– tentang semut yang terjungkal jatuh tanpa suara
Dari ranting pohon jambu yang terjulur menyentuh genting rumah, semut-semut hitam bergerak dan berarakan berpindah tempat: mula-mula dari ranting, lalu pindah ke genting, lantas merayap menyusuri tembok dan akhirnya –dengan meyakinkan—berhasil menembus ke dalam rumah melalui lubang angin di atas pintu.
Semut-semut itu sesungguhnya tidak mengganggu, tidak juga bikin kotor. Hanya saja, rute perarakan mereka memang sama sekali tak sedap dipandang. Setelah melewati lubang angin di atas pintu, mereka membangun jalur lebih ke bawah, melintasi dinding ruang tamu, lalu tiba di ruang keluarga dengan melintas di dinding tepat di atas televisi. Tiap kali melihat televisi, perarakan semut itu seringkali –mau tak mau—terlihat juga oleh mata. Dan, terus terang saja, itu mengganggu.
Seseorang lantas membeli sejenis kapur khusus yang tiap kali digoreskan di dinding atau lantai akan membikin semut-semut itu mustahil bisa melewatinya. Begitulah: perarakan semut itu berhenti. Tindakan selanjutnya: ranting yang terjulur ke genting pun dipangkas.
(more…)
– hari ibu, lantas hari natal
Hari Ibu, yang rutin diperingati tiap 22 Desember, seperti batu tapal yang bisa mengingatkan kita ihwal pentingnya sebuah himpunan bernama keluarga. Kita hidup dalam dunia yang bergerak terus, di mana kecepatan dan percepatan nyaris menjadi kunci dalam semua-mua aspek. Di waktu-waktu tertentu sering kita menemukan letih yang mengarat, penat yang mengerkah. Kadang, pada saat-saat itu, keluarga menjadi berharga lebih dari biasanya. Ia bukan cuma lokus tempat kita tetirah, tapi sekaligus tempat kita kembali kepada ibu.
Ibu di situ hadir sebagai wakil dari segugus nilai-nilai yang lebih mengedepankan kasih, ketulusan, kerjasama. Gugusan prinsip-prinsip feminin itulah yang diharapkan bisa mengguyur kedirian kita yang sepanjang tahun penuh dengan hiruk-pikuk hidup yang terlampau dilambari semangat maskulin yang mengobarkan persaingan ketimbang kerjasama, pamrih ketimbang ketulusan, sinisme ketimbang kasih sayang.
Bukan kebetulan jika tiga hari setelah Hari Ibu kita berjumpa dengan Natal: sebuah momentum historis sekaligus teologis, saat di mana Yesus dari Nazareth dilahirkan ke muka bumi, tentu saja melalui gua garba Maria yang masih suci nan perawan.
Doktrin kristiani menyebut Yesus sebagai bagian tak terpisahkan dari Trinitas Suci. Ada masa di mana perdebatan tentang trinitas suci itu menjadi polemik teologis yang amatlah sengit di kalangan teolog dan para paderi. Sampai-sampai, seperti dikisahkan Karen Amstrong, pokok teologis yang amat elementer itu menjadi bahan perdebatan yang riuh di kalangan awam, para pelaut, tukang roti –sama seperti sekarang orang membicarakan sepakbola.
(more…)
– fakta-fakta menarik tentang sejarah kabinet indonesia
Dalam sejarah politik Indonesia, ada kabinet yang hanya berusia 31 hari. Ada kabinet yang berisi 130 orang lebih. Ada pula kabinet yang tak pernah jelas mengumumkan program-programnya. Semua ada di sini: dalam sejarah kabinet Indonesia.
Saya mencoba menyusun sejumlah poin menarik dalam perjalanan sejarah kabinet di Indonesia. Poin-poin itu saya hadirkan dalam bentuk tanya jawab alias frequently askes question [FAQ].
Poin-poin yang sempat saya tampilkan ini masih bisa diperbanyak lagi. Ada banyak hal yang bisa ditambahkan, atau bahkan dikoreksi. Saya belum sempat mencari tahu siapa orang termuda dan tertua yang pernah masuk kabinet, siapa orang yang paling banyak keluar masuk kabinet atau siapa orang yang paling sering masuk kabinet dalam satu posisi yang sama terus menerus.
(more…)
Saya menemukan sebuah majalah tua yang tak jelas namanya.
Sampul majalah itu sudah copot entah di mana. Jadi, tak jelas siapa dewan redaksinya, juga tanggal terbitnya. Nama majalah itu pun tak begitu jelas, tapi bisalah saya kira-kira namanya: Majalah Indonesia. Perkiraan itu diambil dari selalu munculnya nama Indonesia di tepi atas di setiap halaman genap, sementara tepi atas halaman ganjil selalu berisi judul-judul tulisan yang dimuat di situ.
Saya hanya dapat satu eksemplar dari satu nomor penerbitan. Di situ ada esai Bahrum Rangkuti, Amal Hamzah, puisi-puisi M Balfas dan terjemahan esai Arthur Koestler tentang watak novel dan terjemahan surat-surat Dennis de Rougemont tentang bom atom di Hiroshima.
Saya menduga eksemplar yang saya dapatkan adalah edisi pertama majalah tersebut. Hal itu terlihat dari Kata Pengantar yang ditulis editornya. Tak ada keterangan siapa editornya. Kata pengantarnya menarik sekali, dan bisa dibaca sebagai seperti sebuah manifesto. Di sana terpacak dengan gagah sebuah sikap kebudayaan, yang dalam beberapa hal kadang terasa lucu.
Saya ketik ulang naskah kata pengantarnya untuk Anda. Semoga berguna.
(more…)
Jika kunjungan ke Gedung Agung, satu dari lima Istana Kepresidenan, di ujung Malioboro terjadi 3 tahun silam, mungkin saya menganggapnya sebagai napak-tilas perjalanan Larasati a.k.a Atik dan Setadewa a.k.a Teto, dua tokoh utama roman Burung-burung Manyar.
Tapi ini 2009, dua tahun setelah saya membaca buku Bianglala Sastra yang disusun oleh Robert Nieuwenhuys, juga setahun setelah saya sempat “menengok” uraian Peter Carey tentang Java-Oorlog. Dua tulisan itulah yang pertama kali memperkenalkan sosok Antoine Payen, sang arsitek Gedung Agung, kepada saya.
Jadilah kunjungan ke Gedung Agung [yang tak mungkin terjadi tanpa gerombolan Cah Andong yang entah kenapa semuanya rapi jali nan sopan] sebagai napak-tilas atas sepenggal perjalanan panjang kehidupan seorang Payen, kendati beberapa saat sebelum memasuki Gedung Agung, Muhidin M Dahlan datang membawakan Burung-burung Manyar dengan sampul hijaunya yang lawas.
Pagi itu saya datang ke Gedung Agung dari arah utara, persis seperti Si Teto bersama pasukannya mengendap-ngendap menelusuri Malioboro dalam rangka menyerbu dan mengambil alih Gedung Agung yang kala itu menjadi kantor Presiden Soekarno. Beginilah Romo Mangun mengisahkannya: (more…)

Beberapa saat sebelum pasola berakhir, saya memungut sebatang tombak yang tergeletak di tanah.
Jam mendekati pukul dua, berarti sudah 7 jam perang lempar tombak di atas punggung kuda berlangsung. Matahari masih sangat terik. Pasola masih berlangsung, masih sengit. Para pemain pasola sering memberi aba-aba mengejek untuk memancing lawan merengsek maju. Tak ada tempat bagi kelengahan di sini. Semua mesti waspada, bahkan termasuk penonton. Seliweran tombak itu kadang terlontar ke arah penonton yang berkerumun di keempat sisi arena pasola.
Seorang tua dengan pakaian adat yang tak ikut bermain terkena tombak di dadanya. Untuk kekuatannya tak seberapa sehingga tak membuatnya luka. Saya melihatnya meringis menahan sakit, tapi ia tak mengeluh dan tak memajang tampang kesakitan. (more…)

Sumba ialah langit biru yang selalu terasa dekat dan seakan hendak runtuh-jatuh. Di Sumba, tak ada langit yang jauh, semuanya terasa dekat, segalanya tampak melekat lalu memiuh di ujung ringkik kuda yang melenguh.
Sumba ialah pantai-pantai landai dengan ombak-ombak yang dari jauh terlihat selalu melambai. Di Sumba, tak ada pantai yang ramai, semuanya terasa lengang, segalanya tampak mengembang panjang sejauh mata memandang.
Sumba adalah hamparan padang alang-alang. Di Sumba, tak ada alang-alang yang yang tak berguna: ia ada di atap rumah dan di ujung mulut kuda yang mengunyah. Alang-alang yang tak tersentuh bahkan mengabadikan sudut-sudut Sumba yang tak terjamah.
Sumbah adalah cerita tentang mulut-mulut yang tak berhenti memamah. Di Sumba, tak ada mulut yang sepi dari sirih, pinang dan tembakau yang sengat baunya hanya kalah oleh harum kayu cendana dari hutan-hutan yang basah. (more…)
– kepada bung kecil: 1909-2009
Bung, seandainya hari ini kau masih hidup, sangat ingin benar aku membawa “Renungan dan Perjuangan”, menyodorkannya padamu, agar bisa kau goreskan parafmu di situ, hingga kelak satu waktu, kepada darah dagingku, aku yang telah renta masih bisa dengan bangga bercerita: “Ayahmu ini, Nak, telah menemui Bung Sjahrir, pada satu hari di bulan Maret 2009, saat ia sedang merayakan seabad usianya.”
Tapi kau sudah tak lagi di sini, sudah lama, bahkan jauh sebelum kulewati gua garba dan kuhirup udara jagat raya. Yang tiba padaku hanyalah catatanmu, remah-remah pikiranmu, yang kadang jenaka kadang beratnya berkati-kati, yang sebagian selintas lewat tapi lebih banyak lagi yang melekat erat di benak.
Ada satu masa, Bung, di mana kau tak punya tempat di ruang baca. Usia di penghujung belasan yang menggelora, membuatku lebih kena pikat seniormu, Ibrahim yang kesohor itu. Ketika itu, memang ada kupunya beberapa buah buku pikiranmu, tapi selintas-lintas saja kujamah, itu pun tak begitu antusias, tanpa gelora yang membikin lintang pukang.
Apatah bisa patik kena limau dalam sekali kerjap jika catatanmu di pengasingan Bandaneira banyak diisi cerita main-main dengan anak-anak Baadilla? Apatah bisa patik kena pukau dalam sekali desau jika catatanmu di pengasingan terlalu pepak oleh bahasan-bahasan yang membebani kepala pemuda tanggung di ujung usia belasan? (more…)
– kunang-kunang tetap bercahaya walau malam makin larut….
Hiroshi Sugawara, melalui filmnya yang sederhana tapi menyentuh, “Hotaro no Hoshi”, mengisahkan seorang guru SD berusia muda, Hajime, yang mengajak murid-muridnya menangkarkan kunang-kunang yang sudah lama tak terlihat di Sungai Yamaguchi di Tokyo yang kadung gemerlap oleh pijar-pijar lampu.
Tiba-tiba saya sadar sudah teramat lama tak melihat kunang-kunang. Saya lupa kapan terakhir melihatnya, kendati –sungguh– saya tak pernah bisa lupa pendar cahayanya. Kunang-kunang pernah menjadi bagian mesra dari masa kecil yang telah lama lewat, masa silam yang sudah beranjak jauh.
Ini barangkali tak lebih dari sebentuk kerinduan yang nostalgik. Saya tahu, nostalgia adalah laku yang paradoks: ia mencoba menghadirkan kembali waktu lampau yang sebenarnya sudah menjauh dan tak mungkin kembali. Tapi, adakah yang salah dengan nostalgia?
Pada Marno dan Jane, dua tokoh dalam cerita Umar Kayam, “Seribu Kunang-kunang di Manhattan”, nostalgia sama sekali bukan barang haram. Sekujur cerita justru berisi perayaan nostalgia. Di sana, nostalgia hadir dalam pelbagai bentuknya, menyeruak di tengah kepungan pengaruh alkohol yang ditenggak Jane atau menyembul tiba-tiba saat Marno menyaksikan kelip-kelip lampu dari bangunan-bangunan menjulang kota Manhattan dari jauhan. (more…)
Seorang lelaki muda berjalan di tembok dermaga. Pakaiannya serba hitam. Rambutnya ikal. Ia berjalan dengan langkah yang gontai. Sendirian. Saya tak tahu siapa namanya.
Di kejauhan, senja turun dengan sempurna. Warnanya bukan merah yang matang, tapi merah bersemu kuning, tajam, ada sisa-sisa violet yang sedikit menyilaukan. Rasanya seperti melihat merah yang marah, senja yang murka dan siap menelan siapa saja.
Menatap senja macam itu, juga sosok lelaki yang berjalan gontai sendirian, tak bisa tidak saya ingat bait terakhir dari sebuah sajak yang tak mungkin bisa terlupakan:
Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan
menyisir semenanjung, masih pengap harap
sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan
dari pantai keempat, sedu penghabisan bisa terdekap
(more…)