»

Baaria

Film — admin @ 6:56 am

– wajah sicilia dalam dua sinema

phpuciz2uam

Saya tidak tahu siapa lagi sineas selain Giuseppe Tornatore yang tak pernah kehabisan tenaga untuk lagi dan lagi menghadirkan kampung halamannya ke layar lebar. Setelah Malena, L’Umomo della Stelle dan dengan puncaknya yaitu Cinema Paradiso, Tornatore kembali datang membawa cerita tentang Sicilia, kampung halamannya, melalui film bertajuk Baaria, sebutan dalam dialek Sicilia untuk kota kecil Bagheria, kampung halaman Tornatore (secara etimologi, Bagheria berarti “…land that descends toward the sea”).

Jujur saja, bayangan saya tentang Sicilia sudah penuh dengan gambaran versi Tornatore seperti yang saya lihat melalui Malena, L’Umomo della Stelle dan terutama Cinema Paradiso. Film terakhir itu, bagi saya, bahkan sudah sangat penuh memberikan gambar-gambar tentang Sicilia. Sejujurnya, sekali lagi, saya tidak yakin masih ada ruang yang tersisa –bahkan bagi Tornatore sekali pun—untuk menampung gambaran baru tentang Sicilia.

Tornatore sendiri berdalih bahwa Baaria bukan hanya sekadar bicara tentang Sisilia. Katanya, “The film doesn’t want to be just about Sicily, Sicily, Sicily. The idea was to tell the life of a chorus of characters inside a microcosm, which is a village, where you hear continually the echo of everything is happening around you, the echo of everything that is happening far away.”

(more…)

Arloji

flaneur,meracau — admin @ 1:51 pm

– sophia loren ditusuk jarum siang-siang

Tepat tengah hari, aku meninggalkan rumah, jam 5 sore nanti aku berjanji menemui Ahmet di sebuah smoking room lantai 5 plaza terbesar di Jakarta. Masih banyak waktu, selalu ada waktu. Aku merogoh saku kanan jaketku. Arloji tua itu masih aman di situ. Ya, sebuah arloji yang tak hanya tua, tapi juga rusak. Aku berniat memperbaikinya. Ada beberapa tukang arloji di pasar, aku bisa mampir di sana sebentar.

Kakekku memberiku arloji itu dua puluh tahun lalu tak lama setelah ia pulang naik haji. Aneh sekali, ia menghadiahiku arloji. Jauh-jauh ke Arab Saudi, ia hanya membawa oleh-oleh arloji yang bisa dibeli di mana saja. Dulu aku berharap kakek akan memberiku fosil gigi geraham unta betina. Tapi itu tak mungkin. Akan janggal jika seorang jemaah haji sibuk mencari fosil geraham unta betina, kakek akan seperti Snouck Hurgronje yang ingin memecah belah umat unta.

Setiba di Pasar Minggu, jalanan terasa sangat panas. Jalanan sangat penuh, asap-asap knalpot mengembang dan saling rasuk dengan uap aspal lalu menjelma fatamorgana lalu menjadi bunga-bunga di udara, bunga-bunga di atas aspal. Metromini yang mangkal di tepi jalan berderetan sedemikian rupa seperti perahu-perahu tua yang ditambatkan di sungai yang dangkal dan keruh. Aku menyisiri jalanan dengan beberapa kali menyisiri sela-sela deretan metromini tua itu. Udara makin terasa pengap, suhu seperti melonjak tiba-tiba. Aku meraba arloji itu sekali lagi. Ia tak berdetak, tapi waktu tak peduli dengan gerak jarum jam. Aku tahu keduanya adalah hal yang berbeda.

(more…)

Omelet

flaneur,meracau — admin @ 9:17 am

– tentang pertengkaran yang sepele

Selepas kemacetan 2,45 jam itu, aku baru tiba di kediamanku pada pukul 11 malam. Satu jam sebelumnya aku masih duduk di Duck Bar, merenungkan ajaibnya kemacetan itu, juga menghabiskan 12 batang rokok, tiga shot Jhony Walker, dua shot Jim Beam dan satu shot Absolut Mandrin. Badanku cukup letih, tapi pikiranku masih jernih. Kepalaku sedikit berat, tapi aku sudah terbiasa menghadapinya. Mandi sudah cukup membuat kepalaku bisa sedikit ringan.

Aku langsung duduk di sofa. Menyandar. Aku membuka pakaianku dan melemparkannya ke keranjang pakaian kotor di pojok. Telanjang. Kunyalakan televisi. Kuperiksa menu program di semua channel malam itu dengan menekan beberapa tombol. Aku memilih channel 18, channel MGM. Sebuah film lama yang dibintangi Jack Nicholson muncul. Five Easy Pieces, judulnya. Aku sudah menontonnya dua kali, tapi aku suka scene pertengkaran Robert Dupea yang diperankan Nicholson dengan seorang pelayan restoran. Pertengkaran remeh temeh tentang menu makanan. Aku tatap layar televisi. Scene favoritku itu masih akan muncul 5 menit lagi. Volume televisi kubesarkan.

Aku beranjak ke kamar mandi. Shower kubuka. Air dingin memancur ke tubuhku. Kubiarkan selama satu menit, lalu mulai mengambil sabun cair, lalu menggosok tubuhku selama 1,5 menit. Lalu aku buka lagi kran shower, air memancur dan jatuh, busa-busa jatuh, beberapa daki mungkin juga ikut jatuh, lalu semuanya mengalir ke lobang kecil di sudut, lalu turun ke sebuah pipa, lalu berkumpul di sebuah bak penampung, lalu mengalir lagi menuju saluran pembuangan, lalu sisanya biarlah jadi urusan pemerintah kota. Aku ingat scene favorit dari Five Easy Pieces. Aku tutup kran shower, aku dengarkan suara televisi. Lima detik, sepuluh detik, 37 detik… lalu terdengar pertengkaran itu:

(more…)

Macet

flaneur,meracau — admin @ 10:59 am

– sebuah dunia bernama kemacetan

Dunia tak lebih dari serangkaian kemacetan. Jika semua lancar, apa menariknya dunia dan hidup ini, bukan?

Kota-kota di abad pertengahan Eropa selalu dibangun menyerupai benteng dengan gerbang-gerbang yang dijaga. Aku sering melihat gerbang selamat datang di kota-kota yang kusambangi, selalu saja dipenuhi ucapan Selamat Datang di Kota Anu. Tapi kupikir itu bukan gerbang, lebih mirip basa basi yang tidak jelas. Mungkin para perencana kota itu terlalu banyak menerima undangan pernikahan yang penuh basa basi dan omong kosong. Tapi bukankah undangan pernikahan tak pernah dibaca, paling banter hanya dibaca tanggal dan tempatnya saja? Tapi seperti itu, bukan, gerbang-gerbang selamat datang yang dibuat pemerintah kota? Siapa yang peduli?

Tapi kota ini tak berbasa-basi dengan dirinya. Dia sodorkan kemacetan sebagai pintu gerbangnya. Siapa yang bisa melewati kemacetan demi kemacetan setiap harinya, dia punya kesempatan hidup di kota ini dengan sedikit lebih waras. Lebih waras? Ya, kenapa memangnya?

(more…)

Halte

flaneur,meracau — admin @ 7:21 am

– saat situasi mengunci

Hujan deras, jalanan mulai tergenang. Sudah dua bus lewat, tapi aku masih duduk di bangku sebuah halte. Lalu seorang perempuan muda, kutaksir usianya tak lebih dari 25 tahun, muncul dengan blues yang sedikit basah. Ia duduk di sebelahku, satu-satunya tempat yang tersisa.

Hujan deras, jalanan mulai tergenang. Dia menoleh dan tanpa basa-basi langsung bertanya: “Pernah nonton film Bus Stop?” Aku menatap wajahnya sebentar, lalu mengeleng. “Ah, sayang sekali. Mau kuputarkan? Ada di laptopku. Batrei laptopku cukup untuk memutarnya sampai habis. Cuma 96 menit, kok,” katanya lagi. Aku menatap wajahnya lagi, lalu menggeleng. “Kamu tidak tahu, ya, kalau Monroe binal sekali di film itu?” tanyanya lagi. Aku menatap wajahnya sekali lagi, lalu menggeleng.

Ia tampaknya kesal dengan sikapku, tapi aku juga tak kalah sebal. Ia datang tiba-tiba, bertanya sesuatu, bertanya lagi dan lagi, juga menawarkan sesuatu yang aneh: menonton film di laptop di sebuah halte saat hujan deras dan jalanan mulai tergenang.

(more…)

Peta

flaneur,meracau — admin @ 8:11 am

–jalanan yang tak sepenuhnya bisa ditaklukkan

Ahmet tak pernah terlambat, tapi juga tak pernah datang lebih cepat. Ia selalu tepat waktu dalam pengertiannya yang paling harafiah. Sekali waktu ia pernah datang lima menit lebih cepat. Ia beralasan: tukang arloji yang memperbaiki arloji miliknya salah menyetem waktu. Aku bilang padanya, kalau dia sudah tak butuh lagi arloji, karena waktu sudah bekerja secara mekanis di tubuhnya. Kalau begitu, katanya padaku, belikan aku peta. Kenapa, tanyaku. Jawabnya, dia lebih sering kehabisan waktu karena tak tahu jalan pintas, jalan-jalan tikus, gang-gang kecil yang membuatnya bisa meloloskan diri dari kemacetan.

Lalu kami membicarakan soal jalan-jalan tikus, dan kenapa hewan tikus yang digunakan sebagai metafora. Ia bilang, karena tikus bisa bikin jalan sendiri. Kataku, tikus memang bisa bikin jalan sendiri, tapi ia butuh waktu untuk mengerat sebilah kayu, dan kau pasti terlambat kalau harus jadi tikus lebih dulu. Dia lalu bilang, kalau dia menjadi tikus maka dia akan menjadi tikus yang tak akan pernah terlambat. Aku bilang, kalau dia memang menjadi tikus, maka aku akan menembaknya sehingga dia akan terlambat selamanya. Dia membantah, mati tidak akan membuatnya terlambat, mati hanya akan membuatnya tak perlu menghadiri rapat. Aku bilang lagi, tikus tak pernah rapat. Dia membantah dan bilang kalau tikus memang tak kenal rapat tapi mereka tahu caranya bermufakat. Aku lalu bertanya apakah permufakatan tikus adalah selalu permufakatan jahat. Dia menjawab, biasanya begitu. Lalu kami sepakat bahwa kami sudah menemukan jawaban kenapa ada istilah tikus-tikus berdasi.

Kami saling memandang, lalu tertawa terbahak-bahak saat sadar aku dan Ahmet sama-sama sedang berdasi.

(more…)

Trotoar

flaneur,meracau — admin @ 12:13 pm

– “sidewalk is life,” kata jack kerouac

Masih ada waktu, selalu ada waktu buatku. Satu jam lagi aku baru akan menemui Ahmet. Aku pun memilih tidak tergesa-gesa, berjalan pelahan, di atas trotoar yang disusun oleh pavingblock berbentuk segilima yang disusun sedemikian rupa, memanjang sampai jauh, sampai kelokan di depan sana, dan setelah kelokan itu pun trotoar mungkin masih akan memanjang, sampai jauh lagi, sampai kelokan berikutnya lagi, dan lagi, dan lagi….

Di mana sebenarnya awal dan akhir sebuah trotoar?

Beberapa tahun lalu, saat masih tinggal di kota kecil di timur sana, aku sering duduk-duduk di salah satu lajur trotoar. Letaknya di ujung sebuah jalan paling terkenal di kota itu. Di sepanjang lajur itu, ada banyak bangunan tua, toko-toko tua, bioskop tua, istana tua dan sebuah benteng tua yang temboknya sudah disulap menjadi parade diorama. Orang-orang lewat di depanku, anak-anak sekolah yang sedang berdarmawisata, turis-turis asing berperut gendut dengan brosur perjalanan di tangan kiri dan kamera di tangan kanan.

Aku masih ingat, seorang turis tua, juga berperut gendut dan pipi yang penuh, menghampiriku yang sedang selonjoran kaki sedemikian rupa sehingga melintang di trotoar selebar 3 meter. Aku sudah lupa kenapa saat itu aku selonjor melintangkan kaki, mungkin saat itu kakiku merasa pegal karena berjalan cukup jauh, tapi aku tak yakin dengan ingatanku. Turis itu berdiri sebentar beberapa langkah dari posisiku duduk selonjor. Ia menatap kakiku, lalu melihat wajahku. Aku tengadah melihatnya. Mataku sedikit kugerakkan sedemikian rupa, semacam isyarat bertanya tentang apa yang sedang dilakukan dan dia pikirkan.

“History goes on the asphalt, get off the sidewalk, Son.” Ia mengucapkan kalimat itu sambil berlalu begitu saja.

(more…)

Suara

flaneur,meracau — admin @ 2:38 pm

– bising di dada, bising di telinga dan kota-kota

Tak lama lagi aku akan tiba di stasiun tujuan. Gerbong KRL kelas ekomoni yang kutumpangi sudah mulai kosong. Mata sedikit lebih lega melihat sekeliling, tapi belum tentu telinga bisa lebih lega, karena telinga dan mata menangkap objek-objek yang berbeda. Itu sebabnya, saat mata mulai lega karena gerbong terasa makin lapang, telingaku justru merasa sesak.

Dari arah kanan, tiga orang pengamen mulai melakukan agresi suara dengan tabuhan drum minimalis yang cempreng, cabikan gitar yang tak jelas kuncinya, dan suara penyanyi yang lebih mirip berteriak ketimbang bersenandung. Dari arah kiri, dua orang waria juga mengamen, tapi keduanya hanya berbekal kecrek yang terbuat dari beberapa tutup botol yang dipasang di sebuah bilah kayu yang pendek. Sebetulnya ini bukan hal baru, cukup sering aku mengalaminya, tapi entah kenapa kali ini suara dari dua rombongan pengamen itu terasa lebih bising dari biasanya.

Itu sebabnya pula aku merasa sangat tidak nyaman. Berada di tengah-tengah dari dua agresi suara itu membuat telingaku terasa seperti daging yang dijepit dua bilah roti yang sudah kadaluwarsa. Walau pun ditodong oleh pisau yang berkarat sekali pun, tak akan kukasih mereka uang recehan. Aku merasa tidak solider pada telingaku sendiri jika masih juga memberi mereka uang recehan. Kadang, mendengar keluhan dan keberatan anggota tubuh sendiri membuatku merasa lebih aman dan tenang, seakan-akan aku memiliki sahabat yang baik dan akrab, di saat orang-orang di sekeliling seringkali menyerbu dengan beragam cara, termasuk dengan mengamen yang keluaran suaranya lebih mirip agresi militer yang tak pernah terduga.

Dalam situasi macam ini, kupikir tak akan pernah ada pengamen yang bagus, semuanya buruk dan jelek.

(more…)

Kelebat

flaneur,meracau — admin @ 12:33 am

– lalu lalang pikiran di simpang urban

Setiap kota punya kekuatan dan kebusukannya sendiri-sendiri, tapi aku merasa bisa tinggal di mana saja dengan mudah. Dengan sedikit usaha dan keberuntungan, aku bisa langsung betah dengan sebuah kota.

Aku berpikir seperti itu saat sedang berada di sebuah gerbong KRL kelas ekonomi. Seperti biasa, aku berdiri, tak kebagian tempat duduk, tak pernah kebagian tempat duduk. Seorang teman yang sehari-hari berangkat dan pulang kerja dengan KRL pernah berkata kalau tempat duduk di KRL kelas ekonomi jauh lebih mahal daripada tempat duduk di kereta eksekutif.

Kupikir itu ada benarnya. Di tas kecilku tersimpan uang cukup banyak, lebih banyak dari selembar tiket kereta eksekutif atau tiket kelas bisnis pesawat terbang, tapi tetap saja aku berdiri di dekat bordes, titik persambungan antar gerbong. Tempat duduk di KRL bukanlah perkara seberapa kau punya uang, tapi seberapa jauh rumahmu dari pusat kota. Makin jauh akan makin besar kemungkinan kau kebagian tempat duduk.

(more…)

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-Noncommercial-Share Alike 3.0 Unported License.
(c) 2012 nasib adalah kesunyian masing-masing | powered by WordPress with Barecity