– tentang sudut pandang kejadian
Apa sesungguhnya yang membuat seseorang bisa menjadi karib yang sangat baik, seseorang yang lain jadi orang yang tak begitu kita sukai atau bahkan kita benci? Kebaikan hati? Ketulusan? Pertolongan yang tulus? Pengkhianatan dan kebohongan? Atau apa?
Kenangan seorang prajurit Amerika yang harus baku bunuh dengan tentara Jerman di daratan Eropa pada Perang Dunia II sedikit banyak menjelaskan bagaimana latar tertentu membuat seseorang mesti bermusuhan atau bersahabat dengan seseorang yang lain.
Saya lupa siapa prajurit itu, tapi seperti yang saya saksikan dari serial Band of Brothers, ia kurang lebih berkata: “Mereka (para tentara Jerman itu) dalam banyak hal sama seperti kami. Mereka mungkin senang memancing atau berburu. Tapi mereka melakukan apa yang diperintahkan, seperti halnya saya melakukan apa yang diperintahkan. Dalam situasi yang berbeda, kami mungkin bisa saling bersahabat.”
(more…)
– sutradara yang membakar filmnya sendiri

Djamaluddin Malik? Siapa dia Anda bisa mencarinya dengan relatif mudah melalui google. Yang jelas jangan tertukar dengan Djamaluddin Tamin-nya Tan Malaka.
Oleh SM Ardan, dalam artikel berjudul Tiga Pendekar Film Indonesia yang tayang di Media Indonesia [4 Februari 1996), dia bersama Usmar Ismail disebut sebagai “Dwi Tunggal Perfilman Indonesia”.
Salah satu artikel paling menarik mengenai Djamaluddin Malik pernah ditulis oleh Asrul Sani pada tahun 1987. Artikel berjudul Perfini, Pemula Film Nasional itu penting untuk saya ketik ulang beberapa paragrafnya di sini, karena bisa memberikan latar foto di atas.
Begini tulis Asrul:
(more…)
– damar wulan, juga mei lanfang
Saat menonton film Forever Enthralled karya Chen Kaige tentang pergulatan hidup legenda opera Peking (jingju), Mei Lanfang, saya teringat Cerita Panji atau “novel” Virginia Woolf berjudul Orlando: semuanya perihal laki-laki yang “menjadi” perempuan.
Tapi Mei Lanfang bukan Dewi Sekartaji dalam Cerita Panji atau Vita Sackville-West dalam “novel” Orlando. Mei adalah seorang “aktor” yang sepanjang hidupnya selalu memerankan tokoh perempuan.
Seorang Bertolt Brecht, yang pernah melihat pertunjukan Mei dan sempat pula bersahabat dengannya, menulis sebuah esai “Allienation Effect in Chinesse Acting” yang menguraikan tentang Verfremdungseffekt atau allienation effect.
Esai yang ditulis setelah mengamati akting dan kehidupan sehari-hari Mei itu kurang lebih memaparkan betapa opera Cina secara tradisi punya kesadaran kuat bahwa antara panggung dan penonton itu mesti dipisahkan. Efek-efek alienasi, dengan demikian, ialah sebentuk teknik untuk menjaga agar penonton terhindar dari penyerapan diri secara penuh ke dalam karakter-karakter yang diciptakan aktor dari atas panggung –dan dari situ penonton bisa tetap menjadi pengamat yang kritis.
(more…)