»

Omelet

flaneur,meracau — admin @ 9:17 am

– tentang pertengkaran yang sepele

Selepas kemacetan 2,45 jam itu, aku baru tiba di kediamanku pada pukul 11 malam. Satu jam sebelumnya aku masih duduk di Duck Bar, merenungkan ajaibnya kemacetan itu, juga menghabiskan 12 batang rokok, tiga shot Jhony Walker, dua shot Jim Beam dan satu shot Absolut Mandrin. Badanku cukup letih, tapi pikiranku masih jernih. Kepalaku sedikit berat, tapi aku sudah terbiasa menghadapinya. Mandi sudah cukup membuat kepalaku bisa sedikit ringan.

Aku langsung duduk di sofa. Menyandar. Aku membuka pakaianku dan melemparkannya ke keranjang pakaian kotor di pojok. Telanjang. Kunyalakan televisi. Kuperiksa menu program di semua channel malam itu dengan menekan beberapa tombol. Aku memilih channel 18, channel MGM. Sebuah film lama yang dibintangi Jack Nicholson muncul. Five Easy Pieces, judulnya. Aku sudah menontonnya dua kali, tapi aku suka scene pertengkaran Robert Dupea yang diperankan Nicholson dengan seorang pelayan restoran. Pertengkaran remeh temeh tentang menu makanan. Aku tatap layar televisi. Scene favoritku itu masih akan muncul 5 menit lagi. Volume televisi kubesarkan.

Aku beranjak ke kamar mandi. Shower kubuka. Air dingin memancur ke tubuhku. Kubiarkan selama satu menit, lalu mulai mengambil sabun cair, lalu menggosok tubuhku selama 1,5 menit. Lalu aku buka lagi kran shower, air memancur dan jatuh, busa-busa jatuh, beberapa daki mungkin juga ikut jatuh, lalu semuanya mengalir ke lobang kecil di sudut, lalu turun ke sebuah pipa, lalu berkumpul di sebuah bak penampung, lalu mengalir lagi menuju saluran pembuangan, lalu sisanya biarlah jadi urusan pemerintah kota. Aku ingat scene favorit dari Five Easy Pieces. Aku tutup kran shower, aku dengarkan suara televisi. Lima detik, sepuluh detik, 37 detik… lalu terdengar pertengkaran itu:


Dupea: “OK, I’ll make it as easy for you as I can. I’d like an omelette, plain, and a chicken salad sandwich on wheat toast, no mayonnaise, no butter, no lettuce. And a cup of coffee.”

Waitress: “A number two, chicken sal san, hold the butter, the lettuce and the mayonnaise. And a cup of coffee. Anything else?”

Dupea: “Yeah. Now all you have to do is hold the chicken, bring me the toast, give me a check for the chicken salad sandwich, and you haven’t broken any rules.”

Waitress: “You want me to hold the chicken, huh?”

Dupea: “I want you to hold it between your knees.”

Waitress (aku ingat si pelayan ini menunjuk tulisan “No Substitution”): “Do you see that sign, sir? Yes, you’ll all have to leave. I’m not taking any more of your smartness and sarcasm.”

Dupea: “You see this sign?”

Lalu kubuka kran shower sekali lagi. Air lagi-lagi jatuh. Rasanya lebih dingin dibanding sebelumnya.

Empat tahun lalu, juga pada tengah malam, aku berada di sebuah ruangan bersama belasan mahasiswa yang sama-sama tergabung dalam lembaga pers kampus, membicarakan pergantian Pemimpin Redaksi yang mengijinkan sebuah perusahaan asing memasang iklan di majalah tiga bulanan yang kami terbitkan. Semua berdebat keras, saling tolak menolak, saling dukung mendukung, dengan semua dalil-dalilnya, dengan segenap kutipan-kutipannya. Hanya ada jalan buntu, rapat ditunda sampai esok hari. Beberapa pulang, sebagian tetap tinggal dan menginap, termasuk aku. Beberapa yang tinggal masih membicarakan hal yang sama, aku memilih menyingkir, menyalakan televisi 14 inch yang warnanya sudah buram, dan menemukan sebuah televisi lokal menayangkan Five Easy Pieces. Saat tiba di scene pertengkaran Dupea dengan pelayan itu, aku berpikir tentang betapa menyenangkannya bertengkar untuk hal-hal sepele, tentang omelet atau spaghetti, lalu apa pun yang terhidang tetap dimakan, lalu selesai. Lalu seseorang memanggilku untuk ikut bergabung membicarakan persoalan rapat tadi, aku menolak, dan tetap menonton Five Easy Piece sampai tuntas. Lalu aku tertidur sampai siang, lalu ikut rapat lanjutan, kali ini sekali pun aku tak angkat bicara. Rapat selesai, Pemimpin Redaksi mengundurkan diri, kami semua menerima, aku menerima, lalu semua berjalan seperti biasa, seakan-akan perdebatan itu tak lebih dari mempertengkarkan omelet.

Kran kumatikan. Handuk aku raih dari kapstok yang terpasang di balik pintu. Aku seka tubuhku sampai kering, aku lilitkan handuk di badanku. Aku berjalan ke ruang tamu, aku kembali ke dapur, mengambil sekaleng soda, lalu kembali ke ruang tamu, duduk di sofa, menonton lagi Five Easy Pieces. Saat itu Dupea berkunjung ke rumah salah satu saudaranya setelah lebih dulu meninggalkan pacarnya di sebuah motel. Saudara yang dikunjungi Dupea itu menganggapnya sebagai orang yang tak bisa merasakan perasaan yang nyata. Aku menunggu momen di mana saudara Dupea itu mengatakan sesuatu yang menikam. 10 detik, 15 detik, 20 detik… lalu speaker dari televisi pun mengeluarkan suara:

“You’re a strange person, Robert…A person who has no love for himself, no respect for himself, no love of his friends, family, work, something – how can he ask for love in return.”

Televisi kumatikan setelah kalimat itu muncul. Aku berjalan menuju kamar depan yang kusulap menjadi kamar kerja dengan sebuah meja dan kursi dan tumpukan 2300 buah buku berikut 560 keping dvd, cd dan kaset. Masih dengan handuk yang melilit di badan, aku menyalakan laptop, lalu membuka email, memeriksa email-email baru. Tak ada satu pun email yang penting dan harus kubalas. Lalu aku berdiri, melepaskan handuk, lalu pindah ke kamar tidur, membuka lemari, mengambil celana pendek dan mengenakannya tanpa mengenakan celana dalam, lalu meraih t-shirt berwarna hitam. Aku memperhatikan t-shirt itu. Ada tulisan besar berwarna putih di sana: Kata adalah Senjata. Lalu kukenakan t-shirt itu begitu saja. Aku berjalan kembali ke sofa. Lalu tidur di sana.

Dalam tidur, aku bermimpi bertemu Che Guevara di sebuah metromini yang terjebak macet, lalu Che pergi ke luar, naik ke atas atap metromini dan berteriak: “Orang yang bisa membaca buku datang kepada orang yang tak bisa membaca buku lalu berkata: inilah saatnya untuk perubahan. Itulah revolusi!”

Saat terbangun keesokan harinya, sekitar pukul 11 siang, aku mencoba mengingat-ingat teriakan Che Guevara. Akhirnya aku ingat ucapan Che itu diambil dari omelan Juan Miranda, perampok kelas maling ayam dalam film Giu la Testa, yang mengomel tidak karuan karena mendadak menjadi pahlawan besar revolusi sebab ia membebaskan puluhan tahanan politik yang dipenjara di ruangan bawah tanah sebuah bank bernama Mesa Verde yang disulap menjadi penjara, padahal niat Juan sebenarnya hanya untuk merampok bank, tidak kurang dan tidak lebih!

Dengan malas-malasan aku menyalakan televisi. Semua televisi lokal menayangkan kerusuhan di utara Jakarta, lamat-lamat kudengar karena sengketa sebuah makam. Aku teringat lagi pertengkaran Dupea dengan pelayan restoran dan berpikir betapa menyenangkannya bertengkar karena hal-hal sepele, misalnya bertengkar karena soal omelet.

Lalu aku beranjak menuju kulkas di dapur. Bir dingin akan menjadi pembuka yang bagus untuk hari yang panas.

3 Comments »

  1. Telur dadar itu enak, tapi tidak dengan bir. Susu lebih pas :)

    Comment by Astrid Damiarsih — 2010/04/23 @ 11:35 pm
  2. dan semua pertengkaran tentang hal sepele itu menyenangkan, karena bisa diingat sambil tertawa

    Comment by jardeeq — 2010/05/02 @ 2:03 pm
  3. mungkin jadi sepela kau dengan sepelenya Dupea atau sepelenya siapa sajalah itu beda. beda definisi, beda kualifikasi untuk menentukannya. namanya juga dunia diciptakan dengan penuh warna

    Comment by m — 2010/05/16 @ 4:00 am

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-Noncommercial-Share Alike 3.0 Unported License.
(c) 2012 nasib adalah kesunyian masing-masing | powered by WordPress with Barecity