Halte
– saat situasi mengunci
Hujan deras, jalanan mulai tergenang. Sudah dua bus lewat, tapi aku masih duduk di bangku sebuah halte. Lalu seorang perempuan muda, kutaksir usianya tak lebih dari 25 tahun, muncul dengan blues yang sedikit basah. Ia duduk di sebelahku, satu-satunya tempat yang tersisa.
Hujan deras, jalanan mulai tergenang. Dia menoleh dan tanpa basa-basi langsung bertanya: “Pernah nonton film Bus Stop?” Aku menatap wajahnya sebentar, lalu mengeleng. “Ah, sayang sekali. Mau kuputarkan? Ada di laptopku. Batrei laptopku cukup untuk memutarnya sampai habis. Cuma 96 menit, kok,” katanya lagi. Aku menatap wajahnya lagi, lalu menggeleng. “Kamu tidak tahu, ya, kalau Monroe binal sekali di film itu?” tanyanya lagi. Aku menatap wajahnya sekali lagi, lalu menggeleng.
Ia tampaknya kesal dengan sikapku, tapi aku juga tak kalah sebal. Ia datang tiba-tiba, bertanya sesuatu, bertanya lagi dan lagi, juga menawarkan sesuatu yang aneh: menonton film di laptop di sebuah halte saat hujan deras dan jalanan mulai tergenang.
Aku menatap wajahnya sekali lagi, ia tampak merenggut. Matanya sedikit coklat, rambutnya juga disemir coklat di beberapa bagian. Ia mengenakan kemeja berwarna coklat. Ia juga sedang memakan sebatang coklat. Tapi wajahnya sedikit manis, cuma sedikit, sisanya: aneh. Bahunya cukup lebar, rambutnya agak panjang. Ia masih merenggut. Iseng aku bilang: “Sepertinya kamu lahir di hari coklat, ya?”
“Hari coklat?”
“Ya, coklat. Kenapa?”
“Memangnya ada hari coklat? Kayaknya hari cuma ada tujuh, dan tak ada yang namanya coklat.”
“Hari memang ada tujuh, tapi ada jenis hari lain, ada hari koperasi, hari palang merah, dll. Kenapa harus tidak ada hari coklat?”
“Kau ini aneh sekali.”
Aku tertawa geli. Dia lalu menawarkan untuk menceritakan sinopsis film Bus Stop. Kupikir tak ada salahnya mendengarkannya, setidaknya itu lebih masuk akal ketimbang nonton film di laptop pada sebuah halte saat hujan deras dan jalanan mulai tergenang.
“Ini film lama, kamu belum lahir, aku juga belum lahir. Ceritanya tentang dua orang pria dari Montana, salah satunya seorang koboi, yang hendak ikut lomba rodeo di Arizona. Di Arizona, koboi bernama Beau itu bertemu seorang penyanyi kafe bernama Cherie yang dilihatnya pertama kali sedang menyanyikan lagu That Old Black Magic. Beau jatuh cinta pada Cherie dan berniat menikahinya dan akan mengajaknya ke Montana. Sayang sekali, keesokan hari setelah lomba rodeo selesai, Cherie sudah menghilang. Dia ternyata pergi ke Hollywood dan berharap bisa menjadi terkenal. Tapi Beau bisa mengendus jejak Cherie, dan menemukan Cherie, lalu memaksanya ikut ke Montana. Di satu tempat, bus yang mereka naiki terpaksa berhenti karena jalanan dipenuhi salju. Orang-orang akhirnya tahu apa yang dilakukan Beau kepada Cherie, supir bus bahkan memukuli Beau dan memaksanya melepaskan Cherie. Keesokan harinya, saat salju yang menutupi jalanan sudah dibersihkan, Beau meminta maaf atas sikapnya dan bersedia pergi tanpa Cherie. Lalu, mereka sedikit berbaikan, atau semacam itulah kira-kira. Cherie sendiri akhirnya bisa memaafkan Beau dan bisa menemukan sisi baik dan manis dari Beau. Ia lalu memutuskan bersedia pergi bersama Beau.”
“Film yang aneh,” kataku.
“Aneh apanya? Itu gak aneh, ceritanya biasa, kan? Aku heran kenapa cerita jelek begitu sampai dibuatkan film. Kaya gak ada cerita lain saja,” ujarnya dengan nada sedikit mengomel.
“Ohhh, menurutmu itu film jelek? Lalu kenapa tadi kau menawariku nonton film itu kalau memang jelek?”
“Aku gak bilang film itu jelek, cuma ceritanya biasa saja, gak istimewa.”
“Kalau ada orang yang melihatmu sedang menyanyi lagu Potong Bebek Angsa lalu dia ingin menikahimu bagaimana?”
“Mana mungkin orang tiba-tiba ingin menikahiku gara-gara aku menyanyi lagu Potong Bebek Angsa?”
“Siapa tahu nyanyianmu bagus. Cobalah menyanyi, siapa tahu nanti aku akan mengajakmu menikah,” kataku. Dia tertawa terbahak-bahak. Dia menyebutku bodoh tapi lucu, atau yang agak mirip-mirip dengan itu, aku tak mendengarnya dengan jelas, karena saat itu persis ada suara petir menggelegar. Dia tampak kaget dan refleks menutup kedua telinganya. Aku tertawa melihat ekspresinya. Dia tampak kesal karena aku tertawakan.
Hujan deras, jalanan mulai tergenang. Lalu, tiba-tiba saja, dia menyanyi. Mulanya aku tak bisa mendengarnya, lalu suaranya makin keras, sampai kemudian aku tahu ia sedang menyanyikan lagu apa. “Nona minta dansa, dansa empat kali….” Ia menyanyi dengan penuh semangat, suara hujan bisa ia taklukkan, suara bus kelima yang lewat juga bisa ia tundukkan, dan terakhir bahkan suara petir pun bisa ia kalahkan. Ia berteriak-teriak: “Serong ke kiri… serong ke kanan…” Ketika ia sampai pada kalimat “sering ke kanan”, ia menyenggolku dengan pinggulnya. Kami tertawa, ya… tiba-tiba saja tertawa. Lalu ia menyodorkan potongan coklat ke arah mulutku, aku langsung melahapnya. Kami tertawa lagi sampai kemudian ia bilang: “Jadi, apakah kamu mau menikahiku?”
Aku bengong mendengar pertanyaannya. Kupikir dia serius jika menilik wajahnya. Lalu aku tertawa lagi, dan dia juga tertawa lagi. Aku menepuk-nepuk pundaknya. Kukeluarkan sekaleng bir dari tas kecilku. Ia membukanya. Suara desisnya tak terdengar, tapi aku bisa melihat ruap busa bir yang muncul di permukaan kaleng. Ia menenggaknya. Ia sedikit cegukan.
Aku bertanya apakah pemeran Cherie itu Marylyn Monroe, ia mengangguk. Apakah dia seksi di film itu, tanyaku. Ia mengangguk lalu kembali mulai mengoceh: “Eh, tahu nama Honor Blackman? Dia artis juga loh, bintang panas di jamannya dulu, pernah jadi gadisnya James Bond di film Goldfinger. Kau pasti tak tahu itu film produksi tahun berapa, kan? Kuberi tahu, ya. Itu film produksi tahun 1964. Dia juga bisa menyanyi. Ayahnya seorang pegawai negeri. Saat sudah jadi orang terkenal, Honor Blackman bercerita bahwa saat kecil ia pernah bersama ayahnya di sebuah halte pada saat hujan lebat, mungkin lebatnya seperti yang kita alami sekarang. Nah, si ayah itu bilang begini: Kalau kamu bisa terus bersikap baik, kamu akan dapat gula-gula tiap hari Minggu. Itu terjadinya waktu dia dan ayahnya sedang berada di halte bus saat hujan lebat, seperti kita sekarang ini.”
Saat ia mengoceh tentang Honor Blackman, aku tiba-tiba merasa iba padanya. Aku merasa ia gadis yang tak punya banyak teman. Tapi itu pula yang kurasakan. Untuk pertama kalinya aku berpikir kami bisa menjadi teman.
Hujan deras, jalanan mulai tergenang. Bus ketujuh lewat. Bus penuh. Bus itu tak berhenti. “Aku mau memberimu gula-gula jika kamu bisa bercerita lagi tentang film-film lama,” kataku. Ia tersenyum dan bertanya apakah ada gula-gula di tasku. Aku mengangguk. Bagus, katanya, coklatku sudah habis. Lalu aku memberinya gula-gula yang kuambil dengan tergesa dari tasku. Lalu ia bercerita tentang Brigite Bardot dan Bette Davis. Setelah itu ia bercerita tentang film-film Ingrid Bergman.
“Hei, berapa usiamu sekarang?”
“24 tahun.”
“Kenapa kau fasih sekali bercerita tentang film-film lama dan artis-artis lawas?”
“Karena aku lesbian.”
Aku tertawa terbahak-bahak. Aku tak menangkap hubungan antara film-film lama dengan kecenderungan seksual, kecuali dalam soal ia memang selalu bercerita tentang artis perempuan. Tapi aku merasa itu jawaban yang bagus sekali, entah kenapa aku berpikir begitu. Kupikir, pertanyaan dan jawaban tak perlu harus berkaitan, apalagi saat sedang berada di halte malam-malam, saat hujan sedang deras dan jalanan mulai tergenang.
“Kupikir kita bisa jadi teman,” kataku, mengulangi apa yang sudah kupikirkan beberapa menit sebelumnya. Ia mengangguk sembari menjawab: “Sayang ya kita tidak bisa menikah.” Dia tertawa sendiri mendengar ucapannya itu. Aku memberinya gula-gula lagi dan berkata: “Setidaknya kau bisa memotong bebek angsa buatku.” Dia mengangguk-angguk, lalu bertanya lagi: “Bukankah bebek dan angsa itu berbeda? Kenapa lagunya berjudul Potong Bebek Angsa ya? Harusnya Potong Bebek Kampung atau Potong Angsa Jantan.”
Aku mengangkat bahu, dia kembali mengunyah gula-gula yang kuberikan, lalu bercerita tentang film The Nun’s Story di mana Audrey Hepburn memerankan seorang calon biarawati yang bertugas merawat korban perang dan sempat ditugaskan di Kongo tapi di akhir film memutuskan meninggalkan tugasnya itu karena kesal dengan sikap biara yang kelewat saklek. Aku mendengarkannya sambil menenggak sekaleng bir.
Hujan makin deras, jalanan sudah lama tergenang.
ceritanya bagus
banyak kejutan di dalamnya .
salam kenal..
hihihi.. si abang, dalam beberapa postingan terakhir.. selalu saja menyelipkan bir..
wah cerita ini bagus sekali kalo dibikin film pendek. hmm..mustinya masuk dalam omnibus film tentang Jakarta! keren!
wah cerita ini bagus sekali kalo dibikin film pendek. hmm..mustinya masuk dalam omnibus film tentang Jakarta! keren!