»

Pre-Wedding

meracau — admin @ 10:58 am

– pembangkangan benda-benda #5

Kabar yang sama sekali tidak melankolik itu kami terima pada satu senja yang tak begitu bagus saat kami berdua sedang berciuman begitu dalamnya di bawah pohon oak yang ditanam kakek buyut kami dari bibit yang didapatkannya dari seorang marsose Belanda yang berhutang tiga ekor ayam dan tujuh telor kepadanya gara-gara marsose itu kalah bertaruh dengan kawannya saat menonton pacuan lembu di lapangan yang satu abad sebelumnya adalah kuburan para wali yang tak becus memainkan wayang: foto pre-wedding dinyatakan haram oleh para wali yang sebenarnya tak bisa memotret dan karenanya tak tahu keindahan sehelai potret bisa lebih indah dari pemandangan yang terhampar di atas sajadah paling mahal yang didatangkan dari Gujarat sekali pun!

Istri saya sesenggukan, saya termangu sendirian: kami tahu pengharaman itu tak bisa ditampik, karena kami juga paham betapa berbahayanya mengabaikan fatwa para wali yang tak pernah terlihat memakai sarung apalagi surban.

Lalu, dalam sebuah perkabungan yang muram dan menyedihkan, kami beranjak ke ruang keluarga. Di salah satu dindingnya, terpacak potret besar potret pre-wedding kami tujuh tahun silam. Terlalu panjang kisahnya kenapa yang dipasang adalah potret pre-wedding, bukan potret di hari pernikahan, tapi begitulah adanya, seperti begitulah juga adanya fatwa yang tak bisa kami tolak itu.

Saya meletakkan potret itu di atas meja. Istri saya memandangnya dengan mata berkaca. Saya sudah menyiapkan korek api, beberapa saat lagi kami akan mengkremasinya di beranda. Sesaat lagi Maghrib akan tiba, tapi senja tampak lebih cepat bergulir ketimbang biasanya.

Tepat saat saya hendak mengangkat potret itu untuk membawanya ke beranda, potret itu tiba-tiba terisak. Kami berdua terkejut, tapi sangat bisa memahami isakannya. Istri saya memberinya tissu terbaik yang kami miliki. Potret pre-wedding itu pun perlahan mulai bisa menenangkan dirinya. Ia lalu berbicara, sesekali masih di selingi isak yang teredam oleh dirinya sendiri:

Potret pre-wedding menghela nafas dalam-dalam, tanda betapa beratnya ia menghayati senja terberat di sepanjang hayatnya ini. “Kau dulu pernah bercerita, para pembangkang Republik ini pun masih sempat minta ijin untuk menyanyikan lagu Indonesia Raya dan berteriak merdeka sebelum dieksekusi tentara resmi republik ini. Benar begitu, bukan?”

Lagi-lagi saya mengangguk. “Maafkan saya. Ini tak bisa kami tolak. Tapi kami akan memenuhi apa pun permintaanmu. Apa pun itu. Apakah kamu hendak menyanyikan Indonesia Raya? Saya bisa menyiapkan bendera merah putih lebih dulu,” ujarku.

Dia menggeleng. “Apakah seperangkat alat shalat yang dulu jadi mas kawin kalian masih ada?” tanyanya. Saya mengangguk, tepat saat istri saya juga mengangguk.

“Berikan pada saya. Saya ingin shalat untuk terakhir kalinya dengan seperangkat alat shalat itu. Haram atau halal itu satu soal, tapi bahkan saya yang diharamkan pun masih punya hak untuk menggelar shalat. Tahu apa mereka tentang saya?”

Istri saya, yang sedari diam saja menghayati kesedihan yang durja ini, untuk pertama kalinya angkat bicara: “Saya sungguh ingin tahu, apa reaksi mereka jika yang diharamkan ternyata menyelenggarakan shalat dengan sebegitu khidmat?”

Kami berpelukan untuk terakhir kalinya dan setelahnya saya merasa tak perlu membersihkan diri dengan tanah dengan alasan sederhana yang pasti akan ditolak oleh Datuk Meringgi: potret pre-wedding jauh lebih melankolik daripada babi!

3 Comments »

  1. salam kenal mas, lagi mbaca2…

    Comment by mbah jiwo — 2010/01/16 @ 12:03 pm
  2. masih bingung dengan banyaknya fatwa..

    Comment by stey — 2010/01/17 @ 4:03 pm
  3. tahu apa kau soal halal haram ??

    Comment by kudo — 2010/01/21 @ 7:50 am

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-Noncommercial-Share Alike 3.0 Unported License.
(c) 2012 nasib adalah kesunyian masing-masing | powered by WordPress with Barecity