-- karena manusia adalah mahluk (yang) bermain
Pada malam natal 1915, di desa Laventie di utara Prancis, dua kubu serdadu dari Inggris dan Jerman yang saling berhadapan dalam jarak dekat mendekam di parit pertahanannya masing-masing. Tak ada pohon natal, tak ada kalkun panggang. Lantas terjadilah satu selingan pendek yang menyentuh dalam lembaran sejarah Perang Dunia I itu: salah seorang dari mereka — mulanya dengan suara lirih — menyanyikan lagu natal, lalu ada yang iseng menyapa. Lalu, ya, lalu… mereka semua bermain bola!
Bertie Felstead, serdadu Inggris sekaligus saksi mata peristiwa yang masih sempat merasakan udara abad-21, memberi kesaksian yang menyentuh. Katanya:
“Kami dipisahkan oleh jarak yang hanya sekitar 100 yard saat pagi hari Natal itu tiba. Seorang serdadu Jerman menyanyikan lagu All Through the Night, lalu para serdadu Inggris membalasnya dengan manyanyikan lagi Good King Wencelas. Pagi berikutnya, para serdadu saling menyapa. Hello Tommy… Hello Fritz. Serdadu Jerman yang memulai, mereka keluar dari paritnya dan berjalan menghampiri kami. Tak ada yang memerintahkan, tapi kami semua memanjat dinding pembatas dan bergabung dengan mereka. Beberapa dari mereka menghisap cerutu sekaligus menawari kami cerutu. Kami juga menawarkan sebagian dari yang kami miliki. Lalu kami mengobrol. Kami berbicara dengan bahasa campur aduk. Ada yang bicara dalam Inggris, Jerman, dan Prancis… sisanya dengan bahasa isyarat. Kami semua tidak takut ditembak karena kami semua telanjur berbaur satu sama lain.”
(more…)
– tokoh dan karakter sebagai kata ganti
Dini hari tadi, di tengah kebosanan yang sekonyong-konyong datang, juga dipicu oleh perasaan tidak enak yang tak terkatakan, tiba-tiba saja saya ingin membuka-buka lagi Ling Shan (Soul Mountain atau Gunung Jiwa) karya Gao Xingjian. Saya sudah tidak ingat lagi berapa kali sudah membaca Ling Shan. Tiga atau empat kali saya menghabiskannya, dari awal sampai akhir. Tak terhitung pula saya membaca kembali novel itu secara acak, membacanya dengan sambil lalu. Cukup sering saya membawa novel itu tiap kali sedang melakukan perjalanan. Dua bulan lalu saya kembali membawa dan membaca novel ini saat melakukan perjalanan 10 hari mengelilingi Jawa Timur hingga Bali.
Novel ini punya tempat tersendiri di kepala saya. Sebagai novel yang kerangkanya sama-sama berbentuk cerita perjalanan, jangan bandingkan novel ini dengan Sang Alkemis-nya Coelho atawa Celestine Prophecy-nya James Redfield yang “berkhotbah” itu. Pesannya berlapis, imajinya kaya, metaforanya berlimpah: gabungan antara pemeriaan hewan dan tumbuhan juga hutan-hutan, deskripsi yang detail tentang ritus-ritus, pemaparan ulang folklore dan folksong, legenda dan mitos, tinjauan tentang situasi sosial dan politik hingga sentuhan yang halus dan lembut tentang pengalaman fisikal dan indrawi.
Tapi ada satu alasan yang mendasari kenapa saya hingga hari ini saya masih saja membacanya lagi dan lagi: penggunaan prononima sebagai protagonis novel. Di novel ini, kita tak pernah tahu siapa nama tokoh-tokoh utama yang muncul. Gao Xingjian hanya menggunakan pelbagai prononima: “aku”, “engkau”,” ia” (perempuan), lalu muncul lagi “dia” yang lain (lelaki yang hadir silih bergantian dengan “aku”).
(more…)
– konspirasi antara kesunyian, kemuraman dan diam yang keras kepala
Gilles Deleuze menelaah neorealisme –salah satunya—dengan mengamati tindakan dalam sinema. Baginya, neorealisme mengisyaratkan tindakan sebagai sesuatu yang belum tentu berhubungan dengan pikiran, seakan-akan suatu tindakan “terjadi begitu saja”, di mana tindakan sang-aktor seperti “terperangkap” dalam situasi atau keadaan yang banal dan sehari-hari. Contoh yang diajukan Deleuze adalah scene di mana pembantu muda dalam Umberto D karya Vittorio de Sica melakukan aktivitas di dapur: membuka kran, membersihkan alat memasak, melihat dinding yang penuh semut, menyemprot semut dengan air kran, juga mengibas-ngibaskan kedua tangannya ke arah sweater yang ia kenakan (dalam DVD yang dirilis Criterion, scene itu bisa dilihat pada menit ke 13 detik 15 sampai detik 55).
Saya tidak akan masuk terlalu jauh pada apa yang disebut Deleuze sebagai “pure-optical-situation” atau “sensory-motor-schema” dalam neorealisme, juga tidak akan mereview film produksi 1952 yang disebut-sebut sebagai “akhir dari neorealisme Italia” ini. Saya hanya mencoba memaparkan kesan-kesan yang saya tangkap dari salah satu scene film ini: ketika tokoh Umberto berada di depan kuil Pantheon Roma dan “terjebak” dalam ketegangan internal antara mengemis atau tidak, antara mendapatkan uang atau mempertahankan harga-diri, antara melakukan tindakan ataukah hanya meratapi nasib menjadi pensiunan tua yang melarat (dalam DVD versi Criterion, adegan bisa dilihat pada menit 60 detik 32 sampai menit 61 detik 40).
Saya memilih membicarakan scene ini bukan semata karena daya dan metafor yang memantul dari scene itu, juga karena scene itu dengan amat bagus menggambarkan seperti apa ketegangan-internal karakter Umberto Domenica Ferrari yang diperankan dengan bagus sekali oleh Carlo Battisti, seorang non-aktor yang memainkan film pertamanya sekaligus yang terakhir.
(more…)
– neorealisme italia dari atas sepeda

Andre Bazin –pembela paling gigih dari neorealisme Italia- menganggap film Ladri de Biciclette sebagai film terbaik yang mewakili neorealisme sinema Italia. Dengan nada yang plastis, seperti terbaca dalam baris terakhir tulisannya berjudul Neorealism and Pure Cinema, Bazin bahkan menyebut film produksi tahun 1948 ini sebagai “…one of the first examples of pure cinema, no more actors, no more story, no more sets, which is to say that in the perfect aesthetic illusion of reality there is no more cinema.”
Berlatar di kota Roma pasca Perang Dunia II, film ini berkisah tentang seorang ayah (namanya Antonio Ricci) dengan satu istri dan dua anak dan baru saja mendapat pekerjaan sebagai penempel poster-poster film. Syaratnya: ia harus punya sepeda -sekali lagi harus- karena dengan itulah ia akan berkeliling menyusuri dinding-dinding di Roma. No bicycle, no job. Tapi ia tak punya sepeda. Ia seorang pengangguran. Dan miskin. Istrinya terpaksa menjual semua sprei agar bisa membeli sepeda. Pada hari pertama kerja, sepedanya hilang dicuri. Ia sudah mencoba mengejarnya, tapi gagal. Ia melapor ke polisi. Ia minta pertolongan serikat buruh. Bahkan minta petunjuk pada cenayang. Keesokan harinya, pada hari Minggu, ia bersama anaknya (Bruno Ricci) mencoba mencari sepeda itu lagi. Mereka pergi ke pasar sepeda, pergi ke pasar lainnya, mengejar sampai ke gereja, sampai rumah bordil. Di satu sudut kota, ia merasa telah menemu kan pemuda yang mencuri sepedanya. Tapi para tetangga pemuda itu tak percaya dan bahkan menyalahkan Antonio, terlebih saat perseteruan itu si pemuda malah kumat penyakit ayannya. Polisi pun tak bisa membantu Antonio karena dianggap tak ada barang bukti. Antonio dan Bruno duduk dengan gontai di luar stadion sepakbola. Antonio tergoda untuk mencuri sebuah sepeda di situ. Ia tertangkap dan sempat dikerubuti orang-orang. Hanya karena pemilik sepeda yang dicurinya merasa iba pada mimik muka Bruno, akhirnya Antonio pun dilepaskan tanpa harus berurusan dengan polisi.
Yang dialami Antonio adalah banalitas kemiskinan yang datang tanpa ampun. Tak ada yang bisa diharapkan: negara (polisi) abai, kapitalisme (perusahaan yang mempekerjakannnya) tak memberi toleransi jika tak punya sepeda, komunisme juga ogah-ogahan (serikat buruh hanya membantu seperlunya), solidaritas proletariat hanya omong-omong di atas kertas, begitu juga institusi agama.
(more…)