– pembangkangan benda-benda #8
Di tempat prostitusi yang paling terkenal di sebuah kota yang tidak terlalu panas, ada satu tempat sampah yang ajaibnya terlihat sangat bersih; sebuah kebersihan yang bahkan mengalahkan beranda-beranda rumah singgah, tempat para pinokio belang duduk-duduk sembari menduduk-duduki para pelacur yang tak pernah tahu apa bedanya duduk dan menduduki.
Orang-orang yang sering datang ke tempat prostitusi yang paling terkenal di sebuah kota yang tidak terlalu panas itu kemungkinan semuanya tahu pasal apa yang membikin tempat sampah itu sangat bersih, terlalu bersih bahkan. Orang-orang yang baru datang ke tempat prositusi yang paling terkenal di sebuah kota yang tidak terlalu panas itu kemungkinan akan menyangka betapa bersihnya tong sampah itu sebagai penanda betapa kebersihan teramat diperhatikan oleh orang-orang yang sering berkunjung ke situ.
Tentu saja dia salah. Bagaimana kita hendak bicara kebersihan di tempat yang bersih dan tidaknya sebuah benda tak bisa dideteksi oleh mesin pemburu paling canggih sekali pun? Sebab, di pojok-pojok yang lain, tempat-tempat sampah lainnya tetap tampil seperti biasanya: kotor, atau tidak terlalu bersih, kumuh, juga bau.
Adakah yang istimewa dengan tong sampah itu? Ya, tentu saja ada. Jika sebuah tempat sampah di sebuah tempat yang bersih dan tidaknya sebuah benda tak bisa dideteksi oleh mesin pemburu paling cangguh sekali pun bisa tampil bersih sebersih-bersihnya, maka tempat sampah itu pastilah istimewa.
Tempat sampah itu memang istimewa, sejarahnya istimewa, fungsinya juga istimewa. Seorang pejabat tinggi di kotapraja, yang dikenal sebagai pelindung utama tempat prostitusi yang paling terkenal di sebuah kota yang tidak terlalu panas itu, menyerahkan tempat sampah itu dengan satu syarat yang ditebus dengan amannya tempat itu dari razia: semua kondom yang sudah digunakan harus dibuang di situ, tak boleh di tempat lain, tak bisa di tempat lain!
Semua mucikari dan pemilik beranda-beranda rumah itu heran, tapi itulah yang harus mereka turuti jika usaha mereka tetap berjalan dengan lancar. Selentingan kabar sempat berhembus kalau pejabat tinggi di kotapraja tadi menggunakan kondom-kondom bekas itu untuk digunakan sebagai bahan penelitian ilegal untuk mengukur tingkat kesuburan laki-laki di kota yang tidak terlalu panas itu. Ada juga yang bilang pejabat tinggi di kotapraja itu sedang membangun sebuah museum kemesuman yang dindingnya disusun oleh jutaan kondom bekas sebab ia percaya kondom bekas bisa disusun sedemikian rupa tanpa perlu lagi perekat semacam semen, atau lem atau apa sajalah.
Sampai suatu ketika, tong sampah itu tiba-tiba berlari-lari di sesela lorong yang disusun oleh ratusan beranda yang berjejer sembari berteriak-teriak: “Aku tak mau cuma jadi pembuangan kondom bekas. Sudahlah saya ini tong sampah, selalu pula disumpali segala hal yang bekas. Beri aku yang tak bekas, termasuk juga isinya yang bukan bekas!”
Tentu saja permintaan itu tak bisa dipenuhi. Selain melanggar permintaan pejabat tinggi kotapraja, permintaan itu terlalu serealis untuk dipenuhi sebab jika itu dituruti tempat prostitusi itu dengan sendirinya akan runtuh dan tak lagi menjadi tempat prostitusi yang paling terkenal di sebuah kota yang tidak terlalu panas itu, para pelacur akan kehilangan pekerjaan, dan para seksolog akan dipaksa melakukan riset tentang sebuah kecenderungan seksual manusia jenis baru yang hanya tertarik bercinta dengan tong sampah!
Maka dibuatlah hukuman: tong sampah itu, untuk satu malam, akan dibersihkan, benar-benar dibersihkan sebersih-bersihnya oleh semua mucikari, para pelacur dan para pinokio belang yang saban hari berkunjung ke situ. Mereka rela tak mendapat pemasukan untuk satu malam hanya untuk memberi tong sampah itu pelajaran bahwa setiap tong sampah sudah ditakdirkan untuk dikotori oleh sampah, menampung barang-barang kotor dan bekas. Mereka berpikir, membikin tong sampah itu bersih akan membuatnya sadar bahwa kebersihan bukanlah kodratnya tong sampah dan eksistensinya sebagai tong sampah dipertaruhkan justru oleh kekotorannya, bukan kebersihannya. Bahwa ia hanya menampung kondom bekas, itu hanya satu tugas yang kebetulan terlihat khusus dan spesial.
Di malam penghukuman itu, ratusan orang yang biasa bekerja dan berkunjung di situ, meletakkan tempat sampah itu di sebuah tempat yang agak tinggi dan mereka semua memperhatikan bagaimana tempat sampah itu bereaksi, sedari sore, dari detik ke detik, dari menit ke menit, dari jam ke jam. Sayangnya, hingga menjelang matahari terbit, tempat sampah itu tak bergerak sama sekali, tak bicara sepatah kata pun. Mereka, orang-orang itu, mulai diliputi rasa cemas dan waswas. Tiba-tiba saja mereka sadar kalau orang suruhan pejabat tinggi kotapraja itu sudah berkali-kali ke situ dan dia sadar kalau tak ada isi tong sampah yang bisa diangkut ke truk berwarna ungu. Mereka mendadak khawatir, pejabat tinggi kotapraja akan murka dan mendadak menutup tempat prostitusi yang paling terkenal di sebuah kota yang tidak terlalu panas itu.
Mereka mulai dilanda kebingungan, juga ketakutan. Mereka terdiam beribu bahasa, sibuk dengan pikirannya masing-masing sembari tetap menatap tong sampah itu yang diletakkan di tempat agak tinggi.
Pada saat itulah, seorang asing yang dikenal sebagai penjelajah dan pencatat kronik kota-kota berkunjung ke tempat itu. Dari catatan kronik kota-kota yang dibuat olehnya itulah, berabad-abad kemudian, orang-orang mengenal sebuah kota yang “…penduduknya menyembah tong sampah yang biasanya penuh dengan kondom bekas.”
Ada banyak orang yang sangat ingin berziarah ke sana, tak jelas apakah mereka para pemuja tong sampah atau umat kondom bekas.
iki aku dadi koyo moco ‘ziarah’ nya iwan….terlalu mirip !! (menurutku lho yah..hahaha).
aku paling suka sing celana jeans
[Reply]
Sugeng tepang, salam kenal.
dimana puncaknya yaaa..apa dari awal sudah puncak..maklum pemula niih.
[Reply]
wah… membangkang terus??
(* duh aku kok ga nemu ide2 beginian yak
[Reply]