Safa

– akhir pekan dengan toga #2

safa-blog21

Martha Graham mengantarkan perempuan ini menjadi seorang sejarawan dengan spesialisasi sejarah seni, khususnya seni pertunjukan.

Martha Graham, penari sekaligus koreografer Amerika, singgah di Jawa pertama kali pada 1925. Ketika itu ia datang bersama rombongan yang dipimpin oleh Ruth St. Dennis. Pada 1955, Martha sempat mementaskan pertunjukannya di Jakarta. Ia melakukannya lagi pada 1975, kali ini ia mementaskan karyanya di Taman Ismail Marzuki.

Ia punya pengaruh kuat dalam studi tari di Amerika. Ciri khas koregrafinya adalah drama tari. Ia sangat sering menampilkan karakter perempuan yang heroik, seringkali dengan memungut kisah-kisah mitologis, seperti kisah “Clytemnestra”.

Dengan jalan yang sedikit memutar, pengaruh Martha juga merembes dalam dunia seni pertunjukan tari di Indonesia. Pada 1957, tiga seniman tari dari Indonesia [Bagong Kussudiardja, Wisnu Wardhana, dan Setiarti Kailola] berangkat ke AS untuk mengikuti festival tari musim panas di sekaligus belajar tari modern dari Martha Graham di New York. Sardono sendiri pernah belajar pada salah satu murid Martha.

Safrini Malahayati –biasa dipanggil Safa– berhasil menuntaskan risetnya tentang Martha Graham. Ada masa di mana ia mengalami kebuntuan saat menyusun hasil risetnya. Cukup lama ia tak tahu mesti menulis apa. Sampai suatu saat, demikian pengakuannya, ia didatangi oleh Martha Graham dalam mimpinya.

“Tapi yang datang dalam mimpi itu Martha Graham yang sudah tua,” ujarnya.

Sejak itulah ia merasa mendapat injeksi tenaga yang baru. Pelan-pelan ia bisa mulai lagi menulis, seakan-akan baru saja mendapat ilham yang turun dari langit.

Namanya Malahayati, yang tentu saja mengingatkan kita pada seorang laksamana perempuan hebat dari Aceh, tapi ia sendiri bukan orang Aceh: ayahnya berdarah Ternate, ibunya seorang Sunda.

Padu padan genetik itu, barangkali, bisa terlihat dari potret di atas. Saya mengambil potret itu dengan diam-diam, di halaman rektorat, di salah satu sudut di Depok, usai hiruk pikuk penyematan toga.

Selamat jadi sejarawan ya, Safa. Tugas berat loh itu. Hehehehehe…..

Printed from: http://pejalanjauh.com/2010/02/safa/ .
© Pejalanjauh 2010.

2 Comments   »

  1. bangsari says:

    “Selamat jadi sejarawan ya, Safa. Tugas berat loh itu.”

    wah, ra penak kerine curcol. :P

    [Reply]

  2. hedi says:

    tugas berat, tapi yo kowe wis mampu kapital to? LOL

    [Reply]

RSS feed for comments on this post , TrackBack URI

Leave a Comment