»

Ber(s)isik?

meracau — Tags: , , , — admin @ 8:40 pm

– A monk should not laugh. Laughter makes him looks like a monkey*

Seorang desainer (kita sebut saja: “desainer kita”) yang berumah dekat mesjid selalu gagal menyelesaikan pekerjaannya tiap kali Ramadhan memasuki sepuluh hari terakhir.

Desainer kita ini sejenis mahluk yang hanya bisa bekerja pada malam hari. Siang hari, biasanya, desainer kita ini hanya bermain-main dengan anak-anaknya atau jika tidak pergi memancing ke sungai yang agak jauh tapi sebenarnya tidak jauh-jauh amat.

Maka, tiap kali Ramadhan memasuki sepuluh hari terakhir, desainer kita yang mukanya mirip singa tanpa misai itu tak pernah bisa berkonsentrasi dengan pekerjaannya. Bukan apa-apa, tiap kali ia mulai bekerja, orang-orang memenuhi telinganya dengan suara do’a yang kian mendekati pagi akan terdengar kian keras dan tak beraturan.

Dia senang jika langit tiba-tiba memuntahkan hujan yang deras. Suara deras hujan yang ditingkahi guntur yang menggelegar seringkali menyelamatkan telinganya dari suara-suara yang kian hari kian terasa acak di telinganya. Sayangnya, itu pun tak selalu berhasil. Selain karena hujan kadangkala berlangsung terlalu singkat, pengeras suara selalu datang tiap 10 menit dengan berisiknya yang tak tertahankan: “Ibu ibu yang sedang menyiapkan sahur, waktu sudah menunjukkan pukul…..”

Pengumuman macam itu, yang datang beruntun tiap 10 menit, selalu bisa mengalahkan suara hujan yang deras sekali pun karena ia datang dari pengeras suara. Ia tak pernah bisa mengerti kenapa pengumuman macam itu harus terus diulang-ulang. Bagi desainer kita ini, mengumumkan waktu sudah pukul berapa dengan pengeras suara adalah sebentuk realisme paling komikal yang pernah didengarnya, seakan-akan jam tangan atau jam dinding itu selangka badak bercula satu di hutan-hutan Ujung Kulon.

Tapi itu belum seberapa. Saat jam mendekati habisnya waktu sahur, pengeras suara malah akan memenuhi gelombang di udara setiap detik dan setiap menit (bukan lagi tiap 10 menit sekali). Pengeras suara itu, desainer kita bisa menebaknya, diletakkan sedemikian rupa ke dekat sebuah radio transistor tua yang sedang menyiarkan siaran langsung shalat tarawih dari Afrika.

Bayangkanlah macam apa gelisah dan sebalnya desainer kita itu. Hingga hari mendekati lebaran, tak satu pun order yang diterimanya bisa ia selesaikan. Satu per satu pelanggannya datang ke rumahnya, menagihnya, lalu memakinya. Padahal lebaran makin dekat. Dan tiap kali hari mendekati lebaran, orang-orang makin banyak datang ke mesjid, sehingga suara acak dari do’a-do’a itu pun kian menghebat.

Bisa dibayangkan bagaimana frustasi dan sebalnya desainer kita ini. Ia punya banyak ide, tapi ide-ide itu tak pernah bisa dieksekusi. Seniman mana yang tak tahan dengan banjir ide yang tak terejawantahkan satu pun? Ini seperti meminum bergalon-galon air sementara saluran kencingnya mampat.

Ia tak tahan lagi. Ia tak bisa memberi toleransi lagi. Ini bisa bikin ide bunuh diri jadi masuk akal di mata desainer kita ini. Ia, desainer kita itu, merasa tetap harus membuat satu karya, tak peduli apa pun itu. Ia melihat kalender dan sadar lebaran tinggal tiga hari lagi. Saat melihat kalender itulah ia mendapatkan kilatan cahaya yang begitu kuat dan jelas, sebentuk kilatan yang membuatnya bisa tersenyum. “Aku harus bisa membuatnya. Aku harus bisa membuatnya,” katanya berulang kali, pada dirinya sendiri, hanya pada dirinya sendiri.

Ide yang datang seperti kilatan cahaya itu membuatnya terangsang hebat. Saking hebatnya, tubuhnya pun merespons ide itu dengan menyediakan tenaga yang berlimpah dan seakan tak ada habis-habisnya. Sejak itu, desainer kita itu tak tidur, terus berada di depan monitor, tanpa sekali pun merasa lelah, dan tanpa bisa diusik oleh apa pun juga, termasuk oleh suara do’a dan pengeras suara yang menyiarkan siaran langsung shalat tarawih dari Afrika. Sehari kemudian, dia pergi ke percetakan dan tak pulang semalaman.

Menjelang buka puasa hari ke-29, desainer kita kembali ke rumahnya dengan mengendarai sebuah pick-up yang penuh dengan tumpukan kertas. Dengan dibantu oleh dua karyawannya, kertas-kertas itu disusunnya sedemikian rupa mengelilingi semua tembok rumahnya. Lalu, jalan setapak di depan rumahnya hingga ke jalan pun ditutupi oleh kertas-kertas itu serupa karpet merah untuk menyambut kedatangan para pejabat pemerintah.

Orang-orang segera tahu apa yang sudah dibuat oleh desainer kita itu. “Dia mencetak kalender dari Januari 2010 sampai April 2093,” kata salah seorang tetangganya kepada pejabat desa yang datang untuk mencari tahu apa yang terjadi.

Pejabat desa itu melihat salah satu kalender yang ditempel oleh desainer kita ini di pagar halamannya. Ia melihat kalender bulan April 2093 dengan tulisan kecil di pojoknya: “Saat orang-orang berisik, Tuhan malah nyengir.” (Pejabat desa itu pun tahu tulisan kecil itu ada di tiap halaman kalender yang dibuat dan dicetak oleh desainer kita).

Saat pejabat desa itu memasuki rumahnya, desainer kita sudah tidur lelap dalam kelelahan yang tak tertahankan. Mulutnya tersenyum, tapi pejabat desa merasa desainer kita sedang meledeknya.

Desainer kita itu akhirnya shalat I’ed di halaman belakang Koramil.

————————————————————
*) Pemadatan dari omongan panjang biarawan buta, Jorge de Burgos, dalam novel The Name of the Rose.

3 Comments »

  1. hihihi…
    refleksi dengan adaptasi yang sangat indonesia sekali…
    seharusnya lebih mudah dipahami oleh sebagian besar warga sini.

    aku sih nggak ngerti kaitan antara april 2093 dengan malam seribu bulan ato apa itu namanya… mungkin ada yang bisa menjelaskan?

    :)

    ———————————————–
    *total kalender yg dicetak dari Januari 2010 sampai April 2093 itu kan sejumlah 1000 bulan

    Comment by ordinary person — 2010/08/28 @ 1:20 am
  2. haha.. keren…..
    bener tuh, jadi susah tidur, padahal biasa tidur jam setengah 3.. :p

    Comment by hahn — 2010/08/28 @ 9:10 am
  3. zen, makasih kisahnya yah.
    Saya biasanya gak terlalu terganggu kalo cuma suara adzan. Tapi ini semalaman ngaji disiarkan, stress banget. Syukurnya malam berikutnya dah gak ada.

    Comment by jensen99 — 2010/09/01 @ 4:27 am

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-Noncommercial-Share Alike 3.0 Unported License.
(c) 2012 nasib adalah kesunyian masing-masing | powered by WordPress with Barecity