– “sidewalk is life,” kata jack kerouac
Masih ada waktu, selalu ada waktu buatku. Satu jam lagi aku baru akan menemui Ahmet. Aku pun memilih tidak tergesa-gesa, berjalan pelahan, di atas trotoar yang disusun oleh pavingblock berbentuk segilima yang disusun sedemikian rupa, memanjang sampai jauh, sampai kelokan di depan sana, dan setelah kelokan itu pun trotoar mungkin masih akan memanjang, sampai jauh lagi, sampai kelokan berikutnya lagi, dan lagi, dan lagi….
Di mana sebenarnya awal dan akhir sebuah trotoar?
Beberapa tahun lalu, saat masih tinggal di kota kecil di timur sana, aku sering duduk-duduk di salah satu lajur trotoar. Letaknya di ujung sebuah jalan paling terkenal di kota itu. Di sepanjang lajur itu, ada banyak bangunan tua, toko-toko tua, bioskop tua, istana tua dan sebuah benteng tua yang temboknya sudah disulap menjadi parade diorama. Orang-orang lewat di depanku, anak-anak sekolah yang sedang berdarmawisata, turis-turis asing berperut gendut dengan brosur perjalanan di tangan kiri dan kamera di tangan kanan.
Aku masih ingat, seorang turis tua, juga berperut gendut dan pipi yang penuh, menghampiriku yang sedang selonjoran kaki sedemikian rupa sehingga melintang di trotoar selebar 3 meter. Aku sudah lupa kenapa saat itu aku selonjor melintangkan kaki, mungkin saat itu kakiku merasa pegal karena berjalan cukup jauh, tapi aku tak yakin dengan ingatanku. Turis itu berdiri sebentar beberapa langkah dari posisiku duduk selonjor. Ia menatap kakiku, lalu melihat wajahku. Aku tengadah melihatnya. Mataku sedikit kugerakkan sedemikian rupa, semacam isyarat bertanya tentang apa yang sedang dilakukan dan dia pikirkan.
“History goes on the asphalt, get off the sidewalk, Son.” Ia mengucapkan kalimat itu sambil berlalu begitu saja.
Sebuah kalimat pendek pada sebuah pertemuan yang sangat pendek. Tapi aku memang tak pernah berharap bertemu lama-lama di atas lajur trotoar, semuanya berlalu dan lewat begitu saja, datang dan pergi, silih berganti, sebab trotoar bukan tempat berhenti. Lagipula lekat tidaknya suatu sekuen dalam ingatan tidak menysaratkan durasi, bukan?
Tiap kali berjalan iseng menyusuri trotoar, aku selalu ingat ucapan turis tua berperut gendut dan berpipi penuh itu, seperti sekarang ini. Jalanan sudah mulai penuh, asap-asap knalpot mengembang dan saling rasuk dengan uap aspal lalu menjelma fatamorgana lalu menjadi bunga-bunga di udara, bunga-bunga di atas aspal.
Aku menatap jalanan yang padat: benarkah sejarah berlangsung di atas aspal, di jalanan?
Sisa terakhir bir kalengan yang kubeli dari pedagang asongan di atas KRL habis kutenggak. Aku melemparkannya ke tong sampah. Meleset. Kaleng bir itu hanya menyentuh tepian tong sampah, lalu jatuh ke trotoar, menggelinding sebentar, lalu berhenti di kaki seorang pemulung yang datang dari arah berlawanan. Ia menatapku sebentar, lalu merunduk, mengambilnya, dan melemparkannya ke dalam semacam keranjang yang melekat di pungguhnya. Ia tak meleset, bir kaleng itu jatuh pada tempatnya. Dia tersenyum sebentar, lalu –seperti yang lain—berlalu.
Sejarah ternyata juga bisa berlangsung di atas trotoar, batinku.
Menyingkirlah dari trotoar, kata turis tua berperut gendut dan berpipi penuh itu. Tidak, aku tak mengerti apa maksudnya. Sejarah, kupikir, tergelar juga di trotoar, karena jalanan dan trotoar itu satu paket, setidaknya trotoar selalu berdampingan dengan jalanan. Kendati jalanan tak selalu ditemani trotoar, tak berarti di sana tak ada trotoar. Jalanan itu sendiri adalah trotoar, setidaknya bisa juga berfungsi sebagai trotoar.
Aku pernah membaca sebuah berita, tentang metromini yang ban sebelah kanannya menggelinding di jalanan dan ban sebelah kiri nekat naik ke trotoar, saat kemacetan parah hanya menyisakan sedikit ruang bagi metromini itu untuk bisa lekas melaju kembali. Metromini itu lalu jatuh terguling, menimpa sebuah van, van itu ikut terguling, menimpa sebuah taksi, dan taksi itu sempat dibanting ke kanan oleh supirnya untuk kemudian menyenggol sepeda motor, dan pengendara motor itu –seorang pemuda– terlempar ke trotoar di seberangnya. Helmnya tak sesuai standar, kepalanya jatuh tepat di paving block segi lima, lalu pecah, lalu mengucur darah.
Saat membaca berita itu, aku sempat berpikir: pemuda itu mungkin akan jadi presiden kalau trotoar tak membunuhnya. Tapi sejarah tak pernah kasih tempat pada pengandaian, karena trotoar pun tak pernah melakukannya.
Jadi, di mana awal dan akhir sebuah trotoar sebenarnya? Aku sungguh tidak tahu. Sheldon Allan Silverstein pun tidak tahu jawaban persisnya.
yg pasti di ibukota trotoar bukan untuk pejalan kaki, tetapi untuk pencari makan
[Reply]
Kusenang, Bung masih “ngopeni” blog ini
[Reply]
Saya jadi iri sama negeri orang yg begitu menghargai “hak-2″ trotoar yaitu sebagai tempat berjalan kaki. Sementara di negeri ini, banyak orang yg mengebiri hak trotoar yg paling hakiki tersebut..:D
Saya senang membaca blog bung…Semoga bung selalu dikaruniai hasrat utk terus mengisi blog ini..
[Reply]