Sinyal
– pembangkangan benda-benda #9
Seorang dari kota bermasalah dengan sinyal. Segala yang ia kirimkan tak pernah sampai, terputus di tengah jalan, barangkali dicegat oleh perampok yang tak tahu malu, atau begal yang sedang patah hati.
Kemungkinan yang terakhir itu tampaknya cukup masuk akal, sebab orang dari kota itu mengaku ia juga mengirimkan sejumlah pesan mesra kepada kekasihnya di sebuah kota yang terletak di pinggir laut dengan dua gerbang tinggi di dermaga pelabuhannya.
Barangkali perampok itu adalah bromocorah yang patah hati ditinggal pergi kekasihnya, sehingga ia saban hari hanya bekerja mencegat pesan-pesan yang berseliweran di udara. Barangkali ia bermimpi salah satu pesan yang berhasil dicegatnya adalah pesan yang dikirim perempuan yang dicintainya.
Seorang dari kota yang bermasalah dengan sinyal itu sudah sedari pagi tadi mengirimkan sejumlah pesan, sebagian penting dan sebagiannya tidak terlalu. Tapi sinyal sepertinya mangkir dari tugasnya atau –seperti yang tadi sempat diduga—pesan yang dibawa sinyal itu dicegat oleh entah siapa pun orangnya atau apa pun itu namanya.
Ia sungguh gelisah, teramat gelisah bahkan. Saat hari merembang petang, ia sudah nyaris putus asa. Tapi seseorang memberitahunya satu tempat yang bisa menangkap sinyal dengan lebih baik. Orang itu menunjuk satu tempat di lereng bukit yang berada di punggung desa tempatnya bermalam sejak dua hari lalu. Dengan segera, seorang dari kota yang bermasalah dengan sinyal itu langsung berlari ke arah sana. Larinya sangat cepat, bisa jadi lebih cepat dari pesan-pesan yang sudah dikirimkannya seharian ini tapi kemudian pesan-pesan itu tak sampai.
Ia tiba di sana beberapa saat sebelum matahari surup. Dengan cekatan, ia mengirimkan belasan pesan-pesan yang dianggapnya paling penting. Sebagian pesan berisi urusan pekerjaan, sebagian berisi kata-kata mesra pada kekasihnya, sebagian lagi pesan-pesan omong kosong yang diperuntukkan bagi tiga ekor anjing di rumahnya dan dua buah kendaraan yang diparkir di garasi kantor.
Butuh waktu sepeminuman teh baginya untuk bisa mengirimkan pesan-pesan itu. Ia menunggu beberapa lama untuk memastikan sinyal-sinyal telah bekerja dengan lebih baik dan mengantarkan pesan-pesan yang dikirimnya. Beberapa kali ia memejamkan mata dan menengadahkan kepalanya, mencoba meraba-raba kemungkinan kalau pesan-pesan yang dikirimnya telah diantar dengan sempurna oleh sinyal-sinyal yang seharian ini tak becus bekerja.
Lalu, entah karena melihat pertanda apa, ia menampakkan raut muka yang puas. Tampaknya ia percaya pesan-pesan yang dikirimnya telah sampai di tujuan. Dengan langkah yang ringan, ia turun dari lereng bukit untuk kembali ke rumah yang ditumpanginya sejak dua hari yang lalu. Ia merasa perlu berterimakasih pada orang yang tadi memberitahu perihal lereng bukit yang lebih baik dalam menangkap sinyal.
Ia tiba di desa itu saat matahari sudah hilang dan malam telah benar-benar lengkap. Tapi orang-orang yang ditemuinya justru melihatnya dengan wajah keheranan. Mulanya ia menganggap itu hal biasa yang lazim terjadi para orang-orang asing yang datang ke desa itu, tapi saat semua orang yang dijumpainya menampakkan raut muka heran, ia mulai penasaran. Ia buru-buru lekas masuk ke kamar tempatnya menginap dan langsung menuju ke pojok ruangan tempat sebuah cermin besar ditempelkan pemilik rumah itu.
Saat bercermin itulah ia menyadari dirinya sudah berubah total: hidungnya, matanya, rambutnya, wajahnya, pundaknya, tangannya, dadanya, perutnya, kakinya…. Semuanya! Ia tak menemukan sosok yang dikenalnya di cermin itu.
“Itu bukan aku,” desisnya dengan nada campuran antara tak percaya dan terpukul.
Ya, di cermin itu, tak tampak sosok manusia satu pun, melainkan hanya deretan huruf-huruf yang membentuk kata, menyusun kalimat, dan menghadirkan pesan.
Ya, sinyal-sinyal itu tampaknya bener benar membangkang: alih-alih mengirimkan pesan, sinyal itu malah mengembalikannya pada pengirimnya, tampaknya dengan nada marah yang tak tertahankan, sehingga pesan-pesan itu bukan hanya kembali kepada pengirimnya, tapi bahkan merusak setiap inci sel-sel dan daging pengirimnya.
Seorang asing dari kota yang bermasalah dengan sinyal itu akhirnya menyadari ia memang bermasalah dengan sinyal. Terlebih saat ia menyadari deretan huruf yang berada di lokasi yang tadinya tempat menempelnya hidung adalah pesan terakhir yang dikirimnya kepada seseorang yang biasa dipanggil Yang Maha Sinyal. Bunyi pesannya ringkas, tapi terbukti pesan terakhir itu membawa kutukan:
“Bisakah kau membelikan aku sinyal dan mengirimkan sebanyaknya kepadaku?”
Aku pernah melewati momen seperti itu. Saat kemendesakan ditantang oleh sinyal yang hilang. Saat itu kita tahu apa yang bernilai. Tidak ada yang dapat membeli sinyal. Tulisanmu menyentuh alam bawah sadarku. Terima kasih
kenapa merinding membaca tulisan ini,,,,
apik ,,
salam kenal
sinyal adalah kesunyian masing-masing…