»

Kunci

meracau — admin @ 7:33 am

– pembangkangan benda-benda #2

Kunci laci tiba-tiba menolak bekerja. Mulanya tak terlalu mengkhawatirkan, toh aku punya kunci cadangan. Tapi, sungguh, aku tak menduga: kunci cadangan pun tak mau diajak kerjasama.

Aku mengajak mereka bicara dari hati ke hati. Kami bertiga duduk di meja bundar yang terletak di beranda. Angin senja datang dengan semilir yang membikin kantuk, tapi urusan laci yang harus segera dibuka memaksaku tetap duduk dan berembuk. Aku meminta mereka bicara, salah satu dari mereka lantas mewakilkan yang lain. Dan, alamak… semuanya ternyata menyangkut hal ihwal yang sentimentil!

Ijinkan aku mengulang kembali kata-katanya: “Manusia tak pernah tahu suratan para kunci. Kami ditakdirkan hidup monogami, sebenarnya: satu hanya untuk satu lubang. Kunci cadangan adalah kutukan panjang yang diwariskan sejak 100an tahun silam. Kami tak sudi, juga tak sanggup, menanggungkan kutukan itu lagi!”

Kalian dengar, bukan? Hebat kali orasi kunci sialan ini. Jangan-jangan mereka suka mencuri baca buku-buku koleksiku? Seingatku, sang kunci cadangan itu sempat raib dan belakangan saja aku tahu ia terselip di halaman akhir sebuah novel klasik dari Spanyol.

Mereka, begitulah yang aku dengar selanjutnya, memintaku untuk membuang atau menghancurkan salah satunya. Atau, jika mau, aku tak perlu membuang/menghancurkan salah satu, tapi dengan resiko tak bisa membuka laci. Lalu, ku bilang, aku tak akan membuang salah satu atau menghancurkannya, tapi aku akan tetap membuka laci itu: dengan kunci baru yang kubuat atau menggunakan kunci T yang sering digunakan para pencoleng kelas teri.

Lalu, tiba-tiba saja, terdengar suara berteriak: “Tidak, itu opsi yang buruk buatku. Kalian tak adil. Membiarkan aku tak dibuka sama saja memaksaku menanggungkan kesepian dan kesunyian yang panjang. Itu tak bisa ditanggungkan. Sementara membuatkan kunci baru atau menggunakan kunci T tak ubahnya seperti kawin paksa dan diperkosa!”

Kami, aku dan dua kunci itu, terkejut mendengarnya. Ternyata, lubang kunci yang ada di kamar mendengar percakapan kami. Sudah jelas macam apa sikap dan pendiriannya. Aku sedikit bingung memecahkan persoalan ini. Tak pernah kusangka ada soal-soal sentimentil dan melankolik dalam berurusan dengan kunci-kunci. Mereka, sore ini, mengutarakan gagasan soal kesetiaan, rasa cinta, kehidupan monogami, juga ketaksanggupan menanggung kesendirian dan kesunyian yang panjang dan akut.

Tapi, sungguh, aku tak punya banyak waktu. Aku harus selekasnya memindahkan potret gadis cantik yang kutaruh di dalam laci, gadis cantik yang di dalam rahimnya tertanam benih keturunanku. Aku sangat mencintainya, tentu saja. Teramat sangat, bahkan. Tapi, dalam negosiasi alot dengan dua kunci dan lubangnya yang diam-diam mengajarkan tentang kesetiaan satu sama lain yang tak tertara, aku tak tega –tepatnya malu—untuk mengatakan kalau aku harus segera membuka laci itu karena tak mau istriku mengetahuinya dan menyadari betapa aku adalah suami pengkhianat yang tak pernah –belum pernah—merasakan bagaimana menghayati kesetiaan.

Aku malu pada kunci-kunci itu, tapi aku juga tetap harus membuka laci itu!

5 Comments »

  1. ijo-ijo buat kan g zen. seperti yang kemarin, mantap gan!

    Comment by bangsari — 2010/01/13 @ 7:48 am
  2. mendobrak laci berarti penghianatan pada kunci? :D

    Comment by hedi — 2010/01/13 @ 5:58 pm
  3. @bangsari: saiki wes ga musim ijo2. wayahe lempar nocan, gan! :) )

    @hedi: ya, dg syarat sang pendobrak adalah kekasih kunci :P

    Comment by admin — 2010/01/13 @ 6:04 pm
  4. nasib adalah bolongan kunci masing2

    Comment by arya — 2010/01/15 @ 11:20 pm
  5. post yang bagus sekali :)

    Comment by ficione — 2010/01/17 @ 6:23 pm

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-Noncommercial-Share Alike 3.0 Unported License.
(c) 2012 nasib adalah kesunyian masing-masing | powered by WordPress with Barecity