Baaria
– wajah sicilia dalam dua sinema

Saya tidak tahu siapa lagi sineas selain Giuseppe Tornatore yang tak pernah kehabisan tenaga untuk lagi dan lagi menghadirkan kampung halamannya ke layar lebar. Setelah Malena, L’Umomo della Stelle dan dengan puncaknya yaitu Cinema Paradiso, Tornatore kembali datang membawa cerita tentang Sicilia, kampung halamannya, melalui film bertajuk Baaria, sebutan dalam dialek Sicilia untuk kota kecil Bagheria, kampung halaman Tornatore (secara etimologi, Bagheria berarti “…land that descends toward the sea”).
Jujur saja, bayangan saya tentang Sicilia sudah penuh dengan gambaran versi Tornatore seperti yang saya lihat melalui Malena, L’Umomo della Stelle dan terutama Cinema Paradiso. Film terakhir itu, bagi saya, bahkan sudah sangat penuh memberikan gambar-gambar tentang Sicilia. Sejujurnya, sekali lagi, saya tidak yakin masih ada ruang yang tersisa –bahkan bagi Tornatore sekali pun—untuk menampung gambaran baru tentang Sicilia.
Tornatore sendiri berdalih bahwa Baaria bukan hanya sekadar bicara tentang Sisilia. Katanya, “The film doesn’t want to be just about Sicily, Sicily, Sicily. The idea was to tell the life of a chorus of characters inside a microcosm, which is a village, where you hear continually the echo of everything is happening around you, the echo of everything that is happening far away.”