Jeans
– pembangkangan benda-benda #1
Celana jeansku berulah. Tepat saat saya hendak menarik resleting, ia tiba-tiba meronta. Sekuat tenaga aku menarik resleting, jeansku tetap bergeming. Aku menyerah. Daripada terjadi korsleting kecil pada penisku, lebih baik aku bernegosiasi dengan celana jeansku.
“Apa maumu sebenarnya?” tanyaku.
Jeans hitam yang sebenarnya mulai apak itu makin tambah apak saja kelihatannya. Toh ia masih sempat-sempatnya menyunggingkan senyum, tanda ia baru saja menangguk kemenangan kecil.
“Dengar!” katanya tiba-tiba. Suaranya dalam dan penuh nada peringatan. Aku sedikit tercekat. “Aku tak suka tiap kali kau bercinta dengan pasanganmu lalu aku dicampakkan begitu saja. Menyedihkan rasanya saat kau hendak merengkuh kebahagiaan tapi pada saat yang sama kau melemparkanku dengan tanpa perasaan. Kadang kau lempar aku ke pojok kamar, kadang kau campakkan aku di bawah ranjang. Itu sungguh tak bisa diterima!”
“Lantas maumu apa? Janganlah bertele-tele. Waktuku tak banyak! Aku mesti segera menarik resleting, ada banyak pekerjaan yang menungguku. Kau pikir aku bisa pergi ke luar dengan resleting masih tertanam di bawah?” sungutku dengan wajah yang benar-benar merenggut.
“Mauku sederhana saja: Bukankah pasanganmu juga selalu melemparkan celana dalam dengan seenaknya? Kasihan celana dalam itu, seperti aku yang juga selalu kau campakkan. Nanti malam, saat kau bercinta lagi dengan pasanganmu, aku ingin kau lemparkan aku ke atas celana dalam pasanganmu,” ujarnya dengan raut muka yang tak bisa dijelaskan.
Aku tergelak. Sungguh tertawa terbahak-bahak. Tampaknya tawaku membuatnya tersingguh berat. Ia membentakku. “Manusia memang tak pernah mau tahu psikologi benda-benda. Kau pikir aku tak ingin mencium bau perempuan? Hah?!”
Aku ingin tertawa lagi, tapi aku tahan, sebab aku tak mau memperparah keadaan. Tapi kali ini penisku yang tertawa terbahak-bahak. Susah payah aku sumpal mulut penisku dengan telapak tanganku. Tapi itu sia-sia saja. Buktinya, aku dan celana jeans itu masih sempat mendengar sayup-sayup ucapan penisku: “Kau pikir bau perempuan itu selalu harum dan wangi? Tidak selalu begitu, bung!”
Sejak kata-kata itu terlontar, aku tahu negosiasi dengan celana jeansku akan semakin alot, juga akan semakin rumit!
edyaaaannn, jeans belel pun bisa jadi bahan tulisan yg keren..:))
salam hormat suheng!
ps: kapan kita kubam? ;p
tuku maneh…atau jahit di sekitar univ. pancasila, murah meriah tur apik
jawabku: “kau pikir celana dalam itu baunya harum? kau salah besar kawan. itu seperti pasar ikan!”
bodor siah…
Bukankah celana dalammu juga celana dalam perempuan, Zen?
*ngecek pepean kosane, Zen*
*nyatet*
ika menyukai ini.
he2. biar kek di fb.
keren, pak zen!!.
tulisan tentang jeans yang bagus…
sukses selalu…