»

Suara

flaneur,meracau — admin @ 2:38 pm

– bising di dada, bising di telinga dan kota-kota

Tak lama lagi aku akan tiba di stasiun tujuan. Gerbong KRL kelas ekomoni yang kutumpangi sudah mulai kosong. Mata sedikit lebih lega melihat sekeliling, tapi belum tentu telinga bisa lebih lega, karena telinga dan mata menangkap objek-objek yang berbeda. Itu sebabnya, saat mata mulai lega karena gerbong terasa makin lapang, telingaku justru merasa sesak.

Dari arah kanan, tiga orang pengamen mulai melakukan agresi suara dengan tabuhan drum minimalis yang cempreng, cabikan gitar yang tak jelas kuncinya, dan suara penyanyi yang lebih mirip berteriak ketimbang bersenandung. Dari arah kiri, dua orang waria juga mengamen, tapi keduanya hanya berbekal kecrek yang terbuat dari beberapa tutup botol yang dipasang di sebuah bilah kayu yang pendek. Sebetulnya ini bukan hal baru, cukup sering aku mengalaminya, tapi entah kenapa kali ini suara dari dua rombongan pengamen itu terasa lebih bising dari biasanya.

Itu sebabnya pula aku merasa sangat tidak nyaman. Berada di tengah-tengah dari dua agresi suara itu membuat telingaku terasa seperti daging yang dijepit dua bilah roti yang sudah kadaluwarsa. Walau pun ditodong oleh pisau yang berkarat sekali pun, tak akan kukasih mereka uang recehan. Aku merasa tidak solider pada telingaku sendiri jika masih juga memberi mereka uang recehan. Kadang, mendengar keluhan dan keberatan anggota tubuh sendiri membuatku merasa lebih aman dan tenang, seakan-akan aku memiliki sahabat yang baik dan akrab, di saat orang-orang di sekeliling seringkali menyerbu dengan beragam cara, termasuk dengan mengamen yang keluaran suaranya lebih mirip agresi militer yang tak pernah terduga.

Dalam situasi macam ini, kupikir tak akan pernah ada pengamen yang bagus, semuanya buruk dan jelek.

Tentu saja ada pengamen yang menyanyi dengan bagus dan memainkan gitar atau harmonika dengan ciamik. Pernah dalam waktu yang cukup lama aku selalu memberikan uang recehan pada para pengamen yang membawakan lagu-lagu balada. Itulah jenis lagu yang paling pas untuk dinyanyikan di jalanan, bisa disimak syairnya, karena menyimak suara penyanyinya bisa jadi sia-sia di tengah deru-deram suara kendaraan yang tak pernah prei menderu dan mendesing. Syair lagu-lagu balada, entah tentang lelaki yang mencari kerja, pedagang yang menyorong gerobak, atau pelacur tua yang menyewakan kelaminnya untuk sebatang atau dua batang kretek, seperti cermin diri sendiri yang sedang melaju di jalanan yang udaranya panas dan sesak oleh kompetisi sekian ribu orang yang terburu-buru sampai ke tujuan. Lagu-lagu balada membuatku bisa sedikit merasa ditemani entah oleh apa atau siapa – suatu perasaan murni atau mungkin asing dari seorang yang sendirian di jalanan.

Tapi itu dulu. Bahkan jika sekarang dua rombongan pengamen itu menyanyikan lagu balada tentang lelaki lajang yang sedang mengutuki simpang-siur suara sekali pun aku tak akan memberikan uang recehan. Lagi pula, tak pernah aku dengar pengamen waria menyanyikan balada, kendati pernah satu waktu aku lihat seorang waria yang jakunnya sebesar buah pir menyanyikan sebuah himne yang jadi tampak lucu dinyanyikan olehnya di bawah tiang lampu merah. Ia, waria yang mengamen dengan menyanyikan sebuah nomer himne itu, tampak seperti orang-orangan sawah yang justru dipasang di halaman sebuah pabrik sandal jepit di pinggiran kota yang kumuh oleh genangan air sisa hujan tadi siang.

Para pengamen tak pernah dianggap benar-benar bagus atau buruk nyanyiannya. Bagus atau buruknya mereka lebih sering diukur oleh suasana hati para penumpang atau stok recehan duit di kantong. Sudah sepantasnya para pengamen itu memperbanyak doa agar para penumpang sedang bersuasana hati yang baik, ketimbang sibuk menyetem gitar atau getol mengatur vibrasi suaranya di toilet stasiun yang pesing baunya membuat setiap orang merasa hidung adalah satu-satunya panca indera yang patut dikutuk ketimbang disyukuri.

Dua pengamen waria itu lewat lebih dulu di depanku, tepat saat aku mengatupkan kedua tanganku di kedua telingaku. Ia menjawil pundakku dan menyodorkan topi yang sudah penuh dengan recehan. Aku menggeleng. Ia tiba-tiba menarik lengan kiriku dan berteriak: “Suara gue bagus tau! Dasar cowok ga punya selera seni!”

Bah, mereka bicara soal selera seni? Hebat betul. Sebagai balasannya, kujulurkan lidahku ke arah mukanya yang sedang tertawa cekikikan. Ia balik melotot dan kembali menyembur: “Eh eh… dia melet. Melet lu jelek tau! Sini jilatin toket gue, biar gue tahu elu udah bener apa kagak meletnya.” Ia mengatakannya sembari membusungkan dadanya yang membusung tapi tak rata antara yang kiri dan kanan. Dilihat sepintas, dada kanannya membusung besar seperti toa di mesjid-mesjid, dan dada kirinya sedikit kempis seperti balon yang baru saja ditusuk jarum yang sebelumnya dipakai menyuntik pantat sapi hasil inseminasi buatan mahasiswa jurusan peternakan. Aku membalas dengan mengejeknya: “Itu toket elu sumpel sama kaleng sarden, ya?”

Dia cemberut lalu memukul keras-keras kecrek dari tutup botol di depan mukakku sembari berteriak: “Wer kewer kewer kewer….”

Tiga pengamen berikutnya lewat tak lama kemudian. Mereka membawakan sebuah lagu dangdut yang populer beberapa tahun lalu. Pilihan lagunya menarik, itu lebih baik ketimbang mereka membawakan lagu dari band-band yang merasa sudah bisa menaklukkan dunia hanya karena lagu mereka terjual 50 ribu kopi untuk ringtone telefon seluler. Sayangnya, gaya vokalis mereka menyanyikan lagu itu mengingatkanku pada penyanyi-penyanyi dangdut pria yang lebih sering jual goyangan pinggul layaknya penyanyi asing berdarah latin ketimbang jualan suara. Penyanyi-penyanyi dangdut pria macam itu sungguh layak dikuburkan dengan tembakan salvo yang mengarah ke kuburnya, bukan ke udara. Mereka benar-benar sampah karena tak bisa menghargai dangdut sebagai genre musik yang usianya jauh lebih tua ketimbang blues dan kasidah.

Aku menggelengkan kepala ketika salah satu dari mereka menyodorkan kotak kertas. Tak ada recehan buat kalian, batinku. Mereka lalu berlalu dan hilang di balik gerbong berikutnya. KRL yang kunaiki lantas tiba di stasiun yang cukup besar. Orang-orang banyak yang turun sehingga gerbong yang kunaiki hanya terusu seperempatnya saja. Tak ada satu pun penumpang yang naik.

Satu menit, dua menit, lima menit, sepuluh menit, dua puluh menit…. Kereta tak kunjung beranjak. Sisa penumpang mulai gelisah dan berkali-kali melihat jam di tangannya. Aku yang merasa tak sedang dikejar-kejar waktu tak mempersoalkan berapa lama kereta akan berangkat. Aku mengedarkan pandang. Gerbong ini makin terasa kosong oleh kegelisahan para penumpang lainnya. Terdengar sayup-sayup beberapa penumpang mulai mengomel, tapi omelan itu tak lebih dari sayup-sayup. Sesekali pedagang asongan masih lewat, tapi entah kenapa mereka pun tak bersemangat mengedarkan dagangannya. Mereka hanya lewat dan kemudian berlalu, seakan-akan lengang suasana itu sudah menelanjangi semangatnya dan kebisingan adalah suplemen penambah tenaga.

Ada suasana sepi yang merasuk begitu saja ke gerbong ini. Setelah dijejali penumpang yang dua kali melebihi kapasitasnya, setelah hilir mudik para pedagang asongan yang berteriak-teriak, setelah rombongan pengamen brengsek itu berlalu, gerbong ini terasa lengang. Hawa panas yang mengembang di udara ditingkahi sepoi angin yang masuk dengan malu-malu. Aku melihat seorang ibu menggerak-gerakkan kipasnya. Dari jarak sekitar 6 meter, gerakan kipas ibu itu seperti sebuah gerak lambat yang menarik. Aku mengamatinya dengan cermat. Gerakan ibu itu saat mengipas tampak jelas di mataku. Pergerakan kipas yang bergeser seinci demi seinci seperti terpotret jelas. Saat aku mengedipkan mataku, gerakan tangan ibu itu tak lagi dalam gerak lambat, tapi cepat seperti sewajarnya. Aku sempat tergeragap sebentar karena mataku tak siap menyaksikan perubahan ritme yang sangat cepat itu.

Aku menyandarkan punggungku. Seorang lelaki di depanku mengeluarkan telepon seluler dari kantongnya, sebuah nada panggil terdengar, suasana hening di kepalaku kembali buyar oleh denyar yang datang tiba-tiba. Nada panggil telepon seluler itu terdengar seperti lolongan anjing di tengah malam yang sepi dan karenanya menjadi satu-satunya suara yang paling nyaring.

Terdengar pengumuman dari pengeras suara kalau kereta sebentar lagi akan berangkat. Lalu kereta mulai bergerak, kesunyian yang tadi sempat datang dengan pasti lenyap ditelan suara mesin kereta yang bergemuruh. Roda-roda kereta yang melindas rel membikin udara menjadi lebih ramai, belum lagi para pedagang asongan yang tiba-tiba seperti kembali menemukan semangatnya dalam menjajakan dagangan. Ada yang menjual koran, ada yang menjual mainan anak-anak, ada yang menjual buah-buahan, ada yang menjual minuman. Kupanggil salah satunya yang kulihat menawarkan bir kalengan.

Kaleng bir itu masih terasa dingin. Dengan santai aku membuka tutupnya dengan ibu jariku. Di tengah deram suara kereta, desisan busa yang menjadi khas kaleng bir yang terbuka terdengar cukup jelas di telinga. Desis suaranya singkat, tak sampai empat detik, tapi telingaku menangkapnya berbeda, selalu berbeda. Aku menyukai bir, bahkan sejak suara desisnya saat kaleng bir itu terbuka.Desis suara yang keluar dari kaleng bir yang terbuka, disusul dengan sejumput busa bir yang menyembul dengan tenang, bagiku selalu tampak istimewa. Kadang aku merasa, desis suara itu seperti tongkat seorang konduktor yang mulai bergerak memberi aba-aba dan busa itu sendiri sebagai suara pertama yang keluar dari tenggorokan para penyanyi tenor.

Aku tenggak bir, kutahan sebentar di mulut, lalu pelan-pelan aku menjatuhkannya ke perutku setelah melewati kerongkonganku lebih dulu. Aku memejamkan mata. Rasanya, aliran bir di kerongkongan itu bisa aku dengar dengan jelas. Kereta masih menyemburkan suaranya yang bising, begitu juga para pedagang asongan yang lewat di depanku. Aku mengetuk-ngetukkan ujung kuku jariku di kaleng bir. Lamat-lamat aku dengar bebunyian tuk tuk tuk dalam ritme yang ajeg. Tuk tuk tuk….

Bunyi-bunyi datang dan pergi dan kota adalah ruang dengan sejuta bunyi yang timbul tenggelam, memekik atau berbisik. Orang-orang juga menghasilkan bunyi dalam dirinya sendiri. Itulah yang dinamakan suara. Orang-orang di atas kereta, orang-orang di atas bus dan metromini, orang-orang yang menyeberang di zebra cross, orang-orang yang antri di loket tiket busway, semuanya mendengar suara sekaligus menghasilkan suara. Tidak semua suara berbunyi, tapi setiap bunyi punya suaranya sendiri-sendiri.

Kereta yang kunaiki pun tiba di stasiun tujuan. Aku turun dengan isi kepala yang penuh dengan bunyi dan dadaku yang penuh dengan suara. Keluar dari pintu stasiun, orang-orang melambai-lambaikan helm. Itulah suara. Lalu mereka berteriak-teriak: ojek, ojek, ojek…. Itulah bunyi. Tapi dalam setiap bunyi “ojek, ojek, ojek….” terkandung suara-suara yang tak begitu jelas artinya. Suara itu mungkin berarti kehidupan, suara itu mungkin harapan untuk anak-anak yang menunggu kepulangan ayahnya, suara-suara itu mungkin bukan apa-apa.

Aku mengabaikan mereka, tapi tidak seperti aku mengabaikan rombongan pengamen di atas kereta tadi. Aku berjalan menyusuri trotoar. Pandanganku tertancap ke paving block trotoar berbentuk segilima. Ada sisa-sisa jejak kaki di sana, jejak-jejak itu juga menghasilkan suara, memendarkan bebunyian yang tak sama.

1 Comment »

  1. rekaman perjalanan yang mengingatkan lagi peristiwa, dulu. Kadang tak sempat menempel dengan baik, meruap.

    Comment by Ahmad — 2010/04/28 @ 5:28 am

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-Noncommercial-Share Alike 3.0 Unported License.
(c) 2012 nasib adalah kesunyian masing-masing | powered by WordPress with Barecity