– sebuah hubungan yang tidak penting-penting amat
Entah sudah berapa perempuan yang telah dikencaninya, tapi tak satu pun dari mereka diijinkan oleh Ireng untuk duduk di depannya tiap kali sedang berkencan di sebuah kafe atau makan di sebuah restoran. Jika mejanya cukup besar, Ireng akan meminta perempuan yang dikencaninya untuk duduk di sebelahnya. Jika mejanya terlalu kecil untuk duduk bersebelahan, Ireng akan meminta perempuan yang dikencaninya untuk duduk di sisi kanan atau di kiri, pokoknya tidak di depannya. Jika Ireng duduk di sebelah barat, teman kencannya akan diposisikan untuk duduk di sisi utara atau selatan, bukan di sisi timur.
Selera yang aneh itu sedikit merepotkan. Setidaknya, Ireng harus selalu berusaha datang lebih dulu untuk meminta pelayan cafe atau restoran untuk menata kursi sedemikian rupa agar pada saatnya nanti ia tidak duduk berhadapan muka dengan muka. Kendati aneh dan tak biasa, kebiasaan Ireng itu tak pernah betul-betul menyulitkannya, hanya sedikit merepotkan saja.
Bagi Ireng, antara “merepotkan” dan “menyulitkan” itu berbeda, itu seperti “membuang abu rokok pada asbak yang tersedia di meja” dengan “buang air di sebuah mesjid yang tak menyediakan kloset”.
Kadang, hanya terkadang, pasangan kencannya sesekali bertanya soal itu, tapi Ireng selalu punya jawaban. Lagi pula, Ireng tak pernah kencan berlama-lama dengan seorang perempuan yang sama. Rekor kencan terbanyaknya hanya dengan Biru, perempuan bermata tajam yang dengannya Ireng pernah kencan sebanyak tiga kali. Tak ada kencan yang keempat kalinya dengan perempuan yang sama dalam 34 tahun kehidupan Ireng. Itu menghindarkan Ireng dari keharusan memberi jawaban atas pertanyaan sama yang terus diulang: “Kenapa, sih, kamu gak mau duduk berhadapan?”
Sebenarnya Ireng bukannya tak pernah duduk berhadapan saat berkencan. Sekali dua, jika ada kesalahan perencanaan, terpaksalah Ireng duduk berhadapan dengan teman kencannya. Tapi itu pun tak lama. Ireng selalu punya siasat licik untuk ke luar dari situasi itu: kadang pamit mendadak dengan berpura-pura ada panggilan dari bos di kantor, kadang langsung mengajak teman kencannya untuk segera beranjak ke tempat lain, entah ke bioskop, gedung pertunjukan teater, taman kota atau langsung pergi ke sebuah kamar hotel bintang dua.
Kamar hotel? Ya, selalu kamar hotel. Kenapa tidak diajak ke rumah saja? Lha, kenapa memang kalau di hotel dan kenapa memang jika selalu di kamar hotel? Tak pernah, sekali pun tak pernah, Ireng mengajak teman kencannya ke rumah, begitu juga sebaliknya, Ireng tak pernah mau jika diajak ke rumah teman kencannya.
Sungguh, sebenarnya tak ada yang terlalu memalukan dari rumah Ireng. Biasa saja, seperti halnya rumah-rumah yang lain. Letaknya agak di pinggiran kota, tak jauh dari sebuah pintu tol yang tak terlalu ramai. Ia merasa rumah adalah tempat yang terlalu pribadi, semacam sanctuary, yang ia enggan berbagi kecuali dengan dirinya sendiri. Itu alasan yang tidak terlalu aneh, bukan? Ya, biasa saja. Setiap orang memang butuh privasi. Di momen-momen tertentu privasi bisa berarti kesendirian yang tak terganggu siapa pun dan apa pun. Bahkan orang dengan kecanduan akut pada keramaian pun punya saat-saat khusus di mana ia harus sendiri; kadang hanya untuk tidur lelap, mungkin hanya untuk buang air besar dengan nyaman karena peristiwa buang air besar masih dianggap memalukan. Ekskresi tak pernah dianggap sepenting ereksi, kendati semua orang tahu mereka tetap bisa hidup tanpa ereksi tapi mustahil tanpa ekskresi.
Memang begitu, bukan? Ya, macam itulah, dengan kalimat tanya menggantung seperti itulah, cara Ireng mengakhiri sebuah penjelasan ihwal sesuatu yang dianggapnya biasa tapi oleh teman kencannya dianggap tidak biasa. Biasanya, setelah kalimat tanya yang menggantung itu, Ireng dan teman kencannya terdiam beberapa saat. Kadang teman kencannya bisa diyakinkan, kadang tidak. Berhasil diyakinkan atau tidak, toh mereka tak pernah lagi bertanya hal yang serupa. Mungkin karena satu sama lain akhirnya paham bahwa ini bukan sejenis hubungan intim nan intens, melainkan hanya sebuah fragmen pendek yang –kadang berakhir di ranjang kadang tidak– biasa saja, tak terlalu berarti, atau tak penting-penting amat. Kadang agak penting sih, tapi tetap saja tak penting-penting amat.
Mungkin kalian berpikir ada yang buruk dari wajah Ireng sehingga ia tak tahan untuk duduk berhadapan. Itu sama sekali tidak benar. Tak ada cula atau belalai di muka Ireng, juga tidak ada codet bekas luka di jidat atau pipinya. Normal-normal saja. Tidak terlalu tampan, tapi jelas tidak jelek-jelek amat. Memang ada sedikit bekas jerawat, tapi itu sudah nyaris hilang dan terlalu samar untuk bisa terlihat dalam sekali lirik. Toh sedikit sisa jerawat itu ada di pipi dan pipi adalah bagian paling jelas jika sedang duduk bersebelahan, bukan berhadapan. Jadi, cukup jelas, bekas sisa jerawat itu sama sekali bukan soal, apalagi aib yang mesti ditutup-tutupi selayaknya borok yang masih basah dan berlendir.
Baginya, sebuah fragmen ringkas dari sebuah hubungan singkat yang tak penting-penting amat itu sebaiknya dibiarkan tetap ringkas dan tanpa kedalaman tertentu. Duduk bersebelahan atau duduk di sisi sebuah meja yang tidak berhadapan, misalnya Ireng duduk duduk di sisi barat maka teman kencannya duduk di sisi selatan/utara, adalah cara sempurna untuk menjaga kedangkalan. Ireng tak bisa membayangkan sebuah hubungan yang tak penting-penting amat dihayati dengan cara duduk berhadap-hadapan, saling memandang, saling menatap, lalu bercerita, lalu bicara, lalu bertanya jawab, dll. Tak bisa, Ireng sama sekali tak bisa membayangkannya. Yang terbayang di kepala Ireng bukan lagi kedangkalan, melainkan kepura-puraan. Ya, kepura-puraan. Itu jauh lebih buruk daripada kedangkalan.
Baginya, sebuah hubungan yang tak penting-penting amat memang dangkal, tapi dangkal tidak sama dengan pura-pura. Kedangkalan, baginya, adalah inti dari sebuah hubungan yang tak penting-penting amat. Easy come, easy go. Tidak ada yang terlalu personal-personal amat. Tidak ada riak emosi yang besar-besar amat. Biar semuanya berlangsung di permukaan. Kendati penisnya kadang (karena memang tidak selalu) masuk ke dalam vagina teman kencannya, tapi itu bukan kedalaman. Lagi pula, berapa dalam vagina dalam sebuah hubungan yang tak penting-penting amat, sih? Tidak lebih dalam daripada sebuah tatapan mata yang intens seorang ibu pada bayinya yang baru mengaokkan tangisnya yang pertama. Itu perbandingan yang aneh? Tidak juga. Bukan karena itu tidak aneh, melainkan semua perbandingan sebenarnya memang aneh.
Duduk berhadapan dengan teman kencan dalam sebuah hubungan yang tak penting-penting amat mudah membawa kedangkalan itu jadi turun kualitasnya menjadi kepura-puraan. Ireng tak pernah bisa mengelak dari kepura-puraan saat harus berhadapan muka dengan muka dengan teman kencannya. Selalu ada saja kepura-puraan yang lahir, dari sekadar basa-basi (misal: “Hey, bagaimana pekerjaan di kantor?”) atau pujian sampah serupa kitsch abal-abal (misal: “Hey, bagus sekali bentuk kupingmu”). Ia selalu tak tahan dengan kepura-puraan. Ia lebih memilih kedangkalan daripada kepura-puraan. Setidaknya karena dua alasan.
Pertama, karena Ireng tidak bisa berenang, maka ia lebih duka kedangkalan daripada kedalaman, kendati ia tidak anti-anti amat dengan kedalaman, karena toh ia sering menyeberangi laut; tentu saja dengan kapal laut, bukan berenang. Kedua, ia bukannya tidak pernah berpura-pura, tapi kepura-puraan yang dilakukanya memang lahir dari sebuah situasi kepura-puraan (misal: berpura-pura rajin sekolah saat seisi dunia berpura-pura pentingnya sekolah padahal yang penting sebenarnya bukan sekolah tapi ijazah). Kepura-puraan dalam sebuah hubungan yang tak penting-penting amat, bagi Ireng, adalah sebuah kesalahan tempat yang fatal. Itu membuat sebuah hubungan yang tak penting-penting amat berubah menjadi hubungan yang sangat amat tidak penting.
Ya, sebuah hubungan yang tidak penting-penting amat juga membutuhkan kejujuran tertentu, setidaknya kejujuran untuk saling mengerti bahwa ini memang sebuah hubungan yang tidak penting-penting amat yang tidak perlu dan tidak boleh dikotori oleh kepura-puraan seakan-akan ini hubungan yang penting. Dengan kejujuran macam itulah sebuah hubungan yang tidak penting-penting amat memperoleh tempatnya tersendiri. Tidak berarti kejujuran macam itu akan membuat hubungan yang tidak penting-penting amat itu akan terus dikenang dan terkenang, sama sekali tidak. Kenangan seringkali tidak menyediakan tempat khusus pada sebuah hubungan yang tidak penting-penting amat karena sekali kenangan memberi kapling khusus hubungan itu sudah beranjak menjadi penting, bukan lagi sebuah hubungan yang tidak penting-penting amat.
Apakah Ireng tidak pernah mengalami sebuah hubungan yang penting? Tidak juga. Sekarang justru saatnya Ireng sedang mengalami sebuah hubungan yang penting; karena itulah cerita ini menjadi dimungkinkan. Ireng sama sekali tidak sadar kapan hubungannya dengan Kelabu bisa menjadi penting. Tidak jelas batas demarkasinya, tiba-tiba saja ia merasa hubungannya dengan Kelabu menjadi penting. Sebenarnya tidak tiba-tiba juga, ada satu momen di mana Ireng merasa ini akan jadi hubungan yang penting.
Saat itu, dalam sebuah kencan yang berlanjut di sebuah kamar hotel bintang dua, Ireng dan Kelabu bersenggama dengan cara yang tak pernah dilakukan Ireng: posisi penginjil. Sudah belasan kali ia bersenggama dengan perempuan dalam sebuah hubungan yang tak penting-penting amat. Akan halnya ia tak mau duduk berhadapan dengan teman kencannya, Ireng juga tak pernah mau bersenggama dengan posisi berhadapan, posisi penginjil. Kadang posisi anjing hendak kencing, kadang posisi kapal yang hendak tenggelam, kadang posisi seperti sekop yang sedang menancap di tanah. Banyak ragam posisi yang dengan mudah dipelajari dari jilid Kamasutra versi Arthur Bennet terbitan tahun 1878. Pokoknya tidak posisi penginjil.
Apakah dengan demikian Ireng tak pernah berciuman? Tentu saja pernah, dan sering. Bukankah itu berhadap-hadapan namanya? Tidak sama sekali bagi Ireng. Berciuman itu menyatu sehingga tak ada jarak yang membuat satu sama lain bisa saling menatap untuk kemudian terpaksa berpura-pura satu hal atau lain hal. Lagi pula, kejujuran itu satu paket dengan sebuah ciuman, setidaknya hingga level tertentu. Orang tak bisa berpura-pura menikmati ciuman. Pilihannya hanya dua: menikmatinya atau muntah? Mungkin kadar menikmatinya berbeda-beda, tapi setiap orang yang berciuman punya level kenikmatan yang bisa dicecap tersendiri. Jika sama sekali tak bisa menikmati, ia tak bisa berpura-pura, yang ada hanya rasa mual untuk kemudian muntah. Ya, muntah. Sebuah ciuman yang tak enak akan membuat air liur masing-masing terasa terpisah, menggumpal tersendiri, seperti bulatan-bulatan yang terpaksa kita telan.
Bersama Kelabu, Ireng bukan hanya bisa berciuman, tapi juga bersenggama dalam posisi penginjil, berhadapan muka dengan muka, sejak foreplay hingga orgasme, tanpa putus, tanpa jeda. Kelabu memang sosok yang istimewa bagi Ireng. Fisiknya sempurna. Tidak, ia bukan jenis kesempurnaan bidadari, tapi kesempurnaan yang tersusun karena elemen-elemen yang ada di tubuhnya memilih kekhasan tersendiri. Misalnya: payudara. Payudara kanan dan kiri Kelabu bentuknya sama, tapi di mata Ireng punya kekhasan tersendiri. Yang kanan liat seperti hidungnya yang mancung, yang kiri lembut (bukan lunak) seperti bibirnya.
Mulanya Ireng tak begitu percaya dengan penemuannya ini. Tapi saat bersengama yang kedua kali usai kencan yang kedua, hal sama kembali terulang. Ireng dan Kelabu bersengama dalam posisi penginjil, sejak foreplay hingga orgasme. Sekali pun mereka tak pernah ingin berganti posisi. Itulah saat di mana untuk pertama kalinya Ireng merasa siap untuk duduk berhadap-hadapan muka dengan muka.
Demikianlah, tak perlu berpikir panjang, Ireng merasa ia sudah harus bersiap dengan sebuah hubungan yang penting, juga dengan sebuah kencan dalam posisi duduk berhadapan. Ya, kencan pertama dan kedua yang berakhir dengan persengamaan dalam posisi penginjil tetap berlangsung seperti sebelum-sebelumnya: duduk bersebelahan, sama sekali tidak berhadapan.
Ireng tidak tahu apakah Kelabu juga menganggap ada yang khusus dari hubungan ini. Tapi Ireng tak terlalu memikirkannya. Baginya, sebuah hubungan yang penting itu tetap penting bahkan kendati ia ternyata bertepuk sebelah tangan. Hubungan yang penting tidak harus selalu koheren dengan perasaan yang sama dan senada. Pemikiran macam itu membuat Ireng merasa aman. Ia yakin, dengan pemikiran macam itu, dirinya tak akan tersentuh dengan cerita usang yang anehnya selalu saja diulang-ulang dalam sinema, lagu-lagu, juga prosa serta sajak: patah hati yang muram dan durja.
Pada waktu yang sudah ditentukan, Ireng dan Kelabu datang ke sebuah kafe tak jauh dari taman kota. Kelabu tak tahu kalau inilah saat pertama Ireng datang bersamaan dengan teman kencannya. Biasanya, Ireng selalu datang lebih awal, memastikan meja dan kursi yang akan ditempati telah tertata seperti yang diinginkannya. Kali ini tak ada yang perlu dikhawatirkan Ireng. Toh Ireng tak berniat hendak melakukan hal-hal khusus yang butuh perencanaan matang. Ireng tak akan melamar Kelabu, tidak akan menyematkan cincin, atau mengajaknya bicara soal kemungkinan membangun sebuah ikatan yang khusus. Tidak, itu sama sekali tak ada dalam rencana Ireng. Kendati ia merasa ini akan menjadi sebuah hubungan yang penting, Ireng tak merasa perlu membuat sebuah ikatan yang khusus. Sebuah hubungan yang penting sama sekali tidak diukur oleh adanya komitmen yang khusus. Itu dua hal berbeda. Sebuah hubungan yang penting akan tetap penting kendati tak diimbuhi apa-apa. Ia penting dengan sendirinya, penting dengan apa adanya.
Tapi rencana hanya tinggal rencana. Saat masuk ke kafe, semua meja dan bangku sudah terisi, kecuali sebuah meja kecil di sudut. Tak ada yang salah dengan sudut. Bahkan meja itu dekat dengan rak buku, sesuatu yang biasanya disukai Ireng. Masalahnya, meja itu menempel di sudut sehingga ada dua sisi meja (sisi utara dan timur) yang menempel di dinding. Jadi, dua kursi itu pun tak mungkin ditempatkan dalam posisi berhadapan. Kursi hanya mungkin berada di sisi barat dan selatan. Sempat terpikir untuk menggeser kursi itu sedemikian rupa, tapi itu tak mungkin karena tak banyak ruang tersisa, sehingga duduk berhadapan akan membuat kursi dari meja sebelah yang sudah terisi harus dipindah. Ireng berdiri mematung di dekat meja bartender dan mulai berpikir untuk mengajak Kelabu jalan-jalan lebih dulu untuk kemudian kembali satu jam kemudian. Tapi tak ada kesempatan lagi karena saat itu juga Kelabu menarik tangannya.
“Ayo, kenapa diam? Nanti mejanya keburu diisi orang lain,” ujar Kelabu. Tak ada yang bisa dilakukan, tepatnya tak ada pilihan lain, semuanya terjadi begitu saja, Ireng pun menyeret langkahnya menuju sudut dengan sebuah meja dan sepasang kursi yang tidak berhadapan.
Pelayan datang membawakan menu. Kelabu memesan kopi hitam dan sepiring kentang goreng, Ireng memesan kopi susu dan sepiring pisang goreng bertabur keju. Kelabu terlihat riang, Ireng terlihat sedikit bingung. Kelabu menyadarinya dan ia membuat Ireng segera melupakan kebingungannya dengan cerita-cerita lucu yang memang bener-benar lucu. Tapi Ireng tetap tak melupakan soal kursi yang tak berhadapan itu. Sesekali ia melirik ke meja-meja yang lain, berharap ada meja yang sudah ditinggalkan. Tapi tak ada yang kosong. Lima menit, lima belas menit, tiga puluh menit, empat puluh lima menit. Lalu kopi hitam dan kopi susu di cangkir sudah berkurang setengah, sementara ketang goreng tersisa seperempat dan pisang goreng bertabur keju sudah tandas tanpa sisa.
Dalam hati Ireng mengutuki kebodohannya. Kenapa ia tidak berpikir kalau meja akan penuh oleh pengunjung? Bukankah ini akhir pekan? Mestinya ia datang lebih awal seperti biasanya. Aih, begitulah… Ireng terhisap oleh pikirannya sendiri saat cangkir kedua kopi susu dan kopi hitam itu datang dibawakan pelayan. Kelabu terus berceloteh dan Ireng mendengarkannya dengan seksama, kendati pikirannya terkadang masih memikirkan soal kursi yang tak berhadapan.
Lalu, musik dari kafe itu pun mengalun. “Kamu kenal lagu ini? Aku suka dengan lagu ini,” kata Kelabu. Tentu saja Ireng kenal dengan lagu itu. Kelabu mengangguk-anggukkan kepala. Ireng menyandarkan punggungnya di kursi. Ia menghela nafas. Di depannya, berdiri kokoh sebuah dinding berwarna krem, ya sebuah dinding, bukan wajah Kelabu yang khas dan riang itu.
“Aku hafal lagu ini. Kamu?” tanya Kelabu. Ireng mengangguk sambil tersenyum. Ireng senang bahwa ia tersenyum, sejenis senyuman yang memang senyuman, bukan senyuman pura-pura. Setidaknya, begitu batin Ireng, ia tak berpura-pura, kendati di depannya hanya ada tembok, bukan wajah Kelabu seperti yang ia rencanakan. Ireng juga hapal lirik lagu itu. Memang benar-benar hafal, bukan dusta. Dengan spontan, tanpa ada yang mengomando, keduanya bernyanyi dengan suara yang tidak terlalu keras.
How I wish, how I wish you were here.
We’re just two lost souls
Swimming in a fish bowl, Year after year,
Running over the same old ground.
What have we found
The same old fears.
Wish you were here.
Saat lagu itu selesai, diganti dengan lagu yang lain, keduanya terdiam beberapa saat. Ireng menatap tembok di depannya, Kelabu menatap tembok di depannya. Masing-masing melihat tembok. “Apa jadinya jika dunia tak ada tembok, ya?” tanya Ireng. Mendengar pertanyaan itu, Kelabu tertawa, sebuah tawa yang lepas, tawa yang jujur dan tanpa kepura-puraan.
“Selalu ada tembok, bahkan walau pun tak ada satu pun bangunan di muka bumi ini,” jawab Kelabu.
Ireng mengangguk setuju sambil memikirkan sebuah komik yang tidak terlalu penting dengan ia sendiri sebagai salah satu tokoh di dalamnya, sementara Kelabu malah membayangkan dirinya menjadi tembok raksasa seperti yang ada di Cina.
mantap, zen. tenanan iki.
[Reply]
well, well, well…
human may plans.
still, God decides.
do you believe in something called: fortuity?
but, oh-yeah-right, you’re the god thyself in this prose.
so, how does it feel, to play with human’s fate?
[Reply]