Keinginan

– pembangkangan benda-benda #10

Tiap kali berpikir, apa yang saya pikir saya memang menginginkannya malah menyelinap pergi.

Seperti barusan terjadi. Saya, dalam lapar yang nyaris akut, tiba-tiba saja teringat dengan nasi rawon. Sepertinya lezat jika pada dini hari yang dingin dan lapar bisa menyantap nasi rawon dan kuahnya yang khas itu.

Sayangnya, belum lama saya memikirkan dan menginginkan nasi rawon, apa yang saya pikir saya menginginkannya itu malah kabur. Saya cuma bisa menangkap ruap bau kuahnya yang sedap dan membikin lambung makin terasa perih saja.

Biasanya saya akan mengejar dia sebisanya. Seperti barusan juga terjadi: saya mengejarnya dengan tergopoh-gopoh. Beberapa saat sebelum mencapai tikungan, saya berhasil menyalipnya. Tanpa basa-basi, saya langsung berdiri menghadangnya. Saya tak sadar, ada tetesan kecil air liur meleleh dari mulut saya.

Nasi rawon yang saya pikir saya menginginkannya itu tampak sedikit jijik melihat air liur itu, terlebih –juga tanpa sadar– saya terdengar sedikit mendesis. Ia lantas menghardik keras sembari memasang tampang bengis: “Ngapain kamu kejar saya? Mending kamu mikir lagi hal yang baru.”

Saya menggeleng. Tentu tak sukar sebenarnya memenuhi permintaan itu. Gampang saja, bukan, untuk memikirkan hal lain, katakanlah jenis makanan selain nasi rawon? Saya bisa memikirkan nasi ketoprak, pecel Madiun, atau lassagna atau salad ikan tuna, atau apa saja….

Tapi saya memang tak punya pilihan selain menggeleng dan menampik permintaan itu. Bukan apa-apa, saya sudah terlampau paham situasinya: tiap kali saya berpikir saya menginginkan sesuatu, apa yang saya pikir saya menginginkannya itu malah menyelinap pergi.

Nasi rawon tak mau kalah. Dengan kelicinan yang hanya bisa ditandingi oleh kancil dalam cerita sebelum tidur, ia berhasil kabur lagi. Sebelum kabur ia masih sempat menjitak kepala saya sembari berkata dengan nada yang telengas:

“Berapa banyak tenaga yang kalian habiskan untuk menginginkan sesuatu tapi kemudian tak menginginkannya lagi?”

Printed from: http://pejalanjauh.com/2010/01/keinginan/ .
© Pejalanjauh 2010.

4 Comments   »

  1. nothing says:

    rawon nang malang regone 7500 plus tempe dan krupuk udang plus teh anget ukuran kecil yg ndak terlalu manis

    [Reply]

  2. bangsari says:

    rawon ngarep pasar nDinoyo enak cak wahyu… cubanen. empale mantep banget.

    [Reply]

  3. nothing says:

    @bangari | siyappp, besok meluncur. mas zen mau ikut???

    [Reply]

  4. arka says:

    I think it’s about woman, isn’t it?

    [Reply]

RSS feed for comments on this post , TrackBack URI

Leave a Comment