Kunci
– pembangkangan benda-benda #2
Kunci laci tiba-tiba menolak bekerja. Mulanya tak terlalu mengkhawatirkan, toh aku punya kunci cadangan. Tapi, sungguh, aku tak menduga: kunci cadangan pun tak mau diajak kerjasama.
Aku mengajak mereka bicara dari hati ke hati. Kami bertiga duduk di meja bundar yang terletak di beranda. Angin senja datang dengan semilir yang membikin kantuk, tapi urusan laci yang harus segera dibuka memaksaku tetap duduk dan berembuk. Aku meminta mereka bicara, salah satu dari mereka lantas mewakilkan yang lain. Dan, alamak… semuanya ternyata menyangkut hal ihwal yang sentimentil!
Ijinkan aku mengulang kembali kata-katanya: “Manusia tak pernah tahu suratan para kunci. Kami ditakdirkan hidup monogami, sebenarnya: satu hanya untuk satu lubang. Kunci cadangan adalah kutukan panjang yang diwariskan sejak 100an tahun silam. Kami tak sudi, juga tak sanggup, menanggungkan kutukan itu lagi!”
Kalian dengar, bukan? Hebat kali orasi kunci sialan ini. Jangan-jangan mereka suka mencuri baca buku-buku koleksiku? Seingatku, sang kunci cadangan itu sempat raib dan belakangan saja aku tahu ia terselip di halaman akhir sebuah novel klasik dari Spanyol.