–jalanan yang tak sepenuhnya bisa ditaklukkan
Ahmet tak pernah terlambat, tapi juga tak pernah datang lebih cepat. Ia selalu tepat waktu dalam pengertiannya yang paling harafiah. Sekali waktu ia pernah datang lima menit lebih cepat. Ia beralasan: tukang arloji yang memperbaiki arloji miliknya salah menyetem waktu. Aku bilang padanya, kalau dia sudah tak butuh lagi arloji, karena waktu sudah bekerja secara mekanis di tubuhnya. Kalau begitu, katanya padaku, belikan aku peta. Kenapa, tanyaku. Jawabnya, dia lebih sering kehabisan waktu karena tak tahu jalan pintas, jalan-jalan tikus, gang-gang kecil yang membuatnya bisa meloloskan diri dari kemacetan.
Lalu kami membicarakan soal jalan-jalan tikus, dan kenapa hewan tikus yang digunakan sebagai metafora. Ia bilang, karena tikus bisa bikin jalan sendiri. Kataku, tikus memang bisa bikin jalan sendiri, tapi ia butuh waktu untuk mengerat sebilah kayu, dan kau pasti terlambat kalau harus jadi tikus lebih dulu. Dia lalu bilang, kalau dia menjadi tikus maka dia akan menjadi tikus yang tak akan pernah terlambat. Aku bilang, kalau dia memang menjadi tikus, maka aku akan menembaknya sehingga dia akan terlambat selamanya. Dia membantah, mati tidak akan membuatnya terlambat, mati hanya akan membuatnya tak perlu menghadiri rapat. Aku bilang lagi, tikus tak pernah rapat. Dia membantah dan bilang kalau tikus memang tak kenal rapat tapi mereka tahu caranya bermufakat. Aku lalu bertanya apakah permufakatan tikus adalah selalu permufakatan jahat. Dia menjawab, biasanya begitu. Lalu kami sepakat bahwa kami sudah menemukan jawaban kenapa ada istilah tikus-tikus berdasi.
Kami saling memandang, lalu tertawa terbahak-bahak saat sadar aku dan Ahmet sama-sama sedang berdasi.
Lalu percakapan berpindah ke soal peta, yang seperti dikatakan Ahmet sendiri, lebih dibutuhkannya daripada arloji. Aku bilang padanya, tak ada peta yang bagus di kota ini. Ia membantah dan mengatakan ada sebuah peta yang bagus yang baru saja diterbitkan, dan peta itu meliputi bahkan hingga gang-gang paling kecil di kota ini. Aku menyangsikannya, tapi Ahmet berhasil meyakinkanku. Aku lalu bilang padanya, kalau aku akan membelikan buku itu untuknya. Ahmet tersenyum lebar, aku tertawa lebar. Sampai kemudian, seorang tua yang sedari tadi memperhatikan percakapan kami datang dan menjelaskan bahwa tempat kami bertemu saat itu dulunya adalah tempat kelahiran seorang pembuat peta legendaris dengan kisah hidup yang luar biasa.
Lelaki tua itu mengaku lahir dan menua selalu di tempat itu, tak pernah pergi jauh lebih dari tiga kilometer. Ia pernah pergi sejauh 3,5 kilometer karena sebuah alasan: adiknya yang baru berusia 7 tahun yang sedang bermain-main dengan teman-temannya kedapatan tersesat di sebuah gedung tua yang pintunya berjumlah 23. Ia disuruh bapaknya ke sana. Lalu, dengan mudah ditebak: dia pun ikut-ikutan tersesat. Bapaknya lalu menyusul, dan dia juga tersesat. Ibunya pun akhirnya menyusul, dan ibunya tak tersesat, tapi dibawa lari oleh seorang penumpang trem dan sejak itu ibunya tak pernah kembali. Lelaki tua itu mengenang ibunya dengan satu kalimat singat: Perempuan yang sesat.
Aku bertanya padanya, adakah bedanya antara tersesat dan sesat? Ia menjawab: akan kuberi tahu jawabannya kalau aku bisa menemukan ibunya. Aku menawar, bagaimana kalau syaratnya diganti dengan cukup menunjukkan nisan ibunya. Ia mengangguk, lalu pergi begitu saja sembari meminta kami membayar kopi yang baru diseduhnya.
Aku dan Ahmet menyanggupinya. Aku membayar kopi itu langsung kepada pemilik warung kopi yang rupanya adalah lelaki tua yang seumuran dengan lelaki tua yang pertama. Dia mengaku kenal dengan lelaki tua yang pertama dan ia juga menerangkan bahwa apa yang dikatakan oleh lelaki pertama itu tentang pembuat peta yang luar biasa itu adanya. Lalu aku meminta lelaki tua pemilik warung itu untuk menceritakannya. Saat itu, Ahmet sudah melepaskan dasinya dan memintaku untuk juga melepas dasi yang kupakai. Aku menolak. Ahmet memaksa. Kami bertengkar. Lalu kami bisa berdamai dengan sebuah kesepakatan: aku tak akan melepaskan dasiku, tapi sebagai gantinya aku melepas sabuk celanaku. Begitulah, saat lelaki tua pemilik warung kopi itu mulai bercerita, Ahmet duduk mendengarkan dengan tangan kanan memegang dasi dan tangan kiri memegang sabuk celana.
Pembuat peta itu adalah seorang partikelir yang bekerja pada seorang tuan tanah Belanda yang berniat membeli tanah-tanah tertentu yang dianggapnya akan mahal harganya di masa datang. Tuan tanah Belanda itu sendiri dulunya datang ke kota ini sebagai seorang pembuat peta. Tuan tanah itulah yang mengajari pembuat peta yang kelak gantung diri itu cara-cara membuat peta. Butuh waktu 4 tahun 3 bulan 2 minggu dan 1 hari bagi tuan tanah itu untuk menyiapkan seorang pembuat peta yang kelak gantung diri itu. Sejak hari pertama menyiapkan peta, dia tak henti-hentinya berjalan kaki, menelusuri jalan-jalan, keluar masuk gang, hilir mudik dari satu kampung ke kampung lain. Malam harinya, ia mempelajari peta-peta lama kota itu yang dikumpulkan tuan tanah yang mengajarinya membuat peta. Orang-orang di kota ini pelan tapi pasti mulai mengenali si pembuat peta itu, karena tak pernah sehari pun ia absen berjalan kaki, menyusuri tiap lekuk kota, tak peduli panas atau hujan, tak peduli musim paceklik atau musim panen. Terus begitu dan begitu. Satu pagi tuan tanah itu memintanya bekerja memeriksa peta lama kota pada siang hari, dan dengan demikian ia mesti absen berjalan kaki, dan hasilnya tubuhnya mendadak panas. Tepat pada tengah hari, badannya makin panas, dan ia mengigau-ngigau di tengah pekerjaannya, menyebutkan nama-nama kampung dan mengeja nama-nama jalan. Tuan tanah itu lalu memintanya pergi dan berjalan seperti biasanya, dan ajaibnya saat itu juga ia kembali sehat, lalu berjalan lagi, menyelusuri lagi. Dalam waktu 7 tahun 6 bulan 5 minggu 4 hari 3 jam 2 menit dan 1 detik, ia pun berhasil menyelesaikan peta itu, sebuah peta yang sangat detail, kaya warna, dibuat dengan ketelitian yang tiada banding dan kecermatan yang tanpa tanding. Komisi Ilmu Pengetahuan milik pemerintah kolonial pun terkesan pada peta itu, sehingga ia diminta untuk membuat peta di sebuah kota tambang di luar pulau. Tuan tanah itu mengijinkannya, pembuat peta itu pun menyanggupinya. Sehari sebelum keberangkatannya, ibu si pembuat peta itu datang untuk memberinya restu. Si pembuat peta lalu menghadiahkannya salah satu salinan peta yang dibuatnya. Si Ibu bertanya di mana letak rumahnya, rumah tempat si pembuat peta itu dilahirkan. Saat itulah si pembuat peta sadar ia telah melewatkan sebuah gang kecil, gang sangat kecil, yang sayangnya di sanalah ia dilahirkan. Ibunya kecewa, sangat kecewa. Ia berharap gang kecil tempat rumah tinggal, agar dirinya bisa menghabiskan masa tua sembari memandangi peta buatan anaknya dengan gang kecil tempat mereka tinggal terpacak di sana. Keesokan paginya, pembuat peta itu ditemukan tewas gantung diri dengan terlebih dulu membakar salinan peta yang mulanya ia berikan pada ibunya. Di sakunya, ditemukan secari kertas bertuliskan kalimat: “Selalu ada yang tak bisa dicatat.”
Ahmet tercekam mendengar cerita itu, aku sendiri hanya terdiam. Aku memberi lelaki tua pemilik warung kopi itu sejumlah uang, untuk pembayaran minuman yang kami habiskan dan cerita yang dengan sangat bagus sekali ia kisahkan. Aku dan Ahmet juga bersepakat untuk memberikan pada lelaki tua pemilik warung kopi itu dasi dan sabuk celana milik kami.
Sebelum pergi, lelaki tua pemilik warung masih sempat mengatakan bahwa lelaki pembuat peta itu tak dikuburkan, jenazahnya dibakar, abunya ditaburkan di jalan-jalan yang pernah ia lewati. “Jalan-jalan di mana abu pembuat peta itu ditaburkan sekarang ini semuanya telah menjelma menjadi jalan paling sibuk dan paling ramai di kota ini. Itu berkah dan kutukan bagi pembuat peta yang gantung diri, karena namanya akan selalu dikenang tapi dengan itu abunya digilas oleh lebih banyak kendaraan yang lalu lalang.”
Aku dan Ahmet berlalu dari warung kopi itu dengan pikiran yang tak jelas. Ahmet mengajakku untuk pergi ke sebuah bar. Ayo minum bir, katanya. Aku mengangguk. Tapi bir saat itu tak ada di pikiran kami. Aku dan Ahmet memikirkan peta. Aku dan Ahmet, dalam diam masing-masing, akhirnya mengerti, kota sebenarnya tidak membutuhkan peta, karena tersesat dan tersasar adalah nasib siapa saja yang ingin tinggal di kota.
“Lihatlah jalan itu,” kata Ahmet menunjuk sebuah jalan kecil yang berkelok di balik sebuah toko tekstil. Aku melihat ke arah sana. “Kau lihat,” kata Ahmet, “Apa yang terjadi di sana, sekarang ini, tak akan kita ketahui, sampai kita sendiri berjalan ke sana, melihatnya sendiri, dengan mata kepala sendiri.”
“Jika perlu dengan kaki sendiri?”
“Itu jauh lebih baik!”
Pada saat yang sama, sebuah taksi melaju cepat di depan kami.
Whuifh keren…. tulisannya bijak sekali. semoga ketersesatan yang menyesatkan dalam hidupku menjadi indah tidak tragis hehe
[Reply]
wow..inspiring
[Reply]