– gus dur dan/di tapal batas
Bahkan dalam kegelapan yang paling gulita sekali pun kita punya hak untuk mengharapkan seberkas cahaya, dan seberkas cahaya semacam itu akan lebih banyak datang bukan terutama dari teori dan konsep-konsep, akan tetapi dari sinar yang tak pasti, berpendaran, dan sering kali lemah lembut yang telah dibiaskan oleh pribadi-pribadi besar dalam hidup dan karyanya, yang mereka pancarkan sepanjang rentang waktu yang diberikah oleh hidup kepadanya….
Kalimat bergelombang itu ditulis Hannah Arendt dalam buku Man in the Dark Times, sebuah buku yang berisi uraian Arendt tentang riwayat beberapa tokoh dan filsuf penting dengan teknik eksposisi yang akrab, intens tapi juga tajam. Dengan kalimat itu, Arendt hendak mengatakan betapa mereka — pribadi-pribadi besar yang sudah tiada– yang dalam kekalahan dan kematiannya pun tetap berjaya, entah lagi jika mereka menang dan hidup, dan karena itulah mereka yang hidup masih akan merasa perlu untuk menggapai-gapai lagi pendar cahaya yang mereka biaskan tiap kali kegelapan dirasakan datang.
Saya kira, metafora “pendar cahaya” itu juga berlaku untuk Gus Dur. Pendar cahaya yang dibiaskan oleh hidup dan kematian Gus Dur adalah sejenis cahaya yang berpendaran di tapal batas: sebab di sanalah, di tapal batas itu, Gus Dur tak henti-hentinya menerabas sekat, menjebol demarkasi dan –seperti arti nama kecilnya yaitu “ad-dakhil”– mendobrak tembok-tembok yang membatasi perserawungan antar sesama manusia, antar umat beragama, antara para penganut aneka ragam ideologi.
Indonesia adalah negeri yang diberkahi –atau mungkin dikutuk, tergantung bagaimana menghayatinya– keragaman yang begitu kaya. Dalam hamparan keragaman itu, “batas-batas” melela di mana-mana sekaligus menjadi sesuatu yang konkrit: ada batas antar agama, ada batas antar suku, ada batas antar budaya, ada batas antar ras….
(more…)
– 20 tahun kematian (23/10/1990 — 23/10/2010)
Pada 1992, dua tahun setelah kematiannya, otobiografi Althusser yang berjudul The Future Lasts a Long Time (judul aslinya: L’Avenir dure longtemps) diterbitkan. Otobiografi itu, tak bisa disangkal, memecahkan kesunyian dan keheningan yang (sebelumnya) melingkupi nama dan kehidupan Althusser, terutama di tahun-tahun terakhir kehidupannya.
10 tahun sebelum kematiannya, Althusser seperti “menghilang” dari orbit dunia intelektual. Semuanya dimulai saat ia dianggap telah mencekik sampai mati istrinya sendiri, Hélène Legotien. Dia tidak dijebloskan ke penjara, tapi justru dirawat di sebuah klinik jiwa. Ya, Althusser dibebaskan dari dakwaan kriminal karena ia dianggap mengalami kerusakan mental. Oleh panel ahli yang memeriksanya, Althusser dianggap mengidap iatrogenic hallucinations.
Persoalan kesehatan mental bukan sesuatu yang baru bagi Althusser ketika itu. Pada 1947, ia sudah mulai merasakan gangguan kesehatan, baik fisik atau mental. Dia bahkan sudah menerima electroconvulsive therapy, yang belakangan lazim digunakan pada pasien yang mengidap depresi berat.
Dalam penyelidikan atas kematian istrinya, Althusser tidak menyangkal bahwa ia memang telah mencekik. Hanya saja ia mengaku lupa kenapa dan bagaimana bisa ia mencekik istrinya sendiri. Althusser hanya ingat bahwa mulanya ia sedang memijat leher istrinya, lalu kemudian terjadilah pencekikan berujung kematian itu.
(more…)
– kematian yang datang (tak) tepat waktu
Setelah melewati tahun-tahun terakhir kehidupan dengan sikap cerewet yang tak kenal ampun, nenek akhirnya meninggal dengan senyum penuh kedamaian. Senyum terakhir di bibirnya terlihat serupa kemesraan seseorang yang sedang menyambut kedatangan sesuatu yang sudah ditunggunya begitu lama, sangat lama.
Kematian itu datang pada satu siang yang panas sampai-sampai nenek minta agar kipas angin tua yang ada di gudang dikeluarkan kembali untuk mengipasi tubuhnya yang basah oleh keringat. Aku mengambilnya dengan tergesa dan terpaksa harus melemparkan sejumlah kardus dan barang pecah belah yang menindih kipas angin tua yang teronggok di pojok. Saat kembali ke ruang keluarga tempat nenek dibaringkan di ranjang kematiannya, aku melihat ayah, ibu, beberapa paman dan bibiku makin rapat saja merubungi nenek. Aku merasa sesak melihatnya. Ada bayangan pekat yang membuat pemandangan itu mengingatkanku pada burung-burung gagak yang sedang menunggu ajal mahluk yang dengan tak sabar hendak dimangsanya.
Saat hendak menghidupkan kipas angin tua itu, sehembus angin datang dari arah pintu samping rumah yang terbuka. Suhu ruangan lalu melandai secara perlahan, ruangan terasa lebih lebih sejuk. Lalu nenek meminta anak-anak dan menantunya untuk menjauh sedikit agar ia bisa melihat ke arah pintu samping yang kini sudah terbuka. Angin sepoi-sepoi itu berhembus sehingga beberapa helai rambut nenek yang putih sempurna itu mengambang di sentuh angin siang hari. Keringat yang tadi sempat membasah di tubuhnya mengering, tapi mungkin usianya juga sudah sampai di ujungnya.
Semua orang terdiam saat nenek mengeluarkan cegukan yang terakhir. Ia terlihat tersenyum, lalu diam untuk selamanya. Akhir yang sudah ditunggu-tunggu sepanjang 104 tahun itu pun akhirnya datang.
(more…)
– seusai mimpi ngetapel burung manyar
Remaja 17 tahun itu tak segera mengganti seragam sekolahnya dengan satu set kostum sepakbola yang tersimpan rapi di tas ranselnya. Di salah satu sudut stadion kecil, di sebuah kota kecil, remaja itu hanya memandangi beberapa kawannya yang sudah menggelar pemanasan di sentel-ban. Ia tak juga beranjak kendati pelatihnya, dari arah lapangan, memanggil dengan meniupkan pluit sekencang-kencangnya.
Dia lantas ngeloyor pergi, beranjak ke luar stadion, dan duduk di bawah patung raksasa seorang tokoh Pandawa. Di salah satu kaki patung itulah ia melanjutkan membaca sebuah buku yang dipinjamnya beberapa dari perpustakaan daerah di kotanya. Sudah dua hari ia tak melepaskan diri dari buku pinjamannya itu.
Ini hari ketiga ia membacanya. Dan akhir itu sudah makin dekat. Ia membaca dengan keingintahuan yang tak sabar. Setengah jam sebelum kawan-kawan main bolanya bubar dari lapangan, ia telah lebih dulu menamatkan bacaannya.
Ada rasa sedih, sedikit. Tapi ada rasa bungah, sedikit lebih banyak.
(more…)
-- karena manusia adalah mahluk (yang) bermain
Pada malam natal 1915, di desa Laventie di utara Prancis, dua kubu serdadu dari Inggris dan Jerman yang saling berhadapan dalam jarak dekat mendekam di parit pertahanannya masing-masing. Tak ada pohon natal, tak ada kalkun panggang. Lantas terjadilah satu selingan pendek yang menyentuh dalam lembaran sejarah Perang Dunia I itu: salah seorang dari mereka — mulanya dengan suara lirih — menyanyikan lagu natal, lalu ada yang iseng menyapa. Lalu, ya, lalu… mereka semua bermain bola!
Bertie Felstead, serdadu Inggris sekaligus saksi mata peristiwa yang masih sempat merasakan udara abad-21, memberi kesaksian yang menyentuh. Katanya:
“Kami dipisahkan oleh jarak yang hanya sekitar 100 yard saat pagi hari Natal itu tiba. Seorang serdadu Jerman menyanyikan lagu All Through the Night, lalu para serdadu Inggris membalasnya dengan manyanyikan lagi Good King Wencelas. Pagi berikutnya, para serdadu saling menyapa. Hello Tommy… Hello Fritz. Serdadu Jerman yang memulai, mereka keluar dari paritnya dan berjalan menghampiri kami. Tak ada yang memerintahkan, tapi kami semua memanjat dinding pembatas dan bergabung dengan mereka. Beberapa dari mereka menghisap cerutu sekaligus menawari kami cerutu. Kami juga menawarkan sebagian dari yang kami miliki. Lalu kami mengobrol. Kami berbicara dengan bahasa campur aduk. Ada yang bicara dalam Inggris, Jerman, dan Prancis… sisanya dengan bahasa isyarat. Kami semua tidak takut ditembak karena kami semua telanjur berbaur satu sama lain.”
(more…)
– sutradara yang membakar filmnya sendiri

Djamaluddin Malik? Siapa dia Anda bisa mencarinya dengan relatif mudah melalui google. Yang jelas jangan tertukar dengan Djamaluddin Tamin-nya Tan Malaka.
Oleh SM Ardan, dalam artikel berjudul Tiga Pendekar Film Indonesia yang tayang di Media Indonesia [4 Februari 1996), dia bersama Usmar Ismail disebut sebagai “Dwi Tunggal Perfilman Indonesia”.
Salah satu artikel paling menarik mengenai Djamaluddin Malik pernah ditulis oleh Asrul Sani pada tahun 1987. Artikel berjudul Perfini, Pemula Film Nasional itu penting untuk saya ketik ulang beberapa paragrafnya di sini, karena bisa memberikan latar foto di atas.
Begini tulis Asrul:
(more…)
– damar wulan, juga mei lanfang
Saat menonton film Forever Enthralled karya Chen Kaige tentang pergulatan hidup legenda opera Peking (jingju), Mei Lanfang, saya teringat Cerita Panji atau “novel” Virginia Woolf berjudul Orlando: semuanya perihal laki-laki yang “menjadi” perempuan.
Tapi Mei Lanfang bukan Dewi Sekartaji dalam Cerita Panji atau Vita Sackville-West dalam “novel” Orlando. Mei adalah seorang “aktor” yang sepanjang hidupnya selalu memerankan tokoh perempuan.
Seorang Bertolt Brecht, yang pernah melihat pertunjukan Mei dan sempat pula bersahabat dengannya, menulis sebuah esai “Allienation Effect in Chinesse Acting” yang menguraikan tentang Verfremdungseffekt atau allienation effect.
Esai yang ditulis setelah mengamati akting dan kehidupan sehari-hari Mei itu kurang lebih memaparkan betapa opera Cina secara tradisi punya kesadaran kuat bahwa antara panggung dan penonton itu mesti dipisahkan. Efek-efek alienasi, dengan demikian, ialah sebentuk teknik untuk menjaga agar penonton terhindar dari penyerapan diri secara penuh ke dalam karakter-karakter yang diciptakan aktor dari atas panggung –dan dari situ penonton bisa tetap menjadi pengamat yang kritis.
(more…)
– anak bajang tak pernah pergi

Aney, Aney, you, my unborn child
Sorry, sorry, I can’t sing a brighter lullaby.
Itu petikan lirik lagu berjudul “Aney, Unborn Child“.
Adik perempuan saya tak tahu lagu itu dan sepertinya juga tak pernah mendengarnya. Tapi, saya percaya –sangat percaya, bahkan– adik saya sangat bisa memahami lirik lagu di atas dengan segenap sedu sedannya.
Dik, tidak pernah saya bersedih selarut ini untukmu, juga untuk anak bajang-mu.
Atau, mungkin, justru saya harus bahagia untuk anak bajang-mu itu? Bukankah ada yang bilang nasib terbaik adalah tidak dilahirkan? Seperti kata-kata seseorang dalam hidup saya: “The unborn children. Absolute freedom. Perfect good men ever. Instead the dead.”
Anak bajang, anak bajang. Ooo… anak bajang!
– akhir pekan dengan toga #2

Martha Graham mengantarkan perempuan ini menjadi seorang sejarawan dengan spesialisasi sejarah seni, khususnya seni pertunjukan.
Martha Graham, penari sekaligus koreografer Amerika, singgah di Jawa pertama kali pada 1925. Ketika itu ia datang bersama rombongan yang dipimpin oleh Ruth St. Dennis. Pada 1955, Martha sempat mementaskan pertunjukannya di Jakarta. Ia melakukannya lagi pada 1975, kali ini ia mementaskan karyanya di Taman Ismail Marzuki.
Ia punya pengaruh kuat dalam studi tari di Amerika. Ciri khas koregrafinya adalah drama tari. Ia sangat sering menampilkan karakter perempuan yang heroik, seringkali dengan memungut kisah-kisah mitologis, seperti kisah “Clytemnestra”.
(more…)
– akhir pekan dengan toga #1

Pekan lalu, saat berkeliaran di daerah pemukiman padat di Bali, saya bertemu dengan Pak Huda: lelaki berusia 45 tahun, hanya sekolah sampai kelas 5 SD, tapi brilian dalam pengetahuan tentang teknik sipil, arsitektur, paham bangunan yang ramah lingkungan dan tidak, juga mengerti sejarah God Bless dan Deep Purple.
Saya ceritakan soal itu melalui beberapa sms pada dia soal Pak Huda ini.
Sebelum melakukan perjalanan, saya tahu ia sedang mencoba menamatkan “The Unbearable Lightness of Being“, versi Inggris novel brilian karya Milan Kundera yang diambil dari koleksi abangnya yang sedang studi di Cyprus.
Sependugaan saya, saat beberapa sms ihwal Pak Huda itu dikirimkan padanya, ia masih berjuang untuk menamatkan novel itu. Dugaan saya ternyata benar. Ia membalas sms saya dengan satu kutipan utuh yang diambil dari halaman 55 novel itu, halaman yang memang sedang dibaca persis saat sms-sms itu terkirim. Bunyinya begini:
(more…)