– catatan usai nonton Liga Kompas-Gramedia U-14
Tak perlu bertele-tele: sepakbola Indonesia memang lebih suka yang serba instan, tak begitu peduli dengan pembinaan, melulu bicara prestasi – seakan-akan prestasi tak ubahnya hujan yang bisa tercurah begitu saja dari atas langit sana. Lalu, apa jadinya jika kompetisi yunior atau kelompok umur yang sedianya dibangun untuk pembinaan pun ternyata lebih peduli dengan hasil dan prestasi?
Terbetik kabar kalau Rigan Agachi, pemain berdarah Indonesia yang sempat direkrut oleh PSV Eindhoven, terpaksa dibuang oleh PSV karena skandal pencurian umur. Jika benar, itu tentu mengherankan. Anda hanya perlu memanfaatkan mesin pencari untuk menemukan kasus pencurian umur dalam kompetisi atau turnamen sepakbola kelompok yunior di Indonesia –sampai sekarang—masih saja direcoki oleh kasus pencurian umur. Ya, sampai sekarang.
Itu baru dari aspek yang paling kelihatan. Bagaimana dengan mental para pengelola SSB atau para orang tua pemain yunior? Sama saja, setidaknya seperti yang saya lihat dan saksikan sendiri pada hari Minggu kemarin di Lapangan AS-IOP, Senayan, dalam Liga Kompas-Gramedia U-14.
(more…)
– seusai mimpi ngetapel burung manyar
Remaja 17 tahun itu tak segera mengganti seragam sekolahnya dengan satu set kostum sepakbola yang tersimpan rapi di tas ranselnya. Di salah satu sudut stadion kecil, di sebuah kota kecil, remaja itu hanya memandangi beberapa kawannya yang sudah menggelar pemanasan di sentel-ban. Ia tak juga beranjak kendati pelatihnya, dari arah lapangan, memanggil dengan meniupkan pluit sekencang-kencangnya.
Dia lantas ngeloyor pergi, beranjak ke luar stadion, dan duduk di bawah patung raksasa seorang tokoh Pandawa. Di salah satu kaki patung itulah ia melanjutkan membaca sebuah buku yang dipinjamnya beberapa dari perpustakaan daerah di kotanya. Sudah dua hari ia tak melepaskan diri dari buku pinjamannya itu.
Ini hari ketiga ia membacanya. Dan akhir itu sudah makin dekat. Ia membaca dengan keingintahuan yang tak sabar. Setengah jam sebelum kawan-kawan main bolanya bubar dari lapangan, ia telah lebih dulu menamatkan bacaannya.
Ada rasa sedih, sedikit. Tapi ada rasa bungah, sedikit lebih banyak.
(more…)
– sebuah versi lain dari cerita lama
Printer ini sudah lama mengabdi kepadaku dengan “sepenuh komponennya”. Ya, “sepenuh komponennya”, karena akan sukar menyebut “sepenuh hatinya”. Siapa memangnya yang bisa bilang kalau printer itu punya hati?
Kecuali hari ini, tepatnya siang ini, persis saat deadline betul-betul nyaris mengerkah batang leherku. Saat itu, para juragan sudah berdiri di balik pintu, ada yang menenteng pistol yang sudah terkokang, ada juga yang mengasah belati tajam dengan gigi depannya yang terbuat dari emas 19 karat, mereka semua menunggu kelarnya pekerjaanku. Keringat dingin mengucuri badanku, membasahi bajuku. Lalu, hal yang tak diinginkan oleh siapa pun di kantor ini pun terjadilah: tiba-tiba saja, ia – printerku itu– tak mau bekerja. Macet. Ngadat. Tak sehelai kertas pun yang keluar dari tubuhnya yang berwarna biru dan putih serta agak tambun ke samping itu.
Biasanya, beberapa saat usai perintah mencetak ditekan, akan menguar suara dengung, yang jika itu keluar dari mulut manusia mungkin akan kusebut sengau. Lalu, setelah dengung yang tak panjang itu, terngiang suara gesekan-gesekan tipis tapi berirama sedikit lebih panjang. Diakhiri dengan suara sedikit teredam, kertas tercetak yang ditunggu-tunggu tak segera keluar. Apa mungkin kertas-kertas yang sedang kutunggu itu enggan dilumuri tinta yang mungkin beracun?
Aku tak tahu apa sebabnya. Dingin keringat makin kencang mengucur, para juragan di balik pintu mulai berdehem-dehem, suara deheman yang terdengar lebih menakutkan daripada suara batuk pengidap TBC.
(more…)