»

Ta(wa)rawih

meracau — Tags: , , — admin @ 9:55 pm

– perihal iman tanpa senyum

Kami semua menyukai Do’er. Semua orang tahu ia punya perangai yang cerah. Bandel dan jahil, memang. Tapi, semua juga tahu, ia pintar dan cerdik, juga pandai mencuri perhatian orang. Mukanya bulat, pipinya penuh seperti donat yang masih hangat, matanya sedikit sipit, dengan rambut yang ikal. Oya, ia juga lihai menggocek bola. Ya ya, sejak kedatangan Do’er, kami yang biasanya meninggalkan begitu saja sepakbola selama Ramadhan tiba-tiba disadarkan olehnya bahwa sepakbola menjelang buka puasa tidak akan membuat kami kehabisan tenaga dan mati kehausan.

Ia cucu Haji Sawendo, juragan tebu dan pemilik musholla di dekat rumahku. Sepanjang ramadhan ini, Do’er berencana akan tinggal di kampung kami. Ayahnya Do’er, artinya anak Haji Sawendo, bernama Amin Suganda, baru akan datang sehari menjelang lebaran. Aku pernah mendengar hubungan yang ganjil antara Haji Sawendo dan Wa Amin, begitu kami biasa memanggil ayah Do’er. Kabarnyna, begitulah yang lamat-lamat pernah kudengar, anak dan ayah itu sudah tak akur sejak tahun 60-an.

Do’er mendatangkan gema kegembiraan yang baru di antara kami. Ia selalu punya cerita-cerita lucu yang tak ada habisnya. Ia juga tak pelit bercerita tentang seperti apa kehidupan di Jakarta, bagaimana teman-teman sekolahnya, bagaimana sekolah di sana. Dan, ini yang penting, Do’er mengaku sudah punya pacar!

Itu sungguh luar biasa bagiku dan teman-temanku. Kabar bahwa Do’er sudah punya pacar terasa seperti sebuah cerita dongeng yang fantastis bagi anak-anak kampung macam kami. Bayangkan, bocah 8 tahun sudah punya pacar dan sudah pula mencium pacarnya itu. Ya, ya… cerita Do’er yang mengaku pernah menciumnya membuat cerita itu menjadi kian fantastis dan sureal bagi kami.

(more…)

Ber(s)isik?

meracau — Tags: , , , — admin @ 8:40 pm

– A monk should not laugh. Laughter makes him looks like a monkey*

Seorang desainer (kita sebut saja: “desainer kita”) yang berumah dekat mesjid selalu gagal menyelesaikan pekerjaannya tiap kali Ramadhan memasuki sepuluh hari terakhir.

Desainer kita ini sejenis mahluk yang hanya bisa bekerja pada malam hari. Siang hari, biasanya, desainer kita ini hanya bermain-main dengan anak-anaknya atau jika tidak pergi memancing ke sungai yang agak jauh tapi sebenarnya tidak jauh-jauh amat.

Maka, tiap kali Ramadhan memasuki sepuluh hari terakhir, desainer kita yang mukanya mirip singa tanpa misai itu tak pernah bisa berkonsentrasi dengan pekerjaannya. Bukan apa-apa, tiap kali ia mulai bekerja, orang-orang memenuhi telinganya dengan suara do’a yang kian mendekati pagi akan terdengar kian keras dan tak beraturan.

Dia senang jika langit tiba-tiba memuntahkan hujan yang deras. Suara deras hujan yang ditingkahi guntur yang menggelegar seringkali menyelamatkan telinganya dari suara-suara yang kian hari kian terasa acak di telinganya. Sayangnya, itu pun tak selalu berhasil. Selain karena hujan kadangkala berlangsung terlalu singkat, pengeras suara selalu datang tiap 10 menit dengan berisiknya yang tak tertahankan: “Ibu ibu yang sedang menyiapkan sahur, waktu sudah menunjukkan pukul…..”

(more…)

Kursi

meracau — Tags: , , , , — admin @ 9:21 pm

– sebuah hubungan yang tidak penting-penting amat

Entah sudah berapa perempuan yang telah dikencaninya, tapi tak satu pun dari mereka diijinkan oleh Ireng untuk duduk di depannya tiap kali sedang berkencan di sebuah kafe atau makan di sebuah restoran. Jika mejanya cukup besar, Ireng akan meminta perempuan yang dikencaninya untuk duduk di sebelahnya. Jika mejanya terlalu kecil untuk duduk bersebelahan, Ireng akan meminta perempuan yang dikencaninya untuk duduk di sisi kanan atau di kiri, pokoknya tidak di depannya. Jika Ireng duduk di sebelah barat, teman kencannya akan diposisikan untuk duduk di sisi utara atau selatan, bukan di sisi timur.

Selera yang aneh itu sedikit merepotkan. Setidaknya, Ireng harus selalu berusaha datang lebih dulu untuk meminta pelayan cafe atau restoran untuk menata kursi sedemikian rupa agar pada saatnya nanti ia tidak duduk berhadapan muka dengan muka. Kendati aneh dan tak biasa, kebiasaan Ireng itu tak pernah betul-betul menyulitkannya, hanya sedikit merepotkan saja.

Bagi Ireng, antara “merepotkan” dan “menyulitkan” itu berbeda, itu seperti “membuang abu rokok pada asbak yang tersedia di meja” dengan “buang air di sebuah mesjid yang tak menyediakan kloset”.

(more…)

Involusi?

cermin — Tags: , , , — admin @ 4:53 pm

– tentang semut yang terjungkal jatuh tanpa suara

Dari ranting pohon jambu yang terjulur menyentuh genting rumah, semut-semut hitam bergerak dan berarakan berpindah tempat: mula-mula dari ranting, lalu pindah ke genting, lantas merayap menyusuri tembok dan akhirnya –dengan meyakinkan—berhasil menembus ke dalam rumah melalui lubang angin di atas pintu.

Semut-semut itu sesungguhnya tidak mengganggu, tidak juga bikin kotor. Hanya saja, rute perarakan mereka memang sama sekali tak sedap dipandang. Setelah melewati lubang angin di atas pintu, mereka membangun jalur lebih ke bawah, melintasi dinding ruang tamu, lalu tiba di ruang keluarga dengan melintas di dinding tepat di atas televisi. Tiap kali melihat televisi, perarakan semut itu seringkali –mau tak mau—terlihat juga oleh mata. Dan, terus terang saja, itu mengganggu.

Seseorang lantas membeli sejenis kapur khusus yang tiap kali digoreskan di dinding atau lantai akan membikin semut-semut itu mustahil bisa melewatinya. Begitulah: perarakan semut itu berhenti. Tindakan selanjutnya: ranting yang terjulur ke genting pun dipangkas.

(more…)

Requiem

– usai menonton film “grave of the fireflies” karya taro hyugaji

Beberapa saat setelah selesai menyunting berkas lagu “Introitus: Requiem”-nya Mozart dan memasangnya sebagai nada panggil di ponsel, sebuah panggilan masuk ke ponsel Sarmad, lalu: ia terkena serangan jantung, dan mati.

Ibunya membanting ponsel itu dan berkata dengan nada sangat geram: “Komposer sialan!”

Ponsel itu pun pecah berantakan di lantai. Para pelayat yang hadir di sana hanya bisa terdiam, tapi mata mereka melirik keypad ponsel itu dan tiba-tiba saja mereka melihat abjad-abjad di sana telah berubah menjadi sederet notasi balok yang tak bisa mereka baca.

Sementara ibu mendiang Sarmad masih belum reda kegeramannya dan dengan sekuat tenaga menyepak pecahan-pecahan itu dengan histeris ke berbagai arah. Di mata para pelayat, notasi-notasi balok itu pun ikut berhamburan, lalu beterbangan, lalu memancarkan cahaya seperti kunang-kunang, dan lantas berbalik arah menuju jenazah Sarmad yang terbujur di tengah ruang tamu.

Jenazah itu kini bermandikan cahaya di sekujur tubuhnya, berbinar-binar dan berpendaran.

(more…)

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-Noncommercial-Share Alike 3.0 Unported License.
(c) 2012 nasib adalah kesunyian masing-masing | powered by WordPress with Barecity