Jum’at
– pembangkangan benda-benda #4
Beberapa saat sebelum aku meninggalkan kamar menuju masjid untuk menghelat shalat Jumat, sesuatu melesat keluar dari almanak yang menempel di dinding dekat pintu. Dia lantas menarik sarungku sampai nyaris terlepas. Lalu, ia ganti menjangkau kakiku, menahan langkahku, sampai aku nyaris terjengkang.
Dia memperkenalkan dirinya sebagai Jum’at. Ia meminta untuk berbicara denganku. ”Baiklah, tapi jangan lama-lama. Tak pernah kuabaikan shalat Jum’at. Jangan membuatku terlambat,” kataku tegas.
Ia menghela nafas lega. Sembari menata nafasnya yang sempat tersengal-sengal karena sekuat tenaga manahan langkahku, Jum’at mulai berbicara. Nadanya datar, sedikit terbata-bata, tapi rasa masygul bercampur memelas cukup jelas tergambar dari mimik wajahnya.
“Aku selalu diejek teman-temanku. Aku minta, sekali ini saja, kau membantuku agar tak diledek mereka. Sekali ini saja,” ujarnya dengan terbata-bata.
“Siapa teman-temanmu?”
“Semuanya. Ada Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Sabtu sampai Minggu.”
“Apes betul nasibmu, kawan! Kenapa mereka mengejekmu? Apa yang membuat mereka mengejekmu?”
Jum’at terdiam sebentar. Ia tampak sedikit menggeleng-gelengkan kepalanya. “Aku ini satu-satunya hari yang identik dengan shalat. Tak ada yang sepertiku, kendati shalat sebenarnya ada pada tiap harinya. Ini membuatku tak ubahnya seperti jenazah yang harus selalu di-shalat-kan. Ya, itu sebabnya mereka mengejekku sebagai jenazah, mayat, semacam bangkai!”
“Hahahaha…. Lucu juga, tapi memang mengenaskan nasib dan suratan takdirmu. Tapi, bukankah kamu bisa bahagia karena kamu juga satu-satunya hari yang identik dengan bersih? Ada Jumsih, bukan?Jum’at bersih!” kataku.
“Itu masa lalu, sekarang aku identik dengan jenazah. Bisakah kau membantuku? Sekali ini saja! Aku mohon.”
“Apa yang bisa kubantu?”
“Kau jangan pergi shalat Jumat, sebab hanya dengan itulah eksistensiku yang identik dengan jenazah bisa dibatalkan, kendati cuma untuk satu hari saja. Tapi itu akan sedikit melegakkan.”
“Aku tak pernah meninggalkan shalat Jumat. Permintaanmu sukar sekali aku penuhi. Kenapa tak minta orang lain?”
“Karena kau orang yang ta’at. Orang-orang sepertimulah yang membuat aku identik dengan jenazah. Bisa, kan, ya? Aku mohon….”
Aku sedikit jengkel. “Kau ini Jum’at atau setan, sih? Kenapa kau larang orang lain beribadah? Ngaku saja, kau! Kau ini setan atau Jum’at?”
“Kenapa nada pertanyaanmu sudah seperti polisi? Polisi dan orang saleh itu dua hal berbeda, tau!!!”
gyahahahaha. di negeri ini, polisi dan orang saleh itu cuma cerita. yang ada cuma perampok.
eh, ini kan cerita soal hari jumat yak.
wow..
dari tema hari Jumat aja bisa dibikin cerita unik seperti ini.
aku setan jum’at dengan wajah bersih dan berwibawa, juga memakai baju coklat tua seperti pramuka
Sebuah permintaan yang sulit dikabulkan, namun bisa saja ditafsirkan bahwa shalat jumat kita tak sungguh-sungguh sehingga sang jumat merasa tak lebih sekujur mayat. Lalu, apakah mungkin, pesannya diterakan sebagai ajakan untuk menunaikan shalat tersebut dengan kepenuhan jiwa dan raga?
saya adalah penggila hari jumat
melihat tulisan ini saya senang .
unik .
tercengang .
: )
saya suka
terimakasih