»

Sexy

flaneur — admin @ 3:20 pm

– tarian tanpa koreografi

Setelah pertunjukan selesai dan berganti pakaian di kamar ganti, ia menemui saya yang duduk di dekat meja bartender. Dengan senyum terkembang, ia meminta komentar untuk tariannya. Aku acungkan jempol. “Bagus. Gerakanmu mantap, gak ada kesan ragu.”

Thank you. Menurutmu gerakanku tadi sudah cukup menggoda?” Saya bilang padanya, “Tahu gak, pas kamu menari di sesi kedua, ada cowok yang sempat berpantun gini: ‘Minum cendol pake susu, yang bondol bikin nafsu’.”

Sembari tertawa dan merapikan rambutnya yang memang pendek [bondol], ia lagi-lagi bilang ‘thank you‘. “Kebanyakan ‘thank you‘, ah! Kamu bukan Alice dan aku bukan Larry,” kataku sedikit mengomel.

Alice dan Larry adalah dua dari empat karakter utama “Closer”, film besutan Mike Nichols yang mengisahkan kisah cinta segi empat yang rumit. Pada salah satu fragmen, Alice [diperankan oleh Natalie Portman] menari striptease untuk Larry [diperankan Clive Owen] di private room sebuah klub malam. Saat itulah berkali-kali Larry menanyakan banyak hal intim pada Alice. Berkali-kali pula Alice menjawabnya dengan didahului kalimat ‘thank you‘.

“Closer” memang bukan film tentang sexy dancing atau para stripper. Goyangan Portman juga tak seheboh Salma Hayek di film “From Dusk Till Down” atau Jamie Lee Curtis dalam film “True Lies”. Periode di mana Alice bekerja sebagai stripper dan adegan percakapan saat Alice menari stripper untuk Larry menegaskan betapa “Closer” ingin menghadirkan cinta, seks, dan sensualitas bukan hanya sebagai laku yang dipraktikkan, tapi juga untuk dibicarakan secara terbuka, dengan emosi yang naik turun, juga hasrat yang menggebu. Percakapan panjang tentang semua itu membuat segala naluri, hasrat dan ketakutan yang terpendam terungkai ke permukaan.

Kami berdua sama-sama sudah menonton “Closer”. Saat ia melontarkan ide untuk mencoba sexy dancing, kami langsung terlibat percakapan yang intim, detail, panas, dan –harus juga diakui– eksploratif. Saya bilang ini pengalaman baru. Saya memang terbuka pada pengalaman baru, tapi saya tak tahu apakah ekperimentasi macam ini bisa disikapi dengan rileks. Belum terbayangkan melihatnya menari dengan pakaian minim di depan puluhan orang yang mengoceh macam-macam.

“Itu justru pengalaman yang dicari. Menari untuk sesuatu yang bisa dibilang ‘mesum dan kotor’, dikomentari ocehan-ocehan nakal. Sepertinya seksi dibayar untuk tarian yang tak dinilai koreografinya, tapi dilihat erotis atau tidak, membangkitkan gairah atau tidak,” katanya. Percakapan berlangsung kian seru, diselingi menonton video-video sexy dancing yang diunggah di youtube.

Setelah menggeluti ragam tarian tradisi, dari tari kecak sampai serimpi, dilanjutkan dengan dansa, tango, salsa, waltz sampai balet, sexy dancing mungkin akan mendatangkan pengertian baru tentang gerak dan tubuh. Tahun depan ia berencana bergabung dengan sebuah komunitas terkenal yang sering mementaskan tarian kontemporer. “Sebelum ‘naik kelas’ membawakan koreografi yang serius, saya ingin merasakan pengalaman di mana tubuh menjadi banal, mungkin juga murahan,” jelasnya lagi.

Kami lantas membuat kesepakatan kecil, seperti tarian tak dilakukan di private room. Dengan bantuan koleganya, akhirnya ia bisa mendapatkan apa yang diinginkan. Tempat, waktu, jam sampai besaran fee sudah bisa dipastikan. Ia akan menari dua kali, pada jam 1 malam dan jam 2 malam. Tiap sesi berlangsung 15-20 menit.

Beberapa hari sebelum hari-H, kami tak pernah membicarakan hal itu lagi. Pendeknya, lihat saja nanti, deh. Saya juga akan pergi seorang diri. Di sana, kami akan pura-pura tak saling mengenal. Saya akan memposisikan diri sebagai pengunjung biasa, yang akan memelototi liukan tubuhnya sebagaimana para pengunjung lain melihatnya.

Pada hari-H, saya tiba di sana pukul setengah satu malam. Sengaja saya menempati kursi yang merapat dengan meja bartender. Suasana pub sudah sangat ramai. Tepat pukul 1, dia keluar dari kamar ganti bersama dua rekannya. Sesi pertama pun dimulai. Tak banyak yang menarik dari sesi ini. Dia harus menari di tempat yang cukup jauh dari tempat saya duduk. Pandangan saya tak mampu menjangkaunya dengan jelas. Saya berharap sesi pertama bisa lekas selesai.

Pada sesi kedua yang dimulai pukul 02.10, semua berjalan sesuai skenario. Dia menari tak jauh dari tempat saya duduk. Jaraknya tak sampai 1,5 meter. Berbeda dengan sesi pertama, lingerie hitam yang dikenakannya tampak transparan di bagian perut ke bawah. Tato kupu-kupu di bawah pusarnya sesekali terlihat jelas. Ia tampak kontras karena rambutnya yang pendek, sementara dua penari lain berambut panjang.

Sesi kedua dimulai tepat saat saya menandaskan satu shot Jhony Walker. Diiringi dentuman musik Desert Rose-nya Sting yang di-remix, lima menit pertama ia menari dengan gerakan yang lembut dan halus. Lima menit kedua gerakannya semakin cepat dan liar, seiring musik yang beat-nya juga semakin ngebut. Ia sama sekali tak menolah ke arah saya. Kurang ajar betul. Bibirnya sesekali tersenyum menanggapi ocehan para pengunjung yang mengoceh-oceh tak jelas.

Lima menit terakhir berlangsung lebih seru. Gerakannya lebih variatif, paduan antara kecepatan yang liar, gerak menggoyangkan dada yang cepat, liukan pinggung yang halus, ditingkahi gerak setengah split yang membuat bagian pusar ke bawahnya menyorong ke depan.

Seorang pengunjung perempuan setengah berteriak berucap: “I’m so horny.”

Teman-temannya tertawa terbahak. Seorang lelaki tampak mendekatkan wajahnya ke arah kaki-kakinya. Ia menggerak-gerakkan tangannya seolah-olah sedang mengelus-elus betisnya. Saat itulah, sembari mendongakkan wajahnya, ia berpantun: “Minum cendol pake susu, yang bondol bikin nafsu.”

Begini rasanya menyaksikan pasangan sendiri menari dengan pakaian minim di hadapan banyak orang, macam ini ternyata suasananya mendengar orang-orang mengocehi penampilan seksi pasangan sendiri. Ada emosi yang terasa khas, seperti paduan rasa jengkel dan gairah yang tiba-tiba mencuat.

Entah sejak kapan tapak kaki kanan saya mengetuk-ngetuk lantai. Saya mulai menikmatinya. Saya berdiri dari kursi dan mulai menggoyangkan badan. Dia menyadari pergerakan saya. Badannya sedikit diputar sehingga mengarah tepat ke muka saya. Saya berteriak padanya: “Aw aw aw….” Itu membuatnya lebih bersemangat.

Menit-menit terakhir diisinya dengan gerakan tak teratur dengan ritme yang sangat cepat. Kian cepat. Makin cepat. Tampak jelas keringat di tubuhnya. Lingerie-nya sudah sangat basah. Tapi ia tak tampak lelah. Saat lighting menyorot tepat ke tubuhnya selama setengah menit, gerakanya makin dahsyat. Tato kupu-kupu hitam di bawah pusarnya tampak sangat jelas. Lengannya yang ditumbuhi bulu-bulu halus dan lebat membuat beberapa pengunjung yang tak terlalu jauh dari posisinya kian seru mengoceh.

Sekali lagi ia sempat melirik ke arah saya. Lirikan itu terasa asing, tanpa keakraban. Tapi itu membuat tatapan saya bisa menghunjam dengan tak kalah asingnya. Tiap kali menatap tubuhnya saya merasakannya sebagai penjelajahan yang eksploitatitf seorang asing kepada orang asing yang lain tanpa harus diimbuhi perasaan-perasaan sentimentil yang akrab. Saya merasa, saat ia melirik tadi, ia sedang mengucapkan kalimat pendek yang juga diucapkan Alice di adegan pembuka film “Closer”: Hello stranger….

Sekali lagi, ada sedikit rasa asing juga imaji keberjarakan. Ia memukau, tapi selama sedang menari ia tak terjangkau, berjarak. Tapi bahwa setelah ini kami bisa menghabiskan sisa malam berdua membuat rasa asing dan imaji keberjarakan ini seperti sebuah foreplay yang tak biasa.

Pukul 02.40, ia sudah keluar dari kamar ganti dan menemui saya yang masih duduk di kursi yang merapat dengan meja bartender. Berkali-kali ia mengucapkan “thank you” untuk komentar yang saya berikan atas penampilannya barusan. Formil betul, batin saya. Keakraban rupanya belum lagi tumbuh. Masih ada sisa jarak yang belum sepenuhnya terpangkas.

Setelah membayar minuman terakhir, saya mengajaknya pergi. Di lift, tampak jelas keringatnya masih tersisa. Aku membisikkan sesuatu ke telinganya. Ia tertawa. Sembari mengedipkan mata, ia berkata: “Bakal lebih seru kalau berikutnya menari telanjang. Gimana menurutmu?”

Hmmm… itu pertanyaan berbeda, dengan jawaban dan cerita yang juga berbeda.

————————–
* Naskah ini tayang pertama kali di U-Mag, edisi Januari 2010.

10 Comments »

  1. hohoho. imaji yang liar. keren dab!

    Comment by bangsari — 2010/02/23 @ 1:18 am
  2. It’s horny dancing not sexy dancing ;)

    your post is cool,
    you’re cool, and so your girl. Good luck you both.

    God bless

    Comment by patrice — 2010/02/23 @ 3:07 am
  3. dadi pengen ndelok wadon njoget

    Comment by nothing — 2010/02/23 @ 12:58 pm
  4. lha foto2ne mana zen? kok gak dibagikan? jangan2 di U Magz ada fotonya ya? hi3. :D

    Comment by haris — 2010/02/23 @ 1:24 pm
  5. salam untuk tato kupu-kupu. :)

    Comment by antyo rentjoko — 2010/02/23 @ 10:08 pm
  6. mantebh tok :)

    Comment by didut — 2010/02/24 @ 9:33 am
  7. hahah,, jujur.. saya penasaran :)

    Comment by ardianzzz — 2010/03/05 @ 7:54 am
  8. wah, si zen ki, wangun tenan. aku tau tuh siapa orgnya, hehehehe. kok ra tau ngetok di vetran maneh?

    -Salam Gombal’s-

    Comment by Gombal's — 2010/03/12 @ 9:47 am
  9. sebagai pengalaman, aku setuju. tapi janganlah si kupu2 itu menari sensual hanya utk merasakan sensasi legitimasi hehehe

    Comment by hedi — 2010/03/18 @ 11:06 am
  10. it’s an experiment that pushed the limit.
    and it takes more than merely guts to do so.

    i definitely won’t choose what the girl had chosen,
    yet i respect the choice she once made.

    semua orang punya cara masing2 untuk bikin hidupnya lebih hidup, kan?

    Comment by orang biasa — 2010/05/31 @ 10:09 pm

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-Noncommercial-Share Alike 3.0 Unported License.
(c) 2012 nasib adalah kesunyian masing-masing | powered by WordPress with Barecity