Prononima

– tokoh dan karakter sebagai kata ganti

soul_mountainDini hari tadi, di tengah kebosanan yang sekonyong-konyong datang, juga dipicu oleh perasaan tidak enak yang tak terkatakan, tiba-tiba saja saya ingin membuka-buka lagi Ling Shan (Soul Mountain atau Gunung Jiwa) karya Gao Xingjian. Saya sudah tidak ingat lagi berapa kali sudah membaca Ling Shan. Tiga atau empat kali saya menghabiskannya, dari awal sampai akhir. Tak terhitung pula saya membaca kembali novel itu secara acak, membacanya dengan sambil lalu. Cukup sering saya membawa novel itu tiap kali sedang melakukan perjalanan. Dua bulan lalu saya kembali membawa dan membaca novel ini saat melakukan perjalanan 10 hari mengelilingi Jawa Timur hingga Bali.

Novel ini punya tempat tersendiri di kepala saya. Sebagai novel yang kerangkanya sama-sama berbentuk cerita perjalanan, jangan bandingkan novel ini dengan Sang Alkemis-nya Coelho atawa Celestine Prophecy-nya James Redfield yang “berkhotbah” itu. Pesannya berlapis, imajinya kaya, metaforanya berlimpah: gabungan antara pemeriaan hewan dan tumbuhan juga hutan-hutan, deskripsi yang detail tentang ritus-ritus, pemaparan ulang folklore dan folksong, legenda dan mitos, tinjauan tentang situasi sosial dan politik hingga sentuhan yang halus dan lembut tentang pengalaman fisikal dan indrawi.

Tapi ada satu alasan yang mendasari kenapa saya hingga hari ini saya masih saja membacanya lagi dan lagi: penggunaan prononima sebagai protagonis novel. Di novel ini, kita tak pernah tahu siapa nama tokoh-tokoh utama yang muncul. Gao Xingjian hanya menggunakan pelbagai prononima: “aku”, “engkau”,” ia” (perempuan), lalu muncul lagi “dia” yang lain (lelaki yang hadir silih bergantian dengan “aku”).

Tentu saja pada mulanya siasat mengeksplorasi prononima ini jadi menyulitkan saya sebagai pembaca. Kadang kala, saat secara acak membuka dan membacanya lagi, saya masih kebingungan. Tapi, belakangan saya mengerti, siasat literer dengan mengeksplorasi prononima inilah yang sepertinya menjadi salah satu pendorong kenapa saya masih kadang membuka dan membaca lagi novel ini. Strategi literer yang digunakan Gao ini, buat saya sebagai pembaca, berpotensi membuat teks ini bisa tetap terasa segar kendati kita sudah membacanya berkali-kali.

Masing-masing prononima bermunculan satu per satu dan dengan itu secara perlahan-lahan menguakkan wajah “pengarang” dalam banyak segi, menampakkan pelbagai fasetnya, juga meruapkan banyak wajah. Seringkali saya merasa mendapatkan hal-hal baru akibat penggunaan prononima yang berganti-ganti ini.

Bab 52 dari novel ini adalah salah satu bagian terpenting dari novel ini. Pada bab itulah, “aku” dan “engkau” bertemu, menyempitkan jarak, lalu melebur, untuk kemudian bertukar tempat. Lalu masuk tokoh lain, yaitu “ia”.

Berikut saya ketik ulang penggalan bab 52 hasil terjemahan Hasif Amini berdasarkan versi Inggris:

Engkau tahu bahwa aku bicara kepada diriku sendiri untuk meringankan kesepianku. Engkau tahu bahwa kesepian ini tak tersembuhkan, bahwa tak seorang pun bisa menyelamatkanku, bahwa aku hanya bisa mengatakannya kepada diriku sendiri sebagai teman bicaraku.

Dalam solilokui panjang ini engkau adalah sasaran ceritaku, sesosok aku yang mendengarkan dengan seksama apa yang aku katakan, engkau hanyalah bayang-bayangku.

Ketika aku dengarkan engkau yang muncul dari diriku, aku biarkan engkau menciptakan dia, sebab engkau seperti aku tak sanggup menanggung kesepian, dan juga harus menemukan teman bicara.

Maka engkau bicara dengan dia seperti aku bicara denganmu.

Dia terlahir dari engkau namun mengukuhkan diriku.

Engkau yang menjadi teman bicaraku mengubah pengalaman dan imajinasiku menjadi bermacam ilusi yang mengelabui dan menggodamu, dan mustahil melepaskan imajinasi dari kenyataan. …

Dia yang adalah ciptaan pengalaman dan imajinasi berubah menjadi beragam ilusi yang mengelabui dan menggoda engkau sebab engkau-ciptaan ini juga ingin menggoda dia, masing-masing kalian tak inginkan kesepian diri kalian.

Aku dalam perjalanan –hidup baik atau buruk adalah sebuah pengalaman—dan berkubang dalam khayalan, perjalanan menuju kedalaman pikiranku dengan engkau yang adalah pantulanku. …

…kian jauh kita pergi kian hampir kita sampai, dan akhirnya tak pelak lagi menyatu, tak sanggup lagi berpisah. Di titik ini ada kebutuhan untuk undur sejenak, mengambil sedikit jarak. Jarak itu adalah ia. Ia adalah punggungmu setelah engkau berpaling dan meninggalkanku.

Baik aku maupun bayanganku tak bisa melihat wajahnya, cukuplah mengetahui bahwa ia adalah punggung seseorang.

Engkau yang adalah ciptaanku telah menciptakan dia lantas mengapa mesti bersikeras memerikan wajahnya? Dia tentu hanya setabir bayangan samar dari sekian pertautan dan sesungguhnya tak menentu, maka biarkan dia tetap kabur, lagi pula bayangan dia seakan berubah senantiasa. …

Hanya dengan melepaskan diri darimu aku dapat lepas dari diriku. Namun, setelah memanggil bayanganmu, mustahil melepaskan diri darimu. Maka aku dapatkan pikiran ini: Apa yang akan terjadi jika engkau dan aku bertukar tempat? Dengan kata lain, aku akan menjadi bayanganmu, dan engkau akan menjadi wujudku yang nyata, ini akan menjadi permainan yang mengasyikkan. Jika engkau dengarkan aku baik-baik dari letakku, aku akan menjadi ungkapan nyata segenap hasratmu, dan itu akan menyenangkan.

Menurut hemat saya, semua prononima dalam novel ini (you, I/me, he or she) bisa saja dibaca sedang berbicara tentang satu sosok yang sebenarnya sama yaitu sang-protagonis. Kita lihat kutipan kalimat pada bab 72: “…engkau (”you”) adalah pantulan dari aku (”I/me”) dan dia (”he/she”) adalah bagian belakang dari engkau (”you”).” Hanya saja, ada sedikit perbedaan yang saya tangkap: prononima “I/me” dan “you” terasa lebih intim dalam menggambarkan sang-protagonis, sementara prononima “he” atau “she” lebih mengesankan adanya jarak dan perspektif yang berbeda.

Strategi literer ini mengakibatkan Ling Shan bisa dibaca tanpa plot kendati novel ini tetap mengandung plot. Atau, bisa dikatakan, strategi literer mengeksplorasi prononima inilah yang menghantarkan cerita, bukan plot, yang dari sanalah pelbagai jenis pola dan kejadian terbentuk dan bermunculan. Ketidakmampuan pembaca untuk mengikuti pergantian dan pengacakan prononima niscaya akan membuat novel ini sukar untuk diikuti, apalagi dimengerti.

Tidak ada salahnya jika kita membaca “pengakuan” Gao sendiri tentang siasat literernya ini. Saya pernah membaca interview Gao dengan David Dar-Wei Wang dan di sana Gao menyebut bahwa mengeksplorasi penggunaan prononima adalah cara yang dipilihnya untuk mendapatkan “suatu perspektif yang berbeda dalam memandang diriku sendiri” (”a different perspective of looking at myself”). Dari keterangan yang diberikan Gao itu, tersirat kalau Gao menghadirkan beragam prononima itu agar bisa menghadirkan gambaran yang lebih kaya tentang sang-protagonis (dan dengan merujuk pendakuannya sendiri itu berarti juga gambaran yang kaya ihwal dirinya sendiri).

Ya, mula-mula bagi dirinya sendiri. Novel ini memang mulai ditulis pada masa-masa tersuram dalam hidupnya, saat ia mulai terancam kebebasannya oleh rezim komunis dan setelah ia berhasil “selamat” dari ancaman maut akibat diagnosa keliru tentang kanker paru-paru yang diidapnya (jenis penyakit yang juga merenggut nyawa ayahnya).

Dalam pidato Nobel yang dibacakannya pada 7 Desember 2000, Gao mengisahkan bahwa novel ini ditulis mula-mula hanya untuk dirinya sendiri dan tanpa harapan akan diterbitkan. Katanya lagi, novel ini ditulis untuk mengusir kesepian jiwa tepat ketika “karya-karya yang telah saya tulis dengan sensor-diri yang ketat pun tetap dilarang” (”when works I had written with rigorous self-censorship had been banned”).

Ling Shan, dengan demikian, ditulis mula-mula sebagai cara pribadi Gao untuk merenungkan kembali perjalanan hidupnya. Siasat literer mengeksplorasi prononima itu diharapkan bisa memberikan gambaran yang lebih lengkap dan kaya bagi Gao sendiri, “a different perspective of looking at myself”. Dengan itu, Gao mencoba terus mencari dan memandang kedalaman dirinya sendiri, mencoba menggali dan memahami dirinya sendiri, dari semua sisi dan sudutnya. Tak ada jaminan bahwa upaya gila-gilaan itu bisa membuat Gao menemukan kesimpulan tentang dirinya, seperti bagaimana Gao mengakhiri solilokui panjangnya itu cara yang sangat puitik melalui gambaran mata seekor katak.

Apa yang dikatakan Milan Kundera tentang jiwa novel sebagai “meditasi puitik atas eksistensi”, saya kira, telah dijawab dengan tuntas oleh Gao dengan novelnya ini. Saya tergoda untuk “memanggil” Milan Kundera, novelis-esais Ceko yang –seperti juga Gao– menjadi eksil di Paris. Dalam wawancaranya dengan Christian Salmon, Kundera menyebut bahwa semua novel, di setiap masa, berpusat pada teka-teki diri. Secepat Anda menciptakan tokoh imajiner, kata Kundera, “Secara otomatis Anda berhadapan dengan pertanyaan: apa itu diri? bagaimana diri bisa terpahami?”

Gao percaya bahwa pertanyaan tentang diri itu hanya bisa dijawab dengan pengalaman, dan itu harus pengalaman diri sendiri. Hanya dari situlah narasi tentang diri bisa diuraikan. Dan mengenai hal itu, Gao sudah mengatakannya dengan cara yang sangat indah dan puitis pada bab pertama novelnya:

Reality exists only through experience, and it must be personal experience. However, once related, even personal experience becomes a narrative. … Reality is simply that I am sitting by the fire in this room which is black with grime and smoke and that I see the light of the fire dancing in his eyes. … All that needs to be said is that outside, a mist is enclosing the green-blue mountain in a haze and your heart is reverberating with the rushing water of a swift-flowing stream.

Dari pengalaman diri sendiri itulah –bahkan walau pun hanya pengalaman melihat api dan asap rokok– narasi tentang diri pun lahir. Tapi berbeda dengan kebanyakan karakter-karakter fiksi dari Kundera, Gao sepenuhnya berbicara tentang dirinya sendiri, habis-habisan mengupasi dirinya sendiri, dengan intim dan personal (melalui prononima “aku” dan “engkau) atau pun dengan sejumlah jarak dan perspektif (melalui prononima “dia” atau “ia”).

Dalam pidato Nobelnya, Gao bahkan menyebut bahwa “berbicara pada diri sendiri adalah awal mula kesusastraan” (”talking to oneself is the starting point of literature”). Masih dari pidato yang sama, Gao yang Januari lalu genap berusia 70 tahun, menambahinya dengan memelesetkan Descartes, “Aku berkata maka aku ada.”

Dalam hal novel Ling Shan, kalimat itu bisa diubah menjadi “Aku berkata maka engkau/dia ada”.

Printed from: http://pejalanjauh.com/2010/05/prononim/ .
© Pejalanjauh 2010.

2 Comments   »

  1. Lumiere says:

    Wow!

    Dari narasi anda saya jadi penasaran dengan novel ini.S aya sudah baca Alchemist (juga beberapa karya Coelho lainnya). berikut Celestine Prophecies-nya Redfield, tapi kenapa saya tidak merasa “diceramahi” yah? :-? mungkin kah ada yang terlewatkan dari perhatian saya?

    [Reply]

  2. hedi says:

    wah opo gara2 moco buku Gao, banyak pers sport di Indonesia pakai prononima dobel dalam kutipan… ;))

    [Reply]

RSS feed for comments on this post , TrackBack URI

Leave a Comment