Requiem
– usai menonton film “grave of the fireflies” karya taro hyugaji
Beberapa saat setelah selesai menyunting berkas lagu “Introitus: Requiem”-nya Mozart dan memasangnya sebagai nada panggil di ponsel, sebuah panggilan masuk ke ponsel Sarmad, lalu: ia terkena serangan jantung, dan mati.
Ibunya membanting ponsel itu dan berkata dengan nada sangat geram: “Komposer sialan!”
Ponsel itu pun pecah berantakan di lantai. Para pelayat yang hadir di sana hanya bisa terdiam, tapi mata mereka melirik keypad ponsel itu dan tiba-tiba saja mereka melihat abjad-abjad di sana telah berubah menjadi sederet notasi balok yang tak bisa mereka baca.
Sementara ibu mendiang Sarmad masih belum reda kegeramannya dan dengan sekuat tenaga menyepak pecahan-pecahan itu dengan histeris ke berbagai arah. Di mata para pelayat, notasi-notasi balok itu pun ikut berhamburan, lalu beterbangan, lalu memancarkan cahaya seperti kunang-kunang, dan lantas berbalik arah menuju jenazah Sarmad yang terbujur di tengah ruang tamu.
Jenazah itu kini bermandikan cahaya di sekujur tubuhnya, berbinar-binar dan berpendaran.
Seorang pemuda tanggung yang hanya menyaksikan semua peristiwa itu dari balik pintu berbisik: “Lagi-lagi kakek benar kalau kunang-kunang memang berasal dari orang mati.”
Anak kecil itu tak ingat kapan kakeknya mengisahkan dongeng itu. Yang ia ingat, mata kakeknya saat itu juga bercahaya, berbinar-binar dan berpendar. Padahal, saat yang sama, si kakek juga sedang dihajar serangan jantung mendadak, dan mula-mula ia merasa matanya berkunang-kunang, dan ia terus mencoba sekuatnya membuka mata lebar-lebar.
Kakek itu mati dengan mata melotot, tapi cucunya –anak kecil itu– merasa sedang melihat mata yang memancarkan cahaya seperti kunang-kunang.
Entah mendapatkan ide dari mana, anak kecil itu lalu mencungkil cahaya yang berpendaran dari mata kakeknya dengan sendok yang beberapa saat sebelumnya digunakan ibunya untuk menyuapi dirinya dengan bubur sum-sum yang lembut dan masih hangat. Si kakek masih bisa merasakan hawa dingin yang tajam merembes di matanya, dan pandangannya lalu menjadi merah saga, lalu gulita di mana-mana, dan di detik-detik terakhir hidupnya ia masih sempat berpikir betapa sial hidupnya jika berakhir dengan mata yang melotot. Ia tak tahu, bahwa ia mati dengan lubang mata yang melompong kosong….
Orang-orang lantas menyebut peristiwa itu dengan sebutan “sebuah kisah tentang seorang cucu yang lucu dan kakeknya yang naas”.
Cucu itu, yang kini sudah menjadi pemuda tanggung yang berada di balik pintu ruang tamu tempat jenazah Sarmad dibujurkan, lantas tumbuh dan besar dengan perangai yang aneh. Seisi kampung kemudian mengenalnya sebagai “pemburu kunang-kunang yang melankolis”.
Betapa tidak, tiap malam ia berkeliaran di pematang sawah untuk menangkap kunang-kunang dengan sarung putih polos pemberian kakeknya, lalu sarung itu diikat di kedua ujungnya, dan jadilah sarung itu seperti sebuah bola dengan kerlip-kerlip kecil cahaya kunang-kunang di dalamnya. Ia lalu akan melepas kunang-kunang itu di kamarnya yang kecil di belakang rumah dan selanjutnya, di sepanjang malam hingga pagi, ia ikut menari-nari dengan kunang-kunang itu sambil menyanyikan kidung-kidung tua yang diajarkan kakeknya. Jelang pagi, dia akan tercenung di pojokan kamarnya, menyaksikan satu per satu kunang-kunang itu jatuh diterkam kematian.
Orang-orang sering berbicara bahwa tiap kali melihat kunang-kunang jatuh ke lantai anak itu akan berkata: “Kunang-kunang tetap bercahaya walau malam telat larut.” Cerita itu tentu tidak berdasar karena sebenarnya anak itu hanya berkata: Sialan! Esoknya, setelah bangun dari tidur, ia akan mengumpulkan bangkai kunang-kunang itu dan memakamkannya satu per satu dan memasang nisan kecil dari bilah bambu tipis yang ditulisi nama-nama khayalannya: kadang dinamai Islam, kadang dinamai Hindu, kadang dinamai Toyota, kadang dinamai Indomie, kadang dinamai Panci, apa saja sekenanya dan semau-maunya.
Saat melihat jenazah Sarmad, itulah kali pertama anak kecil itu yang kini sudah menjadi pemuda tanggung bisa menemukan dan melihat kembali kunang-kunang. Sudah bertahun-tahun ia tak melihat kunang-kunang. Sawah sudah musnah, kebun-kebun sudah punah, tak ada tempat buat kunang-kunang. Sejak kunang-kunang tak lagi kelihatan, dia tak pernah sudi lagi dipanggil “pemburu kunang-kunang yang melankolis” dan hanya mau dipanggil “pemburu kunang-kunang yang sial”.
Permintaan untuk dipanggil “pemburu kunang-kunang yang sial” itu akhirnya menjadi ramalan atas nasib si pemuda itu. Beberapa saat setelah melihat jenazah Sarmad yang dikerubuti kunang-kunang, ia berlari ke rumahnya dengan keyakinan bahwa kunang-kunang telah kembali. Di sepanjang jalan, ia memang melihat kunang-kunang berpendaran, bahkan di setiap rumah yang dilewatinya juga dipenuhi kunang-kunang.
Sesampainya di rumah, ia lagi-lagi melihat banyak kunang-kunang: di beranda, di ruang tamu, di kamar ibunya, di kamar adiknya, di ruang keluarga, di ruang makan, di dapur sampai di halaman belakang. Ia segera melompat untuk menangkap salah satu kunang-kunang itu. Dengan cara itulah ia mati: tersengat listrik.
Dia memang seorang “pemburu kunang-kunang yang sial”.
kunang-kunang itu lampu?
wuhe .. loncatan-loncatan idenya lucu. jadi pengen nonton film gotf itu.
Bagian ini menurutku kurang jelas Dhe, karena tidak ada keterangan alat listrik tempat kunang-kunang tersebut berada. Mlumpat dan ujug-ujug kesetrum.
Justru maksud kunang² di sana itu adalah lampu bohlam yg tergantung di beberapa tempat yg telah disebutkan sebelumnya.
Sandalian : masak kayak gitu mesti dijelasin.
wow ceritanya mantap om
saya suka ceritanya, pak zen!