Printer [2]
– sebuah versi lain dari cerita lama
Printer ini sudah lama mengabdi kepadaku dengan “sepenuh komponennya”. Ya, “sepenuh komponennya”, karena akan sukar menyebut “sepenuh hatinya”. Siapa memangnya yang bisa bilang kalau printer itu punya hati?
Kecuali hari ini, tepatnya siang ini, persis saat deadline betul-betul nyaris mengerkah batang leherku. Saat itu, para juragan sudah berdiri di balik pintu, ada yang menenteng pistol yang sudah terkokang, ada juga yang mengasah belati tajam dengan gigi depannya yang terbuat dari emas 19 karat, mereka semua menunggu kelarnya pekerjaanku. Keringat dingin mengucuri badanku, membasahi bajuku. Lalu, hal yang tak diinginkan oleh siapa pun di kantor ini pun terjadilah: tiba-tiba saja, ia – printerku itu– tak mau bekerja. Macet. Ngadat. Tak sehelai kertas pun yang keluar dari tubuhnya yang berwarna biru dan putih serta agak tambun ke samping itu.
Biasanya, beberapa saat usai perintah mencetak ditekan, akan menguar suara dengung, yang jika itu keluar dari mulut manusia mungkin akan kusebut sengau. Lalu, setelah dengung yang tak panjang itu, terngiang suara gesekan-gesekan tipis tapi berirama sedikit lebih panjang. Diakhiri dengan suara sedikit teredam, kertas tercetak yang ditunggu-tunggu tak segera keluar. Apa mungkin kertas-kertas yang sedang kutunggu itu enggan dilumuri tinta yang mungkin beracun?
Aku tak tahu apa sebabnya. Dingin keringat makin kencang mengucur, para juragan di balik pintu mulai berdehem-dehem, suara deheman yang terdengar lebih menakutkan daripada suara batuk pengidap TBC.
Sempat tadi kudengar, setelah bunyi dengung yang mirip suara sengau itu, printer mengedarkan bebunyian yang tak jelas notasinya: nadanya pendek-pendek, seperti ketukan yang berulang, sebuah perulangan yang mengingatkanku pada bebunyian dari mesin telegraf, mesin tua yang sudah jadi koleksi jawatan purbakala. Bunyi ketukan-ketukan itu terasa tak biasa, terdengar akrab tapi seperti sudah lama tak terdengar, antara asing dan akrab, tapi cukup jelas juga dalam bunyi ketukan-ketukan pendek itu tersimpan sesuatu yang tak beres, sesuatu yang tak biasanya.
Aku curiga ketukan-ketukan itu, yeah… seperti kode-kode yang diterima mesin telegraf, semacam huruf-huruf yang terangkai jadi kata, lalu kalimat, lalu paragraf, lalu cerita, lalu prosa, lalu tanda, lalu makna… Tapi kata apa? Tapi kalimat apa? Tapi paragraf apa? Tapi cerita apa? Tapi prosa apa, tanda apa? Lalu makna apa?
Kudekatkan telinga ke printer yang di gigirnya berwarna biru dan bagiannya tengah berwarna putih itu. Lamat-lamat aku dengar memang ada bebunyian, lalu ada kata, lalu ada cinta, lalu ada melankolia, lalu ada sebuah serenada, atau aubade, atau apa saja kau ingin dan hendak menyebutnya, tapi jelas sekali nadanya dalam dan muram, seperti malam kelam tanpa dehem kelelawar, tanpa bersin burung hantu. Aku buka lebih lebar lagi telingaku, aku kendorkan gendang telingaku, lalu lamat-lamat dan sayup-sayup yang sampai, terbantunlah suara itu:
“Aku tak tahu kenapa kau tak pernah mau bersamaku, kenapa kalian enggan memelukku lama-lama. Aku cuma kenal kalian, duhai para kertas, juga hanya kenal tinta. Dan tinta…oh, tinta, siapa yang mau bercinta dengannya? Baunya sengak, penuh racun dan kebencian, hitam seperti kedukaan, semua hal yang busuk seperti terwakili tinta. Jadi, hai para kertas, tinggallah barang senada atau dua nada, jika mau sepanjang lagu dan waktu. Kau, kalian kertas-kertas yang lapang ini, selalu menawanku, masuk ke pedalamanku, tapi pada saat yang sama kalian langsung berlalu, tak pernah kembali, tak mungkin kembali, lalu aku patah hati, lagi dan lagi… Lalu aku sendiri, juga lagi dan lagi!”
Printer itu, cukup jelas, membangkang perintah mencetak kertas. Aku menghela nafas agak panjang. Aku bisa sedikit merasakan kesunyian dan sentimen kepedihan yang dirasakan oleh printer itu. Diam-diam aku mencoba memahaminya, memahami kesunyian dan sentimen kepedihan itu, seakan-akan aku dan printer itu sebagai karib yang sudah lama terpisah lalu kembali mencoba saling mengerti.
Mataku lurus menatap ke depan, ke arah kaca, yang tepat berada di belakang printer yang tiba-tiba aku merasa iba padanya dan untuk pertama kalinya -saat menatap kaca itu- aku tahu: Mataku bertinta-tinta, padahal semestinya berkaca-kaca.
Aku memutuskan untuk tak berbuat apa-apa, membiarkan printer itu menikmati percintaan sebelah tangannya dengan kertas-kertas yang putih dan lapang itu. Aku tahu resikonya, aku mengerti bahayanya. Lamat-lamat aku dengar para juragan di balik pintu mulai mendengus gusar, menahan amarah yang tampaknya akan segera jebol dan membludak laksana tanggul yang tak sanggup menahan beban aliran dan arus air yang mengalir dari hulu ke hilir sampai jauh, dari jauh, sejak abad yang sudah lama menjauh.
Lalu aku melepaskan kancing bajuku yang paling atas. Leherku terasa sedikit lega. Dua kancing terbuka. Aku merasa akan ada yang mendarat di dada bagian atasku. Aku tak mau lagi mendengar apa yang hendak dan telah dikatakan para juragan di balik pintu itu. Aku hanya membalikkan badanku, lalu semuanya berlalu, terjadi begitu saja…
Dor dor dor… Crak crak crak! Pistol itu melesat, belati itu menghunjam. Ada yang muncrat dari dadaku. Warnanya hitam. Aku roboh ke belakang tepat di atas printer itu. Pada detik-detik terakhir, aku mendengar lamat-lamat printer itu bersuara:
“Bangsat, tinta dari mana ini? Busuk!”
[...] This post was mentioned on Twitter by gaga egga, gaga egga. gaga egga said: RT @zenrs: Akhinya apdet blog. 785 kata, versi baru dari sebuah cerita lama. http://pejalanjauh.com/2010/07/printer-2/ [...]
hohoho. keren. ono esisi tutup oli motor?
printernya kudu dikasih timun dulu mas…
:p
Itu siapa yang jadi printer siapa yang juragan?
Printer adalah kesunyian masing-masing
printer… hmm tulisan ini cukup menarik, selain mengingatkanku sebagai operator rental komputer selama lebih dari 4 tahun. tapi aku pernah sekali memukulnya sekeras yg aku bisa waktu itu karena ngadat diwaktu genting, tak ada yg salah bukan? karena printer adalah benda mati yang tak punya ruh, pikirku..
I’ve always been a huge fan of your writing piece…
Your writing is more than just brilliant!
– arigato, rizky
Harusnya sang printer belajar dari cumi – cumi…kapan waktu yang tepat menyemprotkan tinta….
weh, medit ra gelem tuku printer…
makane diemail wae mase….ra sah ndadak ngeprint..:)