Arloji
– sophia loren ditusuk jarum siang-siang
Tepat tengah hari, aku meninggalkan rumah, jam 5 sore nanti aku berjanji menemui Ahmet di sebuah smoking room lantai 5 plaza terbesar di Jakarta. Masih banyak waktu, selalu ada waktu. Aku merogoh saku kanan jaketku. Arloji tua itu masih aman di situ. Ya, sebuah arloji yang tak hanya tua, tapi juga rusak. Aku berniat memperbaikinya. Ada beberapa tukang arloji di pasar, aku bisa mampir di sana sebentar.
Kakekku memberiku arloji itu dua puluh tahun lalu tak lama setelah ia pulang naik haji. Aneh sekali, ia menghadiahiku arloji. Jauh-jauh ke Arab Saudi, ia hanya membawa oleh-oleh arloji yang bisa dibeli di mana saja. Dulu aku berharap kakek akan memberiku fosil gigi geraham unta betina. Tapi itu tak mungkin. Akan janggal jika seorang jemaah haji sibuk mencari fosil geraham unta betina, kakek akan seperti Snouck Hurgronje yang ingin memecah belah umat unta.
Setiba di Pasar Minggu, jalanan terasa sangat panas. Jalanan sangat penuh, asap-asap knalpot mengembang dan saling rasuk dengan uap aspal lalu menjelma fatamorgana lalu menjadi bunga-bunga di udara, bunga-bunga di atas aspal. Metromini yang mangkal di tepi jalan berderetan sedemikian rupa seperti perahu-perahu tua yang ditambatkan di sungai yang dangkal dan keruh. Aku menyisiri jalanan dengan beberapa kali menyisiri sela-sela deretan metromini tua itu. Udara makin terasa pengap, suhu seperti melonjak tiba-tiba. Aku meraba arloji itu sekali lagi. Ia tak berdetak, tapi waktu tak peduli dengan gerak jarum jam. Aku tahu keduanya adalah hal yang berbeda.
Di titik terpadat perempatan, aku menepi menyusuri trotoar jalan. Ada toko sepatu, ada toko bunga, ada toko furniture, ada toko emas, ada toko elektronik, ada toko barang pecah belah, ada toko bunga lagi, ada toko emas lagi, ada toko furniture lagi, ada toko elektronik lagi dan ada toko barang pecah belah lagi. Di depan toko-toko itu, berjejer secara berselingan antara tukang sol sepatu dan tukang kunci. Aku tidak tahu kenapa bisa berselingan sedemikian rupa. Kupikir itu kombinasi yang bagus: tukang sol sepatu, tukang kunci, tukang sol sepatu, tukang kunci, tukang sol sepatu, tukang kunci….Lalu di mana tukang arloji?
Hmmm… dia terselip di antara toko barang pecah belah dan toko emas. Apakah itu kombinasi yang bagus? Sepertinya iya. Waktu kabarnya adalah emas, tapi manusia sering memecahkannya begitu saja, dengan berlambat-lambat, dengan berleha-leha, dengan menikmati setiap detik yang berlalu tanpa melakukan apa-apa. Saya tak setuju dengan itu. Aku selalu merasa sebagai seorang amatir dalam banyak hal, dan hanya profesional dalam satu soal: membuang-buang waktu, a professional waster-time. Kupikir itu predikat yang terhormat di sebuah kota yang dipenuhi orang-orang yang bergegas dan berkemas, kendati kebanyakan orang akan menganggap predikat itu sebagai kejijikan utama bagi peradaban.
Tukang arloji itu seorang lelaki tua berusia sekitar 60-an tahun. Keriput di wajahnya tampak jelas. Ia mengenakan kemeja panjang dan kacamata tebal berbingkai warna emas. Ia melihat ke arahku dari balik kacamata yang melorot tertahan pangkal hidungnya. Aku menyerahkan arloji tua itu, dia menerimanya. Pertama dia melihatnya beberapa saat, lalu menggoyang-goyangkannya di dekat telinga kiri, lalu melihatnya lagi, lalu ia buka bagian belakangnya. Ia melakukannya tanpa sekali pun melihatku. Ia menyodorkan sebuah kursi tanpa sandaran yang terbuat dari kayu. Kupikir itu isyarat bahwa ia tak membutuhkan waktu lama memperbaiki arlojiku. Aku menerima isyarat itu, lalu duduk begitu saja, tepat bersebelahan dengannya.
Aku menatap ke seberang jalan. Sebuah bangunan berlantai dua berdiri dengan lusuh. Kios-kios berdesakan di antara los-losnya. Pandanganku berkali-kali terhalang kendaraan yang lewat. Kuperhatikan lalu-lalang kendaraan itu dan membayangkannya sebagai gerak arloji sebuah jam. Duk.. duk.. duk.. duk…. Aku meraba dadaku, kupikir itu detak jantungku sendiri.
“Saya baru lihat arloji dengan merk Ablux.”
Aku menolah pada tukang arloji yang tua itu. Dia masih mengutak-atik arlojiku dengan bantuan alat yang ukurannya nyaris seperti peniti. Aku bilang itu dari kakekku, dibelinya di Arab Saudi. Dia bilang, sejarah arlojiku itu unik dan untuk pertama kalinya ia membenahi jam dari Arab Saudi. Aku tidak yakin dengan ucapannya, tapi kupikir itu tidak terlalu penting.
“Saya senang kalau ada orang datang membawa arloji dengan merk yang baru saya kenal.”
“Kenapa?”
“Saya bisa mempelajari hal baru.”
Aku meninggalkannya sebentar, berjalan menuju seorang tukang rokok yang berdiri tak begitu jauh. Aku membeli sebatang rokok kretek. Tiba-tiba saja aku ingin merokok kretek. Ia menyalakan korek api lalu menyorongkannya kepadaku. Segera kuletakkan kretek ke mulutku, lalu aku sorongkan ujung kretek itu ke nyala korek yang dipegangnya. Kretek menyala, lalu padam meninggalkan bara di ujungnya. Aku menghisapnya dalam-dalam, asap keluar dari hidung dan mulutku. Sebuah metromini lewat menyemburkan asap knalpotnya yang hitam. Aku tertawa kecil. Apa bedanya mulut dan hidungku dengan knalpot itu?
Saat aku sudah kembali duduk di sebelah tukang arloji itu, dia langsung bilang kalau dia butuh waktu sedikit lebih lama. Katanya, dia orang yang sedikit lambat mempelajari sesuatu yang baru, termasuk arloji dengan merk yang baru dilihatnya. Ia berjanji akan menyelesaikannya setengah jam lagi. Aku mengangguk dan bilang kalau aku tak keberatan menunggu. Ia mengucapkan terimakasih.
Beberapa kali kami bertukar tanya dan jawab, sebagian terbesar basa basi, sisanya kuanggap cukup menarik. Ia mengaku kalau ayahnya juga seorang tukang arloji, begitu juga kakeknya. Aku jagi ingat temanku di masa SMA yang bercita-cita menjadi seorang penghulu karena ayahnya juga seorang penghulu. Dua tahun lalu, dia hadir di pernikahan adikku, bukan untuk memberi kado, tapi sebagai penghulu. Aku kaget, tapi juga senang. Ia sudah memenuhi cita-citanya. Kupikir ia bahagia, karena ia selalu hadir di saat-saat orang berbahagia dan ia bekerja untuk membahagiakan orang-orang yang ingin berkeluarga. Apakah tukang arloji tua ini bahagia? Kutanyakan itu, soal bahagiakah menjadi tukang arloji, ia mengangguk.
Seorang perempuan muda datang dan berdiri di depanku. Sepertinya sedang menunggu angkutan. Ia mengenakan rok selutut berwarna hitam dan kemeja ketat berwarna putih. Bokongnya satu garis lurus dengan wajahku, dipisahkan oleh 2 meter jarak. Saat ia menggeserkan posisinya berdiri, terlihat tubuhnya dari arah samping, dan jelas: bokongnya tampak mencuat bagus dan dadanya seperti mendongak ke langit tengah hari. Tiba-tiba aku ingin menenggak sekaleng bir dingin.
“Kamu sudah punya istri?” tukang arloji itu tiba-tiba menghalau pikiranku. Aku menggeleng dengan tatapan mata tetap menancap ke tubuh bagus perempuan itu, sementara pikiranku memikirkan sekaleng bir dingin. Kualihkan pandanganku pada tukang arloji itu. Ia masih sibuk dengan arloji tua dari Arab Saudi pemberian kakekku. Kutanyakan padanya, apakah ia sudah ingin jadi tukang arloji sedari kecil? Ia menjawab: ya.
“Ayah saya pernah bercerita bahwa orang miskin seperti kami harus belajar dari arloji.”
“Maksudnya?”
“Arloji hanya tahu berdetak setiap detik. Ia tak tahu harus berdetak berapa kali dalam satu menit, dalam satu jam, dalam satu hari, dalam satu minggu, dalam satu bulan, dalam satu tahun, dalam satu abad. Arloji hanya perlu berdetak tiap detik.”
“Maksudnya?”
“Kami ini susah memikirkan masa depan. Memikirkan hari ini saja sudah susah. Ya, sudah, hari ini saja. Masa depan bukan jatah kami-kami ini.”
Ponselku bergetar. Pesan pendek dari Ahmet masuk. Ia mengingatkanku untuk tidak terlambat. Kami berbalas pesan beberapa kali. Ahmet: Jam 5 sore, ingat: jam 5 sore. Aku: penting sekali ya acaranya? Ahmet: akan banyak wine, jangan sampai kau menyesal. Aku: Jadi, aku dapat honor untuk mencicipi wine? Ahmet: wine itu bonus, honormu untuk pekerjaan lain, yang penting bawa kamera. Aku: kamera kubawa, selalu kubawa, tapi cuma bawa lensa fix, kuusahakan datang tepat waktu. Ahmet: acara indoor ini, ga perlu bawa lensa tele. Aku: menurutmu masa depan apa? Ahmet: masa depan? Siang-siang kok udah mabuk.
“Bapak ga lagi mabuk, kan?” tanyaku dengan keisengan yang penuh pada tukang arloji itu.
“Maksudnya?”
“Temanku bilang kalau aku lagi mabuk siang-siang karena tadi sempat bertanya soal masa depan sama temenku itu. Becanda kok, pak.”
Sembari merogoh sesuatu di bawah meja kecilnya, tukang arloji itu berkata, “Ga apa-apa.” Lalu, tangan kanannya meletakkan sesuatu di atas meja sambil berkata: “Saya kadang minum juga. Ini Anggur Merah, sekarang harganya 35 ribu, seminggu lalu masih 18 ribu. Kalau saya bisa benerin arloji kamu, saya akan minum lagi. Arloji dengan merk yang baru kukenal itu seperti TTS buat saya.Agak susah benerinnya, kalau saya bisa benerin, senang rasanya. Jadi harus dirayakan sedikit. Di tivi, kadang-kadang anak jaman sekarang minum sesuatu, kan, kalau baru kenalan?”
Saya tertawa. Kejutan siang hari yang manis. Aku mencari perempuan berbadan bagus yang tadi berdiri di depanku. Perempuan berbadan bagus itu sudah tak ada. Aku tidak lihat dia pergi naik apa. Aku kembali memperhatikan lelaki tua tukang arloji itu bekerja. Setelah ia mengeluarkan botol Anggur Merah itu, aku merasa jarak di antara kami mulai berkurang. Aku dan lelaki tua tukang arloji itu bisa bercakap-cakap dengan lebih cair.
Temanku dulu pernah berkata, kadang hanya perlu sebotol bir untuk menemukan seorang teman. Ironisnya, kepalanya pernah bocor karena dipukul botol vodka oleh seorang temannya saat keduanya sedang mabuk. Setelah jahitan kepalanya kering, aku bilang padanya bahwa sebotol bir juga bisa mendatangkan musuh, bukan cuma teman. Ia membantah. Katanya, aku dikepruk botol vodka, bukan bir. Setelah itu kami sama-sama menonton film porno yang bercerita tentang seorang janda yang hanya bisa orgasme setelah bermasturbasi dengan botol coca-cola.
Aku menceritakan soal itu pada si lelaki tua tukang arloji. Ia tak henti-hentinya tertawa saat kuceritakan soal film porno itu. Mulanya dia kebingungan dengan istilah orgasme dan masturbasi. Butuh lima menit tersendiri untuk menjelaskannya. Setelah penjelasan susah payah itu bisa dia tangkap, barulah dia bisa menangkap kelucuannya, dan barulah ia tertawa terbahak-bahak. Dia mengaku seumur-umur tak pernah menonton film porno. “Dulu pernah pengin lihat film porno, tapi usia saya sudah tua sekarang, jadi saya tak pernah mikirin film porno lagi. Omong-omong, ada ga film porno yang ceweknya main sama arloji?”
Gantian aku yang tertawa. Sukar kubayangkan seorang bintang film porno masturbasi dengan arloji. Lalu ia mengeluarkan sebuah arloji dari sakunya, sebuah arloji tua yang besar lingkarnya hampir seukuran lingkaran kaleng bir. Ia mendekatkan arloji itu lebih dekat lagi. Aku agak kaget melihat permukaan jam itu bergambar seorang perempuan telanjang dengan as jarumnya menancap tepat di selangkangan perempuan itu. “Ini foto Sophia Loren. Sophia Latjuba ga ada apa-apanya.”
Dia tersenyum-senyum sendiri. Apa bapak punya istri, tanyaku. Saya tak pernah menikah, istri saya cuma arloji, katanya. Aku langsung menggali ingatanku, mencari-cari apa ada istilah bagi orang yang berhasrat secara seksual pada arloji. Aku tak ingat apa pun.
Lima menit kemudian ia menyerahkan arloji itu. Aku mengamatinya sebentar, arloji itu kini sudah bisa bekerja kembali. Aku bertanya berapa biayanya. Ia menggeleng. Untuk setiap arloji dengan merk yang baru saya lihat selalu gratis, katanya. Saya memaksanya menerima selembar uang lima puluh ribuan. Ia tetap menolak.
Dia menyodorkan gelas plastik berisi cairan berwarna merah. “Minumlah. Anggur Merah ini. Murah harganya,” katanya lagi. Gelas itu berpindah ke tanganku, dalam sekali teguk isinya sudah habis. Aku menyeka sedikit cairan yang menetes dari sesela mulutku. Rasanya manis. Sudah lama aku tak meminum yang seperti ini, kataku pada lelaki tua itu. Dia berkata bahwa minuman itu bagus untuk kesehatannya. Aku tak membantahnya.
“Coba dengarkan detak jarum jamnya. Suaranya bagus sekali, jernih,” katanya. Kuikuti perintahnya. Lamat-lamat aku bisa mendengarnya, padahal jalanan riuh oleh kendaraan yang lewat. Aku mengenakan arloji itu di tangan kiriku. “Bagus, kan, suaranya?” ia bertanya. Aku mengangguk.
“Dulu, waktu kecil, saya pernah menemukan arloji milik tetangga yang jatuh di tumpukan kayu. Tetangga itu tak bisa menemukannya, padahal dia sudah dibantu anak dan istrinya. Mereka ribut sekali mencarinya, satu sama lain saling memberi perintah mencari di sana dan di situ, seperti orang yang kehilangan kalung emas 5 gram saja tingkahnya. Saat mereka semua sudah menyerah, saya mencarinya di tempat yang sama. Saya bisa menemukannya dengan mudah. Mereka keheranan kenapa saya bisa menemukannya. Mereka tak tahu rahasianya. Padahal mdah saja. Saat mereka sudah duduk terdiam karena kelelahan mencari, saya hanya perlu berjongkok di dekat tumpukan kayu itu, meminta mereka diam, lalu saya membuka lebar-lebar kedua telinga saya, lalu arloji itu dengan sendirinya mengatakan di mana dia bersembunyi melalui detak-detak suaranya yang terdengar jelas. Keheningan itu perlu, bukan?”
Aku menikmati ceritanya. Aku melihat wajah lelaki tua tukang arloji itu. Wajahnnya mendadak terlihat bijaksana, seperti seorang rahib di tengah kota. Saat aku berpamitan, ia mengedipkan mata kanannya sambil tersenyum yang rasanya kok sedikit genit. Lalu aku berpikir, sepertinya ia bukan seorang rahib, tapi seorang gay. Tapi jika keduanya benar pun itu tak jadi soal buatku.
Lalu ponselku bergetar lagi. Lagi-lagi pesan pendek dari Ahmet. Isinya pun pendek: “Carpediem!”
Jalanan masih panas kendati matahari mulai tergelincir ke barat. Para filsuf pasti sedang tidur siang!
Apakah waktu juga yang membuat tulisanmu makin mantap dan gagah?
hahahahha… seperti biasa..
bir, wanita, dan pemahaman yang gagah..
Mas Zen..
ini tulisan bagus2 banget. Boleh ndak, share sama aku biar bisa nulis yg bagus ?
professional time waster??
ouwww, menohok sekali..
Keheningan itu perlu, bukan?”
Lalu, suara kebenaran itu ada di mana? Aha, hanya perlu diam, tak perlu bicara, karena itu pekerjan filsuf. Ya, Diam.
Terima kasih Zen, Anda seorang filsuf yang baik.
tulisan2 di blog ini selalu mengasyikkan dan anda seperti menarik untuk dijadikan teman
,,salam kenal zen
Keren banget…
Am I too exaggerating that I guess that you are a journalist??
I bet yes…
Then, quite a nice writing, natural..
Bravo!
keheningan itu perlu, bukan?.
laik ndis, pak zen!!
It was cool! Sangat! Sederhana, tapi begitu menohok langsung ke ruang terdalam. Huh! Seandainya saya bisa seperti anda tuan, mungkin, hanya keheningan yang merelakannya…
arlojinya keren mas… lam kenal, ekspresi menunggu kunjunganmu