Kamera

– pembangkangan benda-benda #7

Pernikahan yang semestinya khusyuk dan syahdu sontak menjadi sedikit ricuh, atau lebih tepat jadi agak berantakan, gara-gara dua kamera yang dibawa dua juru foto mendadak ngambek tak mau bekerja: mereka ingin dinikahkan lebih dulu, setelah itu barulah dua kamera berlainan jenis itu mau bekerja mengabadikan momen sakral pernikahan yang sudah direncanakan sejak lama itu.

Sebenarnya bisa saja akad nikah yang ditunggu dua mempelai itu dimulai tanpa keikutsertaan dua kamera berlainan jenis yang mendadak ngambek untuk sebuah alasan yang terlalu surealis itu. Tapi, di zaman jejaring sosial mengisi 36 jam waktu hidup manusia, apalah artinya momen genting nan sakral serupa akad pernikahan dilewatkan tanpa keabadian yang hanya bisa dilakukan oleh kamera? Tak ada yang mau pernikahannya dianggap hoax, bukan?

Tapi di situlah soalnya. Penghulu sebenarnya mau-mau saja menikahkah dua kamera berlainan jenis itu. Tapi dalam setiap kisah cinta, selalu saja ada aral yang melintang dan jurang yang menganga, bukan?

Dua kamera itu, masing-masing bernama Nokin dan Conan, sukar bisa dinikahkan karena alasan yang sebenarnya tak kalah surealisnya: keduanya, dua kamera yang berlainan jenis itu, ternyata menganut agama yang berbeda. Dan di negeri ini, itu soal yang maha-genting!

Itulah aral yang melintang dan jurang yang membentang itu, sebuah kutukan yang entah datang dari mana, dimulai oleh siapa dan tak jelas akan berakhir kapan waktunya: para fotografer, para penyayang kamera itu, selalu menganggap dua kamera berlainan jenis itu, yang masing-masing bernama Nokin dan Conan, sebagai dua agama yang berbeda, yang tak bisa diperdamaikan, tak akan pernah bahkan, kecuali oleh pribadi-pribadi pemberani yang sudah siap menanggung resiko di jidatnya dilintangi pengumuman berhuruf kapital: MURTAD!

Kamera yang saling jatuh cinta sejak lama tapi terlalu lama juga dipisahkan oleh label perbedaan agama itu menangis tersedu-sedu. Mereka kecewa, penghulu itu, tak sudi menikahkan mereka. Tapi, dalam hati-hati masing, keduanya sebenarnya paham. Ada banyak soal dalam hidup mereka yang memang ditentukan oleh hal-ihwal yang datangnya dari dunia luar mereka sendiri.

Tapi, tekad mereka, dua kamera berlainan jenis yang dipaksa berpisah oleh perbedaan agama itu, tak mau luluh oleh bujukan dua mempelai, tak sudi leleh oleh khotbah penghulu, tak mau juga loyo oleh ceramah tata hukum pernikahan dari seorang petugas KUA. Mereka, sembari menggandeng tangan masing-masing, berteriak lantang: “Kalian yang memisahkan kami, dan kali ini kami tak sudi menyerah oleh takdir busuk yang tak mau kami tanggung selamanya!”

Pernikahan dua mempelai pengantin yang sempat tertunda itu, kabarnya, tetap digelar, setelah masing-masing orang tua mereka bisa membujuk dengan cara yang sederhana: keabadian pernikahan mereka akan diurus oleh seseorang bernama Syno, tapi dia bukan kamera, melainkan handycam!

Lalu bagaimana dengan dua kamera berlainan jenis itu? Kabarnya, penghulu itu akan mengusahakan paspor untuk keduanya, agar mereka bisa ke negeri Belanda, dan menikah di sana!

Printed from: http://pejalanjauh.com/2010/01/kamera/ .
© Pejalanjauh 2010.

5 Comments   »

  1. dela says:

    ahahaha… LOL!
    dan akhirnya? paspor berhasil didapatkan?
    apa tidak lebih baik diselundupkan saja, jadi tidak usah melalui birokrasi yang sulit untuk pergi ke Belanda? :)

    [Reply]

  2. OQ says:

    di belanda, si canon ketemu leica yang jelita dan kaya raya. canon pun milih pindah agama. katanya, “agama kan cuma cara, yang penting rasanya!” hahaha

    [Reply]

  3. navo says:

    bagaimana jika terjadi pada anda? :)

    btw..nice post. salam kenal

    [Reply]

  4. navo says:

    bagaimana jika andalah sang kamera? :)

    btw..nice post. salam kenal

    [Reply]

  5. goop says:

    gyahahaha, nikah dianggap hoax? TOP!!

    [Reply]

RSS feed for comments on this post , TrackBack URI

Leave a Comment