Jeneng [2]
– hanya ada soekarno, bukan koesno
Mengganti nama, dalam cara berpikir diskursif, bisa saja dipahami sebagai upaya untuk memutus rantai otoritas yang paling purba pada setiap biografi. Dengan itu, sebagian masa silam coba diretak-patahkan seraya pada saat yang sama masa depan coba dianyam dengan kontrol yang sepenuhnya dikendalikan yang bersangkutan.
Penggantian nama dengan motif ini mencerminkan kesadaran yang penuh tentang “waktu lampau” yang tak sepenuhnya sesuai dengan cara dia menghayati “waktu kini” serta visi dia atas “waktu menjelang”. Nama Dipa Nusantara Aidit dan Ki Hajar Dewantara bisa dijadikan eksemplar contoh.
Dipa Nusantara Aidit, Ketua Central Commite PKI, yang oleh rekan-rekan separtainya dijuluki “Brother Number One”, terlahir dengan nama Ahmad Aidit. Adik-adik Aidit kerap memanggil abangnya dengan sebutan Bang Amat.
Nama Dipa Nusantara Aidit mulai digunakan saat ia sudah berkecimpung di dunia pergerakan di Batavia, tepatnya di Gedung Menteng 31. Aidit mengirim surat kepada ayahnya, Abdullah Aidit, yang berisi permohonan agar diijinkan mengganti nama. Abdullah mengabulkan. Maka bergantilah nama Ahmad Aidit menjadi Dipa Nusantara Aidit. Perubahan nama itu kemudian disahkan oleh notaris.
Dini hari tadi, di tengah kebosanan yang sekonyong-konyong datang, juga dipicu oleh perasaan tidak enak yang tak terkatakan, tiba-tiba saja saya ingin membuka-buka lagi Ling Shan (Soul Mountain atau Gunung Jiwa) karya Gao Xingjian. Saya sudah tidak ingat lagi berapa kali sudah membaca Ling Shan. Tiga atau empat kali saya menghabiskannya, dari awal sampai akhir. Tak terhitung pula saya membaca kembali novel itu secara acak, membacanya dengan sambil lalu. Cukup sering saya membawa novel itu tiap kali sedang melakukan perjalanan. Dua bulan lalu saya kembali membawa dan membaca novel ini saat melakukan perjalanan 10 hari mengelilingi Jawa Timur hingga Bali.