»

Sapientia

cermin — admin @ 11:26 am

– perihal pentingnya melupakan dalam pembacaan

“Saya berusaha membiarkan diri saya dilahirkan oleh kekuatan dari setiap kehidupan yang hidup: melupakan.”

Pasase itu dikatakan oleh Roland Barthes di depan civitas College de France saat membacakan pidato pengukuhannya sebagai guru besar atau Lecon Inaugurale (Inaugural Lecture) pada 1978. Di situ, Barthes tidak hendak mengajarkan pengetahuan-pengetahuan yang sudah ia paparkan dalam karya-karyanya dan tidak juga menguraikan pokok-pokok pikirannya mengenai ilmu semiologi sastra, melainkan justru berbicara perihal “melupakan”.

Menurut Jonathan Culler, Barthes memang bermaksud memperkenalkan pentingnya “melupakan”, perlunya “tak-mempelajari” (un-learning), yang pasrah dan bercumbu pada improvisasi dan modifikasi sehingga melupakan (dan/atau “mengabaikan”) ketentuan-ketentuan atau prosedur-prosedur baku atas pengetahuan, kebudayaan, atau kepercayaan yang sudah mengendap dan dialami oleh semua orang.

(more…)

Guru

cermin — admin @ 12:27 pm

– guru yang melahirkan pemimpin

Tiap berpikir ihwal kualifikasi seorang guru, kita sebenarnya sedang berharap seperti itulah kualifikasi minimal yang semestinya dimiliki seorang pemimpin: punya standar kognisi (intelektual) dan afeksi (perilaku dan sikap) di atas rata-rata.

Guru secara etimologis berasal dari bahasa Sanskerta, gur-u’, yang berarti mulia, bermutu, memiliki kehebatan, dan orang yang sangat dihormati karena kewaskitaannya. Dalam khazanah Jawa Kuno, dikenal sejumlah istilah yang menempel pada kata ’guru’: guru desa (kamitua desa yang mumpuni dalam dunia spiritual), guru hyan (guru rohani), guru loka (pejabat agama di istana), dan guru pitara (mendiang nenek moyang yang patut dimuliakan karena kewaskitaannya).

Kata ’gur-u’ kemudian bertemu dengan kata ’as’, sebuah kata yang dalam bahasa Sanskerta berarti mengajar. Saat itulah kata guru juga bermakna ’mengajar’. Itu juga dengan prasyarat: guru tetap harus memiliki sikap mulia seperti yang dibebankan oleh kata ’gur-u’.

Seorang pengajar bisa disebut baik jika murid-muridnya berhasil mendapat nilai bagus di kelas. Namun, seorang guru yang baik selalu dituntut mampu melahirkan manusia-manusia yang baik, bukan sekadar murid yang pintar. Guru dituntut tak hanya mampu “menggarap” kognisi (rasio-logika), tetapi juga afeksi (rasa, cipta, karsa, dan sikap).

(more…)

Sisifus

cermin — admin @ 2:53 am

– setelah kekalahan….

23.25. Di sebuah kafe, empat kawan duduk melingkar. Saya datang paling akhir. Sambil menahan capek, saya bilang pada Pangeran Siahaan: “Anjing, udah kaya sisifus aja nih!”

Pertandingan baru berakhir satu jam lalu. Tapi kekalahan malam itu seperti sudah berlangsung lama, sudah berkali-kali, dan sialnya: terus berulang. Tiga kali saya menyaksikannya. 29 Desember 2002, di tempat yang sama, Firmansyah dan Sugiyantoro gagal. 29 Desember 2010, di tempat yang sama, Firman Utina gagal. 21 November 2011, di tempat yang sama, Gunawan dan Ferdinand Sinaga juga gagal.

Saya tahu, sangat tahu, prestasi sepak bola tak mungkin datang tanpa pembinaan yang berjenjang dan kompetisi yang bersih. Tapi, saat kesebelasan kesayangan sudah sampai di final, siapa yang tak tergoda untuk berharap? 20 tahun, tuan-tuan… 20 tahun bukan waktu yang sebentar, waktu yang sangat lama. Sepanjang umur saya menginjakkan kaki di stadion, tak pernah saya melihat Indonesia juara.

Tapi, mau bagaimana lagi? Ternyata kalah lagi, tumbang lagi, kandas lagi. Dongeng sepak bola Indonesia masih mengulang plot yang sama, kisah yang lama, cerita yang lama: kekalahan, kekalahan dan kekalahan.

(more…)

Sekehaji

cermin — admin @ 10:03 pm

Rumah ini masih kosong dari perabotan. Kamar paling besar di lantai atas dan ruang utama (ruangan terbesar di rumah ini) masih kosong melompong dari perabot apa pun.

Saya tak berpikir untuk memasukkan banyak perabot tambahan, apalagi perabotan berukuran besar. Apa yang tersedia sekarang rasanya sudah cukup. Mungkin saya akan membeli karpet tambahan untuk ruang utama, sekadar berjaga jika suatu saat ada tamu yang tak mungkin saya bawa ke ruang belakang.

Ya, ruang belakang, tempat di mana kami lebih sering menghela aktivitas ketimbang di ruangan-ruangan lain (kecuali dapur barangkali). Saya perlu menceritakan sedikit lebih rinci mengenai ruangan belakang ini.

Ruangan belakang ini berukuran sekitar 3×6 meter dan terbujur tanpa sekat. Saya membaginya sedemikian rupa menjadi 3 bagian — sebuah pembagian yang arbitrer dan bisa dibongkar-pasang.

(more…)

Madeleine

– 140 tahun marcel proust [10 juli 1871 - 10 juli 2011]

Tanpa membasuh muka lebih dulu, saya langsung membuat secangkir kopi, lalu duduk di depan monitor dan menghidupkan PC. Asbak masih penuh dengan abu dan puntung rokok sisa semalam, meja sesak dengan tumpukan CD dan beberapa buku. Di seberang monitor, sebuah tivi 14 inch menyala buram.

Saya mendadak ingat sebuah masa dan suatu tempat. Kombinasi bangun tidur, menyeduh kopi, duduk di depan monitor dan menghidupkan PC, dengan meja yang sesak dan degil, plus tivi 14 inch yang menyala buram — kombinasi semua itu dengan seketika membangunkan kembali ingatan delapan-sepuluhan tahun lalu, di sebuah tempat yang berada di pojok sebuah kampus di Jogja. Barusan saja, beberapa saat sebelum catatan ini mulai disusun, sebuah gelaran panjang periode kehidupan saya di masa lalu terbentang seketika, dalam waktu sekejap, dalam tempo yang ringkas.

Saya berpikir: “Sudah lama sekali saya tidak merasakan bangun bangun pagi dan langsung duduk di depan monitor dan menyalakan PC.” [sudah sangat jarang sekali saya menggunakan PC]

(more…)

Kalender

– aku tidak tahu apa nasib waktu

“[Foto] saya selalu ada dalam kalender,” kata Marylin Monroe, “Tapi saya tak pernah tepat waktu.”

Saya suka pernyataan itu karena jenaka, cerdas dalam memainkan ironi, sekaligus artikulatif dalam memotret bagaimana manusia modern memahami, memperingati dan menghadapi waktu.

Saya tidak tahu apakah Monroe mengerti betapa kalender pernah menjadi salah satu tolok ukur tinggi rendahnya peradaban. Hampir semua peradaban-peradaban agung dalam sejarah manusia punya kalendernya sendiri-sendiri. Mesir, Persia, Romawi, Babylonia, Maya, Islam, hingga Yahudi masing-masing punya kalender.

Kalender menjadi vital karena ia menegaskan keberadaan manusia yang berada “di-dalam-waktu”. Manusia, juga peradaban, butuh kompas sebagai panduan dalam mengarungi lautan waktu yang tak berujung.

(more…)

Involusi?

cermin — Tags: , , , — admin @ 4:53 pm

– tentang semut yang terjungkal jatuh tanpa suara

Dari ranting pohon jambu yang terjulur menyentuh genting rumah, semut-semut hitam bergerak dan berarakan berpindah tempat: mula-mula dari ranting, lalu pindah ke genting, lantas merayap menyusuri tembok dan akhirnya –dengan meyakinkan—berhasil menembus ke dalam rumah melalui lubang angin di atas pintu.

Semut-semut itu sesungguhnya tidak mengganggu, tidak juga bikin kotor. Hanya saja, rute perarakan mereka memang sama sekali tak sedap dipandang. Setelah melewati lubang angin di atas pintu, mereka membangun jalur lebih ke bawah, melintasi dinding ruang tamu, lalu tiba di ruang keluarga dengan melintas di dinding tepat di atas televisi. Tiap kali melihat televisi, perarakan semut itu seringkali –mau tak mau—terlihat juga oleh mata. Dan, terus terang saja, itu mengganggu.

Seseorang lantas membeli sejenis kapur khusus yang tiap kali digoreskan di dinding atau lantai akan membikin semut-semut itu mustahil bisa melewatinya. Begitulah: perarakan semut itu berhenti. Tindakan selanjutnya: ranting yang terjulur ke genting pun dipangkas.

(more…)

Diftong

cermin,meracau — admin @ 4:11 pm

–kasih ibu sepanjang masa, apalagi kasih Tuhan

Hari Ibu, yang rutin diperingati tiap 22 Desember, seperti batu tapal yang bisa mengingatkan kita ihwal pentingnya sebuah himpunan bernama keluarga. Kita hidup dalam dunia yang bergerak terus, di mana kecepatan dan percepatan nyaris menjadi kunci dalam semua-mua aspek. Di waktu-waktu tertentu sering kita menemukan letih yang mengarat, penat yang mengerkah. Kadang, pada saat-saat itu, keluarga menjadi berharga lebih dari biasanya. Ia bukan cuma lokus tempat kita tetirah, tapi sekaligus tempat kita kembali kepada ibu.

Ibu di situ hadir sebagai wakil dari segugus nilai-nilai yang lebih mengedepankan kasih, ketulusan, kerjasama. Gugusan prinsip-prinsip feminin itulah yang diharapkan bisa mengguyur kedirian kita yang sepanjang tahun penuh dengan hiruk-pikuk hidup yang terlampau dilambari semangat maskulin yang mengobarkan persaingan ketimbang kerjasama, pamrih ketimbang ketulusan, sinisme ketimbang kasih sayang.

Bukan kebetulan jika tiga hari setelah Hari Ibu kita berjumpa dengan Natal: sebuah momentum historis sekaligus teologis, saat di mana Yesus dari Nazareth dilahirkan ke muka bumi, tentu saja melalui gua garba Maria yang masih suci nan perawan.

Doktrin kristiani menyebut Yesus sebagai bagian tak terpisahkan dari Trinitas Suci. Ada masa di mana perdebatan tentang trinitas suci itu menjadi polemik teologis yang amatlah sengit di kalangan teolog dan para paderi. Sampai-sampai, seperti dikisahkan Karen Amstrong, pokok teologis yang amat elementer itu menjadi bahan perdebatan yang riuh di kalangan awam, para pelaut, tukang roti –sama seperti sekarang orang membicarakan sepakbola.

(more…)

Kabinet

Buku,cermin — admin @ 11:59 pm

– fakta-fakta menarik tentang sejarah kabinet indonesia

Dalam sejarah politik Indonesia, ada kabinet yang hanya berusia 31 hari. Ada kabinet yang berisi 130 orang lebih. Ada pula kabinet yang tak pernah jelas mengumumkan program-programnya. Semua ada di sini: dalam sejarah kabinet Indonesia.

Saya mencoba menyusun sejumlah poin menarik dalam perjalanan sejarah kabinet di Indonesia. Poin-poin itu saya hadirkan dalam bentuk tanya jawab alias frequently askes question [FAQ].

Poin-poin yang sempat saya tampilkan ini masih bisa diperbanyak lagi. Ada banyak hal yang bisa ditambahkan, atau bahkan dikoreksi. Saya belum sempat mencari tahu siapa orang termuda dan tertua yang pernah masuk kabinet, siapa orang yang paling banyak keluar masuk kabinet atau siapa orang yang paling sering masuk kabinet dalam satu posisi yang sama terus menerus.

(more…)

Madjallah

cermin — pejalanjauh @ 8:48 pm

Saya menemukan sebuah majalah tua yang tak jelas namanya.

Sampul majalah itu sudah copot entah di mana. Jadi, tak jelas siapa dewan redaksinya, juga tanggal terbitnya. Nama majalah itu pun tak begitu jelas, tapi bisalah saya kira-kira namanya: Majalah Indonesia. Perkiraan itu diambil dari selalu munculnya nama Indonesia di tepi atas di setiap halaman genap, sementara tepi atas halaman ganjil selalu berisi judul-judul tulisan yang dimuat di situ.

Saya hanya dapat satu eksemplar dari satu nomor penerbitan. Di situ ada esai Bahrum Rangkuti, Amal Hamzah, puisi-puisi M Balfas dan terjemahan esai Arthur Koestler tentang watak novel dan terjemahan surat-surat Dennis de Rougemont tentang bom atom di Hiroshima.

Saya menduga eksemplar yang saya dapatkan adalah edisi pertama majalah tersebut. Hal itu terlihat dari Kata Pengantar yang ditulis editornya. Tak ada keterangan siapa editornya. Kata pengantarnya menarik sekali, dan bisa dibaca sebagai seperti sebuah manifesto. Di sana terpacak dengan gagah sebuah sikap kebudayaan, yang dalam beberapa hal kadang terasa lucu.

Saya ketik ulang naskah kata pengantarnya untuk Anda. Semoga berguna.

(more…)

Next Page »
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-Noncommercial-Share Alike 3.0 Unported License.
(c) 2012 nasib adalah kesunyian masing-masing | powered by WordPress with Barecity