Arloji
– sophia loren ditusuk jarum siang-siang
Tepat tengah hari, aku meninggalkan rumah, jam 5 sore nanti aku berjanji menemui Ahmet di sebuah smoking room lantai 5 plaza terbesar di Jakarta. Masih banyak waktu, selalu ada waktu. Aku merogoh saku kanan jaketku. Arloji tua itu masih aman di situ. Ya, sebuah arloji yang tak hanya tua, tapi juga rusak. Aku berniat memperbaikinya. Ada beberapa tukang arloji di pasar, aku bisa mampir di sana sebentar.
Kakekku memberiku arloji itu dua puluh tahun lalu tak lama setelah ia pulang naik haji. Aneh sekali, ia menghadiahiku arloji. Jauh-jauh ke Arab Saudi, ia hanya membawa oleh-oleh arloji yang bisa dibeli di mana saja. Dulu aku berharap kakek akan memberiku fosil gigi geraham unta betina. Tapi itu tak mungkin. Akan janggal jika seorang jemaah haji sibuk mencari fosil geraham unta betina, kakek akan seperti Snouck Hurgronje yang ingin memecah belah umat unta.
Setiba di Pasar Minggu, jalanan terasa sangat panas. Jalanan sangat penuh, asap-asap knalpot mengembang dan saling rasuk dengan uap aspal lalu menjelma fatamorgana lalu menjadi bunga-bunga di udara, bunga-bunga di atas aspal. Metromini yang mangkal di tepi jalan berderetan sedemikian rupa seperti perahu-perahu tua yang ditambatkan di sungai yang dangkal dan keruh. Aku menyisiri jalanan dengan beberapa kali menyisiri sela-sela deretan metromini tua itu. Udara makin terasa pengap, suhu seperti melonjak tiba-tiba. Aku meraba arloji itu sekali lagi. Ia tak berdetak, tapi waktu tak peduli dengan gerak jarum jam. Aku tahu keduanya adalah hal yang berbeda.
