»

Kelebat

flaneur,meracau — admin @ 12:33 am

– lalu lalang pikiran di simpang urban

Setiap kota punya kekuatan dan kebusukannya sendiri-sendiri, tapi aku merasa bisa tinggal di mana saja dengan mudah. Dengan sedikit usaha dan keberuntungan, aku bisa langsung betah dengan sebuah kota.

Aku berpikir seperti itu saat sedang berada di sebuah gerbong KRL kelas ekonomi. Seperti biasa, aku berdiri, tak kebagian tempat duduk, tak pernah kebagian tempat duduk. Seorang teman yang sehari-hari berangkat dan pulang kerja dengan KRL pernah berkata kalau tempat duduk di KRL kelas ekonomi jauh lebih mahal daripada tempat duduk di kereta eksekutif.

Kupikir itu ada benarnya. Di tas kecilku tersimpan uang cukup banyak, lebih banyak dari selembar tiket kereta eksekutif atau tiket kelas bisnis pesawat terbang, tapi tetap saja aku berdiri di dekat bordes, titik persambungan antar gerbong. Tempat duduk di KRL bukanlah perkara seberapa kau punya uang, tapi seberapa jauh rumahmu dari pusat kota. Makin jauh akan makin besar kemungkinan kau kebagian tempat duduk.

Kadang aku punya kesempatan mendapatkan sebuah tempat duduk setelah sekian waktu kereta berjalan. Orang-orang turun di sebuah stasiun meninggalkan tempat duduknya. Butuh sedikit kerja keras untuk berebutan tempat duduk. Tapi seringkali aku tak beruntung. Posisiku berdiri kadang terlalu jauh dari tempat duduk yang baru saja ditinggalkan. Apa boleh buat, aku memang naik KRL dari stasiun yang tak begitu jauh dari pusat kota, sehingga selalu saja kebagian sisa tempat berdiri di dekat pintu atau di persambungan antar-gerbong.

Tapi pernah aku berhasil memenangkan perebutan tempat duduk setelah kereta yang kunaiki berhenti d stasiun kedua. Baru saja kereta berjalan, aku mendapati seorang perempuan muda dengan perut bunting berdiri tepat di hadapanku. Mulanya aku mendiamkannya begitu saja, berharap ada orang lain yang akan memberikan tempat duduknya. Tapi sampai tiga menit berlalu, tak ada satu pun yang melakukan itu. Aku pun berdiri, mempersilakan dia duduk. Dia sempat tersenyum dan mengatakan sesuatu, mungkin semacam ucapan terimakasih. Tapi aku tak mendengarnya, mungkin juga tak membutuhkannya. Aku tidak yakin itu karena aku cukup tulus melakukannya, sehingga tak butuh apa-apa untuk sebuah pertolongan kecil macam itu.

Aku kira itu bukan soal tulus atau tidak. Aku melakukannya begitu saja. Persoalannya, kalimat “aku melakukannya begitu saja” pun sepertinya tidak begitu tepat. Jika memang aku melakukannya begitu saja, kenapa tidak langsung aku persilakan ia duduk di detik pertama aku melihatnya? Kenapa pula aku mesti menunggu ada orang lain yang lebih dulu melakukannya?

Ah, itu mungkin perkara yang tidak begitu penting. Toh aku sudah melakukannya, jadi anggap saja urusan sudah beres. Lagi pula, tidak ada salahnya menolong seorang peremuan muda yang sedang bunting. Aku sempat melihat parasnya. Ia cantik. Tidak pantas seorang perempuan cantik berdiri dan bergelantungan di tengah gerbong kereta dan membiarkannya menjadi santapan buas mata para penumpang KRL yang entah kenapa aku yakin punya naluri buas tersendiri melihat perempuan cantik dan bunting.

Ya, perempuan cantik bunting di sebuah gerbong KRL yang riuh rendah oleh deru mesin KRL yang sudah reyot diselingi suara para pedagang asongan yang tak pernah berhenti berteriak-teriak menawarkan dagangannya. Aku jadi berpikir, kupersilakan ia duduk itu dengan alasan karena ia sedang bunting atau karena ia cantik? Terus terang aku tidak yakin. Mulanya aku memperhatikan perutnya yang bunting, lalu ku persilakan ia duduk. Setelah itu, baru kuperhatikan parasnya, ternyata ia cantik. Lalu aku berpikir soal tidak pantas perempuan cantik berdiri di gerbong KRL. Jadi apa?

Begitulah diriku. Selalu saja sibuk memikirkan hal-hal kecil yang sebenarnya tidak penting. Apa bedanya memberi pertolongan kecil karena ia seorang perempuan cantik atau karena ia kebetulan sedang bunting? Tidak ada, bukan?

Kadang aku merasa ada dua pribadi yang mendekam di tubuhku. Satu pribadi lebih suka mengurusi hal-hal yang praktis, satunya lagi gemar menguras tenaga untuk melakukan dan memikirkan hal-hal yang tidak penting dan sebenarnya sama sekali tidak praktis. Dua kecenderungan itu kadang kala tidak mau saling mengalah. Keduanya suka bertengkar sendiri. Jika sudah begitu, hasilnya sudah bisa ditebak: aku tidak melakukan apa-apa dan tidak memikirkan apa-apa. Itu kompromi yang ideal sebenarnya. Tapi itu pun bisa saja dianggap kemenangan untuk salah satu, tergantung dari sudut mana melihatnya. Tidak melakukan atau memikirkan sesuatu bisa saja dianggap sebagai hal yang praktis dan efisien, tapi bisa juga dianggap sebagai hal yang tidak penting dan tidak praktis.

Pernah satu waktu, juga di atas KRL, aku menghabiskan waktu selama di perjalanan, sekitar 45 menit, hanya dengan mengamati seorang perempuan muda. Usianya kukira tak lebih dari 23 tahun. Tampaknya ia seorang mahasiswi. Ia berdiri sekitar 5 meter di depanku, bersandar pada salah satu tiang besi di dekat pintu. Ia mendekap beberapa diktat kuliah di dadanya. Sayang sekali karena dengan itu aku tak bisa melihat seberapa besar buah dadanya. Kejutannya: aku bisa melihat dengan jelas kedua tangannya yang ditumbuhi bulu-bulu yang lebat.

Orang-orang bilang perempuan dengan bulu-bulu yang lebar di tangannya, atau sebaris bulu-bulu halus menyerupai kumis tipis di atas bibirnya, bisa dianggap sebagai pertanda kalau ia pastilah perempuan dengan libido yang tinggi. Waktu itu aku berpikir, jika benar dia perempuan dengan libido yang tinggi, apakah dia sudah bercinta dengan pacarnya sebelum naik kereta? Kapan kira-kira dia pertama kali bercinta? Apa yang ada di pikirannya saat itu? Apakah dia sedang merancang pergumulan berikutnya dengan lelaki lain yang bukan kekasihnya yang akan ia temui di stasiun berikutnya? Dan lain-lain, dan sebagainya.

Jangan berpikir bahwa aku terangsang dengan memikirkan kemungkinan-kemungkinan macam itu. Sama sekali tidak. Bagiku, itu sama sekali bukan pikiran-pikiran cabul. Aku menganggapnya tak lebih seperti mengkhayalkan suatu liburan panjang atau sederet makanan lezat yang terhidang dalam sesi prasmanan yang mewah. Itu hanya kelebatan pikiran yang acak pola dan strukturnya. Datang tidak diminta, pergi juga tak disuruh. Segalanya terjadi begitu saja, lewat lalu pergi, tanpa pamit apalagi permisi.

Aku pernah ngobrol mengenai kelebatan-kelebatan pikiran yang tak jelas pola dan strukturnya itu dengan Ahmet. Dia karyawan sebuah bank yang di masa mudanya dulu pernah bermimpi ingin menjadi seorang pelukis. Tentu saja ia gagal menjadi pelukis karena tak pernah sekali pun ia memegang kuas dan kanvas. Ia hanya mengkhayal dan bermimpi, tak lebih dan tak kurang.

“Aku tak akan pernah menjadi pegawai bank jika tak pernah bermimpi menjadi seorang pelukis,” katanya.

Aku heran dengan ucapannya. Tak ada alur logika yang jelas dari ucapannya itu. Bagiku, ucapannya itu tak ubahnya seperti orang yang ingin menyantap sekaleng sarden tuna tapi yang ia dapat malah sekaleng bir hitam yang sepat saat ditenggak. Ia tertawa mendengar perbandingan yang kubuat. Perbandingan yang aneh, katanya. Tapi, jawabku, itu sama anehnya dengan perbandingan yang dia buat soal mimpi menjadi pelukis yang justru menjadikannya seorang pegawai bank.

Aku dan Ahmet membicarakan itu di sebuah gerai makanan dan minuman instan yang buka 24 jam. Kami duduk di selasarnya, saat tengah malam yang hujan, berhimpitan dengan anak-anak muda belasan tahun yang bergerombol mengocehkan rasa bir yang mereka anggap terasa lebih pahit dari biasanya. Kendaraan masih banyak yang berlalu lalang, dengan berbagai merk dan warna, juga variasi dan tempelan stiker yang bermacam-macam. Lampu jalan berbinar dengan aneh dan blboard-bilboard iklan berderet panjang sampai jauh.

Sampai kaleng-kaleng bir menumpuk di depan tempat kami duduk, hujan tak juga reda. Masih saja deras. Ahmet memaki-maki nasibnya yang buruk. Ia berkata besok harus sampai di kantor sepagi mungkin karena ada banyak pekerjaan yang belum beres, sementara menjelang pukul 1 dini hari ia masih saja tersudut di selasar sebuah gerak makanan dan minuman instan yang buka 24 jam. Aku menyuruhnya naik taksi, tapi ia menggeleng.

“Tempat tinggalku di ujung gang, kendaraan tak bisa masuk. Aku bisa kehujanan, lalu masuk angin, lalu besok tidak masuk kerja, lalu pekerjaanku terbengkalai, lalu aku bisa saja dipecat,” ocehnya. Ia menenggak kaleng bir yang keempat.

“Kau terlalu berlebihan,” kataku.

“Sama sekali nggak.”

“Apanya yang nggak?”

“Ya nggak berlebihan.”

“Yang mananya yang nggak?”

“Pokoknya nggak berlebihan. Itu masuk akal. Kau tidak akan tahu suasana di perkantoran. Mana kau tahu hal-hal macam itu.”

Aku membuka tutup kaleng bir yang keempat dengan ibu jari. Suara mendesis terdengar beberapa detik, ada buih busa yang meluap ke luar dan jatuh di tanganku. Ahmet tertawa melihatnya. “Membuka kaleng bir saja kau tak becus.”

“Itu tidak penting. Toh cuma sedikit. Lagi pula ini birku, aku yang beli dengan uangku. Kau tak menraktirku, bukan?”

“Memang nggak. Tapi lucu saja.”

“Apanya yang lucu?”

“Busa yang tumpah itu.”

“Apanya yang lucu? Sudah biasa, kan, busa bir meluap sedikit?”

“Pokoknya lucu saja. Setidaknya malam ini terasa lucu.”

“Terserah kau sajalah,” kataku sedikit kesal.

Itu contoh percakapan-percakapan yang sama sekali tidak penting. Sudah cukup sering waktu terbuang oleh percakapan-percakapan konyol yang sama sekali tak punya pengaruhnya dalam hidup. Tidak bikin aku makin cerdas, tidak bikin aku makin kaya, tidak bikin aku makin bijaksana. Tapi sialnya sangat banyak waktu dihabiskan untuk percakapan-percakapan bodoh menjurus omong kosong macam itu. Dan, sejujurnya, aku senang dengan percakapan kosong tanpa makna macam itu. Dunia tampak menjadi lebih mudah. Atau, kadang-kadang, aku juga berpikir, dunia memang sebenarnya mudah, tapi percakapan-percakapan yang dianggap penuh makna itu yang membuatnya menjadi sukar.

“Omong-omong yang tidak penting membuat dunia tampil menjadi lebih kanak-kanak,” ujar Ahmet, sembari terkekeh-kekeh, juga sembari menenggak sisa bir di kaleng yang keempat.

“Ku pikir kau benar. Dunia ini sebenarnya diperuntukkan bagi kanak-kanak. Betapa bodohnya anak-anak yang ingin cepat dewasa. Lucu sekali iklan susu balita yang beromong-kosong bisa membuat anak-anak itu bisa lekas besar.”

“Iklan-iklan itu memang busuk.”

“Dan kita dengan senang hati menjadi busuk, bukan?”

“Omong-omong, bir yang kita minum ini iklannya seperti apa, sih? Apa kau pernah lihat?”

“Pernah. Tapi sudah lama aku tidak melihatnya lagi.”

“Macam apa iklannya?”

“Kalau aku nggak salah ingat, iklannya itu mengisahkan seorang koboi yang naik sapi. Lucu sekali, bukan, koboi naik sapi?”

“Masak sih iklan bir seperti itu? Kau yakin itu iklan bir?”

“Aku tadi kan bilang kalau nggak salah ingat.”

“Dari mana kau tahu orang yang menunggang sapi itu koboi?”

“Dari topinya. Dia juga memutar-mutarkan tali laso, kok. Koboi selalu begitu, kan?”

“Iya juga, sih. Tapi aneh sekali rasanya ada koboi naik sapi. Mestinya, kan, naik kuda.”

“Kalau naik kuda, itu pasti iklan rokok.”

“Lho, kalau naik sapi, mestinya kan itu iklan susu.”

“Iya juga, ya.”

Kami tertawa terbahak-bahak. Gerombolan remaja di sekeliling kami menoleh dengan muka masam. Ahmet balik memandang mereka. Mereka lalu kembali sibuk dengan obrolannya masing-masing. Aku tertawa melihat tingkah Ahmet.

“Kenapa kau tertawa,” katanya.

“Kau lucu sekali.”

“Apanya yang lucu?”

“Ya lucu. Tidak usah dijelaskan apanya. Lucu ya lucu, lalu kita tertawa. Sedih ya sedih, lalu kita pun jadi muram. Itu hukum sebab-akibat. Sederhana sekali, bukan?”

“Kau ini ngomong apa, sih?”

“Ngomongin omong kosong.”

“Lucu juga, ya. Ngomongin omong kosong. Omong kosong diomongin. Itu omongan apa kalau begitu?”

“Tidak usah dipikirkan. Pokoknya kalau tertawa ya itu berarti lucu, kalau lucu ya harus tertawa.”

Kendaraan masih banyak yang berlalu lalang, dengan berbagai merk dan warna, juga variasi dan tempelan stiker yang bermacam-macam. Lampu jalan berbinar dengan aneh dan blboard-bilboard iklan berderet panjang sampai jauh.

Tak ada yang abadi di dunia ini, begitu katanya. Tapi begitu pula segala sesuatu berlangsung di kota besar. Semuanya bergerak dengan cepat, pikiran berpindah dengan cepat, kendaraan melaju dengan cepat, janji dan sumpah berlalu dengan cepat. Seperti saat kita berada di atas kendaraan yang melaju, di kanan kiri, bilboard dan iklan melesat ke belakang dengan cepat, dengan warna-warnanya yang cemerlang, dengan gambar-gambarnya yang cemerlang, dengan dusta-dustanya yang dikemas dengan cemerlang. Seseorang bisa saja memilih naik ke ketinggian, lalu melihat semuanya dengan sudut pandang yang meluas dan melebar, seperti sipir-sipir penjara berarsitektur panoptikon. Tapi kota besar tak bisa ditaklukkan dengan teleskop hubble. Lalu lalang adalah awal segala sesuatu dan akhir segala sesuatu, keutuhan hanyalah khayalan, dan pikiran tak ubahnya buih busa bir yang jatuh ke pergelangan tangan.

Aku melihat keluar melalui jendela KRL Ekonomi: segalanya adalah kelebatan, semuanya adalah bayang-bayang.

4 Comments »

  1. semuanya fana, jadi sebnarnya apa yang kita lakukan di dunia yang serba fana ini?

    Comment by mawi wijna — 2010/03/31 @ 1:35 am
  2. Perempuan berkumis dan libido tinggi? Apa hubungannya? :D

    BTW tentang memberikan tempat duduk kepada wanita, terutama yang hamil atau bawa anak atau ibu tua, inilah pengalamanku beberapa kali: segera setelah pendudukan usai, orang lainlah yang menggantikannya, tanpa rasa bersalah, padahal dia tahu itu hakku.

    Comment by antyo rentjoko — 2010/03/31 @ 2:59 am
  3. itulah rahasianya zen, umur manusia yang singkat, ditambah banyak omong kosong mungkin juga kerja kosong.. kita disuruh untuk melakukan sesuatu berarti utk hari berbangkit (tentu saja kalau kau yakin itu ada).

    Comment by prahara — 2010/03/31 @ 4:31 am
  4. anda senang baca novel nya putu wijaya ya??

    Comment by orhan — 2010/04/02 @ 3:24 pm

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-Noncommercial-Share Alike 3.0 Unported License.
(c) 2012 nasib adalah kesunyian masing-masing | powered by WordPress with Barecity