– dunia pasca-harkat
Dalam Muqaddimah, jilid pembuka dari mahakarya al-I’bar Wa Diwan al-Mubtad Wa al-Khabar, Ibn Khaldun memaparkan faktor-faktor penting yang membentuk sebuah unit masyarakat maupun peradaban. Ia memaparkan sebuah konsep yang disebutnya al-Ashabiyyah sebagai kunci untuk memahami proses terbentuknya sebuah peradaban, di antaranya perihal keningratan serta pengaruh-pengaruh keturunan dalam ketahanan persatuan suku-suku nomad.
Padanan kata yang paling mendekati kata Ashabiyyah adalah “loyalitas kelompok”, “kohesi sosial” atau solidaritas sosial”. Bagi Khaldun, ashabiyyah merupakan inti dari sebuah organisasi sosial. Ashbiyyahmengikat kelompok-kelompok menjadi satu melalui sebuah bahasa, budaya dan peraturan-peraturan yang disepakati secara berangsur-angsur oleh segenap anggota kelompok.
Khaldun menyebut faktor Ashbiyyah ini sebagai kunci bagi lahirnya suatu tamaddun (peradaban) dan juga kekuasaan politik. Kehancuran Ashbiyyah dengan sendirinya menjadi titik balik kehancuran peradaban dan kekuatan politik tersebut. Dan sejak pertengahan abad 20 inilah, Ashbiyyah dari umat Islam telah ambruk sebagai akibat langsung dari perkembangan politik mutakhir.
Kehancuran Ashbiyyah ini mengakibatkan ambruknya ide-ide tradisional mengenai keadilan (‘adl), kebajikan, kebaikan, dan keseimbangan (ihsan). Kehancuran ide-ide tradisional itu selanjutnya mendistorsi pemahaman tradisional atas ide Ashbiyyah dan berujung pada lahirnya pemahaman Ashbiyyah baru yang berlebihan yang oleh Akbar S. Ahmed disebut sebaga hiper-Ashbiyyah.
(more…)
– buku dan perjalanan menggapai mata (yang) baru
Buku atau novel perjalanan tak akan pernah memikat dan mengguratkan tilas yang kuat pada pembacanya jika ia hanya berhenti dengan memerikan lanskap-lanskap baru nan asing, betapa pun indah dan memukaunya pemerian itu. Sebab, melulu menawarkan pemerian lanskap hanya akan membuat sebuah buku tak lebih sebagai “travel guide”.
Tak bisa disangkal, buku-buku “panduan perjalanan” punya kegunaan praktis bagi para pejalan, turis atau peziarah. Buku semacam itu bisa dengan mudah memberi jawaban praktis atas sejumlah pertanyaan praktis.
Beda dengan buku-buku macam (sekadar menyebut beberapa yang populer) “The Alchemist”-nya Paulo Coelho, “Soul Mountain”-nya Gao Xingjian, “On the Road”-nya Jack Kerouac, “The Solitaire Mystery”-nya Jostein Gaarder atau “The Celestine Prophecy”-nya James Redfield.
(more…)
– tokoh dan karakter sebagai kata ganti
Dini hari tadi, di tengah kebosanan yang sekonyong-konyong datang, juga dipicu oleh perasaan tidak enak yang tak terkatakan, tiba-tiba saja saya ingin membuka-buka lagi Ling Shan (Soul Mountain atau Gunung Jiwa) karya Gao Xingjian. Saya sudah tidak ingat lagi berapa kali sudah membaca Ling Shan. Tiga atau empat kali saya menghabiskannya, dari awal sampai akhir. Tak terhitung pula saya membaca kembali novel itu secara acak, membacanya dengan sambil lalu. Cukup sering saya membawa novel itu tiap kali sedang melakukan perjalanan. Dua bulan lalu saya kembali membawa dan membaca novel ini saat melakukan perjalanan 10 hari mengelilingi Jawa Timur hingga Bali.
Novel ini punya tempat tersendiri di kepala saya. Sebagai novel yang kerangkanya sama-sama berbentuk cerita perjalanan, jangan bandingkan novel ini dengan Sang Alkemis-nya Coelho atawa Celestine Prophecy-nya James Redfield yang “berkhotbah” itu. Pesannya berlapis, imajinya kaya, metaforanya berlimpah: gabungan antara pemeriaan hewan dan tumbuhan juga hutan-hutan, deskripsi yang detail tentang ritus-ritus, pemaparan ulang folklore dan folksong, legenda dan mitos, tinjauan tentang situasi sosial dan politik hingga sentuhan yang halus dan lembut tentang pengalaman fisikal dan indrawi.
Tapi ada satu alasan yang mendasari kenapa saya hingga hari ini saya masih saja membacanya lagi dan lagi: penggunaan prononima sebagai protagonis novel. Di novel ini, kita tak pernah tahu siapa nama tokoh-tokoh utama yang muncul. Gao Xingjian hanya menggunakan pelbagai prononima: “aku”, “engkau”,” ia” (perempuan), lalu muncul lagi “dia” yang lain (lelaki yang hadir silih bergantian dengan “aku”).
(more…)
– bersatulah kere-kere sedunia
Seorang teman bertanya apa pernah saya mendengar kata “kromoleo”. Saya mengangguk dan menjawab apa yang saya tahu tentang “kromoleo”.
Apa yang saya tahu tentang “kromoleo” ternyata berbeda sekali dengan apa yang dimaksud teman yang bertanya tadi. Jika saya menjawab “Kromoleo” sebagai nama tokoh yang memimpin Sarekat Kere di Semarang pada 1914, teman saya justru memaksudkannya sebagai “sejenis hantu yang dipercaya berwujud keranda mayat dan kerap meminta tumbal”. Versi lain menyebutnya “memedi pandosa”, yang muncul berlima, empat hantu mengusung keranda, satunya lagi terbujur di atas kerandanya.
Obrolan sambil lalu dengan teman tadi membuat saya jadi tertarik lagi dengan sosok “Kromoleo”.
Satu-satunya informasi yang saya ketahui tentang sosok Kromoleo didapatkan dari studi Soe Hok Gie tentang transformasi Sarekat Islam (SI) cabang Semarang yang disusunnya untuk mendapatkan gelar Sarjana Muda (BA) di Departemen Sejarah UI. Saya membacanya di akhir tahun 1990-an dan tak pernah punya ketertarikan lebih pada sosok “Kromoleo”. Seingat saya, namanya hanya disebut sekali oleh Gie.
Kromoleo, dalam catatan Gie, adalah pemimpin Sarekat Kere, organ bentukan SI Semarang. Sarekat Kere didirikan sekitar Februari 1919, saat di mana SI Semarang sudah makin radikal dan tinggal menunggu waktu untuk bertransformasi menjadi partai komunis pertama di Asia.
(more…)
– rendra dan sakralisasi persatuan
Barangkali, “kutukan” yang menimpa rezim manapun yang berambisi menjaga dan memperkokoh persatuan dan kesatuan adalah justru mereka sendiri yang — langsung atau tidak — merusak, menggoyahkan dan melemahkan persatuan dan kesatuan.
Di sinilah ironinya: Persatuan dan kesatuan di era kemerdekaan, justru seperti kemerdekaan di era di mana persatuan masih diperjuangkan!
Sejarah pencapaian kemerdekaan Indonesia penuh dengan wacana pentingnya persatuan dan kesatuan. Para founding fathers/mothers Indonesia, yang satu sama lain berbeda ideologi dan partai, justru segendang-sepenarian ihwal arti pentingnya persatuan dan kesatuan. Seperti ada kesepakatan kolektif bahwa kemerdekaan hanya mungkin direalisasikan jika persatuan sudah tercapai lebih dulu.
(more…)
– fakta-fakta menarik tentang sejarah kabinet indonesia
Dalam sejarah politik Indonesia, ada kabinet yang hanya berusia 31 hari. Ada kabinet yang berisi 130 orang lebih. Ada pula kabinet yang tak pernah jelas mengumumkan program-programnya. Semua ada di sini: dalam sejarah kabinet Indonesia.
Saya mencoba menyusun sejumlah poin menarik dalam perjalanan sejarah kabinet di Indonesia. Poin-poin itu saya hadirkan dalam bentuk tanya jawab alias frequently askes question [FAQ].
Poin-poin yang sempat saya tampilkan ini masih bisa diperbanyak lagi. Ada banyak hal yang bisa ditambahkan, atau bahkan dikoreksi. Saya belum sempat mencari tahu siapa orang termuda dan tertua yang pernah masuk kabinet, siapa orang yang paling banyak keluar masuk kabinet atau siapa orang yang paling sering masuk kabinet dalam satu posisi yang sama terus menerus.
(more…)
It’s 1776 in Indonesia
Itu judul sebuah kertas kerja, bisa pula dianggap sebagai memorandum, yang ditulis oleh Soedarpo Sastrosatomo pada Maret 1949 di New York dan ditujukan bagi wartawan dan pejabat Amerika yang berminat dalam isu konflik antara Indonesia dan Belanda.
Tak banyak yang tahu ihwal dokumen itu, sebuah karya ringkas yang dipuji oleh Francess Gouda sebagai “pernyataan sikap elegan” sekaligus “memorandum [yang] cerdas” untuk “menggoda” imajinasi bangsa Amerika ihwal kesamaan perjuangan bangsa Indonesia melawan penduduk Belanda dengan perjuangan para founding fathers Amerika dalam upaya memerdekakan diri dari Inggris.
Soedarpo ketika itu menjabat sebagai “press officer” perwakilan Indonesia di Amerika, bersama Soedjatmoko. Darpo, begitu biasa dipanggil, baru berusia 34 tahun ketika itu. Bersama Koko, panggilan Soedjatmoko, keduanya diberi tugas untuk mewakili dan mengkampanyekan suara dan kepentingan Indonesia di Amerika dan di Lake Succes, kantor PBB.
Keduanya tidak punya latar belakang pendidikan diplomat apalagi pengalaman bernegosiasai dan melakukan lobi-lobi tingkat tinggi. Untuk itu, seperti pernah dikenangkan Koko, tugas itu membutuhkan “kursus kilat” dalam melakukan “lobi-lobi politik” sekaligus keahlian seorang PR dalam melebih-lebihkan kebenaran atau menunjukkan kemiripan yang agak dipaksakan dalam menyamakan perjuangan Indonesia dengan perjuangan Amerika di abad 18.
(more…)
Buku “Dutch Culture Overseas” karya Dr. Frances Gouda menarik untuk dicermati karena ia mencoba menguraikan bagaimana persepsi kolonial dan orang-orang Belanda tentang Hindia Belanda dan penduduknya, berikut segala macam sikap hangat, rasa hormat, sinisme, hingga rasisme.
Dari semua bab di buku ini, bab 4 menjadi bagian paling menarik. Di bagian ini Dr. Gouda memaparkan bagaimana orang-orang Belanda (sekaligus juga orang Eropa) membangun pemahaman ihwal siapa sebenarnya “orang-orang pribumi”. Secara ringkas, bab sepanjang 75 halaman ini menguraikan bagaimana prasangka rasial terhadap orang-orang pribumi dibangun. Dengan menelusuri artikel-artikel, catatan perjalan, guntingan berita, catatan harian, surat-surat dan novel-novel, penulisnya mencoba memaparkan betapa “rendahnya” orang-orang pribumi di mata orang-orang Eropa kala itu.
Bab ini menarik secara intelektual karena penulisnya mengkonfirmasi kutipan-kutipan yang digunakan dengan teori-teori evolusi, dari Darwin, Ernest Haeckal, Herbert Spencer, hingga Lamarck. Tapi bab ini juga lumayan menjengkelkan karena dipenuhi kutipan yang menceminkan “rasialisme” Eropa yang memirip-miripkan penduduk Hindia Belanda dengan kera. (more…)