»

Kunci

meracau — admin @ 7:33 am

– pembangkangan benda-benda #2

Kunci laci tiba-tiba menolak bekerja. Mulanya tak terlalu mengkhawatirkan, toh aku punya kunci cadangan. Tapi, sungguh, aku tak menduga: kunci cadangan pun tak mau diajak kerjasama.

Aku mengajak mereka bicara dari hati ke hati. Kami bertiga duduk di meja bundar yang terletak di beranda. Angin senja datang dengan semilir yang membikin kantuk, tapi urusan laci yang harus segera dibuka memaksaku tetap duduk dan berembuk. Aku meminta mereka bicara, salah satu dari mereka lantas mewakilkan yang lain. Dan, alamak… semuanya ternyata menyangkut hal ihwal yang sentimentil!

Ijinkan aku mengulang kembali kata-katanya: “Manusia tak pernah tahu suratan para kunci. Kami ditakdirkan hidup monogami, sebenarnya: satu hanya untuk satu lubang. Kunci cadangan adalah kutukan panjang yang diwariskan sejak 100an tahun silam. Kami tak sudi, juga tak sanggup, menanggungkan kutukan itu lagi!”

Kalian dengar, bukan? Hebat kali orasi kunci sialan ini. Jangan-jangan mereka suka mencuri baca buku-buku koleksiku? Seingatku, sang kunci cadangan itu sempat raib dan belakangan saja aku tahu ia terselip di halaman akhir sebuah novel klasik dari Spanyol.

(more…)

Jeans

meracau — admin @ 11:53 am

– pembangkangan benda-benda #1

Celana jeansku berulah. Tepat saat saya hendak menarik resleting, ia tiba-tiba meronta. Sekuat tenaga aku menarik resleting, jeansku tetap bergeming. Aku menyerah. Daripada terjadi korsleting kecil pada penisku, lebih baik aku bernegosiasi dengan celana jeansku.

“Apa maumu sebenarnya?” tanyaku.

Jeans hitam yang sebenarnya mulai apak itu makin tambah apak saja kelihatannya. Toh ia masih sempat-sempatnya menyunggingkan senyum, tanda ia baru saja menangguk kemenangan kecil.

“Dengar!” katanya tiba-tiba. Suaranya dalam dan penuh nada peringatan. Aku sedikit tercekat. “Aku tak suka tiap kali kau bercinta dengan pasanganmu lalu aku dicampakkan begitu saja. Menyedihkan rasanya saat kau hendak merengkuh kebahagiaan tapi pada saat yang sama kau melemparkanku dengan tanpa perasaan. Kadang kau lempar aku ke pojok kamar, kadang kau campakkan aku di bawah ranjang. Itu sungguh tak bisa diterima!”

(more…)

« Previous Page
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-Noncommercial-Share Alike 3.0 Unported License.
(c) 2012 nasib adalah kesunyian masing-masing | powered by WordPress with Barecity