»

Bakar

biografi — admin @ 10:34 pm

– sutradara yang membakar filmnya sendiri

membakar-film

Djamaluddin Malik? Siapa dia Anda bisa mencarinya dengan relatif mudah melalui google. Yang jelas jangan tertukar dengan Djamaluddin Tamin-nya Tan Malaka.

Oleh SM Ardan, dalam artikel berjudul Tiga Pendekar Film Indonesia yang tayang di Media Indonesia [4 Februari 1996), dia bersama Usmar Ismail disebut sebagai "Dwi Tunggal Perfilman Indonesia".

Salah satu artikel paling menarik mengenai Djamaluddin Malik pernah ditulis oleh Asrul Sani pada tahun 1987. Artikel berjudul Perfini, Pemula Film Nasional itu penting untuk saya ketik ulang beberapa paragrafnya di sini, karena bisa memberikan latar foto di atas.

Begini tulis Asrul:

"Caranya [baca: Djamaluddin Malik] memimpin perusahaannya –PERSARI– sesuai dengan sifatnya yang merupakan sifat show man sejati, lebih banyak improvisasi daripada perencanaan yang matang. Ia pernah menyetujui penyutradaraan sebuah film untuk diserahkan pada seorang tokoh tua –seorang pemain– dalam lingkungan perusahaannya.

Tapi setelah film itu selesai, dan setelah ia berkesempatan menontonnya di show room-nya, ia mengumpulkan karyawan dan pemainnya di depan studio, lalu memerintahkan orang untuk menumpuk positif dan negatif yang baru saja ia tonton itu, lalu menyuruh orang membakar tumpukan film tersebut dengan kata pengantar: Hari ini kita berkumpul di sini untuk membakar sebuah film, sebagai pernyataan bahwa kita tidak akan membuat film (dengan kualitas seburuk) ini lagi.”

Begitulah cerita di balik pembakaran film Hampir Malam di Djokdja, yang fotonya bisa Anda lihat di atas itu. Orang boleh menganggap polah macam itu sebagai apa saja: sensor diri yang naif atau kendali mutu yang berlebihan atau apa saja….

Terus terang, saya ingin mengirim foto di atas, juga artikel Asrul tadi, ke produser-produser film yang memproduksi Suster Keramas dan yang sejenisnya. Ada yang bisa membantu?

Oya, sekadar informasi, film Hantu Puncak Datang Bulan sudah ganti judul menjadi Dendam Pocong Mupeng. Hihihi….

———————————————————-
*foto di atas tayang di majalah Aneka, No. 19 Th. IV, 1 September 1953.

7 Comments »

  1. hohoho…. kok aneh ya…. moody banget

    Comment by kw — 2010/03/17 @ 5:59 am
  2. Tapi Suster Keramas atau Dendam Pocong Mupeng kan lebih mahal dari Rp. 300.000, sayang kalau dibakar :D

    Comment by pall — 2010/03/17 @ 5:40 pm
  3. lho masalah banyak penonton menyukai pelem pocong masturbasi & sejenisnya kan bukan pada hal estetika seni atau perfilman belaka, tapi pada masalah preferensi, jadi ga mungkin produser/sutradara membakarnya :P

    Comment by hedi — 2010/03/18 @ 10:54 am
  4. Payah payah melihat film indonesia hari ini… jeleknya minta ampun!

    Comment by BJ — 2010/03/30 @ 3:14 pm
  5. Sesekali, ingin juga saya (cuma berani) membayangkan saya membakar karya-karya sendiri. Blog yang asik. Sepertinya saya pernah mampir ke sini juga yang entah kapan. Salam kenal!

    Comment by Roy Thaniago — 2010/04/03 @ 2:25 pm
  6. lah,fotonya mana???

    Comment by bayu — 2010/10/08 @ 2:25 pm
  7. Mengulang pertanyaan di atas, “lah,fotonya mana???”

    Comment by Rex — 2010/11/19 @ 11:15 am

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-Noncommercial-Share Alike 3.0 Unported License.
(c) 2012 nasib adalah kesunyian masing-masing | powered by WordPress with Barecity