Tren
– namanya tren selalu sesaat, bukan?
Tidak ada yang salah dengan omongan Roy Suryo soal blog yang tak lebih sebagai tren sesaat. Beberapa kali saya berdikusi [offline atau online] dengan beberapa kawan soal pernyataan itu, dan kesimpulan saya masih sama: blog memang tren sesaat. Itu terjadi jauh sebelum munculnya wabah facebook atau twitter.
Mari kita mulai dengan membuka KBBI online. Di sana, “tren” diartikan sebagai “gaya mutakhir”. Beberapa kamus yang saya buka menunjukkan benang merah yang sama: kata “tren” merujuk pada fenomena yang sifatnya mutakhir, kecenderungan terbaru, sehingga dalam kosa kata ekonomi [pasar] kata itu kadang diartikan sebagai “the current general direction of movement for prices or rates”.
Kunci untuk memahami pengertian “tren” adalah: kebaruan, kesementaraan, tentatif.
Dengan merujuk hal itu, pernyataan kalau “blog hanyalah tren sesaat” tidaklah berlebihan. “Sesaat” adalah satuan yang lebih kecil dari apa yang tadi saya bilang sebagai “sementara”, “tentatif”. Satuan lainnya bisa “dua saat”, “tiga saat”, “semingu”, “sebulan” dan seterusnya. Tak ada kata baku dalam soal durasi waktu dari apa yang disebut “sementara”.