Manyar
– seusai mimpi ngetapel burung manyar
Remaja 17 tahun itu tak segera mengganti seragam sekolahnya dengan satu set kostum sepakbola yang tersimpan rapi di tas ranselnya. Di salah satu sudut stadion kecil, di sebuah kota kecil, remaja itu hanya memandangi beberapa kawannya yang sudah menggelar pemanasan di sentel-ban. Ia tak juga beranjak kendati pelatihnya, dari arah lapangan, memanggil dengan meniupkan pluit sekencang-kencangnya.
Dia lantas ngeloyor pergi, beranjak ke luar stadion, dan duduk di bawah patung raksasa seorang tokoh Pandawa. Di salah satu kaki patung itulah ia melanjutkan membaca sebuah buku yang dipinjamnya beberapa dari perpustakaan daerah di kotanya. Sudah dua hari ia tak melepaskan diri dari buku pinjamannya itu.
Ini hari ketiga ia membacanya. Dan akhir itu sudah makin dekat. Ia membaca dengan keingintahuan yang tak sabar. Setengah jam sebelum kawan-kawan main bolanya bubar dari lapangan, ia telah lebih dulu menamatkan bacaannya.
Ada rasa sedih, sedikit. Tapi ada rasa bungah, sedikit lebih banyak.
Ia merasa telah membaca sebuah buku yang jauh lebih bagus ketimbang Tenggelamnya Kapal van Der Wijk atau Grotta Azzura atau Layar Terkembang atau Raumanen yang telah dibacanya dulu semasa SD dan SMP. Lelaki gagah di buku itu telah menggodanya dengan imajinasi ihwal kejantanan yang tak biasa, tapi seorang perempuan lincah dengan mata indah telah lebih dulu memikatnya dengan sensualitas yang terasa lembut dan aktivisme gerak yang hangat.
Remaja 17 tahun itu telah menemukan pujaan hatinya. Kelak, hingga tahun-tahun selanjutnya, ia terus memelihara ingatannya tentang sang pujaan hati yang sebenarnya hanya ada dalam sebuah buku cerita.
****
Tak sampai tiga tahun kemudian, remaja itu sudah menjadi seorang pemuda dengan bacaan yang sudah lebih berkembang.
Sebuah katrologi prosa membawanya pada tiga sosok perempuan yang satu sama lain berbagi kisah dan kasih dengan seorang lelaki penuh semangat yang cita-citanya sama banyak dengan hambatan dan kekurangan yang menghadangnya.
Dengan perempuan pertama, lelaki tadi “menyulam” kisah penuh empatik tentang seseorang yang mencoba menguatkan pasangannnya yang labil dan dengan itu ia mencoba memberi amsal ihwal saktinya sebuah romansa yang menyembuhkan dan saling menguatkan. Dengan perempuan kedua, lelaki tadi “menenun” cerita indah tentang sepasang manusia yang tak sepenuhnya saling memahami tapi terus mencoba menaruh kepercayaan yang tak mudah pada pasangannya di tengah aktivisme satu sama lain yang sebenarnya senafas tapi berbeda tujuan. Dengan perempuan ketiga, lelaki ini “mengikat-jalinkan” hubungan yang saling menjaga dan melindungi sampai batas-batas yang dimungkinkan, termasuk dengan menembak siapa saja yang hendak melukai kekasihnya.
Remaja yang kini sudah beranjak sedikit dewasa itu membayangkan ketiganya dalam imaji yang berbeda satu sama lain. Perempuan pertama dianggapnya sebagai contoh kecantikan yang tiada banding, perempuan kedua dianggapnya sebagai contoh pribadi yang kokoh dan tak mungkin dirontokkan kecuali oleh penyakit keparat yang tak jelas jenisnya, sementara perempuan ketiga dianggapnya sebagai perempuan yang keperkasaannya dalam melindungi kekasihnya membawanya ada di deretan yang sama dengan Srikandi dalam hidup Arjuna.
Ketiganya, entah kenapa, terasa sungguh jauh dan hanya ada dalam dunia imajinasi. Ketiganya terlampau ideal, fiilnya tak tersentuh, dan rasanya –begitulah ia menghitung– menjadi sukar dijangkau.
****
Lalu ia kembali pada pujaan hatinya yang lama, perempuan yang ia kenal pertama kali saat ia masih remaja melalui sebuah buku cerita, kendati ia paham dunia yang dijalaninya tak sesederhana cerita prosa. Ia tak pernah menyebut hubungannya dengan perempuan pujaan hati dalam buku cerita itu sebagai “utopia”. Mungkin lebih tepat sebagai sebentuk “heteropia”. Atau mungkin juga lain sama sekali.
Ia, remaja yang dulu membaca di kaki patung tokoh Pandawa itu, tak berniat menjelaskan apa maksudnya.
lelaki iku kowe yo?
– enak banget, entuk 3 wadon apik
)
lalu bagaimana kabar lelaki itu sekarang, saat mendekati kepala empat ?
kayaknya aku paham deh kisah tiga perempuan itu …. pas baca kisah perempuan pertama, aku nangis beratz lhoch di kamar mandi … dia yang paling membekas, soalnya labil kayak aku … hehehe
trus perempuan ketiga yang ambon-ambon itu (atau manado ya? lupa … kayaknya ambon deh).
perempuan kedua kalo ga salah namanya meimei atau siapa ya? cina-cina itu deh, ngenes juga itu penyakitan
Eh idemu aku curi ya … aku mau cari2 juga ah cowok2 fiktif yang aku taksir, tapi kayaknya ga ada
… yang ada tuh tokoh cewek fiktif yang aku ngerasa “gue banget”, misalnya Renata Remedios.
Kalo tokoh cowok, aku lebih sering ingat keanehan2 mereka, misalnya Mersault. Dia itu aneh banget
(ealah … mau nyuri kok ngomong2 hehheehh)
Women, they will come and they will go.
payahhhh
kirain mau ada penjelasan di bagian akhirnya
huft….
“you had me at hello,” said Atik.
Tak pikir bar mampir nang kampung manyar (kampungku suroboyo)