»

Sexy

flaneur — admin @ 3:20 pm

– tarian tanpa koreografi

Setelah pertunjukan selesai dan berganti pakaian di kamar ganti, ia menemui saya yang duduk di dekat meja bartender. Dengan senyum terkembang, ia meminta komentar untuk tariannya. Aku acungkan jempol. “Bagus. Gerakanmu mantap, gak ada kesan ragu.”

Thank you. Menurutmu gerakanku tadi sudah cukup menggoda?” Saya bilang padanya, “Tahu gak, pas kamu menari di sesi kedua, ada cowok yang sempat berpantun gini: ‘Minum cendol pake susu, yang bondol bikin nafsu’.”

Sembari tertawa dan merapikan rambutnya yang memang pendek [bondol], ia lagi-lagi bilang ‘thank you‘. “Kebanyakan ‘thank you‘, ah! Kamu bukan Alice dan aku bukan Larry,” kataku sedikit mengomel.

Alice dan Larry adalah dua dari empat karakter utama “Closer”, film besutan Mike Nichols yang mengisahkan kisah cinta segi empat yang rumit. Pada salah satu fragmen, Alice [diperankan oleh Natalie Portman] menari striptease untuk Larry [diperankan Clive Owen] di private room sebuah klub malam. Saat itulah berkali-kali Larry menanyakan banyak hal intim pada Alice. Berkali-kali pula Alice menjawabnya dengan didahului kalimat ‘thank you‘.

(more…)

Un-born

biografi — admin @ 1:53 pm

– anak bajang tak pernah pergi

anak-bajang-blog

Aney, Aney, you, my unborn child
Sorry, sorry, I can’t sing a brighter lullaby.

Itu petikan lirik lagu berjudul “Aney, Unborn Child“.

Adik perempuan saya tak tahu lagu itu dan sepertinya juga tak pernah mendengarnya. Tapi, saya percaya –sangat percaya, bahkan– adik saya sangat bisa memahami lirik lagu di atas dengan segenap sedu sedannya.

Dik, tidak pernah saya bersedih selarut ini untukmu, juga untuk anak bajang-mu.

Atau, mungkin, justru saya harus bahagia untuk anak bajang-mu itu? Bukankah ada yang bilang nasib terbaik adalah tidak dilahirkan? Seperti kata-kata seseorang dalam hidup saya: “The unborn children. Absolute freedom. Perfect good men ever. Instead the dead.”

Anak bajang, anak bajang. Ooo… anak bajang!

Toilet

flaneur — admin @ 8:39 am

– peturasan dan peradaban

20643_272928289612_631714612_3329479_3917871_n

Bashori melangkah dengan santai menuju salah satu kamar mandi yang tersedia di toilet umum milik warga Kampung Ngemplak Rejo, Situbondo. Ia tak menaikkan sarungnya, tak khawatir jika sarung itu bisa terperciki najis yang membuatnya tak suci lagi untuk digunakan shalat.

“Ndok kene mesti resik, Mas,” ungkapnya penuh keyakinan.

Sebuah toilet adalah sebuah dunia. Dari sana — barangkali– bisa terpantul sejumlah pokok soal yang lebih besar: ihwal perilaku, akses, juga perihal kesehatan yang mensyaratkan sistem sanitasi yang baik.

Sebuah jamban adalah sebuah dunia. Simaklah bagaimana sebuah artikel dari tahun 1927 yang muncul di koran “Soeloeh Indonesia” mengomentari soal toilet dan manusia Indonesia:

(more…)

Safa

biografi — admin @ 9:07 am

– akhir pekan dengan toga #2

safa-blog21

Martha Graham mengantarkan perempuan ini menjadi seorang sejarawan dengan spesialisasi sejarah seni, khususnya seni pertunjukan.

Martha Graham, penari sekaligus koreografer Amerika, singgah di Jawa pertama kali pada 1925. Ketika itu ia datang bersama rombongan yang dipimpin oleh Ruth St. Dennis. Pada 1955, Martha sempat mementaskan pertunjukannya di Jakarta. Ia melakukannya lagi pada 1975, kali ini ia mementaskan karyanya di Taman Ismail Marzuki.

Ia punya pengaruh kuat dalam studi tari di Amerika. Ciri khas koregrafinya adalah drama tari. Ia sangat sering menampilkan karakter perempuan yang heroik, seringkali dengan memungut kisah-kisah mitologis, seperti kisah “Clytemnestra”.

(more…)

Toga

biografi — admin @ 11:25 am

– akhir pekan dengan toga #1

diajeng-for-blog

Pekan lalu, saat berkeliaran di daerah pemukiman padat di Bali, saya bertemu dengan Pak Huda: lelaki berusia 45 tahun, hanya sekolah sampai kelas 5 SD, tapi brilian dalam pengetahuan tentang teknik sipil, arsitektur, paham bangunan yang ramah lingkungan dan tidak, juga mengerti sejarah God Bless dan Deep Purple.

Saya ceritakan soal itu melalui beberapa sms pada dia soal Pak Huda ini.

Sebelum melakukan perjalanan, saya tahu ia sedang mencoba menamatkan “The Unbearable Lightness of Being“, versi Inggris novel brilian karya Milan Kundera yang diambil dari koleksi abangnya yang sedang studi di Cyprus.

Sependugaan saya, saat beberapa sms ihwal Pak Huda itu dikirimkan padanya, ia masih berjuang untuk menamatkan novel itu. Dugaan saya ternyata benar. Ia membalas sms saya dengan satu kutipan utuh yang diambil dari halaman 55 novel itu, halaman yang memang sedang dibaca persis saat sms-sms itu terkirim. Bunyinya begini:

(more…)

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-Noncommercial-Share Alike 3.0 Unported License.
(c) 2012 nasib adalah kesunyian masing-masing | powered by WordPress with Barecity