Nasi

– pembangkangan benda-benda #3

Ini sarapan yang sunguh menyiksa. Nasi-nasi ini tak pernah mau ditaklukkan. Tiap kali saya menyuapkan seseondok nasi ke mulut, butir-butiran nasi itu seperti membesar sampai sebesar kelerang. Terpaksa saya memuntahkannya lagi. Saya coba berulang kali, tetap saja begitu.

Kebetulan teman saya tadi sempat membelikan bubur ayam. Karena telanjur lapar dan sudah lelah menghadapi pembangkangan butir-butir nasi itu, saya memilih menyantap bubur ayam saja. Selama saya menyantap bubur, saya memperhatikan butir-butir nasi yang ada di piring tak jauh dari tempat saya makan. Butir-butir nasi yang tadinya membesar seperti kelereng pelan-pelan menciut sehingga kembali ke ukurannya yang normal.

Ingin saya menyantap lagi nasi itu, karena makan bubur tetaplah tak mengenyangkan perut saya yang memang sedang lapar berat. “Benar-benar nasi sudah menjadi bubur kalau begini. Sudahlah, saya makan bubur saja,” ujar saya dalam hati.

Entah bagaimana ceritanya, butir-butir nasi itu tiba-tiba bersorak-sorai dan kompak berteriak: “Kami tidak setuju!”

“Apa yang kalian tidak setujui?”

“Kami tidak setuju, tepatnya tidak suka, dengan peribahasa ‘nasi sudah menjadi bubur’. Bukankah tadi kamu bicara begitu dalam hatimu, kan?” ujar salah satu dari mereka.

“Ada yang salah dengan peribahasa itu?” tanyaku.

“Jelas. Itu bias manusia. Cuma manusia yang menyesalkan nasi sudah telanjur jadi bubur, nasi sendiri –kami ini– tak pernah menyesal menjadi bubur. Manusia memang suka semena-mena memperlakukan benda-benda, juga sok tahu pada psikologi benda-benda. Huh!”

Saya tergelak. Ini menarik, batin saya. Saya ingin tahu, apa yang membuat nasi tidak pernah menyesal jadi bubur. Saya tiba-tiba berpikir, jika nasi-nasi itu benar, betapa serampangannya nenek moyang saya saat membuat peribahasa. “Kenapa kalian tidak menyesal?”

Salah satu butir nasi yang paling utuh dan bagus bentuknya, juga paling besar ukurannya, memberikan jawabannya: “Kami tahu dan sangat sadar bahwa takdir kami sebagai benda-benda adalah untuk disantap, untuk dimakan, untuk dimamah. Tak kusangkal hal itu. Tapi, ketahuilah, sebaik-baiknya menjadi santapan adalah dengan menjadi bubur, bukan nasi.”

“Kenapa?”

“Alasannya jelas: dengan menjadi bubur, kami tak merasakan lagi kesakitan, tak merasakan pedihnya dikunyah dan dicabik-cabik gigi taring dan geraham manusia. Dengan menjadi bubur, kami bisa langsung masuk ke kerongkongan. Jika pun tertahan di mulut, kami bisa dengan lincah menghindar cabikan gigi-gigi manusia. Kami bisa lebih fokus menikmasi sentuhan dan belaian lidah. Itu jauh lebih membahagiakan, lebih menyenangkan. Kami jadi tahu betapa menyenangkannya menjadi manusia. Kalian, manusia, pasti jauh lebih tahu betapa lembut dan menyenangkannya usapan dan belaian lidah, bukan?”

Ya, ya… Saya mengangguk dan tersenyum-senyum sendiri.

“Kau pasti ingat pacarmu, ya? Tepatnya lidah pacarmu, bukan”

Printed from: http://pejalanjauh.com/2010/01/nasi/ .
© Pejalanjauh 2010.

3 Comments   »

  1. ipungmbuh says:

    kalimat terakhir.
    kenapa “pacar” bukan “istri,” “selingkuhan,” “ponakan,” atau “Yudhi” mungkin?!

    [Reply]

  2. Kinanthi says:

    bagian dalam tubuh ga kan setuju, karena lambung juga pasti kerjanya berat musti nelan bongkahan2. harusnya lambungmu ikut omong, kecuali lambungmu gi kena maag, melilit-lilit sendiri kek usus dua belas jari.

    gigi2 juga bakalan protes klo ga dipake ngunyah, karena memang untuk itu dia diciptakan, bukan sekedar untuk dijemur :D

    [Reply]

  3. goop says:

    tapi bukankah bubur mesti melewati masa menanak yang lebih panjang?
    tapi kenapa saya bertanya?

    [Reply]

RSS feed for comments on this post , TrackBack URI

Leave a Comment