercerita tentang seperti apa kehidupan di Jakarta, bagaimana teman-teman sekolahnya, bagaimana sekolah di sana. Dan, ini yang penting, Do’er mengaku sudah punya pacar!

Itu sungguh luar biasa bagiku dan teman-temanku. Kabar bahwa Do’er sudah punya pacar terasa seperti sebuah cerita dongeng yang fantastis bagi anak-anak kampung macam kami. Bayangkan, bocah 8 tahun sudah punya pacar dan sudah pula mencium pacarnya itu. Ya, ya… cerita Do’er yang mengaku pernah menciumnya membuat cerita itu menjadi kian fantastis dan sureal bagi kami.

(more…)

Ber(s)isik?

meracau — Tags: , , , — admin @ 8:40 pm

– A monk should not laugh. Laughter makes him looks like a monkey*

Seorang desainer (kita sebut saja: “desainer kita”) yang berumah dekat mesjid selalu gagal menyelesaikan pekerjaannya tiap kali Ramadhan memasuki sepuluh hari terakhir.

Desainer kita ini sejenis mahluk yang hanya bisa bekerja pada malam hari. Siang hari, biasanya, desainer kita ini hanya bermain-main dengan anak-anaknya atau jika tidak pergi memancing ke sungai yang agak jauh tapi sebenarnya tidak jauh-jauh amat.

Maka, tiap kali Ramadhan memasuki sepuluh hari terakhir, desainer kita yang mukanya mirip singa tanpa misai itu tak pernah bisa berkonsentrasi dengan pekerjaannya. Bukan apa-apa, tiap kali ia mulai bekerja, orang-orang memenuhi telinganya dengan suara do’a yang kian mendekati pagi akan terdengar kian keras dan tak beraturan.

Dia senang jika langit tiba-tiba memuntahkan hujan yang deras. Suara deras hujan yang ditingkahi guntur yang menggelegar seringkali menyelamatkan telinganya dari suara-suara yang kian hari kian terasa acak di telinganya. Sayangnya, itu pun tak selalu berhasil. Selain karena hujan kadangkala berlangsung terlalu singkat, pengeras suara selalu datang tiap 10 menit dengan berisiknya yang tak tertahankan: “Ibu ibu yang sedang menyiapkan sahur, waktu sudah menunjukkan pukul…..”

(more…)

Kursi

meracau — Tags: , , , , — admin @ 9:21 pm

– sebuah hubungan yang tidak penting-penting amat

Entah sudah berapa perempuan yang telah dikencaninya, tapi tak satu pun dari mereka diijinkan oleh Ireng untuk duduk di depannya tiap kali sedang berkencan di sebuah kafe atau makan di sebuah restoran. Jika mejanya cukup besar, Ireng akan meminta perempuan yang dikencaninya untuk duduk di sebelahnya. Jika mejanya terlalu kecil untuk duduk bersebelahan, Ireng akan meminta perempuan yang dikencaninya untuk duduk di sisi kanan atau di kiri, pokoknya tidak di depannya. Jika Ireng duduk di sebelah barat, teman kencannya akan diposisikan untuk duduk di sisi utara atau selatan, bukan di sisi timur.

Selera yang aneh itu sedikit merepotkan. Setidaknya, Ireng harus selalu berusaha datang lebih dulu untuk meminta pelayan cafe atau restoran untuk menata kursi sedemikian rupa agar pada saatnya nanti ia tidak duduk berhadapan muka dengan muka. Kendati aneh dan tak biasa, kebiasaan Ireng itu tak pernah betul-betul menyulitkannya, hanya sedikit merepotkan saja.

Bagi Ireng, antara “merepotkan” dan “menyulitkan” itu berbeda, itu seperti “membuang abu rokok pada asbak yang tersedia di meja” dengan “buang air di sebuah mesjid yang tak menyediakan kloset”.

(more…)

Requiem

– usai menonton film “grave of the fireflies” karya taro hyugaji

Beberapa saat setelah selesai menyunting berkas lagu “Introitus: Requiem”-nya Mozart dan memasangnya sebagai nada panggil di ponsel, sebuah panggilan masuk ke ponsel Sarmad, lalu: ia terkena serangan jantung, dan mati.

Ibunya membanting ponsel itu dan berkata dengan nada sangat geram: “Komposer sialan!”

Ponsel itu pun pecah berantakan di lantai. Para pelayat yang hadir di sana hanya bisa terdiam, tapi mata mereka melirik keypad ponsel itu dan tiba-tiba saja mereka melihat abjad-abjad di sana telah berubah menjadi sederet notasi balok yang tak bisa mereka baca.

Sementara ibu mendiang Sarmad masih belum reda kegeramannya dan dengan sekuat tenaga menyepak pecahan-pecahan itu dengan histeris ke berbagai arah. Di mata para pelayat, notasi-notasi balok itu pun ikut berhamburan, lalu beterbangan, lalu memancarkan cahaya seperti kunang-kunang, dan lantas berbalik arah menuju jenazah Sarmad yang terbujur di tengah ruang tamu.

Jenazah itu kini bermandikan cahaya di sekujur tubuhnya, berbinar-binar dan berpendaran.

(more…)

Printer [2]

meracau — admin @ 6:58 pm

– sebuah versi lain dari cerita lama

Printer ini sudah lama mengabdi kepadaku dengan “sepenuh komponennya”. Ya, “sepenuh komponennya”, karena akan sukar menyebut “sepenuh hatinya”. Siapa memangnya yang bisa bilang kalau printer itu punya hati?

Kecuali hari ini, tepatnya siang ini, persis saat deadline betul-betul nyaris mengerkah batang leherku. Saat itu, para juragan sudah berdiri di balik pintu, ada yang menenteng pistol yang sudah terkokang, ada juga yang mengasah belati tajam dengan gigi depannya yang terbuat dari emas 19 karat, mereka semua menunggu kelarnya pekerjaanku. Keringat dingin mengucuri badanku, membasahi bajuku. Lalu, hal yang tak diinginkan oleh siapa pun di kantor ini pun terjadilah: tiba-tiba saja, ia – printerku itu– tak mau bekerja. Macet. Ngadat. Tak sehelai kertas pun yang keluar dari tubuhnya yang berwarna biru dan putih serta agak tambun ke samping itu.

Biasanya, beberapa saat usai perintah mencetak ditekan, akan menguar suara dengung, yang jika itu keluar dari mulut manusia mungkin akan kusebut sengau. Lalu, setelah dengung yang tak panjang itu, terngiang suara gesekan-gesekan tipis tapi berirama sedikit lebih panjang. Diakhiri dengan suara sedikit teredam, kertas tercetak yang ditunggu-tunggu tak segera keluar. Apa mungkin kertas-kertas yang sedang kutunggu itu enggan dilumuri tinta yang mungkin beracun?

Aku tak tahu apa sebabnya. Dingin keringat makin kencang mengucur, para juragan di balik pintu mulai berdehem-dehem, suara deheman yang terdengar lebih menakutkan daripada suara batuk pengidap TBC.

(more…)

Prononima

Buku,meracau — admin @ 11:35 am

– tokoh dan karakter sebagai kata ganti

soul_mountainDini hari tadi, di tengah kebosanan yang sekonyong-konyong datang, juga dipicu oleh perasaan tidak enak yang tak terkatakan, tiba-tiba saja saya ingin membuka-buka lagi Ling Shan (Soul Mountain atau Gunung Jiwa) karya Gao Xingjian. Saya sudah tidak ingat lagi berapa kali sudah membaca Ling Shan. Tiga atau empat kali saya menghabiskannya, dari awal sampai akhir. Tak terhitung pula saya membaca kembali novel itu secara acak, membacanya dengan sambil lalu. Cukup sering saya membawa novel itu tiap kali sedang melakukan perjalanan. Dua bulan lalu saya kembali membawa dan membaca novel ini saat melakukan perjalanan 10 hari mengelilingi Jawa Timur hingga Bali.

Novel ini punya tempat tersendiri di kepala saya. Sebagai novel yang kerangkanya sama-sama berbentuk cerita perjalanan, jangan bandingkan novel ini dengan Sang Alkemis-nya Coelho atawa Celestine Prophecy-nya James Redfield yang “berkhotbah” itu. Pesannya berlapis, imajinya kaya, metaforanya berlimpah: gabungan antara pemeriaan hewan dan tumbuhan juga hutan-hutan, deskripsi yang detail tentang ritus-ritus, pemaparan ulang folklore dan folksong, legenda dan mitos, tinjauan tentang situasi sosial dan politik hingga sentuhan yang halus dan lembut tentang pengalaman fisikal dan indrawi.

Tapi ada satu alasan yang mendasari kenapa saya hingga hari ini saya masih saja membacanya lagi dan lagi: penggunaan prononima sebagai protagonis novel. Di novel ini, kita tak pernah tahu siapa nama tokoh-tokoh utama yang muncul. Gao Xingjian hanya menggunakan pelbagai prononima: “aku”, “engkau”,” ia” (perempuan), lalu muncul lagi “dia” yang lain (lelaki yang hadir silih bergantian dengan “aku”).

(more…)

Arloji

flaneur,meracau — admin @ 1:51 pm

– sophia loren ditusuk jarum siang-siang

Tepat tengah hari, aku meninggalkan rumah, jam 5 sore nanti aku berjanji menemui Ahmet di sebuah smoking room lantai 5 plaza terbesar di Jakarta. Masih banyak waktu, selalu ada waktu. Aku merogoh saku kanan jaketku. Arloji tua itu masih aman di situ. Ya, sebuah arloji yang tak hanya tua, tapi juga rusak. Aku berniat memperbaikinya. Ada beberapa tukang arloji di pasar, aku bisa mampir di sana sebentar.

Kakekku memberiku arloji itu dua puluh tahun lalu tak lama setelah ia pulang naik haji. Aneh sekali, ia menghadiahiku arloji. Jauh-jauh ke Arab Saudi, ia hanya membawa oleh-oleh arloji yang bisa dibeli di mana saja. Dulu aku berharap kakek akan memberiku fosil gigi geraham unta betina. Tapi itu tak mungkin. Akan janggal jika seorang jemaah haji sibuk mencari fosil geraham unta betina, kakek akan seperti Snouck Hurgronje yang ingin memecah belah umat unta.

Setiba di Pasar Minggu, jalanan terasa sangat panas. Jalanan sangat penuh, asap-asap knalpot mengembang dan saling rasuk dengan uap aspal lalu menjelma fatamorgana lalu menjadi bunga-bunga di udara, bunga-bunga di atas aspal. Metromini yang mangkal di tepi jalan berderetan sedemikian rupa seperti perahu-perahu tua yang ditambatkan di sungai yang dangkal dan keruh. Aku menyisiri jalanan dengan beberapa kali menyisiri sela-sela deretan metromini tua itu. Udara makin terasa pengap, suhu seperti melonjak tiba-tiba. Aku meraba arloji itu sekali lagi. Ia tak berdetak, tapi waktu tak peduli dengan gerak jarum jam. Aku tahu keduanya adalah hal yang berbeda.

(more…)

Omelet

flaneur,meracau — admin @ 9:17 am

– tentang pertengkaran yang sepele

Selepas kemacetan 2,45 jam itu, aku baru tiba di kediamanku pada pukul 11 malam. Satu jam sebelumnya aku masih duduk di Duck Bar, merenungkan ajaibnya kemacetan itu, juga menghabiskan 12 batang rokok, tiga shot Jhony Walker, dua shot Jim Beam dan satu shot Absolut Mandrin. Badanku cukup letih, tapi pikiranku masih jernih. Kepalaku sedikit berat, tapi aku sudah terbiasa menghadapinya. Mandi sudah cukup membuat kepalaku bisa sedikit ringan.

Aku langsung duduk di sofa. Menyandar. Aku membuka pakaianku dan melemparkannya ke keranjang pakaian kotor di pojok. Telanjang. Kunyalakan televisi. Kuperiksa menu program di semua channel malam itu dengan menekan beberapa tombol. Aku memilih channel 18, channel MGM. Sebuah film lama yang dibintangi Jack Nicholson muncul. Five Easy Pieces, judulnya. Aku sudah menontonnya dua kali, tapi aku suka scene pertengkaran Robert Dupea yang diperankan Nicholson dengan seorang pelayan restoran. Pertengkaran remeh temeh tentang menu makanan. Aku tatap layar televisi. Scene favoritku itu masih akan muncul 5 menit lagi. Volume televisi kubesarkan.

Aku beranjak ke kamar mandi. Shower kubuka. Air dingin memancur ke tubuhku. Kubiarkan selama satu menit, lalu mulai mengambil sabun cair, lalu menggosok tubuhku selama 1,5 menit. Lalu aku buka lagi kran shower, air memancur dan jatuh, busa-busa jatuh, beberapa daki mungkin juga ikut jatuh, lalu semuanya mengalir ke lobang kecil di sudut, lalu turun ke sebuah pipa, lalu berkumpul di sebuah bak penampung, lalu mengalir lagi menuju saluran pembuangan, lalu sisanya biarlah jadi urusan pemerintah kota. Aku ingat scene favorit dari Five Easy Pieces. Aku tutup kran shower, aku dengarkan suara televisi. Lima detik, sepuluh detik, 37 detik… lalu terdengar pertengkaran itu:

(more…)

Next Page »
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-Noncommercial-Share Alike 3.0 Unported License.
(c) 2010 nasib adalah kesunyian masing-masing | powered by WordPress with Barecity