»

Ndagel

Film — Tags: , , , — admin @ 1:00 pm

– mari menertawakan sejarah perjuangan kemerdekaan

Ada banyak lelucon verbal yang dipampangkan Monty Tiwa dalam film “Laskar Pemimpi”. Tapi, dari sekian banyak lelucon, hanya satu yang bikin saya nyengir: Saat dua perwira “di/terapusi” segelintir tentara-pejuang mbalelo.

Saat itu, beberapa anggota Laskar Panjen sedang bergerak menuju markas KNIL untuk membebaskan beberapa sandera. Mereka melakukannya tanpa ijin atasannya. Di tengah jalan, mereka bertemu dengan (kalau tidak salah) Bambang Soepeno dan Soeharto yang sedang merancang Serangan Umum 1 Maret. Saat itulah, Ontje, anggota KNIL yang tertangkap dan dipaksa menunjukkan tempat markas KNIL, tiba-tiba mengoceh tentang titik-titik lemah dan kekuatan pertahanan KNIL. Angota Laskar Panjen lain lalu segera membekap mulut Ontje karena khawatir rencana ilegal mereka menyatroni markas KNIL bisa terendus. Tentu saja Bambang Soepeno dan Soeharto heran ada yang tahu soal yang mestinya cukup rahasia itu. Anggota Laskar Panjen lantas berdalih kalau si Ontje ini adalah dukun/paranormal. Setelah Laskar Panjen dan Ontje berlalu, Bambang Soepeno memerintahkan Soeharto untuk memastikan kebenaran ocehan Ontje itu.

Scene itu penting karena jika saya diminta apa hal baru dari “Laskar Pemimpi”, maka scene itu bisa menjadi pintu masuk untuk menjawabnya. Apa itu? Menertawakan narasi sejarah perjuangan kemerdekaan yang melulu mengedepankan pentingnya militer dan perjuangan bersenjata.

Film ini, tentu saja, masih menjadikan tentara dan para pejuang bersenjata sebagai protagonios dan perjuangan bersenjata sebagai faktor dominan. Hanya saja, heroisme para tentara-pejuang dan aksi-aksi perjuangan bersenjata itu hadir untuk ditertawakan. Ya, saya merasa, itu memang untuk ditertawakan.

(more…)

Requiem

– usai menonton film “grave of the fireflies” karya taro hyugaji

Beberapa saat setelah selesai menyunting berkas lagu “Introitus: Requiem”-nya Mozart dan memasangnya sebagai nada panggil di ponsel, sebuah panggilan masuk ke ponsel Sarmad, lalu: ia terkena serangan jantung, dan mati.

Ibunya membanting ponsel itu dan berkata dengan nada sangat geram: “Komposer sialan!”

Ponsel itu pun pecah berantakan di lantai. Para pelayat yang hadir di sana hanya bisa terdiam, tapi mata mereka melirik keypad ponsel itu dan tiba-tiba saja mereka melihat abjad-abjad di sana telah berubah menjadi sederet notasi balok yang tak bisa mereka baca.

Sementara ibu mendiang Sarmad masih belum reda kegeramannya dan dengan sekuat tenaga menyepak pecahan-pecahan itu dengan histeris ke berbagai arah. Di mata para pelayat, notasi-notasi balok itu pun ikut berhamburan, lalu beterbangan, lalu memancarkan cahaya seperti kunang-kunang, dan lantas berbalik arah menuju jenazah Sarmad yang terbujur di tengah ruang tamu.

Jenazah itu kini bermandikan cahaya di sekujur tubuhnya, berbinar-binar dan berpendaran.

(more…)

Umberto

Film — admin @ 6:35 am

– konspirasi antara kesunyian, kemuraman dan diam yang keras kepala

umberto0Gilles Deleuze menelaah neorealisme –salah satunya—dengan mengamati tindakan dalam sinema. Baginya, neorealisme mengisyaratkan tindakan sebagai sesuatu yang belum tentu berhubungan dengan pikiran, seakan-akan suatu tindakan “terjadi begitu saja”, di mana tindakan sang-aktor seperti “terperangkap” dalam situasi atau keadaan yang banal dan sehari-hari. Contoh yang diajukan Deleuze adalah scene di mana pembantu muda dalam Umberto D karya Vittorio de Sica melakukan aktivitas di dapur: membuka kran, membersihkan alat memasak, melihat dinding yang penuh semut, menyemprot semut dengan air kran, juga mengibas-ngibaskan kedua tangannya ke arah sweater yang ia kenakan (dalam DVD yang dirilis Criterion, scene itu bisa dilihat pada menit ke 13 detik 15 sampai detik 55).

Saya tidak akan masuk terlalu jauh pada apa yang disebut Deleuze sebagai “pure-optical-situation” atau “sensory-motor-schema” dalam neorealisme, juga tidak akan mereview film produksi 1952 yang disebut-sebut sebagai “akhir dari neorealisme Italia” ini. Saya hanya mencoba memaparkan kesan-kesan yang saya tangkap dari salah satu scene film ini: ketika tokoh Umberto berada di depan kuil Pantheon Roma dan “terjebak” dalam ketegangan internal antara mengemis atau tidak, antara mendapatkan uang atau mempertahankan harga-diri, antara melakukan tindakan ataukah hanya meratapi nasib menjadi pensiunan tua yang melarat (dalam DVD versi Criterion, adegan bisa dilihat pada menit 60 detik 32 sampai menit 61 detik 40).

Saya memilih membicarakan scene ini bukan semata karena daya dan metafor yang memantul dari scene itu, juga karena scene itu dengan amat bagus menggambarkan seperti apa ketegangan-internal karakter Umberto Domenica Ferrari yang diperankan dengan bagus sekali oleh Carlo Battisti, seorang non-aktor yang memainkan film pertamanya sekaligus yang terakhir.

(more…)

Sepeda

Film — admin @ 6:32 pm

– neorealisme italia dari atas sepeda

phpzxiobeam2

Andre Bazin –pembela paling gigih dari neorealisme Italia- menganggap film Ladri de Biciclette sebagai film terbaik yang mewakili neorealisme sinema Italia. Dengan nada yang plastis, seperti terbaca dalam baris terakhir tulisannya berjudul Neorealism and Pure Cinema, Bazin bahkan menyebut film produksi tahun 1948 ini sebagai “…one of the first examples of pure cinema, no more actors, no more story, no more sets, which is to say that in the perfect aesthetic illusion of reality there is no more cinema.”

Berlatar di kota Roma pasca Perang Dunia II, film ini berkisah tentang seorang ayah (namanya Antonio Ricci) dengan satu istri dan dua anak dan baru saja mendapat pekerjaan sebagai penempel poster-poster film. Syaratnya: ia harus punya sepeda -sekali lagi harus- karena dengan itulah ia akan berkeliling menyusuri dinding-dinding di Roma. No bicycle, no job. Tapi ia tak punya sepeda. Ia seorang pengangguran. Dan miskin. Istrinya terpaksa menjual semua sprei agar bisa membeli sepeda. Pada hari pertama kerja, sepedanya hilang dicuri. Ia sudah mencoba mengejarnya, tapi gagal. Ia melapor ke polisi. Ia minta pertolongan serikat buruh. Bahkan minta petunjuk pada cenayang. Keesokan harinya, pada hari Minggu, ia bersama anaknya (Bruno Ricci) mencoba mencari sepeda itu lagi. Mereka pergi ke pasar sepeda, pergi ke pasar lainnya, mengejar sampai ke gereja, sampai rumah bordil. Di satu sudut kota, ia merasa telah menemu kan pemuda yang mencuri sepedanya. Tapi para tetangga pemuda itu tak percaya dan bahkan menyalahkan Antonio, terlebih saat perseteruan itu si pemuda malah kumat penyakit ayannya. Polisi pun tak bisa membantu Antonio karena dianggap tak ada barang bukti. Antonio dan Bruno duduk dengan gontai di luar stadion sepakbola. Antonio tergoda untuk mencuri sebuah sepeda di situ. Ia tertangkap dan sempat dikerubuti orang-orang. Hanya karena pemilik sepeda yang dicurinya merasa iba pada mimik muka Bruno, akhirnya Antonio pun dilepaskan tanpa harus berurusan dengan polisi.

Yang dialami Antonio adalah banalitas kemiskinan yang datang tanpa ampun. Tak ada yang bisa diharapkan: negara (polisi) abai, kapitalisme (perusahaan yang mempekerjakannnya) tak memberi toleransi jika tak punya sepeda, komunisme juga ogah-ogahan (serikat buruh hanya membantu seperlunya), solidaritas proletariat hanya omong-omong di atas kertas, begitu juga institusi agama.

(more…)

Baaria

Film — admin @ 6:56 am

– wajah sicilia dalam dua sinema

phpuciz2uam

Saya tidak tahu siapa lagi sineas selain Giuseppe Tornatore yang tak pernah kehabisan tenaga untuk lagi dan lagi menghadirkan kampung halamannya ke layar lebar. Setelah Malena, L’Umomo della Stelle dan dengan puncaknya yaitu Cinema Paradiso, Tornatore kembali datang membawa cerita tentang Sicilia, kampung halamannya, melalui film bertajuk Baaria, sebutan dalam dialek Sicilia untuk kota kecil Bagheria, kampung halaman Tornatore (secara etimologi, Bagheria berarti “…land that descends toward the sea”).

Jujur saja, bayangan saya tentang Sicilia sudah penuh dengan gambaran versi Tornatore seperti yang saya lihat melalui Malena, L’Umomo della Stelle dan terutama Cinema Paradiso. Film terakhir itu, bagi saya, bahkan sudah sangat penuh memberikan gambar-gambar tentang Sicilia. Sejujurnya, sekali lagi, saya tidak yakin masih ada ruang yang tersisa –bahkan bagi Tornatore sekali pun—untuk menampung gambaran baru tentang Sicilia.

Tornatore sendiri berdalih bahwa Baaria bukan hanya sekadar bicara tentang Sisilia. Katanya, “The film doesn’t want to be just about Sicily, Sicily, Sicily. The idea was to tell the life of a chorus of characters inside a microcosm, which is a village, where you hear continually the echo of everything is happening around you, the echo of everything that is happening far away.”

(more…)

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-Noncommercial-Share Alike 3.0 Unported License.
(c) 2010 nasib adalah kesunyian masing-masing | powered by WordPress with Barecity