Langendriyan

– damar wulan, juga mei lanfang

blangkon-terakhirSaat menonton film Forever Enthralled karya Chen Kaige tentang pergulatan hidup legenda opera Peking (jingju), Mei Lanfang, saya teringat Cerita Panji atau “novel” Virginia Woolf berjudul Orlando: semuanya perihal laki-laki yang “menjadi” perempuan.

Tapi Mei Lanfang bukan Dewi Sekartaji dalam Cerita Panji atau Vita Sackville-West dalam “novel” Orlando. Mei adalah seorang “aktor” yang sepanjang hidupnya selalu memerankan tokoh perempuan.

Seorang Bertolt Brecht, yang pernah melihat pertunjukan Mei dan sempat pula bersahabat dengannya, menulis sebuah esai “Allienation Effect in Chinesse Acting” yang menguraikan tentang Verfremdungseffekt atau allienation effect.

Esai yang ditulis setelah mengamati akting dan kehidupan sehari-hari Mei itu kurang lebih memaparkan betapa opera Cina secara tradisi punya kesadaran kuat bahwa antara panggung dan penonton itu mesti dipisahkan. Efek-efek alienasi, dengan demikian, ialah sebentuk teknik untuk menjaga agar penonton terhindar dari penyerapan diri secara penuh ke dalam karakter-karakter yang diciptakan aktor dari atas panggung –dan dari situ penonton bisa tetap menjadi pengamat yang kritis.

Brecht menyelami jingju langsung dengan mengamati eksemplar yang terbaik, sang maestro: Mei Lanfang. Ia pujaan rakyat Beijing yang memang sangat menggilai jingju. Karena percaya bahwa “Cina tidak akan mati selama jingju masih terus hidup” –dan Jingju saat itu adalah Mei Lanfang—maka militer-fasis Jepang yang sedang menduduki Cina merasa penting untuk memaksa Mei Lanfang kembali naik panggung untuk merayakan keberhasilan Jepang menduduki Cina. Pendeknya: Jepang berharap bisa menaklukkan penduduk Beijing dengan menaklukkan Mei Lanfang, “Sang Mata-hati Beijing”.

Saya sendiri masih belum begitu bisa menikmati jingju. Saya masih belum mengerti kenapa para aktor jingju seringkali menyanyi dengan suara tipis mendekati –dalam istilah sehari-hari di sini—“cempreng”.

Jawa “punya” Mei Lanfang-nya sendiri. Dari sekian banyak genre seni pertunjukkan yang lahir dari rahim Jawa, tersebutlah apa yang dinamakan “langendriyan”. Seperti halnya jingju, langendriyan adalah seni pertunjukkan yang menggabungkan tari dan lagu. Tidak seperti wayang orang yang menghadirkan dialog, percakapan dalam langendriyan dihadirkan melalui tembang. Itu sebabnya, langendriyan sering disebut sebagai opera Jawa.

Jika Mei Lanfang adalah laki-laki yang memerankan karakter perempuan, para aktor-penembang dalam langendriyan adalah perempuan yang (harus) memerankan laki-laki. Aktor-penembang langendriyan semuanya adalah perempuan, sehingga karakter laki-laki pun mesti dimainkan oleh perempuan.

diajeng-blangkon11Langendriyan lahir dari Surakarta, persisnya dari lingkungan Mangkunegara, tapi bukan dari dalam benteng Pura Mangkunegara. Ia lahir dari luar tembok, mula-mula diciptakan oleh Raden Mas Arya Tandhakusuma, atas inisiatif seorang bule juragan batik bernama Von Gottlieb yang ingin mempersembahkan sesuatu kepada Mangkunegara IV. Para pemerannya: perempuan-perempuan yang bekerja sebagai pembatik. Terkesan dengan pertunjukkan Langendriyan, Mangkunegara IV mengambil-alih inisiatif Von Gottlieb dengan menjadikan Langendriyan sebagai kesenian istana.

Karya agung Raden Mas Arya Tandhakusuma itu kelak terkenal dengan nama Langendriyan Mandraswara atau Langendriyan Mangkunegara yang menuturkan kisah Damar Wulan yang mesti menghadapi Adipati Menak Jinggo untuk menyelamatkan Majapahit. Sepanjang abad 20, Langendriyan Mandraswara hanya dipentaskan dua kali: pada 1941 dan 1982.

Lalu, kapan kamu akan memerankan Damar Wulan? Bukankah sudah ada kumis tipis di atas bibirmu? Tapi jangan minta saya jadi Kencono Wungu kendati kaki saya memang tidak berbulu :D

Printed from: http://pejalanjauh.com/2010/03/langendriyan/ .
© Pejalanjauh 2010.

4 Comments   »

  1. nothing says:

    mas zen menjadi sang damar wulan yang tampan….hihihi, cocok wis

    [Reply]

  2. haris says:

    bar nari striptis kok melu langendriyan to zen. drastis. hi3.

    [Reply]

  3. sandal says:

    Baru tahu mengenai kesenian langendriyan ini, kebalikan dari ludruk dan kabuki ya..

    [Reply]

  4. yasufsamad says:

    UHHHHHG Seru bangat Q jd T’haru…….

    [Reply]

RSS feed for comments on this post , TrackBack URI

Leave a Comment