Macet

– sebuah dunia bernama kemacetan

Dunia tak lebih dari serangkaian kemacetan. Jika semua lancar, apa menariknya dunia dan hidup ini, bukan?

Kota-kota di abad pertengahan Eropa selalu dibangun menyerupai benteng dengan gerbang-gerbang yang dijaga. Aku sering melihat gerbang selamat datang di kota-kota yang kusambangi, selalu saja dipenuhi ucapan Selamat Datang di Kota Anu. Tapi kupikir itu bukan gerbang, lebih mirip basa basi yang tidak jelas. Mungkin para perencana kota itu terlalu banyak menerima undangan pernikahan yang penuh basa basi dan omong kosong. Tapi bukankah undangan pernikahan tak pernah dibaca, paling banter hanya dibaca tanggal dan tempatnya saja? Tapi seperti itu, bukan, gerbang-gerbang selamat datang yang dibuat pemerintah kota? Siapa yang peduli?

Tapi kota ini tak berbasa-basi dengan dirinya. Dia sodorkan kemacetan sebagai pintu gerbangnya. Siapa yang bisa melewati kemacetan demi kemacetan setiap harinya, dia punya kesempatan hidup di kota ini dengan sedikit lebih waras. Lebih waras? Ya, kenapa memangnya?

Ya, memangnya kenapa? Itu juga kalimat tanya yang diucapkan Arahata padaku di pertemuan pertama kali dahulu, dua tahun lalu. Aku sedang duduk di sebuah bus kota, terjebak dalam kemacetan parah, sangat parah. Hujan deras tak berhenti sejak satu jam lalu. Beberapa ruas jalan mulai tergenang. Sialnya, itu terjadi pada pukul lima sore. Lebih sial lagi itu terjadi pada hari Jumat. Hujan deras pada pukul lima sore di hari Jumat adalah kutukan paling kurang ajar bagi siapa pun yang sedang berada di jalan raya. Kemacetan parah adalah bukti bahwa setiap metropolitan tahu caranya membalas perlakuan penduduknya yang semena-mena di jalanan.

Saat itu bus kota yang kutumpangi belum terlalu penuh. Penuh di situ artinya belum ada orang yang berdiri. Di kota ini, sebuah angkutan umum baru dikatakan penuh jika sudah terisi 1,5 di atas kapasitas tempat duduk. Seingatku, ada satu bangku kosong, dan itu ada di sebelahku. Aku sendiri duduk di bangku dekat pintu belakang. Lalu seseorang, yang nanti kuketahui namanya sebagai Arahata, masuk ke dalam bus dan langsung duduk di sebelahku. Kemacetan saat itu baru berlangsung 10 menit, orang-orang masih duduk tenang di bangkunya masing-masing, belum ada satu pun yang gelisah dan mengomel. Lalu waktu bergerak tanpa ampun: lima belas menit, dua puluh menit, tiga puluh menit, sementara bus tak bergerak seinci pun. Orang-orang mulai gelisah. Seorang gadis di depanku mulai mengomel di telepon seluler, mungkin mengomel pada pacarnya yang tak menjemput. Satu dua penumpang mulai melongokkan kepala ke jendela, berharap bisa melihat apa yang terjadi di depan sana. Pada menit ke-35, seorang lelaki turun dari bus lalu berjalan di sesela kendaraan dan masuk ke sebuah gerai kopi di tepi jalan. Pada menit ke-40, dua orang juga turun. Pada menit ke-55, bus yang kunaiki tinggal terisi separuh. Pada menit ke-70, hanya tinggal tujuh orang, tidak termasuk supir dan kenek. Pada menit ke-80, hanya tinggal 5 orang di dalam bus: aku, Arahata, seorang penumpang yang duduk di depan, supir dan keneknya.

Aku sebenarnya sangat ingin keluar dari bus ini, berteduh saja di pinggir jalan, atau minum kopi panas di gerai kopi yang berada hanya beberapa meter dari tempatku duduk. Tapi sial memang sudah sempurna dalam hidupku sore itu: aku hanya membawa uang tunai 7 ribu perak, dan ATM tak tahu di mana tempatnya. Duduk di sini, di atas bus, menjadi satu-satunya pilihan. Lagipula, pindah kendaraan juga tidak ada gunanya. Kemacetan sudah sangat parah dan kenek bus beberapa menit sebelumnya sudah memberi tahu jalanan di sekitaran tergenang air setinggi betis. Melalui ponselku, aku juga tahu banyak orang yang mengomel soal kemacetan di facebook dan twitter.

Lalu, di menit ke-85, Arahata mengeluarkan sesuatu dari tasnya tepat saat supir bus mematikan mesinnya. Sebuah pemutar dvd mini. Aku punya sebuah, tapi rusak karena terkena tumpahan air kopi yang masih sangat panas. Ia memutar sesuatu, sepertinya sebuah video klip musik. Dengan sudut mata kananku, aku mengintip. Aku seperti pernah menontonnya, tapi aku lupa persisnya. Lalu dia melepaskan headphone-nya dan menoleh ke arahku sambil berkata: “Mau nonton?”

Dia menggeser sedikit pemutar dvd mini di tangannya sehingga aku bisa lebih mudah menontonnya. Ia melakukannya begitu saja, tanpa menunggu persetujuanku. Mulanya aku ingin menolak, tapi karena pemutar dvd mini itu sudah terhidang di depanku, tak ada salahnya aku menonton. Tebakanku benar, itu sebuah video klip musik. Klip itu menggambarkan orang-orang yang duduk gelisah di mobilnya masing-masing. Jalanan macet. Kamera berpindah dari satu wajah ke wajah yang lain. Semuanya ditampilkan dalam gerak lambat. Lalu, seseorang lelaki dengan telinga kiri beranting dan mengenakan topi koboi keluar dari mobilnya dan naik ke sebuah pembatas jalan yang agak tinggi. Lalu ada seseorang yang telentang di atas kap mobil. Ada seseorang yang berdiri di atas jalan layang melemparkan semacam kertas atau kain. Lalu orang-orang lain ke luar dari mobilnya masing-masing. Lalu semuanya berjalan meninggalkan mobilnya masing-masing. Ada yang duduk bersila di kap mobil. Lalu nyanyian berakhir dan diganti dengan suara seorang perempuan diiringi suara raungan helikopter. Kamera mengambil gambar dari atas. Gambar bergerak-gerak, sepertinya di ambil dari helikopter. Suara perempuan itu seperti sedikit kacau. Lalu klip itu berakhir.

Arahata mematikan pemutar dvd mini miliknya. Ia pindah tempat duduk ke bangku di sebelah. “Hei, bagaimana menurutmu?” tanyanya.

“Apanya?”

“Video klip itu.”

Aku bilang padanya, aku pernah melihatnya, tapi sudah lama. Ia bertanya, apakah ia tahu itu lagunya siapa dan apa judulnya. Aku mengangguk dan menyebutkan Everybody Hurts dan R.E.M. Dia lalu mengeluarkan sebungkus rokok, sementara aku mengeluarkan sekaleng bir dari tasku. Dia mengambil sebatang dan menyalakannya, sementara aku membuka tutup kaleng bir. Terdengar bunyi desis dari pemantik api miliknya, terdengar pula bunyi desis dari ruap busa bir yang baru saja kubuka. Dia menghisap rokoknya dan menghembuskan asapnya melalui hidung, aku menenggak bir. Dia memperhatikan batang rokok di tangannya, aku melihat kaleng bir di tangan kananku. Dia bertanya, aku menjawab:

“Kau pernah mengalami kemacetan yang lebih parah dari sekarang?”

“Belum. Ini yang terparah kualami di kota ini.”

“Aku pernah, dua bulan lalu, macet selama 2,5 jam. Kuharap kemacetan hari ini bisa melewati rekorku sebelumnya.”

“Harapanmu bertentangan dengan doa semua orang yang sekarang sedang terjebak macet ini.”

“Siapa peduli dengan orang-orang itu? Doa tak bisa mengatasi kemacetan. Daripada berdo’a, lebih baik menembak pejabat-pejabat kota yang korup, itu lebih masuk akal. Jangan salah, ayahku pejabat juga, tapi aku tidak tahu dia korup atau tidak. Aku tidak terlalu peduli.”

“Aku juga tidak terlalu peduli dengan status ayahmu yang pejabat. Itu tak ada hubungannya dengan kemacetan ini, tidak juga bisa menyelesaikan kemacetan.”

Dia tertawa dan berkata kalau dia suka keterusteranganku, lalu bertanya kira-kira berapa lama lagi kemacetan akan habis. Aku menggeleng. Tidak tahu, jawabku, tapi aku ingin selekasnya jalanan lancar. Dia berkata kalau harapanku bertentangan dengan harapannya. Aku bilang, berharaplah yang lebih baik selain soal kemacetan. Dia tertawa dan mengajakku bertaruh.

“Berapa pun uang yang ada di kantongmu, aku berani mempertaruhkan pemutar dvd milikku ini. Kalau setengah jam lagi jalanan lancar, pemutar dvd ini jadi milikmu, tapi kalau lebih dari itu uang yang kau bawa sekarang jadi milikku. Berani tidak?”

“Memangnya kau tahu berapa uang tunai yang kubawa?”

“Itu tidak penting. Bertaruh soal kemacetan di saat terjebak macet itu yang penting. Lagipula aku bisa beli pemutar dvd yang baru. Bagaimana, mau tidak?”

Aku mengangguk. Uangku cuma tujuh ribu, kalah tak masalah, paling aku hanya harus mencari akal untuk membayar ongkos bus. Pemutar dvd itu berlipat-lipat harganya dari uang tujuh ribu.

“Mau rokok?” tanyanya. Aku menggeleng. Kutawarkan sekaleng bir, kebetulan aku membawa dua kaleng. Dia menerimanya. Jadilah kami minum bir di atas bus yang nyaris kosong di tengah kemacetan yang parah di bawah guyuran hujan yang rasanya tak pernah berkurang kederasannya. Supir bus tampak menguap berkali-kali. Kenek bus duduk terkantuk-kantuk sembari membaca sebuah koran kuning dengan headline berita tentang seorang pekerja diskotik yang diperkosa tiga orang tukang ojek.

Dia lagi-lagi bertanya, dan aku lagi-lagi menjawab:

“Kau suka video klip tadi?”

“Lumayan.”

“Aku selalu menonton video klip itu tiap kali dihadang macet. Rasanya, kemacetan menjadi lebih mudah dilewati. Kadang aku berpikir untuk mencoba keluar dari mobil lalu naik ke kap-kap mobil itu, seperti di video klip itu. Suatu saat aku akan melakukannya. Kau tidak ingin melakukannya?”

“Aku lebih suka minum bir dan duduk di dalam kendaraan saat terjebak macet.”

“Bagaimana kalau menghisap ganja?”

Aku menoleh ke arahnya. Dia cengar-cengir. “Hei, ini macet, di luar hujan deras. Menghisap selinting ganja dalam situasi ini tak akan berbahaya. Polisi tak mungkin datang ke sini. Aromanya tak akan keluar dan sampai tercium orang-orang di mobil lain. Kau bisa menghisapnya dengan cepat-cepat. Lima menit cukup. Lalu, kau akan melayang, dan mungkin akan naik ke kap mobil sedan yang ada di depan itu.”

“Aku tak punya ganja, sudah lama tak mengganja, dulu pun tak pernah membeli ganja, menghisap sekali dua karena dikasih teman.”

Lalu dia mengambil sebatang rokok dari bungkusnya. Ia menyalakannya, rokok menyala, lalu ia menghisapnya, asap pun keluar dari hidungnya. Ia menghembuskannya ke arahku. Asapnya wangi. Ganja. Ia tertawa kecil. Menghisapnya sekali lagi, menghembuskannya lagi, tapi kali ini ia mengendus-ngenduskan hidungnya ke asap yang mengapung di depan wajahnya. Matanya terpejam. Aku melihat ke arah supir dan kenek yang masih duduk terkantuk-kantuk. Hujan masih deras, kendaraan masih tertanam di posisinya masing-masing, kemacetan masih berlangsung.

Dia menyodorkan rokok berisi ganja ke arahku. Agak ragu aku menerimanya. Kuamati sebentar. Rokok itu tidak dilinting dengan kertas khusus, ganja dijejalkan begitu saja ke batang rokok biasa. Ia menyuruhku menghisapnya. Jangan buang-buang waktu, sayang asapnya jika tak dihisap, katanya. Masih dengan keraguan aku menempelkannya ke bibirku, masih dengan keraguan aku menghisapnya, masih dengan keraguan aku menghembuskanya. Dia menyuruhku menghisapnya sekali lagi. Masih dengan keraguan aku menempelkannya lagi ke bibirku, masih dengan keraguan aku menghisapnya lagi, masih dengan keraguan aku menghembuskannya lagi, tapi tidak ada keraguan lagi saat aku mengendus-ngenduskan hidungku ke arah asap yang berkitaran di depan wajahku.

Dia meminta ganja di tanganku. Aku kembalikan padanya. Dia menghisapnya, lalu menghembuskannya lagi. Dua kali dia melakukannya, lalu berpindah lagi ke tanganku. Aku menghisapnya, lalu menghembuskan lagi. Dua kali aku melakukannya, lalu berpindah lagi ke tangannya. Tiga kali putaran, sebatang rokok berisi ganja itu pun tandas. Aku menyandarkan badanku, dia menyandarkan badannya juga. Bus yang kunaiki masih tidak bergerak, kendaraan-kendaraan lain juga begitu. Hujan masih deras, dan waktu sudah melewati 30 menit. Aku memenangkan pertaruhan. Aku melihat jam, dia melihat jam. Aku tertawa, dia tertawa. Dia menyodorkan pemutar dvd mini miliknya, sambil tertawa. Aku menerimanya, juga sambil tertawa. Lagi-lagi dia bertanya, lagi-lagi aku menjawab.

“Sepertinya kemacetan masih akan lama. Aku senang. Kau senang?”

“Lebih senang ketimbang tadi, tapi tidak senang-senang amat.”

“Sudah berapa lama kau di Jakarta?”

“Sudah setahun.”

“Sering kau terjebak macet?”

“Jarang.”

“Kok bisa?”

“Aku jarang ke luar siang hari atau sore hari. Sesekali saja. Lebih sering ke luar waktu malam.”

“Kenapa?”

“Siang aku lebih banyak tidur. Aku tak suka terjebak macet. Itu menyebalkan.”

“Kau harus bisa menghadapi kemacetan. Kau tak bisa hidup hanya malam hari di kota ini. Siang hari itu ada, seperti kemacetan juga nyata. Hanya dengan bisa menghadapi kemacetan, kau akan baik-baik saja di kota ini. Cuma dengan menerima kemacetan sehari-hari kau bisa waras tinggal di kota ini.”

“Lebih waras?”

“Ya, memangnya kenapa?”

“Gak apa-apa.”

“Tahu tidak, aku dilahirkan dalam kemacetan.”

“Maksudmu?”

“Saat ibuku hendak melahirkanku, jalanan macet. Saat itu ada tabrakan hebat. Mobil ayahku tak bisa bergerak sama sekali. Lalu begitulah, aku lahir di dalam mobil ayahku. Ibuku melahirkan sendiri. Lahir begitu saja, dengan mengejan-ngejan sekuatnya. Tangisan pertamaku tepat saat mobil ayahnya sampai di parkiran rumah sakit. Lucu, kan?”

“Jadi kau merasa kemacetan itu teman, ya?”

“Tidak, aku menganggap kemacetan itu gerbang kota ini.”

“Kenapa?”

“Kemacetan itu riil, nyata. Kau tak bisa hidup di sini kalau tak mau menghadapi kemacetan.”

So, hold on, hold on.

“Maksudmu?”

“Itu petikan syair lagu yang tadi kita lihat klipnya.”

“Ya, ya… bertahanlah. Seperti kita sekarang bertahan di sini saat macet.”

Aku menenggak bir lagi. Kepalaku agak berat, tidak terlalu berat juga, sih. Ganja itu tidak terlalu bagus kualitasnya. Mataku sedikit berat, tapi tidak terlalu berat juga, sih. Hujan masih deras, tapi tidak terlalu deras seperti tadi, sih. Bau asap ganja tidak lagi tercium. Semuanya aman. Tapi dia lagi-lagi bertanya, dan aku lagi-lagi menjawab.

“Kenapa kau mau saja kusodori ganja?”

“Tidak selalu aku melakukan sesuatu dengan alasan. Kulakukan begitu saja.”

“Apa kamu gak takut aku polisi yang menyamar?”

“Aku gak berpikir sampai ke situ.”

“Atau bagaimana kalau ada polisi yang mencium aroma ganja?”

“Aku juga gak berpikir sampai ke situ. Semua kulakukan saja. Kalau berpikir macam itu, mungkin aku tidak akan menghisap ganja milikmu.”

“Kau orang yang aneh.”

Aku diam saja. Aku tanya siapa namanya. Arahata. Kenapa seperti berbau Budhisme, tanyaku. Siapa bilang itu Budhis, katanya. Kataku, ucapku. Dia tertawa dan bilang kalau ayahnya ingin menjadi seorang Budhis waktu dia dilahirkan. Apakah ayahmu sudah menjadi Budhis sekarang, tanyaku lagi. Dia menggeleng sambil berkata kalau ayahnya naik haji tiga tahun lalu. Apakah berarti dia sudah tidak ingin menjadi Budhis, tanyaku. Sepertinya masih, katanya. Terus kenapa dia naik haji, tanyaku lagi. Aku tidak tahu, katanya. Kenapa kamu tidak tahu, tanyaku. Karena aku tidak bertanya, jawabnya. Kenapa kamu tidak menanyakannya, tanyaku lagi. Itu tidak penting, katanya. Jawaban yang bagus, kataku.

“Apa kamu tidak tahu ada seorang Jepang dengan nama sepertimu?”

“Oya? Siapa namanya?”

“Kanson Arahata atau Arahata Katsuzo.”

“Siapa dia? Seorang Budhis juga?”

“Sepertinya bukan. Dia pernah jadi anggota partai sosialis, pernah menjadi seorang komunis, bahkan jadi anggota pertama di central commite Partai Komunis Jepang. Ia juga pernah menjadi seorang penganut anarko.”

“Menurutmu namaku lebih cocok jika aku Buddhis atau karena aku komunis?”

“Tergantung. Dalam kemacetan akut macam ini, kuharap kau seorang komunis, syukur-syukur seorang anarko.”

“Kenapa?”

“Asyik saja membayangkan kau marah bukan main lalu meledakkan mobil-mobil yang macet itu dengan granat yang kau lemparkan secara manual, satu per satu.”

Dia tertawa, aku juga tertawa. Aku bilang padanya, bayangan seorang anarko lebih cocok dengan nama Arahata daripada jika dia seorang komunis. Dia bertanya, kenapa. Aku jawab, karena secara harfiah kata Arahata itu berarti “Tanah yang disia-siakan”. Kubilang, mana pernah komunis menyia-nyiakan tanah, tanah selalu jadi iming-iming PKI. Dia keheranan dari mana aku tahu semua itu. Kujawab, aku pernah menulis paper tentang komunisme di Jepang di zaman kuliah dulu.

Begitulah, kali ini gantian aku yang bertanya dan dia yang menjawab. Tapi kemudian ia bertanya lagi, dan aku pun menjawab lagi:

“Apa kau berpikir aku seorang gay?”

“Hahahaha… aku tidak memikirkan itu.”

“Kenapa?”

“Aku bahkan tidak memikirkan kau ini laki atau perempuan.”

“Kok terdengar aneh?”

“Tidak juga.”

“Apa kau masih mabuk gara-gara ganja tadi?”

“Sedikit.”

“Syukurlah.”

“Kenapa bersyukur?”

“Tidak apa-apa. Itu ucapan basa-basi yang refleks keluar dari mulutku.”

Sudah dua jam lewat sepuluh menit kemacetan belum juga selesai. Tapi aku tidak mengeluh. Aku lebih rileks daripada sebelumnya. Bukan karena aku ada teman bercakap-cakap, bukan pula karena aku mendadak mempunyai sebuah pemutar dvd, bukan pula karena sudah menghisap ganja. Pertama-tama, mungkin karena aku tidak sedang tergesa-gesa. Kedua, aku juga tak bawa uang cukup untuk melakukan hal lain di tempat lain selain menerima saja terjebak macet di sebuah bus kota. Ketiga, aku pun tidak akan melakukan hal penting sesampainya di rumah. Keempat, kombinasi tiga alasan itu melahirkan alasan keempat ini. Tapi aku juga tak bisa menyangkal kalau kata-kata Arahata soal kemacetan sangat bisa diterima akal sehat. Mungkin besok-besok aku akan lebih sering pergi siang hari atau sore hari dan akan bertemu macet lebih sering juga.

“Kau mau dengar satu lagu? Ada satu lagu bagus yang filenya tersimpan di pemutar dvd itu.”

“Lagu apa?”

Ia memintaku menyerahkan pemutar dvd yang kini sudah menjadi milikku. Ia mengutak-atiknya sebentar, lalu mengembalikannya padaku. Aku segera memasang headphone di kedua telingaku. Lalu lagu itu pun mengalun. Pemutar dvd mini itu menayangkan liriknya:

Dulu, apa kita terlalu ketat atau telah memberi kesempatan pada
potongan-potongan misteri untuk menguak dirinya sendiri?
Kini, kau telah punya rancangan lain dan kita justru semakin rapat dari
yang pernah kubayangkan
Tapi aku tidak menangis
akrab nian dengan kenyataan-kenyataan ini

Bagaimana cara bulan bersinar?
Bagaimana angin meneriakkan lengkingannya?
Tak bisa kutantang
Tiada pula kaitannya denganku
Hanya sebentuk misteri akhir kematian lainnya

Aku tidak menangis
tidak berlirih-lirih menangis

Ketika akhir, hari-hari sengit terakhir mendekat pada seseorang
dengan sempurna
Hujan akan bertumpahan dan biola yang nadanya mengalun dari atas atap
membubung menyentuh langit
Tapi tak kuurai air mata, untuk suatu ungkapan yang mirip dengan nasib yang coba diterapkan.

Bagaimana bulan berkilau? Bagaimana angin mendesing?
Mana bisa kutantang
Dan tiap orang pun menyarankan agar tidur saja. Seakan tidur dapat memecah
sebuah misteri akhir kematian

Aku tidak tidur, tidak tidur, tidak pernah tidur.

“Bagaimana menurutmu lagu Dead End Mystery itu?” tanyanya.

“Lumayan. Tapi terlalu pelan ritmenya, mungkin lebih baik mendengarkan The Doors atau Crash Test Dummies saat terjebak kemacetan.”

“Bagaimana liriknya?”

“Lebih bagus, tepatnya lebih cocok untuk situasi macet.”

“Kok bisa? Bukankah ngomongin kilau sinar bulan atau bagaimana angin melengking lebih tidak cocok di tengah kemacetan macam ini?”

“Mungkin begitu.”

“Lalu kenapa kau bilang liriknya lebih cocok?”

“Faktanya ‘aku tidak tidur’, bukan? Berkali-kali liriknya menyebutkan kalimat itu.”

“Sesederhana itu alasannya? Bukankah liriknya bukan cuma soal ‘aku tidak tidur’?”

“Ya, sesederhana itu, terutama jika soal tidur dan tidak tidur di kota ini kau anggap sederhana. Bagiku sih tidak. Tidur atau tidak, di kota macam ini, bisa jadi soal rumit. Itu menurutku, loh, ya. Atau kau masih mau alasan yang lebih rumit?”

“Tidak usah.”

“Baguslah, karena aku memang tidak punya alasan yang lebih rumit.”

Supir menyalakan mesin bus. Perlahan bus mulai merayap. Aku melihat jam tangan. Sudah 2,45 jam kemacetan berlangsung. Bus berjalan, tapi masih perlahan. Aku kembali memutar lagu Dead End Mystery sekali lagi, lagu itu juga mengalun perlahan. Aharata menghisap rokoknya, aku lupa itu batang yang keberapa. Aku menjatuhkan kaleng bir yang sudah kosong ke lantai bus. Kaleng itu menggelinding ke depan, seperti ban bus ini juga mulai menggelinding ke depan. Aku melihat ke depan. Jalanan masih sesak oleh kendaraan yang sedang merayap. Hujan masih deras. Suatu pikiran tentang kemacetan dan kota ini melintas di kepalaku, padahal kemacetan belum lagi berakhir, tak akan pernah berakhir.

Printed from: http://pejalanjauh.com/2010/04/macet/ .
© Pejalanjauh 2010.

1 Comment   »

  1. Nda says:

    yap, kemacetan itu nggak akan pernah berakhir. sama seperti pertanyaan yang bisa dilontarkan, ga akan ada akhirnya.. dan terkadang tidak butuh jawaban penting..

    another nice post ;)

    [Reply]

RSS feed for comments on this post , TrackBack URI

Leave a Comment