»

Fiksi

Bola — admin @ 5:21 pm

– tentang tiki taka & tipu daya

Bagian tubuh Busquet mana yang disentuh Marcelo? Dada. Apa yang dipegangi Busquet sambil guling-guling? Muka. Sobekkah kaus kaki Dani Alves oleh terjangan kaki Pepe? Tak ada, karena memang tak kena. Berapa kali Alves guling-guling karenanya? Hitung sendiri. Apakah Alves langsung bermain lagi? Tidak, doi sampai harus ditandu ke luar lapangan untuk insiden yang fiktif itu. Lalu, berapa pemain Barca yang seketika itu merubungi wasit Stark? 9 pemain [lihat potongan video INI]

Apa artinya? Klasik: sepakbola tak pernah berhenti sekadar hanya menjadi sebuah “permainan”, tapi selalu berpotensi terangkat menjadi sebuah “kisah” – yang melahirkan banyak tafsir, banyak kemarahan, kekecewaan, rasa senang, terkadang bahkan rasa jijik untuk sepotongan scene fiktif yang dilebih-lebihkan.

Lalu, apa lagi? Sederhana: sepakbola tak hanya membutuhkan sejumlah keterampilan taktik dan teknis, tapi juga kemampuan mengelabui, berpura-pura, melakukan intimidasi, juga teror yang mengecoh.

Dalam hal Barca, masihkah ada yang percaya bahwa tiki-taka adalah segalanya?

(more…)

Ganyang!

Bola — Tags: , , , , , — admin @ 6:15 am

– tembak nurdin di lapangan banteng

16 Desember [seperti hari ini, saat postingan ini terunggah] adalah hari kematian Soe Hok Gie.

Saya masih ingat salah satu kutipan dari catatan harian Gie yang rasanya justru masih tetap relevan. Kutipan itu bertarikh 12 Desember 1959, 51 tahun silam. Bunyinya tanpa tedeng aling-aling: “Mereka generasi tua… semua pemimpin yang harus ditembak di Lapangan Banteng.”

Siapa yang harus ditembak di Lapangan Banteng? Dalam catatan hariannya itu, Gie menunjuk nama-nama seperti Soekarno, Ali Iskak, Lie Kiat Teng, Ong Eng Die. Tapi siapa yang harus ditembak di Lapangan Banteng di masa kini? Untuk saya jawabannya adalah para koruptor!

Korupsi dan koruptor adalah lintah yang penghisap darah bangsa ini. Membasmi dan mengganyang para koruptor-lintah adalah tugas yang harus kita panggul sama-sama. Semua-mua mesti ikut ambil peran, siapa pun juga harus ambil bagian.

Tak terkecuali dalam dunia sepakbola. Tidak ada tempat bagi korupsi dalam sepak bola, tak boleh ada tempat bagi koruptor dalam sepakbola.

(more…)

Nurdin

Bola — admin @ 11:29 pm

– aku berlindung dari godaan nurdin yang terkutuk

Bagi saya, dosa terbesar Nurdin Halid adalah ia selalu berhasil membuatku ragu untuk datang ke stadion, baik untuk mendukung Persib Bandung dan [terutama] tim nasional Indonesia.

Bagi seorang suporter [Persib Bandung dan tim nasional] dan penggemar sepakbola [Manchester United], seperti saya ini, datang ke stadion untuk menyaksikan Liga Super Indonesia atau/terutama tim nasional Indonesia sebenarnya bisa dibaca sebagai sebentuk legitimasi diam-diam atas kepemimpinan Nurdin Halid dan antek-anteknya di PSSI.

Tentu Anda boleh tidak bersetuju dengan pernyataan di atas. Tapi, untuk saya, pernyataan di atas itu paralel dengan situasi ambigu yang selalu muncul dalam menyikapi prestasi tim nasional Indonesia. Hitung-hitungan personalnya begini: Jika tim nasional gagal atau sukses (misalnya) dalam Piala AFF 2010, selalu akan muncul rasa lega dan enek sekaligus.

(more…)

Patah(in)!

Bola — Tags: , , — admin @ 8:48 pm

– catatan usai nonton Liga Kompas-Gramedia U-14

Tak perlu bertele-tele: sepakbola Indonesia memang lebih suka yang serba instan, tak begitu peduli dengan pembinaan, melulu bicara prestasi – seakan-akan prestasi tak ubahnya hujan yang bisa tercurah begitu saja dari atas langit sana. Lalu, apa jadinya jika kompetisi yunior atau kelompok umur yang sedianya dibangun untuk pembinaan pun ternyata lebih peduli dengan hasil dan prestasi?

Terbetik kabar kalau Rigan Agachi, pemain berdarah Indonesia yang sempat direkrut oleh PSV Eindhoven, terpaksa dibuang oleh PSV karena skandal pencurian umur. Jika benar, itu tentu mengherankan. Anda hanya perlu memanfaatkan mesin pencari untuk menemukan kasus pencurian umur dalam kompetisi atau turnamen sepakbola kelompok yunior di Indonesia –sampai sekarang—masih saja direcoki oleh kasus pencurian umur. Ya, sampai sekarang.

Itu baru dari aspek yang paling kelihatan. Bagaimana dengan mental para pengelola SSB atau para orang tua pemain yunior? Sama saja, setidaknya seperti yang saya lihat dan saksikan sendiri pada hari Minggu kemarin di Lapangan AS-IOP, Senayan, dalam Liga Kompas-Gramedia U-14.

(more…)

Fanon

Bola — admin @ 4:53 am

– catatan pengantar untuk piala dunia 2010

Belum terlalu lama berselang, bumi dihuni oleh dua miliar penduduk: 500 juta adalah manusia dan 1,5 miliar sisanya penduduk pribumi yang tidak dimanusiakan. Yang pertama menciptakan kata, yang lain mengikutinya.”

Begitulah filsuf Jean Paul Sartre memulai kata pengantar untuk buku karya Frantz Fanon berjudul Bumi Berantakan (The Wretched of the Earth) yang terbit pertama kali dalam bahasa Prancis pada 1961. Karya-karya Fanon, termasuk buku tadi, banyak menginspirasi gerakan pembebasan atas kolonialisme di Afrika dalam waktu yang lama.

21 tahun setelah buku Frantz Fanon itu terbit, Aljazair (yang menjadi subyek utama buku Fanon itu) tampil di Piala Dunia 1982 dengan debut yang sangat mengesankan: mengalahkan Jerman Barat dengan skor 2-1. Dunia sepakbola terkejut, begitu juga publik dan para pemain Aljazair sendiri. Eforia melenakan mereka sehingga di laga kedua Aljazair menyerah 2-3 oleh Austria. Di laga terakhir, Aljazair kembali bangkit dengan mengandaskan Cili dengan skor 3-2. Tapi mereka tersingkir karena kalah selisih gol setelah Jerman Barat mengalahkan Austria dengan skor 1-0.

Laga antara Jerman Barat versus Austria yang digelar di Gijón itu menjadi salah satu laga paling kontroversial dalam sejarah Piala Dunia. Hingga 10 menit pertama, Jerman Barat yang butuh kemenangan membombardir Austria hingga akhirnya Horst Hrubesch berhasil membobol gawang Austria di menit 10. Sejak itu, tensi pertandingan tiba-tiba merosot drastis. Kedua tim seakan tak mau bermain bola. Pers di Jerman Barat, termasuk surat kabar penting Bild, menganggap laga itu sebagai hal memalukan. Ada yang menyebut laga itu sebagai “Nichtangriffspakt von Gijón” (“Non-aggression pact of Gijón”) atau “Schande von Gijón” (“The Shame of Gijón”).

(more…)

Felstead

Bola,biografi — admin @ 6:01 am

-- karena manusia adalah mahluk (yang) bermain

Pada malam natal 1915, di desa Laventie di utara Prancis, dua kubu serdadu dari Inggris dan Jerman yang saling berhadapan dalam jarak dekat mendekam di parit pertahanannya masing-masing. Tak ada pohon natal, tak ada kalkun panggang. Lantas terjadilah satu selingan pendek yang menyentuh dalam lembaran sejarah Perang Dunia I itu: salah seorang dari mereka — mulanya dengan suara lirih — menyanyikan lagu natal, lalu ada yang iseng menyapa. Lalu, ya, lalu… mereka semua bermain bola!

Bertie Felstead, serdadu Inggris sekaligus saksi mata peristiwa yang masih sempat merasakan udara abad-21, memberi kesaksian yang menyentuh. Katanya:

“Kami dipisahkan oleh jarak yang hanya sekitar 100 yard saat pagi hari Natal itu tiba. Seorang serdadu Jerman menyanyikan lagu All Through the Night, lalu para serdadu Inggris membalasnya dengan manyanyikan lagi Good King Wencelas. Pagi berikutnya, para serdadu saling menyapa. Hello Tommy… Hello Fritz. Serdadu Jerman yang memulai, mereka keluar dari paritnya dan berjalan menghampiri kami. Tak ada yang memerintahkan, tapi kami semua memanjat dinding pembatas dan bergabung dengan mereka. Beberapa dari mereka menghisap cerutu sekaligus menawari kami cerutu. Kami juga menawarkan sebagian dari yang kami miliki. Lalu kami mengobrol. Kami berbicara dengan bahasa campur aduk. Ada yang bicara dalam Inggris, Jerman, dan Prancis… sisanya dengan bahasa isyarat. Kami semua tidak takut ditembak karena kami semua telanjur berbaur satu sama lain.”

(more…)

Grand-Jeté

Bola,biografi — admin @ 3:51 pm

– maradona dan lompatan hebat seorang penari

Apa yang membuat gol kedua Maradona ke gawang Peter Shilton di Piala Dunia 1986 dinobatkan sebagai “gol terbaik abad 20″? Salah satu alasannya adalah karena selama proses terjadinya gol, Maradona setidaknya dua kali melakukan sebuah gerakan sulit yang dalam tarian balet biasa disebut grand jeté.

Cukup jelas: gol itu luar biasa karena dilakukan dengan melewati lima pemain (atau 7 pemain karena Maradona dua kali melewati Terry Butcher dan dua kali pula melewati Peter Beardsley), sendirian ia membawa bola sepanjang 60 meter, dan semuanya berlangung dalam 10-12 detik. Gol semacam itu biasa disebut solo-run.

Sebenarnya bukan cuma Maradona yang pernah bikin gol solo run dengan melewati beberapa pemain. Saya juga pernah, kok, tapi… ya cuma level kelas pertandingan 17-an :) ) *siap-siap dibandem sepatu bal*

Said Oweiran pernah melakukannya di partai terakhir babak penyisihan Piala Dunia 1994 ke gawang Belgia yang dijaga Michael Preudhomme [kiper ini kelak menjadi kiper terbaik Piala Dunia 1994]. Lionel Messi pernah pula melakukannya saat menghadapi Getafe di semifinal Copa del Rey 2008. Detail solo run Messi bahkan nyaris sama dengan Maradona. George Weah juga pernah melakukannya dengan jarak yang bahkan lebih jauh, nyaris 80 meter, saat memperkuat Milan menghadapi Verona pada musim 1995/1996.

(more…)

Patriot*

Bola — pejalanjauh @ 3:40 am

– apakah tim nasional indonesia bisa mengalahkan oman? voor siji untuk oman!

Ada istilah bagus yang diperkenalkan Grant Jarvie pada bukunya yang berjudul “Sport Culture and Society”. Pada bagian yang memerikan hubungan antara olahraga dan nasionalisme, Jarvie melansir istilah “90-minutes patriots”.

Istilah itu dilansir untuk membantunya menjelaskan bagaimana simbol-simbol olahraga, terutama sepakbola, membantu mempromosikan sentimen dan identitas politik nasional dalam event-event besar, seperti Piala Dunia atau Piala Eropa.

Sampai taraf tertentu, sepakbola akan selalu dijadikan sebagai medium untuk mengekspresikan sentimen dan identitas politik nasional. Sejarah sepakbola modern digelimangi banyak sekali contoh yang bisa membenarkan tengara itu.

Eduardo Galleano, sastrawan Uruguay yang menulis trilogi novel “Memoria del Fuego”, pernah mencoba memeriksa betapa dalamnya pengaruh sepakbola dalam jiwa masyarakat Amerika Latin. (more…)

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-Noncommercial-Share Alike 3.0 Unported License.
(c) 2012 nasib adalah kesunyian masing-masing | powered by WordPress with Barecity